Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Ide Cemerlang


__ADS_3

Kriingg.. Kriingg..Kriingg.


Suara dering telepon yang begitu berisik membangunkan Kian dari tidurnya. Ia meregangkan ototnya sambil menutup mulutnya yang menguap. Matanya mencari-cari asal bunyi itu. Ah, ternyata ada di meja nakas di sebelahnya.


"Halo?" sapa Kian.


"Kiaannnnn!!!" Kian menjauhkan gagang telepon dari telinganya. Suara teriakan diseberang sana terasa memekakkan gendang telinganya.


Bagaimana ia bisa tahu ini aku.


Kian menatap gagang telepon itu sebentar, lalu meletakkannya di telinga lagi. "Siapa ini?" tanyanya heran.


"Ini Ibu, Nak Kiann!" Suara di seberang telepon terdengar sangat nyaring.


"Ohh Nyonya, maaf saya tidak tahu kalau ini Anda."


"Sudah saya katakan berhenti memanggil saya Nyonya, panggil saja saya Ibu seperti Arkan!" protes Nyonya Wina.


Kemarin, wanita itu sudah menyuruh Kian untuk memanggilnya dengan sebutan Ibu, tapi sepertinya gadis itu lupa. Ia masih merasa canggung.


"I-iya Ibu, maaf," jawab Kian gugup.


"Dimana Arkan? Ibu menghubungi ponselnya berkali-kali tapi ia tidak menjawabnya. Apa ia sudah berangkat ke kantor, Kian?"


Kian mencari keberadaan pria itu, lalu menangkap sosok yang ada dibalik selimut. Ternyata ia masih tidur.


"Dia masih tidur, Bu. Apa Ibu ingin saya membangunkannya?"


"Tidak perlu, Kian. Mungkin dia lelah, biarkan dia tidur dulu. Ibu hanya ingin memberi tahunya untuk datang ke acara makan malam keluarga nanti malam. Kau juga harus datang bersamanya. Ingat, HARUS DATANG!!" pesan Ibu.


Kian meneguk liurnya. Kenapa hanya mendengar acara makan malam keluarga begitu mengerikan di telinganya. Rasanya gugup seperti akan bertemu presiden saja.


Makan malam bersama keluarga Wijaya Group? Apa aku masih bermimpi?


Kian menggelengkan kepalanya lalu menepuk pipinya. Sakit. Itu artinya ia tidak bermimpi. Ia langsung menghampiri Arkan yang masih tertidur. Menarik selimut pria itu pelan.


Kenapa ia gemetaran?


Kian terkejut saat melihat Arkan gemetar dibalik selimut. Ia langsung mengecek suhu tubuh pria itu dengan punggung tangannya.


"Aww panas." Kian menarik tangannya lagi. Ia berlari ke dapur mengambil air hangat. Mengompres Arkan seperti sebelumnya.


Kenapa akhir-akhir ini dia sering demam? Apa kesehatannya menurun?


"Hei, bangun. Ayo kita ke rumah sakit!" Kian menggoyang tubuh Arkan pelan. Ia khawatir dengan keadaan pria itu yang sering demam belakangan ini. Lebih baik jika membawanya ke rumah sakit agar segera di tangani oleh dokter.


Arkan membuka matanya perlahan setelah merasa seseorang membangunkannya. Ia langsung tersentak dan menjauh dari Kian saat sadar posisi mereka terlalu dekat. Gadis itu berada tepat di depannya dengan jarak hanya beberapa senti.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan masih dengan ekspresi terkejut dan gugup. Ia masih belum bisa menyingkirkan gejolak di dadanya yang bergemuruh sejak semalam. Bahkan ia baru bisa memejamkan matanya setelah matahari mulai terbit. Saat matanya benar-benar mengantuk dan menahan gairahnya dengan terlelap.


"Kau demam. Kita harus ke rumah sakit!" jawab Kian. Ia juga terkejut dengan reaksi Arkan barusan.


"Aku baik-baik saja." Arkan menarik handuk kecil yang menempel di keningnya lalu melemparkannya.


Kian mendelik. "Tidak! Akhir-akhir ini kau sering demam. Kita harus ke rumah sakit sekarang! Ayo cepat!" Kian menarik lengan Arkan dan menyeretnya. Pria itu memberontak, tapi Kian tidak peduli. Ia terus menarik Arkan hingga mereka turun di lobby, beberapa orang memberi pandangan terkejut ke mereka.


Tanpa memperdulikan tatapan-tatapan itu, mereka pergi dengan menggunakan taksi. Kian tidak mau menunggu saat Arkan bilang Sam akan mengantar mereka. Keburu pria itu berubah pikiran, batinnya.


Mereka menuju rumah sakit tempat Kian dirawat terakhir kali. Gadis itu mencari dokter yang pernah merawatnya. Menurut Kian, dokter itu sangat baik dan ramah serta sangat telaten dalam memeriksanya. Ia tidak tahu saja, bahwa Arkan sudah memperingatkan dan mengancam dokter itu untuk merawatnya dengan baik. Kalau tidak, ia akan menghancurkan rumah sakit tersebut. Itulah sebabnya Kian mendapatkan perawatan nomor wahid sewaktu dirawat disana.


Dokter yang diketahui bernama Wisnu tersebut sangat terkejut melihat kedatangan Arkan. Apalagi melihat penampilan pria itu sekarang, dia nyaris tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Tapi tentu saja ia tidak berani melakukannya. Kalau sampai ia berani menertawakan pria itu, berarti ia punya nyawa cadangan untuk kembali hidup.


"Dok, tolong dia. Akhir-akhir ini dia sering demam. Apa dia punya penyakit serius apa gimana ya?? Tolong juga beri dia obat yang paling bagus, Dok!" cecar Kian tanpa memperhatikan Arkan yang melotot ke arahnya.


Dokter itu mengernyit, lalu tersenyum melihat kekhawatiran Kian. "Maaf Nona, kita harus memeriksa Tuan Arkan terlebih dulu agar bisa meresepkan obatnya." Dokter Wisnu melirik Arkan takut-takut.


"Ah iya benar, Dokter harus memeriksanya terlebih dulu." Kian baru menyadari sejak tadi ia mencecar Dokter Wisnu tanpa memintanya untuk memeriksa Arkan terlebih dulu.


"Dasar bodoh!" ejek Arkan. Mendengar ejekan itu, Kian mencebikkan bibirnya kesal.


Dokter Wisnu tersenyum melihat kelakuan kedua orang itu. Lalu menyuruh Kian dan Arkan masuk ke ruang pemeriksaan. Ruangan khusus untuk pasien VVIP. Dokter yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Arkan, sedang fokus memeriksa pria itu. Mengecek suhu dan tekanan darah terlebih dulu baru meminta Arkan berbaring. Dokter Wisnu menempelkan stetoskopnya di dada Arkan untuk memeriksa sesuatu. Wajahnya terlihat tenang beberapa saat lalu menyunggingkan senyum tipis.


Setelah Dokter Wisnu selesai memeriksanya, Arkan beranjak. Ia melihat Kian yang sedang menunggunya dengan wajah khawatir. Gadis itu sedang menggigit-gigit jari jempolnya. Arkan mendekatinya, lalu menarik tangan Kian.


Kian terkesiap, ia mengikuti Arkan yang duduk berhadapan dengan Dokter Wisnu. Dokter tersebut terlihat sedang menuliskan resep.


"Apa yang terjadi Dok? Dia tidak sakit parah, kan?" tanya Kian masih cemas.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang akan terjadi padaku? Wahh.. sepertinya kau begitu menginginkan aku sakit parah ya??" cibir Arkan sinis.


"Diamlah, aku sedang bertanya pada dokter bukan denganmu!!!" bentak Kian tanpa menoleh.


Arkan menganga mendengar Kian membentaknya. Tidak hanya Arkan, sepertinya dokter Wisnu juga sangat terkejut. Ia tidak menyangka ada yang berani membentak Tuan Muda seperti itu. Dan yang lebih tidak masuk akal, Arkan justru menurut. Ia langsung menutup mulutnya rapat.


"Tuan Arkan baik-baik saja, Nona. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuan hanya kelelahan dan butuh istirahat," terang dokter Wisnu.


Kian menarik napas lega. Lalu tiba-tiba Arkan menarik tangannya dan menyeretnya keluar ruangan. Persis seperti yang Kian lakukan pada Arkan tadi pagi.


"Ehh apa yang kau lakukan? Kita belum mengambil resepnya!" teriak Kian.


"Tidak perlu. Kau tidak dengar kata dokter? aku baik-baik saja!" Arkan terus menarik tangannya.


"Kalau gitu lepaskan tanganku dulu. Sakit tahu!" Arkan langsung melepaskan genggamannya. Ia melihat Kian mengusap-usap tangannya.


"Apa rasanya sangat sakit? Maaf aku tidak sengaja menggenggamnya terlalu kuat!" Arkan meniup tangan Kian yang memerah. Gadis itu hanya membiarkannya sambil mengangkat alisnya dan menurunkan bibirnya.

__ADS_1


Rasakan pembalasanku! Tiup saja terus sampai jontor tuh bibir.


Melihat Arkan meniup tangannya, Kian merasa ada yang aneh. Ia melihat sosok di depannya begitu mengerikan.


"Hei, kenapa kau keluar apartemen hanya menggunakan boxer dan kaos dalam begitu? Kau sengaja ingin menggoda wanita lain dengan tubuhmu yang sempurna itu??" Kian mendengus kesal. Sementara Arkan menghentikan aktivitas meniupnya dan menatap tajam Kian.


"Bukankah kau yang langsung menyeretku kesini. Aku sudah memintamu untuk menunggu selagi aku mengganti pakaian. Tapi kau bahkan tidak mendengarkan. Apa kau tuli?"


Kian menggigit bibir bawahnya. Ia baru menyadarinya sekarang. Dia langsung menyeret Arkan tanpa mendengar teriakan pria itu.


"Maaf, aku hanya mengkhawatirkanmu." Kian menundukkan kepala menyesal.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Lagipula banyak wanita merasa beruntung hari ini karena bisa melihat tubuhku. Ayo kita pulang!"


"APA?!! Tidak! Kita tunggu disini saja. Minta Sam untuk membawakan pakaianmu!"


"Ponselku tertinggal saat kau menarikku paksa," jawab Arkan santai.


Kian mengutuk kecerobohannya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak memperhatikannya. Kalau sampai orang-orang melihat penampilan Arkan sekarang, ia tidak bisa menerimanya. Bukan hanya karena wanita lain bisa melihat tubuh pria itu, tapi image Arkan sebagai pewaris Wijaya Group akan tercemar. Terlebih ia keluar dari apartemennya bersama dengan seorang wanita. Jika media sampai tahu, habislah. Beritanya agar segera menyebar ke penjuru negeri.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Kian melirik sweater yang dipakainya. Lalu muncul sebuah ide. Meski konyol, ia akan mencobanya. Kian membisikkan sesuatu ke telinga Arkan.


"Apa?! Apa kau sudah gila?" Arkan protes dengan ide yang baru Kian bisikkan.


"Kita tidak ada pilihan lain. Bagaimana kalau sampai ada yang mengambil gambar dirimu seperti ini lalu memberitakan yang tidak-tidak?"


Arkan berpikir sejenak. "Baiklah." jawabnya sambil tersenyum menyeringai.


Kian melepas sweaternya, lalu menyuruh Arkan menempelkan kepala di bahunya. Meski rasanya gugup, Arkan melakukannya. Setelah pria itu menyandarkan kepalanya, Kian menutupinya dengan sweater hingga wajah Arkan tidak terlihat. Mereka berjalan pelan-pelan seperti tengah membopong orang sakit. Meski orang lain memandang aneh, tapi mereka tidak bisa melihat wajah Arkan dengan jelas. Sepertinya ide Kian berhasil. Mereka berjalan semakin pelan, karena Kian merasa kepala Arkan sangat berat di bahunya.


Bukannya tadi aku bilang untuk berpura-pura menyandarkan kepalanya saja. Kenapa sekarang ia benar-benar menempelkan kepalanya di bahuku sungguhan? Dan apa ini, kenapa tangannya bisa sampai disini?


Kian merasa geli saat Arkan melingkarkan tangan di pinggangnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Darahnya berdesir merasakan hembusan napas pria itu menggelitik di lehernya. Hangat. Sepertinya Kian berjalan lambat bukan karena kepala Arkan yang terasa berat, tapi pria itu yang sengaja menahan tubuhnya untuk berjalan lebih pelan, bahkan sangat pelan.


Bukan aku yang memintanya ya. Tapi kau yang menyuruhku. Aku hanya mengikuti ide cemerlangmu ini. Ternyata rasanya lebih nyaman daripada tempat tidurku yang berharga puluhan juta itu.


Arkan terus tersenyum dibalik sweater. Ia tidak tahu seberapa bodoh dan menyesalnya dia kalau saja tadi ia menolak ide Kian.


Rasanya aku ingin menggigit lehernya saja.


Kian memalangkan tangan kanannya menyetop sebuah taksi di depan rumah sakit. Sementara tangan kirinya, masih menutup kepala Arkan dengan sweaternya hingga mereka masuk ke dalam taksi tersebut. Baru saja Kian ingin menarik sweaternya, tapi Arkan menahannya.


"Apa yang kau lakukan? Kau ingin supir itu mengambil gambarku dan menyebarkannya? Biarkan seperti ini sampai kita kembali ke apartemen," bisik Arkan. Kian sampai merinding merasakan hembusan napas pria itu di telinganya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Namun ia tetap membiarkan Arkan dalam posisinya. Tidak ingin seseorang mengambil pria itu dan menyebarkan rumor yang tidak-tidak.


Arkan tersenyum senang lagi kali ini karena berhasil mengelabui Kian. Sebenarnya tidak akan ada yang berani menyebarkan berita atau rumor apapun tentangnya. Jika ada yang berani melakukannya, dengan mudah ia akan menyuruh orang suruhannya untuk membungkamnya. Tapi ia membiarkan Kian berpikir seperti itu, ia jadi tahu seberapa peduli gadis itu padanya. Tohh yang diuntungkan dari ide ini adalah dirinya sendiri, bisa menempel pada Kian tanpa harus bersusah payah.

__ADS_1


Rasanya Aku ingin segera menikahimu!!


__ADS_2