
"Astaga, rasanya badanku mau patah," desah Kian sambil merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Mau ku pijat?" tawar Arkan. Mendudukkan diri di samping Kian.
"Tidak! Aku ingin berendam air hangat saja."
"IKUUTTT!!!" Arkan beranjak menyusul Kian, namun mendadak langkahnya terhenti.
"NO WAYY!!!!" Kian menahan Arkan dengan mengangkat telapak tangannya. "Kali ini kita mandi sendiri-sendiri!" tegasnya lagi.
"Tapi aku ingin mandi seperti biasanya. Boleh ya boleh?" Arkan membuat ekspresi wajahnya seimut mungkin agar Kian luluh.
Namun lagi-lagi Kian menggeleng. "Tidak! Aku masih kesal."
Arkan mengerucutkan bibirnya mendapat penolakan dari Kian. Daripada Kian bertambah kesal, lebih baik ia mengalah. Ia mendudukkan diri sofa dan menyandarkan kepala. Berpikir bagaimana cara membuat Kian tidak lagi kesal.
Sementara Kian, ia nikmati ritual merendam dirinya sendiri tanpa Arkan. Padahal sejak sebulan lalu, ia nyaris tidak pernah melakukannya sendiri. Bak pengantin baru yang dimabuk kepayang. Kemana-mana harus berdua.
Kian menghela napas. Kejadian di acara pernikahannya tadi kembali berputar di otaknya. Entah mengapa ia merasa resah mendengar ucapan Delia. Wanita itu jelas tidak akan melepaskannya begitu saja. Tipe wanita agresif dan ambisius yang akan mendapatkan apapun yang diinginkannya. Kian tahu itu.
Meskipun Kian tahu maksud Arkan mengundangnya hanya untuk menunjukkan bahwa mereka sudah menikah, namun tidak serta merta membuat Delia berhenti mengejar suaminya. Justru wanita itu akan semakin berusaha keras untuk merusak pernikahannya. Itulah kenapa ia begitu kesal pada Arkan. Kalau saja wanita itu tidak datang, mungkin ia tidak akan terpengaruh oleh ucapannya.
Setelah 30 menit lebih Kian berendam, ia memutuskan untuk menyudahinya. Perutnya yang keroncongan sudah tidak bisa diajak kompromi. Selama acara ia bahkan tidak sempat makan karena banyaknya tamu yang harus di sambut. Kian mengambil piyama handuk dan bergegas memakainya.
"Kok gelap?" Kian terkejut saat membuka pintu seluruh ruangan gelap.
"Arkan?" Ia memanggil nama suaminya, berharap pria itu masih ada di kamar. Tidak keluar karena sudah diacuhkan.
"Kamu dimana? Aku takut," lirih Kian pelan. Ia berjalan sambil meraba remote untuk menyalakan lampu.
__ADS_1
Cklek. Semua lampu akhirnya menyala. Kian tertegun saat melihat perubahan di kamarnya. Ranjang yang sudah di penuhi dengan kelopak mawar merah, dan sebuah meja dengan dua kursi saling berhadapan. Ada lilin yang belum dinyalakan diatasnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kian bingung. Benarkah semua ini dilakukan dalam waktu setengah jam saja?
"Maafkan aku." Arkan menyodorkan buket bunga yang ia sembunyikan dibalik punggungnya.
Kian menatap Arkan dan bunga itu bergantian. Kalau sudah seperti ini, rasanya tidak mungkin ia masih bisa menyimpan kesal pada suaminya. Tentu saja, hatinya luluh seketika.
"Terimakasih." Kian menerima bunga tersebut. "Tapi tidak perlu sampai seperti ini. Aku hanya sedikit kesal. Dan sebentar saja pasti akan membaik."
Arkan beranjak. Kedua tangannya meraih bahu Kian, "Meski sebentar atau lama, aku tidak akan membiarkannya. Aku sudah berjanji untuk membuatmu selalu bahagia!"
Tanpa aba-aba, Kian langsung memajukan tubuhnya dan memberikan ciuman di bibir Arkan. Meski singkat, namun cukup membuat hati pria itu berdebar tidak karuan.
"Arghh, kenapa kamu selalu melakukannya tanpa memberi tahuku terlebih dulu? Setidaknya aku bisa mengabadikannya dengan mengambil foto," gerutu Arkan.
"Lain kali aku akan memberitahumu!" Senyum mengembang di bibir Kian melihat suaminya yang cemberut. "Apa itu?" Kian menunjuk meja bundar yang ada di kamar mereka.
"Indah sekali!!" seru Kian takjub. "Apa kamu sendiri yang membuatnya?!"
"Hmm." Arkan menarik kursi untuk Kian. "Duduklah!" Kian pun duduk, namun matanya masih terpaku melihat pemandangan di depannya. Meja yang sudah di sulap begitu indah untuk makan malam mereka.
.
Kian mencicipi spaghetti bolognese di depannya. "Hmm, rasanya enak! Darimana kamu belajar memasak?" tanyanya heran. Bahkan saat ia yang memasak, rasanya tidak seenak ini.
"Chef Albert, dia kepala chef di restoran kita," terang Arkan.
__ADS_1
Kian hanya manggut-manggut sambil terus menikmati makanannya. Dalam hati ia merutuk dirinya sendiri. Jika suaminya yang nyaris sempurna dari segi kekayaan dan ketampanan saja masih bisa memasak selezat ini, bagaimana ia dengan tidak tahu malunya merasa kesal hanya karena hal sepele. Seharusnya ia tidak perlu mengindahkan ancaman Delia. Seharusnya ia hanya perlu menikmati kasih sayang dan cinta yang Arkan berikan hanya untuknya. Seharusnya.
Ahhh rasanya malu sekali!
Kian baru saja selesai merapikan sisa makan malam mereka. Lalu menyusul Arkan yang berbaring di ranjang. Di tangan pria itu ada tablet yang menunjukkan beberapa laporan perusahaan.
"Ada apa?" tanya Kian saat melihat raut wajah Arkan yang sedikit tegang.
Arkan terkejut. Mungkin ia tidak menyadari saat Kian berjalan menghampirinya. Diletakkannya kembali tablet ke dalam laci nakas lalu tersenyum pada Kian.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya sembari meraih kepala Kian dalam dadanya. Diusapnya rambut Kian yang mengeluarkan aroma wangi dari shampo sambil sesekali menciumnya.
"Maaf," lirih terdengar dari Kian. Wajahnya ia benamkan di dada bidang Arkan.
"Maaf atas?" Masih membelai lembut rambut Kian.
"Maaf atas sikapku tadi. Tidak seharusnya aku bersikap kekanakan," ucap Kian penuh penyesalan.
"Kini dan nanti, semua hal yang ku lakukan hanya untuk kebahagiaanmu. Aku bahkan rela memberikan semua yang ku punya, termasuk hatiku. Jadi, jangan pernah khawatirkan apapun!" Arkan menarik bahu Kian hingga pandangan mereka bertemu. Tidak butuh waktu lama, dipagutnya bibir mungil Kian dengan penuh kelembutan. Menyesap rasa manis yang semakin membuatnya mabuk, Arkan mulai bergerilya melanjutkan aksinya.
Kian pun tak tinggal diam, tangannya ikut membantu melepaskan pakaian Arkan sambil sesekali memainkan jemarinya disana.
"Bersiaplah, aku akan memainkan dua ronde sekaligus!" ujar Arkan penuh seringaian.
"Apa?!" Kian membelalak kaget.
"Siapa suruh tidak mengijinkanku ikut mandi bersamamu!" Belum sempat Kian menjawab, Arkan sudah mulai ******* habis bibir Kian. Membuat wanita itu hanya bisa mengeluarkan gumaman dan desahan yang tertahan.
Setiap kehidupan rumah tangga tidak ada yang berjalan mulus. Selalu saja ada rintangan yang akan menguji seberapa kokohnya bangunan yang didirikan atas dasar cinta dan sayang. Kian tahu betul itu. Maka ia memutuskan untuk tidak gentar menghadapi masalah yang akan datang silih berganti dalam kehidupan rumah tangganya. Asal ada Arkan. Pria yang berjanji untuk selalu membahagiakannya terus berdiri di sisinya, Kian siap menghadapinya.
__ADS_1