Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Selamat Tinggal Arya


__ADS_3

Arya masih menatap Kian yang terus berusaha menyadarkan Arkan. Air mata gadis itu terus mengalir sembari menekan dada pria yang sedang tergeletak di depannya. Tanpa ragu, Kian juga menempelkan bibirnya untuk memberi napas buatan. Melihat pemandangan itu, hati Arya seperti tersayat. Kini, ia tahu Kian juga memiliki perasaan untuk pria itu.


Setelah akhirnya Arkan sadar, Kian mengakui bahwa itu adalah niatannya untuk mengerjai pria itu. Namun Arya tahu, Arkan tidak bisa menerimanya. Pria itu bukan marah karena merasa sudah dikerjain, tapi karena kekhawatirannya kalau sampai sesuatu terjadi pada Kian. Semua itu bisa dilihat jelas oleh Arya, tapi tidak dengan Kian. Hingga Arya membuka suaranya.


"Dia menyukaimu." ucap Arya dengan senyum getirnya.


Kian menoleh. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arya barusan.


"Dia benar-benar menyukaimu! "Kau tahu, dia bukan marah karena kau mengerjainya tapi karena ia takut tidak bisa menyelamatkanmu." terang Arya.


Kian terduduk lemas. Ia menatap kosong udara di depannya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari perubahan sikap Arkan akhir-akhir ini. Sekarang pria itu sudah menghilang dari pandangannya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya.


Melihat Kian yang tertunduk lemas, Arya menarik napas panjang. "Kenapa masih disini? Kamu tidak ingin mengatakan perasaanmu yang sebenarnya?"


Kian mengangkat kepalanya lagi, senyum simpul terukir dibibirnya.


Yang dikatakan Arya benar. Kenapa aku masih disini?


"Terimakasih, Arya! Kamu memang sahabat terbaikku!" Kian ingin menghambur memeluk Arya, tapi ia urungkan. Ia memilih menepuk bahu pria itu saja lalu berlari meninggalkan danau.


Sementara Arya menatap kepergian Kian nanar. Sekalipun rasanya sakit, ia merasa lega melihat kenyataan yang sebenarnya. Arya bisa saja membiarkan Kian tidak mengetahui perasaan Arkan padanya. Tapi ia tidak mau Kian menyesal di kemudian hari. Baginya, kebahagiaan Kian adalah yang utama. Lagipula, menjaga persahabatan dengan gadis itu lebih penting ketimbang perasaannya. Ia takut jika mengungkapkan perasaannya justru akan merusak hubungan yang mereka bangun sejak kecil.


***


Kian berlari berusaha mengejar Arkan, tapi pria itu sudah pergi menjauh bersama mobil yang membawanya. Kini yang tersisa hanya penyesalan. Ia menyesal membuat Arkan pergi dengan perasaan marah di hatinya. Andai ia menyadari perasaannya lebih awal, mungkin ia takkan membiarkan Arkan pergi begitu saja.


Sambil mengusap bening kristal di pipinya, Kian kembali ke rumahnya. Sementara Ibu, bapak dan adik-adiknya belum pulang. Kian mendudukkan diri di kursi. Rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Pakaiannya yang basah juga masih menempel di tubuhnya. Ia tidak peduli saat kulitnya mulai menyusut karena kedinginan. Ia hanya mengutuk kebodohannya terus menerus.


Kian menatap kursi di depannya. Bayangan saat pertama kali Arkan duduk disana memutar di ingatannya. Ia tersenyum tipis, lalu kemudian air matanya menetes lagi.


Andai saja kau kembali. Aku akan membuatkan minuman yang kau inginkan seperti katamu kemarin.


Kian menuju kamarnya, berniat mengganti pakaiannya yang basah. Namun saat ia menatap pakaian yang baru saja ia kenakan, ia kembali tersenyum getir.

__ADS_1


Ternyata kau sengaja memancingku agar kita memakai kaos ini bersamaan.


"Cklek."


Terdengar suara pintu terbuka, Kian cepat-cepat mengusap airmatanya dan menghambur keluar. Berharap itu Arkan yang kembali ke rumahnya.


"Assalammualaikum!" Suara Ayu dan Angga terdengar mengucap salam bersamaan.


Kian yang sudah nyaris senang, kembali menelan kekecewaannya.


"Wa'alaikumusalam," jawab Kian pelan. Lalu ia kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Lagi, air matanya menetes melihat sekelebat bayangan Arkan yang belakangan ini terus berada di sisinya. Pikirannya berkecamuk, di satu sisi ia sangat membenci pria itu namun di sisi lain, ia merasa kehilangan saat pria itu pergi meninggalkannya.


Karena merasa lelah menangis, akhirnya Kian terlelap dengan sendirinya. Namun mulutnya masih bisa meracau tidak jelas.


"Maafkan aku, Pangeran. Maafkan aku."


***


Keesokan harinya.


Ibu dan Bapak tidak lagi menanyakan soal Arkan. Kemarin Kian mengatakan bahwa pria pergi karena ada urusan mendadak. Lagi-lagi ia harus berbohong. Tapi ia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, ia masih malu mengungkapkan perasaannya pada orang tuanya.


Kian sudah mempacking semua barangnya. Termasuk uang yang kemarin Arkan berikan. Ia berniat mengembalikan uang itu, karena merasa ia tidak pantas menerimanya. Mau di apakan uang itu, terserah kepada pemiliknya saja.


Sebelum pergi, Kian berpamitan dengan keluarganya. Ia mencium tangan Ibu dan Bapaknya bergantian. Sementara isak tangis mulai pecah seperti dua tahun yang lalu saat Kian pergi untuk pertama kalinya. Setelah selesai acara berpamitan, Kian pergi bersama dengan Arya. Pria itu yang mengantarkan Kian sampai ke bandara.


"Hati-hati dijalan ya," ucap Arya melepas kepergian Kian.


Meski ini kedua kalinya, tapi rasa sakitnya masih sama bagi mereka berdua. Tidak mudah meninggalkan teman yang sedari kecil selalu bersama-sama. Kian mencoba menahan air matanya, namun tetap tidak bisa. Ia akan sangat merindukan Arya. Merindukan saat-saat dimana mereka bermain dan menghabiskan waktu bersama. Begitupun yang dirasakan Arya, tanpa terasa air matanya menggenang di pelupuk matanya.


"Kamu jangan ikutan nangis dong! Kayak cewe aja!" Kian meledek Arya untuk mengurangi rasa sedih mereka.


"Kamu jaga kesehatan ya. Kapan-kapan aku main ke Ibukota kamu yang jadi guide nya." ucap Arya sambil mengusap rambut Kian.

__ADS_1


"Tuh kan jadi berantakan." Kian merapikan rambutnya lalu melanjutkan. "Iya aku tunggu ya, yang semangat kuliahnya. Semoga kamu bisa jadi orang sukses dan bisa jalan-jalan ke Ibukota."


Sebenarnya waktu Kian berangkat pertama kali, Arya ingin ikut bersamanya. Tapi orang tuanya tidak menyetujui dan meminta Arya untuk melanjutkan kuliah di kotanya saja.


"Iya,, bawel. Ya sudah sana masuk!"


"Bye.."


"Bye.."


Kian berjalan mundur agar masih bisa melihat Arya di pintu masuk utama. Sementara Arya melambaikan tangannya melihat Kian yang mulai menjauh darinya. Genangan yang sedari tadi ia tahan, akhirnya jatuh menetes. Kian sudah menghilang, namun ia masih mematung disana.


Semoga kita bisa bertemu lagi dan bermain seperti dulu. Berbahagialah disana. Aku akan sangat merindukanmu, Kian.


****


Tepat jam 13.00 WIB pesawat landing di bandara nomor satu di Ibukota, Kian langsung memesan taksi online menuju rumah Bibi Sumi. Tak butuh waktu lama, taksi langsung datang menjemputnya.


Di tengah perjalanan, Kian memegangi perutnya yang terasa lapar. Ia kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu saat di pesawat. Dimana pramugari datang silih berganti mengantarkan makanan untuknya. Namun tidak dengan perjalanannya di pesawat tadi. Tidak ada acara pengundian penumpang yang beruntung, bahkan untuk penumpang lain sekalipun. Membuat Kian bertambah yakin, bahwa yang ia alami di pesawat saat itu ialah karena ulah Arkan.


Besok adalah hari terakhir liburnya, ia berniat akan menemui Arkan di kantor. Meminta maaf sekaligus penjelasan tentang apa yang Arya bicarakan mengenai perasaannya.


Tak terasa hampir satu setengah jam Kian di dalam taksi menuju rumah Bibinya. Ia tidak berani memejamkan matanya meskipun sebentar, karena mengingat pesan yang pernah Arkan katakan padanya.


Jangan tertidur sembarangan. Terlebih jika aku tidak ada.


Sekarang, Kian baru mengerti maksud ucapan Arkan. Pria itu hanya mengkhawatirkannya.


Kian turun dari taksi setelah membayar ongkos pada supirnya. Lalu ia membuka gerbang dan mencari keberadaan Bibi Sumi. Wanita paruh baya itu terlihat kaget, saat melihat kedatangan Kian. Ia langsung memeluk Kian seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


"Bibi, Kian mau istirahat dulu ya. Soalnya nanti sore ada acara yang harus Kian datangi." ucap Kian setelah melepas pelukannya.


"Hmm baiklah. Jangan lupa mengganti pakaianmu terlebih dulu!" jawab Bibi.

__ADS_1


Kian menuruti perkataan Bibinya, ia mengganti pakaiannya lalu merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur. Dalam sekejap, ia sudah terlelap.


__ADS_2