Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Jadi Korban


__ADS_3

Panas matahari mulai terasa menyengat, selimut yang menutup separuh tubuh Kian membuatnya gerah. Ia menjauhkan selimut itu dari dirinya. Mengucek-kucek matanya yang masih sedikit mengabur. Tangannya menutup mulut yang terbuka saat menguap. Kian bangun, menyandarkan tubuhnya ditempat tidur.


Diluar terdengar suara-suara orang sedang berbicara, Kian penasaran siapa dan ada apa. Ia memutuskan untuk keluar.


Sebelum keluar, Kian menyentuh pergelangan kakinya yang terasa sakit tadi. Lalu menggoyangnya pelan. Rasanya sudah tidak terlalu sakit. Mungkin karena pijatan Arkan. Hanya saja jika dipakai untuk berjalan, masih terasa nyeri. Akhirnya Kian berjalan keluar kamar sambil berpegangan pada dinding tembok. Menyangga dirinya agar tidak terjatuh.


Kian terkejut saat melihat beberapa orang dengan seragam putih ada di ruang tamu. Pakaian mereka seperti... seorang Dokter. Kian mengerutkan dahi, untuk apa para dokter berkumpul disini.


Melihat Kian keluar dari kamar, Bibi Sumi menghampirinya. Raut wajahnya juga terlihat terkejut sekaligus bingung. Lalu Sam menghampiri mereka, menjelaskan penyebab kedatangan para dokter itu.


"Mereka datang atas perintah Tuan Arkan," ujar Sam.


"Itu dokter ahli patah tulang,"


"Itu dokter syaraf,"


"Sedangkan itu dokter umum,"


Sam menyebutkan keahlian masing-masing dokter, sambil tangannya mengarah pada mereka. Mendengar penjelasan Sam, Kian hanya menggelengkan kepala tidak percaya.


"Lalu yang disana siapa?" Kian menunjuk seorang wanita yang berada di paling ujung. Dia tidak mengenakan pakaian dokter, jadi Kian pikir dia bukan dokter.


"Ohh, itu pemijat professional, Nona," jawab Sam.


Lagi-lagi Kian menganga tidak percaya. Kenapa pria itu menyuruh mereka kesini. Sudah seperti pasien gawat darurat saja, semua dokter disuruh datang. Lalu Kian mencari sosok yang ada dibalik semua ini.


"Dimana Tuan Arkan?" tanya Kian. Saat tidak menemukan sosoknya.


"Tuan Arkan sedang ada meeting, Nona. Katanya dia akan kembali setelah meeting selesai."


"Apa Tuan Arkan sudah tidak waras? Bagaimana bisa dia mengirim dokter-dokter itu kemari?" gerutu Kian.


"Tuan Arkan menyuruh mereka untuk memeriksa anda, Nona. Jadi anda bisa bersiap."


Akhirnya Kian kembali ke kamarnya sambil dituntun Bibi Sumi. Wanita itu mendudukkan Kian dengan hati-hati. Lalu keluar menyiapkan makan siang untuk Kian.


Dokter pertama masuk ke kamar Kian. Memeriksa kondisi Kian berdasarkan keahliannya. Lalu keluar dan menulis beberapa catatan.


Diikuti dokter kedua dengan melakukan hal yang sama. Keluar lagi dan menulis catatannya.


Saat dokter ketiga masuk, Arkan terlihat turun dari mobil diantar supirnya yang lain. Dia masuk kedalam rumah lalu Sam menghampirinya. Memberikan penjelasan sejauh mana pemeriksaan berlangsung. Terlihat Arkan hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Sam, sambil menunggu dokter ketiga keluar.

__ADS_1


Setelah dokter ketiga keluar, Arkan masuk ke kamar Kian untuk melihat kondisinya. Terlihat gadis itu sedang duduk bersandar. Sambil memainkan jemarinya.


Kian mencebikkan bibirnya cemberut. Dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti ini. Beberapa dokter terus memeriksanya dan menyentuhnya. Membuatnya geli.


"Kenapa Tuan melakukannya?" tanya Kian dingin.


"Apa?!" Arkan balik tanya. Pura-pura tidak mengerti pertanyaan gadis itu.


"Kenapa anda menyuruh dokter-dokter itu kemari? Saya hanya keseleo di pergelangan kaki. Bukan patah tulang atau cedera parah. Dipijat saja cukup." ucapnya kesal.


"Kau sudah baikan?" tanya Arkan sambil mendudukkan diri di kursi kecil. Tidak memperdulikan ucapan Kian.


Kian mendesah, sudah menduga ucapannya tidak akan digubris. "Sudah," jawabnya ketus.


"Kakimu masih sakit?"


"Sedikit," jawab Kian tanpa menoleh.


Arkan menuju pintu, membukanya sedikit dan berbisik pada Sam yang berdiri dekat pintu. Pria itu mengangguk paham. Lalu menyuruh wanita berpakaian batik masuk. Dia adalah pemijat professional. Wanita itu masuk lalu berdiri di samping Kian.


"Apa anda ingin dipijat seluruh badan atau hanya bagian yang sakit?" tanyanya lebih dulu.


Kian berpikir sejenak. Kalau dipijat seluruh badan, itu artinya ia harus melepaskan pakaiannya dan memakai kemben yang dibawa wanita itu. Lalu Kian melirik Arkan. Tidak, tidak. Dia tidak ingin memakai kemben didepan pria itu. Cukup sekali saja ia kepergok mengenakan sehelai kain didepan Arkan. Kian tidak akan mengulangnya lagi.


Setelah dipersilahkan, wanita itu duduk ditepi tempat tidur dan mengeluarkan perlengkapan memijatnya. Pertama-tama wanita itu membalurkan sesuatu di kaki Kian agar terasa licin. Lalu mulai menyentuhnya dan memijatnya perlahan. Awalnya Kian hanya merasa geli, hingga lama kelamaan pijatan itu terasa menyakitkan. Kian sampai meremas selimut yang digenggamnya. Rasanya benar-benar sakit. Sambil menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak


"Aaaaaa... Sakit!!" rintihnya saat wanita itu menarik kakinya.


Melihat Kian yang bergerak kesana kemari dan terus-terusan mengeluh sakit, Arkan mulai panik.


"Hei, pelankan pijatan mu! Kau tidak lihat dia berteriak kesakitan? Kau ingin membunuhnya, ya?"


Ck. Yang namanya keseleo kalau dipijat pasti sakit Tuan, ini sih belum apa-apa. Saya bahkan belum membenarkan posisi pergelangan kakinya. Bisa-bisa nona ini berteriak lebih kencang dari ini.


Kian menatap Arkan lirih, seperti memohon sesuatu.


Sudahlah Tuan, anda diam saja. Jangan menambah rasa sakitku dengan ocehanmu itu.


"Maaf Tuan," jawab wanita itu seramah mungkin. Bagaimanapun juga Arkan adalah pelanggan yang membayarnya.


"Pergelangan kaki Nona terkilir, jadi saya harus membenarkan posisinya agar tidak bengkak. Jadi Nona, bersiaplah!" ucap wanita itu agar Kian mempersiapkan dirinya menghadapi rasa sakit.

__ADS_1


"Tuan, tolong pegang tangan saya," bisik Kian pada Arkan.


"Apa?! Kenapa?" Arkan penasaran.


"Pegang saja jika anda tidak ingin melihat saya meninju wanita itu," bisiknya lagi.


Akhirnya Arkan menurutinya. Ia memegangi tangan Kian yang disertai kerutan di keningnya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan pemijat itu.


"Saya akan melakukannya dalam hitungan ketiga." ucap wanita itu memberi kode.


Kian menarik napas dalam.


"Satu,"


"Dua,"


"Tiga!"


"AAAAAAAAAAAA!!!!" tiba-tiba Arkan berteriak kesakitan.


Pemijat itu sudah selesai membenarkan pergelangan kakinya, namun Kian masih menempelkan giginya di lengan Arkan. Pria itu menganga tidak percaya, napasnya tersengal-sengal setelah berteriak.


Tanpa sadar Kian menggigit lengan Arkan sangat kuat. Hingga bekas gigitannya nyaris mengeluarkan darah. Melihat lengan Arkan terluka, Kian buru-buru meraihnya. Meniupnya pelan-pelan. Dia merasa sangat menyesal.


Kian meminta pria itu memegang lengannya, agar ia tidak refleks membalas pemijat tadi. Tapi sekarang, malah Arkan yang jadi korban. Kian bodoh, rutuknya sendiri.


Arkan merasakan nyeri di bagian yang digigit Kian. Amarahnya langsung memuncak ingin memaki gadis itu. Namun saat Kian meniupnya dan mengusapnya pelan, Arkan mengurungkan niatnya. Dia malah senyum-senyum sendiri seperti orang kehilangan akal. Tidak ingat baru saja digigit gadis itu.


Sial, kenapa jantungku berdetak cepat saat dia meniupnya. Rasanya nyaman sekali.


Kian mengambil obat luka di laci nakas dan meneteskannya ditangan Arkan. Karena tidak memiliki plester, jadi dia hanya membalutnya dengan sapu tangan miliknya.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," lirihnya setelah selesai mengobati.


Arkan menatap balutan sapu tangan di lengannya. Rasanya sudah tidak begitu sakit. Tapi melihat raut wajah Kian yang penuh penyesalan membuatnya ingin menjahili gadis itu.


"Apa kau pikir aku akan memaafkan mu begitu saja? Lihat, gara-gara kau tanganku yang mulus ini menjadi cacat!" cibir Arkan ketus.


Ck, apa dia ini waras? Kalau luka ringan begitu saja dia bilang cacat bagaimana yang parah? Tapi memang salahku juga sih, tangannya yang mulus itu jadi terluka. Maaf ya, Tuan.


"Terus saya harus bagaimana agar Tuan memaafkan saya?" tanya Kian. Suaranya terdengar sedikit mengiba, berharap masalah ini segera selesai. Dia tahu Arkan tidak akan semudah itu melepasnya.

__ADS_1


"Aku akan memberitahumu nanti. Jadi kau hanya perlu bersiap." Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian.


Kian mengerutkan dahi. Tidak mengerti maksud ucapan pria itu. Tapi sedetik kemudian mengangkat bahu, tidak ingin memikirkannya. Setidaknya hari ini dia selamat.


__ADS_2