Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Makan Siang


__ADS_3

Panas matahari sudah mulai terik. Panitia memutuskan untuk mengakhiri kunjungan ke perkebunan milik Wijaya Group. Dan melanjutkan makan siang di salah satu restoran.


Para rombongan kembali ke Bus Pariwisata, begitu pun Kian. Ia berpikir inilah saatnya dia lepas dari singa buas itu. Kian buru-buru menaiki bus sebelum dia bertemu dengan tuan mudanya. Matanya mengelilingi bus, mencari tempat duduk yang kosong. Akhirnya Kian menemukan masih ada satu kursi kosong yang tersisa di bagian depan. Dia juga melihat sudah ada orang yang duduk di sebelahnya. Kian berjalan ke depan sambil melirik para penumpang lain di dalam bus. Mereka semua hanya diam membisu. Bahkan untuk berbisik pun mereka ragu. Tidak seperti sebelumnya, mereka akan banyak bercerita di dalam bus setelah acara kegiatan. Kian merasakan suasana di bus sedikit aneh. Dia terus melangkahkan kakinya perlahan menuju kursi yang kosong. Dan matanya nyaris terbelalak saat melihat siapa yang dengan tenang sudah duduk disana.


"Tuan Arkan?" Kian merasakan tenggorokannya kering seketika, saat melihat pria itu.


Oh sial, kenapa orang gila ini duduk disini?


Mau apa lagi dia?


"Apa yang anda lakukan disini, Tuan?" tanya Kian masih dengan wajah terkejutnya.


"Apa matamu tidak melihat aku sedang duduk?" jawabnya sinis. Tapi wajahnya penuh dengan seringaian.


"Ya, saya melihat anda sedang duduk, tapi kenapa anda duduk disini, Tuan? Bukankah supir anda sedang menunggu di mobil?" tanya Kian lagi. Gadis itu masih berdiri, dia enggan duduk bersebelahan dengan tuan muda itu di dalam bus.


"Kau tidak senang aku duduk disini?" jawab pria itu dengan nada suara terdengar semakin sinis.


"Bukan begitu maksud saya, Tuan. Silahkan, anda bisa duduk dimana pun yang anda suka!" Kian akhirnya menyerah meladeni pria itu. Terserah dia saja mau duduk dimana. Toh bus ini dia yang membayar semua biaya sewanya. Kian memilih menutup rapat mulutnya dan duduk di sebelah jendela.

__ADS_1


*Setengah jam sebelumnya.


"Kau bisa kembali ke hotel dan bereskan semuanya! Aku akan pergi bersama rombongan," ucap pria itu di telepon. Setelah itu dia mematikan sambungan telepon dan berjalan menuju bus.


Supir bus yang sedang menunggu di parkiran terkejut melihat kedatangan Arkan. Mereka mengetahui siapa pria itu. Arkan berbicara sebentar dengan mereka lalu dia menaiki salah satu bus. Para supir mengangguk paham dengan apa yang dibicarakan pria itu.*


Setelah hampir setengah jam perjalanan, para rombongan tiba di sebuah restoran mewah. Mereka semua memasuki restoran dengan antusias. Selain karena restoran ini menyajikan makanan yang enak-enak, mereka juga merasa lapar karena berkeliling lama di perkebunan tadi.


Arkan masuk ke ruang VIP yang sudah disediakan Pak Dan. Tadi saat di hotel pria paruh baya itu mendapatkan pesan singkat dari Arkan sebelum mereka tiba disini. Jadi dari hotelnya, Pak Dan langsung bergegas menuju restoran untuk memesan ruangan VIP sekaligus menunggu kedatangan tuan mudanya.


Melihat Arkan masuk ke ruangan tersebut, akhirnya Kian bisa bernafas lega. Dia bersyukur pria itu memesan ruang VIP untuk tempat makan siangnya. Jadi paling tidak Kian bisa menikmati makan siangnya dengan aman. Karena kalau sampai pria itu berada di ruangan yang sama dengan para rombongan, jangankan untuk menikmati makanan, untuk bernafas saja mereka merasa sesak.


Kian, Dina dan Rendy berada di meja makan yang sama. Lalu datang dua orang pelayan menyusun berbagai macam menu masakan di atas meja. Mereka yang duduk disana nyaris tidak berkedip melihat makanan-makanan itu. Semuanya terlihat menggoda lidah. Tak sedikit dari mereka sampai menelan ludah.


Baru saja Kian mengambil sendok di sebelahnya, tiba-tiba dari arah belakang muncul orang yang tidak diharapkan. Meminta Dina untuk pindah sedangkan orang itu beralih duduk di kursi yang baru saja diduduki oleh Dina. Kian sendiri sudah bisa menebak siapa orang itu. Dia mengambil nafasnya dalam dan menghembuskan nya kasar.


Kau benar-benar tidak bisa membiarkanku makan dengan tenang, ya!


"Ada apa, Tuan Muda? Apa makanan anda di ruangan VIP tidak sesuai dengan selera anda?" ucap Kian mencibirnya.

__ADS_1


Pria itu tertawa kecil. "Haha, bagaimana kau bisa tahu?


Apa?! Padahal aku hanya berniat mengusirnya secara halus.


"Aku ingin makan disini saja, Pak Dan!" ucap Arkan menoleh ke Pak Dan yang berdiri di sampingnya. Lalu menatap tajam Rendy yang ada di depannya.


Apa kau pikir aku akan membiarkanmu makan dengan tenang bersama laki-laki ini?


"Baik, Tuan," jawab Pak Dan. Pria paruh baya itu kembali ke ruang VIP bersama dengan dua orang pelayan.


Rendy yang melihat kedatangan Arkan hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Sekalipun merasa terganggu, dia tidak berani berkutik. Bahkan untuk protes pun tidak bisa. Dina pindah ke sisi Kian yang lain. Gadis itu sebenarnya takut, tapi entah kenapa dia senang melihat pemandangan di depannya ini. Tuan Arkan walaupun terlihat dingin dan sombong, ternyata dia juga sangat romantis, pikirnya. Mungkin saat ini hanya Dina yang bisa melihat itu.


Tak lama kemudian Pak Dan dan dua orang pelayan tadi kembali ke meja Kian. Mereka memindahkan semua makanan di ruang VIP ke meja makan Kian.


"Ayo dimakan!" ucap Arkan pada semua orang yang ada di meja, termasuk Kian. Dengan santai pria itu mulai menyantapnya terlebih dulu.


Ck. Bukannya tadi dia bilang makanannya tidak sesuai seleranya? Tapi kenapa sekarang dia malah terlihat lahap begitu? Dasar tidak waras!


Kian dan yang lain masih terpaku menatap Arkan melahap makanannya. Sekalipun makanan di meja terlihat sangat menggoda, tapi tiba-tiba saja mereka kehilangan selera. Mereka ragu sekaligus takut makan di meja yang sama dengan tuan muda.

__ADS_1


"Ayo dimakan!" Arkan mengulang ucapannya. Membuat Kian dan teman-temannya langsung mengambil sendok mereka masing-masing. Jangan sampai tuan muda ini mengamuk hanya gara-gara mereka tidak menuruti perintahnya. Akhirnya makan siang kali ini penuh suasana mencekam bagi teman-temannya Kian. Sedangkan Kian sendiri, dia sudah mulai beradaptasi dengan kegilaan pria itu.


Ini adalah pertama kalinya Arkan makan bersama dengan karyawannya. Pak Dan sendiri sempat tercengang melihat kelakuan tuan mudanya. Tuan muda yang dikenalnya sama sekali tidak menyukai hal-hal seperti ini. Tapi ternyata cinta mampu membuat perubahan besar pada diri seseorang. Hingga dia sendiri tidak menyadari perubahan itu.


__ADS_2