Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Pembalasan


__ADS_3

Arkan duduk di tepi ranjang sambil mengamati wajah Kian yang masih dipenuhi riasan. Wajah mungil yang terlihat sangat tenang saat sedang tidur. Bahkan suara dengkuran Kian tidak mengganggunya sama sekali.


Kian terkejut saat menyadari Arkan tengah mengamatinya. "Kau sudah selesai?" tanya Kian sambil berusaha bangkit dan mendudukkan dirinya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menerangkan penglihatannya sambil sesekali menguceknya. Sekarang, Arkan duduk di depannya hanya menggunakan kaos polos dan celana boxer.


"Hmmm, kau mau mandi?" balas Arkan sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.


Kian mengangguk, "Iya." Baru saja ia ingin beranjak dari tempat tidur, ia merasa ada yang aneh. Tapi apa?


Eh apa ini? Kenapa aku baru menyadari nuansa di kamar ini sangat berbeda dari biasanya.


"Sejak kapan barang-barang ini ada disini?" tanya Kian heran setelah melihat barang-barangnya yang ada di kamar rumah Bibi Sumi berpindah di kamar Arkan. Sepertinya ia terlalu lelah tadi, hingga tidak menyadari keadaan kamar tersebut.


"Sejak tadi pagi. Meskipun terlihat usang, tapi aku pikir kau masih menyukainya. Jadi aku menyuruh orang untuk memindahkannya," jawab Arkan. Ia membuka laci nakasnya dan mengambil sebuah dompet disana, mengeluarkan sebuah kartu lalu memberikannya pada Kian.


"Pakailah ini jika kau ingin membeli sesuatu!" ujarnya. Kian mendelik tidak percaya saat melihat kartu debit platinum milik Arkan disodorkan padanya.


Dengan cepat Kian menggeleng. "Tidak. Aku bisa memakai gaji bulanan yang aku terima untuk membeli barang yang aku inginkan. Lagi pula bukankah pernikahan kita hanya sementara, aku takut kau akan meminta ganti rugi saat kita berpisah."


Ck. Baru saja menikah sudah memikirkan perpisahan. Apa kau pikir aku akan melepasmu? Jangan harap!


"Kau ini bodoh atau apa? Meskipun kau berpikir pernikahan ini akan berakhir, tapi aku tetap wajib memberikanmu nafkah. Jadi jangan protes, pakai saja ini untuk membeli kebutuhanmu! Sekarang, cepat mandi! Aku sudah tidak tahan dengan bau keringatmu!"


Sambil mendengus kesal, Kian berjalan menuju kamar mandi. Selang beberapa menit, ia keluar lagi dengan wajah yang terlihat ragu. Gaun pengantinnya masih menempel di tubuhnya dengan ujung resleting yang sedikit terbuka.


"Ada apa?" tanya Arkan lagi.


Kian menundukkan wajahnya. "Aku tidak bisa melepas baju ini," jawabnya malu.


Arkan terkekeh mendengarnya. "Kau ingin aku membantumu melepasnya?" tawar Arkan.


Kian menggeleng cepat. "Apa tidak ada pelayan wanita yang bisa membantuku melepasnya?" tanyanya penasaran.


"Tidak ada! Aku selalu menyuruh pelayan membereskan apartemen ini hanya saat aku tidak ada. Dan saat aku kembali, mereka sudah harus pergi dari sini," jelas Arkan.


Pantas saja aku tidak pernah melihat pelayan berkeliaran disini tapi anehnya apartemen ini selalu bersih. Ternyata begitu cara mereka bekerja.


"Sekarang, bagaimana aku melepas gaun ini?" gumam Kian pelan.


"Aku bisa membantumu," sahut Arkan seperti bisa mendengar gumaman gadis itu.

__ADS_1


Apa tidak apa-apa membiarkannya membantuku membuka gaun ini? Meskipun dia sudah menjadi suamiku, tapi tetap saja aku malu kalau sampai ia melihat tubuhku.


"Bisakah kau menutup matamu saat melakukannya?"


Arkan berdecih. "Memangnya kenapa aku harus menutup mataku? Bukankah aku sudah sah menjadi suamimu? Kalau kau tidak mau, ya sudah aku akan tidur." Arkan menarik selimut hendak berbaring.


"Baiklah. Tolong bantu aku melepasnya!"


Sebuah seringaian muncul di bibir Arkan. Ia menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan beranjak mendekati Kian. Kini, tangannya sudah memegang ujung resleting. Perlahan, ia menariknya dan mulai menampakkan kulit Kian yang terlihat halus. Arkan terus menariknya hingga mendekati bagian pinggang. Melihat bra yang masih terkait sempurna, entah kenapa ia ingin menariknya paksa hingga terlepas. Ia ingin melihat tubuh Kian tanpa penghalang apapun.


"Tutup matamu! Awas kalau mengintip!"


"Ck, kenapa kau percaya diri sekali aku akan tertarik melihat tubuhmu? Aku bahkan lebih suka memandangi tubuh Lorry daripada tubuhmu!" Arkan mendorong resleting itu ke depan hingga membuat tubuh Kian juga sedikit terdorong.


"Lorry? Siapa dia? Apa dia wanita yang pernah kau tiduri?" tanya Kian penuh selidik. Tapi nada suaranya terdengar tidak suka.


"Dia kadal peliharaanku selama aku berada di luar negeri!" Arkan berbalik dan berjalan menjauhi Kian. Kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


Syukurlah kalau itu bukan wanita. Tunggu! apa itu maksudnya tubuhku lebih buruk dari kadal? Wah dia benar-benar menghinaku! Lihat saja, aku akan membalasmu!


Kian ingin mengumpat Arkan. Tapi melihat pria itu sudah menutup matanya, ia urungkan. Kian berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Sekarang ia bebas menggunakan bath up setiap kali mandi. Tidak ingin membuang waktu, Kian langsung merendamkan diri di dalam air hangat. Merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku. Hingga tanpa terasa ia sudah satu jam berendam, saatnya sekarang membilas tubuhnya. Kian berdiri di bawah shower dengan tubuh hampir polos. Seketika, sebuah ide muncul di kepalanya. Ia ingin membalas Arkan karena sudah mengatai tubuhnya.


Kian mengenakan handuk kimono dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat Arkan sudah bangun dan duduk bersandar di atas ranjang ranjang. Memainkan ponsel yang ada di tangannya.


"Apa kau juga membawa semua pakaianku kesini?" tanya Kian.


Arkan mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Tidak, semua pakaian lamamu sudah aku sumbangkan. Sekarang pakaianmu ada di lemari itu!" telunjuknya mengarah pada satu lemari yang berukuran besar.


"Apa? Disumbangkan?" gumam Kian tidak percaya. Tapi ia tidak ingin protes, setidaknya lebih baik daripada dibuang begitu saja, kan.


Kian berjalan ke arah lemari yang ditunjuk Arkan. Matanya membelalak tidak percaya saat melihat isi lemari itu. "Ini semua milikku?" katanya tidak percaya.


"Hmmm," sahut Arkan santai. Ia masih menatap Kian yang berdiri dengan raut wajah terkesima.


Alih-alih melihat satu persatu pakaian mahal yang sudah memenuhi isi lemari, Kian kembali ke rencana awalnya. Ia melepas ikatan handuk dari pinggangnya dan mulai membukanya perlahan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan heran saat melihat Kian seperti ingin melepas handuk di depannya.


"Mengenakan pakaianku," jawab Kian santai.

__ADS_1


"Disini?" Dahi Arkan semakin berkerut.


"Hmmm. Bukankah kau bilang tidak akan tertarik dengan tubuhku? Jadi tidak masalah kan kalau aku melepas handuk dan memakai pakaianku di depanmu?" Kian masih berdiri di posisinya, hanya saja kepalanya menoleh ke arah Arkan yang ada di sisi belakangnya.


"Apa kau tidak tahu malu?!" teriak Arkan mulai terlihat panik.


"Kenapa harus malu? Bukankah aku istrimu?" Kian sudah melepas handuknya, tubuhnya yang polos tercetak jelas di mata Arkan. Spontan pria itu menelan ludah, rasanya ia ingin menerjang tubuh Kian yang sudah berani menggodanya. Lihat, bahkan juniornya sudah mengeras tidak karuan.


Sial, kenapa dia begitu menggoda. Rasanya aku ingin meninggalkan tanda kepemilikan di setiap inci tubuhnya. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi!


Kian sudah selesai mengenakan pakaian. Tanpa menoleh ke arah Arkan, ia berjalan keluar kamar meninggalkan pria itu yang seperti buaya kelaparan. Ia memegang handle pintu sambil tersenyum menyeringai.


Rasakan pembalasanku! Meskipun kadal peliharaanmu kau anggap lebih menarik dariku, kau pikir aku tidak bisa melakukannya?


Kian menutup pintu dan berjalan ke dapur. Mencari sesuatu untuk mengisi perutnya. Hari sudah sore, tapi ia belum memakan apapun sejak pagi. Dan sekarang, perutnya sudah meronta minta diisi. Namun, ia tidak menemukan apapun yang bisa dimakan, bahkan mie instant pun tidak ada. Ia balik lagi ke kamar untuk mengambil ponsel dan memesan makanan via online.


"Ehh, kemana dia?" gumam Kian saat melihat Arkan tidak ada di dalam kamar. Lalu ia mendengar suara air dari kamar mandi. "Ohh, ternyata di kamar mandi."


Sambil mendudukkan diri di sofa, Kian memilih-milih makanan di aplikasi. Melihat begitu banyak menu makanan yang muncul, ia jadi bingung sendiri mau memilih yang mana.


Sementara di kamar mandi, Arkan baru saja menyelesaikan hasratnya yang sempat terpendam. Ia membuka pintu dan melihat Kian yang sedang fokus menatap layar ponselnya. Melihat ekspresi wajah Kian yang berubah-ubah, Arkan terkekeh. Raut wajah yang terkadang berkerut, kadang menggigit bibir, dan yang paling membuat Arkan tidak tahan adalah saat melihat Kian menjilati bibirnya sendiri.


Apa yang dia lakukan? Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu. Apa jangan-jangan dia sedang menonton film vulgar?


Arkan langsung bergegas menghampirinya. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya nyaris berteriak, membuat Kian terkejut.


"Wah wah kenapa raut wajahmu terkejut seperti itu? Apa yang sedang kau lihat di ponselmu, hah?" tanya Arkan lagi.


"Aku terkejut karena mendengar suaramu yang kayak petir!" dengus Kian kesal. "Lagipula aku hanya sedang memilih makanan. Lihat, nih!" Kian menyodorkan ponselnya yang menampilkan berbagai gambar makanan yang menggugahnya.


Arkan duduk di sebelah Kian dan merebut ponsel dari tangannya. "Kau lapar?" tanyanya setelah melihat ponsel tersebut.


Kian mengangguk. "Iya, aku belum makan sedari pagi," ucapnya sambil mengelus perutnya yang nyaris berbunyi.


"Kalau begitu cepatlah bersiap! Kita makan di luar saja!" perintah Arkan.


Bukannya langsung beranjak, Kian malah memajukan kepalanya dengan raut wajah penasaran. "Dimana?" tanyanya.


"Cepat bersiap dan jangan banyak tanya!" ketus Arkan. Lalu ia beranjak dan berjalan masuk ke ruang ganti.

__ADS_1


Huh, galaknya masih belum hilang meskipun sudah menjadi suami.


__ADS_2