Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Keberadaan Pak Dan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya karyawan istirahat. Kian dan Dina berjalan menuju ruang istirahat. Seperti biasa, mereka sudah membawa bekal makan siang dari rumah. Rendy juga disana, bergabung bersama mereka. Dia memesan makanan via aplikasi layanan pesan antar. Baru saja Kian membuka bekalnya, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.


"Kian, kamu ditunggu tuan Arkan di ruangannya," ucap orang itu.


Apa lagi sekarang??? Kau benar-benar menguji kesabaran ku tuan muda!!


"Ini kan jam istirahat, mau apa lagi sih dia?" gerutu Kian kesal.


"Mana ku tahu." Orang itu mengangkat bahunya. "Dia hanya mengatakan itu saja."


"Hmm baiklah. Terima kasih," jawab Kian. Dia menutup kembali bekal makan siangnya.


Dina dan Rendy saling melempar pandangan, mereka juga tidak bisa menebak kenapa tuan Arkan memanggil Kian di jam istirahat. Bukannya ada Pak Dan yang biasanya mengurus keperluan tuan mudanya.


Kian berjalan menuju ruangan Arkan. Kakinya di hentakkan ke lantai untuk melampiaskan kekesalannya. Perutnya sudah sangat keroncongan, karena ia tidak sempat sarapan tadi pagi. Tapi sekarang, tuan muda itu malah seenaknya menganggu jam makan siangnya.


"Kenapa dia selalu saja menganggu Kian?" gumam Rendy pelan. Dia mengunyah makanannya dengan tatapan kosong.


"Kenapa, Kak Rendy?" tanya Dina yang seperti mendengar orang di sebelahnya bergumam.


"Euhmm tidak apa-apa." geleng Rendy sambil melanjutkan makan siangnya. Dia sudah kehilangan selera melihat makanan di depannya. Pikirannya baru saja terusik.


Kian sengaja membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu. Membuat orang yang di dalam terkejut dengan kedatangannya.


"Apa kau kehilangan akal, bagaimana kau masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, hah!" bentak Arkan.


"Maaf tuan, saya sudah mengetuknya tapi tuan tidak menjawab," jawab Kian berbohong. Nada suaranya dibuat-buat agar tuan muda itu mempercayainya.


Benarkah?? Kenapa aku tidak mendengarnya??


Percaya saja lah tuan muda!


Ku mohon cepat selesaikan urusanmu. Perutku sudah sangat lapar ini.


"Baiklah, ikut aku sekarang!" Arkan beranjak dari kursinya. "Pegang ini!" Melempar tas ke arah Kian. Di tangkap gadis itu dengan gelagapan.


Apa ikut dia? Kemana? Kenapa aku?


Lagian bisa tidak sih ngasih baik-baik? Menyebalkan**!!


"Hah? Kemana, Tuan?" tanyanya. Kenapa tiba-tiba dia yang harus mengikuti pria ini. Bukankah Pak Dan yang biasanya bersamanya. "Ini kan jam istirahat, Tuan?

__ADS_1


"Jangan banyak protes. Kau digaji bukan untuk itu!!" ucap Arkan ketus. Dia melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tidak peduli wajah Kian yang merah padam karena dongkol.


Memang sih, tapi kan aku penasaran.


Oohh bekal makan siang ku**!! Ratapnya sedih.


Mereka berdua turun dari lift bersamaan, menuju parkiran. Disana sudah ada supir yang menunggu mereka.


"Masuk!" perintah Arkan pada Kian, saat supir membukakan pintu mobil untuk mereka.


Setelah mereka masuk, supir menutup pintu hati-hati. Lalu duduk dibalik kemudi. Menyalakan mesin dan melaju meninggalkan halaman kantor.


Terik matahari sedang panas-panasnya. Seolah ingin membakar apa saja yang ada di bawahnya. Tidak peduli para pengais rezeki di luar sana meringis, mengusap peluh di sekujur tubuh mereka. Beruntung bagi mereka yang bisa bekerja di dalam ruangan terlebih ada Ac di dalamnya. Tidak perlu merasakan panas membakar kulit mereka.


Kian sendiri tidak tahu kemana tujuan mereka. Walau sebenarnya dia penasaran tapi dia enggan untuk menanyakannya. Menurutnya itu akan sia-sia, karena Kian sudah bisa menebak jawaban pria itu. Jangan banyak tanya. Paling-paling hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Kian lebih memilih menatap ke jalanan. Melihat pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan seperti berlari meninggalkan mereka. Lalu lintas tidak terlalu macet membuat kendaraan melaju cepat, saling menyalip satu sama lain.


Sudah hampir satu jam mereka melakukan perjalanan, akhirnya mobil berhenti di sebuah Rumah Sakit.


Rumah sakit?? Mau apa dia kesini?


Kian mengernyit sendiri. Arkan menyuruh supir menunggunya di parkiran. Lalu mereka berdua berjalan memasuki rumah sakit. Tanpa bertanya ke resepsionis, Arkan langsung menuju ke sebuah ruangan. Dia mengetuk pintu sebentar, lalu membukanya.


"Tuan muda." Pak Dan langsung bangkit dari tidurnya melihat kedatangan Arkan. Pria itu terlihat pucat, selang infus juga terpasang di pergelangan tangannya.


"Tidak perlu memaksakan diri, Pak." Arkan mendekat. "Bagaimana kondisi anda sekarang?


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya merasa sedikit lebih baik." ucapnya sambil tersenyum. "Apa tuan tetap melanjutkan janji temu dengan mereka?"


"Sepertinya begitu, Pak. Mereka mendesak untuk tetap bertemu hari ini."


"Maaf saya tidak bisa mendampingi, Tuan," lirih Pak Dan.


"Tidak apa-apa. Anda beristirahat saja dengan tenang. Saya bisa melakukannya." Berusaha menyakinkan pria paruh baya itu.


Sedari tadi Kian hanya mematung, dia sendiri bingung harus mengatakan apa. Dia tidak punya kesempatan menyela pembicaraan Arkan dan Pak Dan, merasa tidak pantas juga. Jadi dia hanya mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam.


"Baiklah, saya permisi dulu. Jangan cemaskan urusan kantor, anda harus istirahat agar segera pulih."


"Baik, Tuan muda. Hati-hati dijalan."


"Saya permisi, Pak. Semoga anda lekas sembuh," ucap Kian saat Arkan sudah berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona. Tolong jaga tuan muda."


"Baik, Pak."


Tunggu! Pak Dan memintaku untuk menjaga tuan muda? Apa telingaku tidak salah dengar?? Terus kenapa aku langsung mengiyakan? Ahh entahlah..


Mereka kembali ke mobil. Melanjutkan perjalanan sesuai tujuan Arkan. Entah kemana. Kian tidak peduli.. Dia merasa tubuhnya mulai gemetar menahan lapar, perutnya nyeri.


"Kruk kruk." Bunyi suara perut terdengar sangat jelas.


Bahkan supir yang ada di depan pun bisa mendengarnya. Nyaris tergelak. Terlebih Arkan, dia sampai membuang muka menahan tawa.


TIDAKK!! Kenapa suara perutku kencang sekali? Memang sih aku lapar, tapi ngga mesti sekencang itu juga kan suaranya. Lihat, mereka sampai ingin menertawakan ku.


Kian langsung menundukkan kepala. Malu. Sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


"Apa kau belum makan? Kenapa perutmu berisik sekali?" ejek Arkan.


Apa dia bilang? Berisik?


HEI,, Ini semua gara-gara kau tuan muda.


"Bagaimana saya bisa makan kalau anda memanggil saya di jam makan siang?" jawab Kian ketus.


"Jadi kau menyalahkan ku?"


"Tidak. Ini sudah menjadi tugas saya menuruti perintah anda, Tuan muda." Kian menekan kata-katanya. Bermaksud menyindir.


Berharap pria itu sadar atas perbuatannya.


"Baguslah kalau kau paham tugasmu!" jawab Arkan santai.


Apa?? Dia sama sekali tidak sadar?? Dasar orang gila!!


Kian benar-benar kesal. Kenapa dia harus berurusan dengan orang tidak berperasaan seperti itu.


Apa dia pikir dia hidup sendiri di dunia ini? Dia bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun.


Kian meremas perutnya, melampiaskan kesal. Lapar di perutnya semakin menambah kekesalannya saja. Tapi pria di sampingnya bahkan tidak peduli.


Rasanya aku ingin lompat keluar saja!

__ADS_1


__ADS_2