Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Kekonyolan Tuan Muda


__ADS_3

Assalam'mualaikum wr.wb


Hai para readers teruwuww sepanjang masa 😍😍 Kian dan Arkan balik lagi nih! Buat kalian yang masih setia dengan mereka, jangan lupa untuk terus mendukung author ya 😘😘😘 Biar makin semangat nulisnya 😉😉😉


Jangan kelamaan,, Yukk langsung aja dibaca 😊😊


 


Sebulan berlalu sejak orang-orang akhirnya mengetahui pernikahan Kian dan Arkan. Dan tidak ada alasan lagi bagi Kian untuk menolak resepsi yang Nyonya Wijaya inginkan kali ini.


Bagaimanapun, Nyonya Wijaya seorang ibu. Tentu saja ia ingin melihat putra semata wayangnya duduk di pelaminan. Dan lagi, ia tidak ingin orang lain berpikir yang tidak-tidak. Mengingat pernikahan yang dilakukan secara diam-diam dan terkesan mendadak itu.


Dan Kian, kini wanita itu tidak lagi bisa bebas seperti biasanya. Apapun gerak geriknya akan menjadi sorotan. Bahkan julukan Nona Muda melekat erat di dirinya.


"Nona, ini semua adalah gaun pengantin rancangan desainer ternama. Nona bisa memilih mana yang paling Nona suka." Seorang wanita muda menunjukkan deretan gaun yang terpajang di manekin. Kian hanya melongo menatap semua gaun pengantin itu bergantian.


"Semua terlihat cantik. Bagaimana aku memilih nya?"


"Kalau begitu pakai saja semua nya pada saat resepsi nanti." Arkan yang baru saja mencoba setelan jas nya, muncul dari balik ruangan.


"Apa?! Tidak-tidak! Bisa-bisa badanku remuk kalau harus bergonta ganti baju pengantin."


Arkan mendekati Kian dan berbisik. "Tenang saja. Aku siap memijatnya semalaman," ujarnya dengan nada menggoda. Membuat Kian bergidik ngeri.


"Tidak!" geleng Kian cepat. "Aku memilih gaun yang ini saja." Menunjuk salah satu gaun yang ia rasa cocok untuknya. "Bagaimana menurut mu?"


Arkan manggut-manggut. "Hmmm bagus. Oke, kalau begitu bungkus!!" perintahnya pada wanita yang sedang melayani mereka.


Bungkus. Udah kayak beli gorengan dua ribu dapet 3 aja.


"Bagaimana dengan jasnya? Bagus?" Kian mengikuti langkah Arkan yang meninggalkan ruangan.


"Tentu saja! Apapun yang aku pakai tetap akan terlihat bagus."


Kian mencebikkan bibir mendengar Arkan membanggakan dirinya. Ya meskipun ucapan suaminya benar, rasanya kesal saja. Narsis banget sih!


"Setelah ini kita kemana?"


Arkan belum menjawab. Ia malah menyambar tangan Kian dan menggenggamnya. "Lihat saja nanti!"


Kian menganga tidak percaya saat Arkan mengajaknya masuk ke sebuah toko yang menjual underwear. Apalagi saat Arkan dengan cekatan mulai memilih-milih beberapa underwear untuknya. Rasanya Kian ingin melarikan diri saja. Malu. Banget. Belum lagi para SPG yang menahan tawa melihat kelakuan suaminya. Lihat, bahkan Sam sampai terkekeh di balik punggungnya.

__ADS_1


Astaga! Tuan Muda, berhentilah melakukan hal-hal konyol!


"Apa tidak ada yang lebih seksi dari ini?" Arkan protes ke salah seorang SPG sambil menunjuk bra dan cd yang terpajang.


"Anda ingin yang seperti apa, Tuan?" Sambil dengan senyum yang tertahan.


"Hmm-,"


"Ayo kita pergi!" Sebelum Arkan menjawab, Kian sudah lebih dulu menarik lengan pria itu dan membawanya keluar toko.


"Hei, kita belum membeli satu barang pun!" sergah Arkan.


Kian menghentikan langkahnya. Ia meletakkan punggung tangannya ke kening Arkan dan bagian wajah yang lain. Seperti sedang memeriksa suhu tubuh.


"Tidak panas," gumam Kian.


"Apa yang kamu lakukan?" Arkan menurunkan tangan Kian dari keningnya.


"Apa kamu tidak malu memilih dalaman wanita seperti itu?"


"Kenapa harus malu? Toh aku membeli nya untuk istriku. Bukan istri orang lain," goda Arkan.


Sontak sebuah cubitan mendarat di pinggang Arkan. "Awww," ringisnya.


"Ayo cari makan!" ajak Arkan sambil kembali menggenggam tangan Kian hingga mereka tiba di sebuah restoran.


"Selamat da-,"


"Pesan ruang VIP satu!" potong Arkan cepat sebelum sapaan dari penyambut tamu selesai.


"Tidak usah, Mba!" cegah Kian. "Kita duduk di tempat biasa saja. Toh cuma makan siang biasa. Lagian lihat tuh, tempat duduknya juga ada pembatasnya," bisik Kian pada suaminya.


"Hm baiklah. Sesuai permintaan istri saya, carikan tempat yang nyaman untuk kami berdua!"


"Lalu Sam?" Kian melirik Sam yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Dia bisa memesan tempat sendiri," jawab Arkan santai. Kian kembali melirik Sam yang menganggukkan kepalanya. Seperti bisa mendengar ucapan Tuan dan Nona Mudanya. Ajaib memang!


Setelah menyebutkan menu yang dipesan, Kian dan Arkan harus menunggu. Walaupun awalnya pria itu protes karena disuruh menunggu selama 5-10 menit, namun Kian akhirnya bisa membujuknya. Kain menjelaskan itu waktu yang wajar dalam memesan makanan. Memang dirumahnya yang semua siap sedia tanpa diminta!


"Sayang banget ya pewaris Wijaya Group nikah sama orang begitu?" celetuk salah seorang pelanggan yang baru saja datang di sisi sebelah. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Kian dan Arkan.

__ADS_1


"Iya, aku pikir dia bakal menikah sama putri dari keluarga kaya juga. Yang tinggi, cantik dan modis," timpal yang lain.


"Tidak seperti istrinya sekarang kelihatan kampungan banget. Ngga selevel sama Arkan Saguna."


Mendengar cibiran yang ditujukan untuk istrinya, jelas membuat Arkan mendidih. Tangannya terkepal penuh emosi. Baru saja Arkan ingin beranjak memberikan pelajaran untuk ketiga orang yang mulutnya minta disumpal itu, Kian justru menahannya. Ia menggeleng meminta pria itu untuk mengabaikannya.


"Mereka tidak bisa dibiarkan. Mereka sudah menghinamu!" umpat Arkan kesal.


"Menghina apanya? Coba kamu amati baik-baik. Aku memang nggak cantik apalagi kaya seperti yang mereka bilang. Jadi yang mereka katakan itu kebenaran bukan penghinaan," terang Kian setenang mungkin. Walaupun nada suaranya terdengar getir.


"Ya walaupun kamu tidak cantik, pendek, sedikit norak tapi kan-," Arkan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Kian berubah masam.


Kenapa jadi dia yang menghinaku sih? Nyebelin.


"Benar, aku memang tidak selevel denganmu!" dengus Kian. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.


"Siapa bilang?"


"Au ahh gelap," sahut Kian malas. Ia mengeluarkan ponsel dan memainkannya. Tanpa menghiraukan Arkan.


"Aku ke toilet sebentar!" ijin Arkan.


"Hmm." Masih pura-pura fokus dengan ponselnya.


Kian menghela napas sesaat setelah Arkan beranjak. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia mendapat cibiran seperti itu. Sudah entah yang kesekian kalinya. Tapi mendengar Arkan mengatakannya sendiri, membuat Kian kesal. Meski sebenarnya ia tahu Arkan tidak sungguh-sungguh mengatakanya. Mungkin karena efek lelah dan lapar membuatnya sedikit sensitif. Ia akan meminta maaf saat Arkan kembali nanti.


"Tes...tes...satu dua tiga." Tiba-tiba suara announcement dari Customer service Mall terdengar.


"Suaranya tidak asing," gumam Kian pelan sambil mengingat siapa pemilik suara yang sangat mirip dengan suara barusan.


Mata Kian membelalak saat menduga sesuatu. "Jangan-jangan?!" pekiknya nyaris berteriak.


"Perkenalkan, saya Arkan Saguna Wijaya." Sontak para pengunjung terperanjat mendengar penuturan Arkan. Apa yang sedang ia lakukan?


"Saya sedang mengajak istri saya tercinta berkeliling Mall. Dan saat ini, ia sedang berada di salah satu restoran. Saya ingin dia tahu bahwa saya sangat mencintainya, tanpa syarat tanpa tapi. Hanya dia yang saya inginkan. Tidak peduli orang lain berkata apapun. Jadi untuk kalian bertiga yang sedang duduk bersebelahan dengannya, yang sudah berkata buruk tentang istri saya, segera meminta maaf padanya. Karena kalau sampah istri saya terluka, kalian akan menerima akibatnya!"


"Astaga! Apa yang dia lakukan? Kenapa akhir-akhir ini tingkahnya semakin konyol saja?" Kian melirik Sam meminta penjelasan. Namun pria itu malah mengedikkan bahu sambil tersenyum. Senyum menahan geli.


Segitu bucinnya Tuan Muda. Kita lihat, hal gila apa lagi yang akan Tuan lakukan selanjutnya!


****

__ADS_1


Bagi yang mau lanjut, mohon tinggalkan jejak ya..😉😉😉 like, comment dan vote kalian author tunggu sebelum melanjutkan chapter selanjutnya 🤩🤩🤩


__ADS_2