
Setelah puas mendapatkan penjelasan dari Arkan, akhirnya Ibu merasa lega. Ia pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan bahagia. Ternyata anaknya masih normal tidak seperti yang ia bayangkan selama ini.
Sekarang tinggal tersisa mereka berdua di dalam sana. Sejak kepergian Nyonya Wina, mereka hanya bergeming. Tidak tahu apa yang harus dilakukan atau pun dibicarakan. Kian meremas ujung dress yang ia kenakan lalu melirik Arkan di sebelahnya. Pria itu sedang menyandarkan kepalanya di atas sofa.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau mengatakan aku kekasihmu di depan Ibumu, hah?"
Arkan yang sedang bersandar, mengangkat kepala dan menoleh, "Bukankah kau juga mengaku sebagai kekasihku pada Delia?"
Kian mengernyit. "Delia?? Ohh.. Jadi namanya Delia." Kian mencebikkan bibirnya. Entah kenapa ia merasa kesal saat Arkan menyebut nama wanita lain di depannya.
"Kenapa kau mengatakan itu padanya?" tanya Arkan lagi. Pria itu sengaja mengulangnya karena melihat wajah Kian yang mendadak merah padam.
"Itu...Itu karena aku ingin wanita itu pergi dan tidak datang kesini lagi," jawab Kian secepat kilat. Ia mengatur napasnya yang memburu seperti habis dikejar hantu.
Arkan menggeser posisinya mendekati Kian. Menatap wajah di depannya yang bersemu merah. "Kenapa kau ingin membuatnya pergi dan tidak datang lagi?" godanya lagi.
Kian belum menyahut, ia memundurkan kepalanya, berusaha memalingkan wajah dari tatapan Arkan. Pria itu semakin menatap Kian lekat. Membuat jantung gadis itu serasa berlompatan di dalam dadanya. Kian benar-benar gugup sekarang.
Bagaimana aku menjelaskannya? Aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya.
"Buahahaha." Arkan tertawa hingga suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. Ia tidak bisa lagi menahan tawanya melihat wajah Kian yang seperti kepiting rebus itu. Arkan menormalkan posisi duduknya kembali seperti semula. Ia menutupi bibirnya yang masih tergelak dengan menempelkan punggung tangannya.
Kian baru menyadari pria di depannya baru saja mengerjainya. Sambil mendengus kesal, ia pergi meninggalkan Arkan menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya yang terasa panas. Ia memandangi wajahnya di depan cermin.
"Dasar tidak waras! Hampir saja jantungku copot di buatnya." Kian masih menatap pantulan di cermin. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tapi apa? Sejenak, ia mengamati lebih dalam. Ah iya, dress jingga yang ia pakai membuat dirinya lebih mempesona. Bahkan ia sendiri merasa takjub melihat penampilannya sekarang. Berbicara soal pakaian, Kian baru menyadari sesuatu. Ia segera keluar dari kamar mandi dan menemui Arkan. Pria itu kembali menyandarkan kepalanya. Sepertinya ia mengantuk.
"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Kian.
Arkan menoleh, ia melihat Kian sedang memegang ujung dressnya. "Aku menyimpannya," jawab Arkan santai.
"Kau, menyimpannya? Buat apa? Apa kau ingin memberikannya pada seseorang?" Tiba-tiba Kian begitu merasa penasaran.
Arkan menautkan alisnya. "Darimana kau tahu?"
"Jadi benar kau ingin memberikannya pada seseorang? Siapa, siapa dia?" Kian semakin sewot saja mendengar ucapan pria itu.
"Bukankah aku memberikannya padamu? Aku sengaja membelinya untukmu. Setiap kali kau habis membersihkan diri disini, kau selalu memakai kemeja dan boxer milikku. Aku hanya ingin memberimu pakaian yang pantas," jawab Arkan jujur.
"APA?!"
__ADS_1
Jadi dia membelikan ini untukku. Aku tidak menyangka dia akan berpikir sejauh itu. Tapi aku malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Maaf," ucap Kian lirih. Wajahnya tertunduk malu.
"Maaf atas?"
Kian menggigit bibir bawahnya. Ia malu mengatakannya. "Maaf karena menuduhmu yang tidak-tidak. Aku pikir kau akan memberikannya pada orang lain."
Arkan tersenyum mendengarnya. Ia tahu Kian sedang cemburu. Akhirnya ia bisa melihat ekspresi Kian yang menggemaskan itu. Selama ini, hanya Arkan yang merasa cemburu setiap kali gadis itu dekat dengan seorang pria. Meskipun itu Sam, supirnya.
Tapi ia menyembunyikan ekspresinya dengan memalingkan wajahnya. "Kau memang gadis bodoh," jawabnya setelah berhasil mengatur perasaannya.
"Berhenti memanggilku gadis bodoh!"
Arkan tidak menyahut. Ia memejamkan matanya karena sudah tidak bisa menahan kantuk. Kian menatap lekat wajah yang tertidur pulas itu. Rasanya ia ingin membelai rahang kokoh yang tercetak disana. Tapi tidak bisa. Ia akan membelainya jika pria itu adalah suaminya. Lebih baik, ia pulang sebelum pikiran liar merasukinya. Kian mengambil selimut lalu menutupi tubuh Arkan.
"Tidurlah yang nyenyak. Jangan lupa mimpikan diriku. Awas saja, kalau sampai kau memimpikan wanita lain. Aku akan melemparmu ke laut biar dimakan hiu. Camkan itu!"
Kian menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan Arkan, membiarkan pria itu istirahat dengan tenang. Ia sendiri akan pulang dengan menggunakan ojek online, tidak lagi menaiki bus seperti biasa. Karena ia ingin segera sampai di rumah dan beristirahat.
Sementara Arkan, pria itu membuka matanya setelah memastikan Kian pergi dari apartemennya. Senyumnya melebar mengingat ucapan gadis itu.
Ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi lehernya. Tidur untuk memimpikan gadis bodoh yang sudah mengisi hatinya.
***
Sore harinya, Arkan terbangun saat merasa mendengar suara bel apartemennya. Ia membuka pintu dan terkejut melihat kedatangan seseorang. Tatapan orang itu begitu mengintimidasinya hingga ia merasa canggung.
"Kau? bagaimana kau bisa tahu alamatku?" tanya Arkan heran. Selama ini hanya keluarganya dan orang kepercayaannya yang tahu dimana ia tinggal. Soal Delia tahu, itu pasti karena ibunya yang memberitahunya.
Tapi orang ini, bukanlah siapa-siapa bagi Arkan. Bagaimana orang itu bisa tahu tempat tinggalnya.
"Kau terkejut? Sama. Aku pun juga terkejut saat melihat Kian menuju tempat ini. Dan kau membiarkannya masuk ke apartemenmu. Apa kau sudah lupa? Haruskah aku mengingatkannya?" Rendy mencecar Arkan dengan sindirannya.
Ya pria itu datang menemui Arkan setelah ia mengikuti Kian sejak kemarin. Ia juga melihat Kian yang menunggu di luar apartemen pria itu. Saat ia ingin menghampiri gadis itu. Arkan justru keluar bersama dengan seorang wanita. Rendy mendengar semua pembicaraan mereka. Ia pun menyaksikan Kian yang menarik tangan Arkan dan masuk ke dalam apartemen. Hatinya sakit saat mengingat kejadian itu.
Itulah sebabnya Rendy terus mencari Arkan saat di kantor. Meminta penjelasan pria itu. Tapi Arkan begitu sibuk, hingga sulit ia temui. Setelah jam pulang kantor, Rendy memutuskan untuk mendatangi Arkan di apartemennya. Sekarang di sinilah ia berada. Menemui Arkan, mengingatkan pria itu akan janjinya.
"Kau tidak perlu mengingatkanku. Aku tidak akan pernah melupakan janji yang sudah ku buat. Tapi, tidakkah kau lihat bahwa aku berusaha menjauh darinya dengan membawa wanita lain di depannya."
__ADS_1
Benar. Ia melihatnya sendiri kemarin. Justru Kianlah yang bertahan menunggu pria itu. Rendy hanya frustasi, ia kesal melihat Kian diam-diam mendatangi Arkan. Bahkan saat ia bertanya, Kian justru membohonginya. Ia mencari seseorang yang bisa ia gunakan untuk meluapkan emosinya. Dan Arkan adalah orangnya. Ia merasa cemburu dengan pria itu.
"Seharusnya kau menyuruhnya pergi. Bukan membiarkannya menarik tanganmu dan masuk. Kau bahkan membiarkan ia menginap di apartemenmu. Ternyata kau lebih brengsek dari dugaanku."
"CUKUP!!!" Terdengar suara seseorang berteriak dari jarak yang cukup jauh.
Arkan dan Rendy terkejut melihat sosok yang datang menghampiri mereka. Kian berjalan sambil menatap tajam kedua pria yang sedari tadi membicarakannya.
"Apa kalian pikir aku barang yang bisa kalian ributkan?" Kian menatap Arkan dan Rendy bergantian. Kedua pria itu hanya memalingkan wajah, takut beradu pandang dengan Kian yang terlihat sangat kecewa.
"Kak Rendy, bisa kita berbicara sebentar?" ucap Kian. Nada suaranya terdengar lembut setelah ia berhasil mengendalikan emosinya.
"Hmm baiklah." Meski takut, ia mengiyakan ajakan Kian.
Kian beralih menatap Arkan. Pria itu terlihat tidak suka mendengarnya mengajak Rendy berbicara. "Kau, tunggu giliranmu! Kita akan membicarakannya nanti" Arkan menelan ludahnya. Tiba-tiba ia merasa begitu takut saat Kian mengatakan akan berbicara padanya.
Akhirnya Kian dan Rendy duduk di kafe di apartemen. Rendy masih menundukkan kepalanya sejak Kian terus menatapnya. Ia tidak berani menatap mata gadis itu.
"Kak Rendy, kenapa Kakak melakukan itu?" tanya Kian pelan. Ia tidak ingin menyakiti hati pria itu. Namun, ia juga harus menjelaskan perasaannya yang sesungguhnya. Jadi, Kian berusaha hati-hati dalam mengatur intonasi suaranya agar tidak menyinggung Rendy.
"Maaf Kian. Aku hanya ingin dia tidak mengganggumu lagi. Tapi sepertinya, kau mulai menyukainya," ucap Rendy dengan suara yang tercekat. Ia tidak rela, tapi seperti itulah kenyataan yang ia lihat.
Kian menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, tidak mudah bagi Rendy mengatakan itu. Tapi, ia sedikit lega, karena ternyata pria itu sudah mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. "Kak Rendy..." panggil Kian pelan. Pria itu menoleh. Sejenak tatapan mereka bertemu.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan dan menjagaku selama ini. Kak Rendy benar, awal kedatangan dia memang sangat menggangguku. Aku bahkan merasa muak." Sudut bibir Kian tertarik mengingat kenangan-kenangannya saat bertemu Arkan.
"Tapi, sejak aku merelakan Kak Rendy bersama Viona, entah kenapa aku mulai merasa nyaman dengan kehadirannya. Ternyata, tingkahnya yang aku pikir memuakkan, bisa membuatku lupa akan rasa sakitku." Rendy menatap nanar. Meski terasa menyakitkan, ia berusaha untuk tetap mendengarkan penjelasan Kian.
"Kenapa kau merelakan diriku begitu saja dengan Viona?" Rendy penasaran bagaimana Kian bisa merelakannya dengan mudah. Padahal pria itu tahu, Kian dulu sangat menyukainya.
"Saat aku melihat Kak Rendy dan Viona di Mall waktu itu, aku tahu Kak Rendy sangat menyukainya. Kak Rendy terlihat bahagia bersamanya. Dan aku, tidak ingin merusaknya. Meskipun pada akhirnya Viona tidak pantas mendapatkan cinta Kak Rendy, tapi aku yakin ada wanita yang lebih baik, yang bisa mencintai Kak Rendy dengan tulus."
Rendy mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu aku juga akan mencoba merelakanmu. Melihatmu selalu menunggu pria itu di rumah sakit, aku baru menyadari kalau kau sangat menyukainya."
Kian mengernyit. "Kalau Kak Rendy tahu sejak saat itu, kenapa Kak Rendy tidak melepasku saat itu juga?"
"Karena aku pikir, aku bisa membuatmu menyukaiku lagi. Tapi ternyata tidak. Kau sudah tergila-gila padanya!" Rendy tertawa sambil mengatakannya. Ia juga mengusap kepala Kian. Membuat rambut gadis itu berantakan.
"Hmmm Kak Rendy..." Kian cemberut sambil merapikan rambutnya. Tapi ia senang, pria itu akhirnya bisa mengerti perasaannya sekarang. Meskipun Kian tahu perasaan Rendy pasti terluka, namun Kian yakin, perlahan pria itu akan bisa menghapusnya. Seperti dirinya yang bisa mengobati rasa sakitnya. Rendy hanya perlu menemukan seseorang yang pantas mendampinginya.
__ADS_1