
Mobil melaju cepat menembus jalanan. Tidak ada percakapan di antara penumpangnya. Semua hening. Yang terdengar justru suara kendaraan lain yang menembus dinding mobil.
Kian masih memasang wajah masamnya, sedari tadi dia hanya menatap keluar jendela. Dengan tatapan kosong, pikirannya melayang entah kemana.
Sedangkan Arkan meliriknya dari kaca spion atas. Sebenarnya dia ingin sekali meminta maaf, tapi lidahnya terasa keluh. Rasanya sulit. Akhirnya dia hanya membiarkan perasaan bersalah menggerogotinya.
Supir mengemudi mengikuti arahan Kian, hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah . Kian membuka pintu mobil sendiri sebelum supir membukanya. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun. Tidak berniat mengucapkan terima kasih. Arkan sendiri belum sempat mengucapkan permintaan maafnya. Melihat Kian benar-benar kesal, Arkan memilih membiarkannya. Mungkin besok saja aku meminta maaf padanya, batin Arkan.
Melihat seseorang mengantar Kian, Bibi Sumi keluar untuk menemuinya.
"Terima kasih sudah mengantar, Kian!" ucap Bibi Sumi ramah.
"I-iya. Apa ibu.. ibunya Kian?" tanya Arkan penasaran.
"Bukan, saya Bibinya. Orangtua Kian ada dikampung." jawab Bibi Sumi menjelaskan.
"Ooh.." Arkan mengangguk paham. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Bibi!" Setelah berpamitan, mereka pun pergi meninggalkan halaman rumah. Menyisakan Bibi Sumi yang masih berdiri mematung.
Tampan sekali anak itu! Kenapa dia bisa mengantarkan Kian ya?
Bibi Sumi senyum-senyum centil mengingat wajah tampan Arkan. Lihatlah, bagaimana wanita yang sudah berumur saja sampai terpesona melihat ketampanannya. Tapi Kian justru menyebut pria itu sebagai orang gila-lah, si brengsek gila-lah, singa buas-lah atau apa lah sesuka hatinya. Sama sekali tidak tertarik dengan ketampanan Arkan. Bagi Kian, ketampanan pria itu seperti topeng. Hanya untuk menutup keburukan.
Kian merebahkan dirinya di atas kasur. Sudah terlelap dalam tidurnya. Dia bahkan tidak mendengar pertanyaan Bibi Sumi soal pria yang baru saja mengantarnya. Melihat kelakuan Kian, wanita paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biarlah dia istirahat dulu. Sepertinya dia sedang tidak enak badan," gumam Bibi Sumi. Dia pun melanjutkan memasak untuk makan malam.
Hari sudah sore, matahari sudah kembali ke ufuk barat. Menyisakan senja yang terlihat indah dengan cahayanya.
Tak mau berlama-lama, Rendy bergegas pulang. Dia membawa bekal dan ponsel Kian yang di tinggalkannya di ruang istirahat tadi. Dia buru-buru turun dari lift, menuju parkiran. Menyalakan mesin motor dan melajunya menyusuri jalanan. Dia terus menyalip kendaraan di depannya, agar cepat sampai di tempat Kian. Nyaris saja dia menerobos lampu merah dan membahayakan dirinya. Pikirannya kalut ingin segera bertemu dengan Kian.
Karena kelihaiannya salip menyalip, tak butuh waktu lama dia sudah sampai di depan rumah Bibi Sumi.
__ADS_1
"Assalammualaikum, permisi!" ucap Rendy memanggil penghuni rumah tersebut.
"Wa'alaikumusalam. Cari siapa ya?" tanya Bibi Sumi bingung. Dia merasa tidak mengenal pria itu.
"Kian-nya ada, Bibi?"
"Ada. kamu siapanya Kian ya??" Bibi Sumi terlihat penasaran. Kenapa hari ini rumahnya kedatangan pria-pria tampan.
"Saya teman kantornya,"
"Ooh teman kantornya. Mari silahkan masuk!" ajak Bibi Sumi sambil mengarahkan Rendy ke ruang tamu. "Kian sedang tidak enak badan, jadi dia hanya rebahan saja dari tadi siang. Silahkan duduk dulu!"
"Terima kasih, Bibi!" Rendy duduk di sofa ruang tamu. Menunggu Bibi memanggil Kian keluar dari kamarnya.
Kian keluar kamar dengan wajah lesu. Sebelum keluar, dia sempat merapikan rambutnya yang acak-acakan. Walaupun sedang tidak enak badan bukan berarti penampilannya boleh berantakan, kan? Apalagi di depan Rendy, malu ihh!
"Kak Rendy," sapa Kian lebih dulu. Dia duduk di sebelah Rendy. Sedikit berjauhan. "Mau minum apa?"
"Tidak perlu repot-repot. Aku kesini hanya ingin mengantar ini." Menyodorkan kotak bekal dan ponsel miliknya.
"Kamu sudah makan?" Rendy mencoba memastikan. Karena setahu dia, Kian sama sekali tidak makan apapun waktu istirahat makan siang tadi.
Kian menggeleng.
"Ayo aku traktir bubur ayam depan komplek!" ajak Rendy. Senyum khasnya terukir di wajahnya. Senyum yang selalu bisa membuat Kian meleleh.
"Hhmm ayo!" Kian mengangguk cepat. Wajahnya berubah sedikit ceria. "Sebentar Kak, aku ambil jaket sama topi dulu ya."
Rendy mengangguk senyum. Beberapa menit kemudian Kian keluar dari kamarnya, meminta ijin pada Bibi Sumi. Wanita paruh baya itu baru saja selesai membereskan dapur. Dia mengiyakan saat Kian meminta ijin pergi. Sambil mengingatkan untuk tidak pulang terlalu malam. Kian mengangguk paham. Setelah mendapat ijin, mereka pun pergi.
Bubur ayam depan komplek memang salah satu favorit Kian, dia lebih suka bubur ayam disini daripada ditempat lain. Apalagi kalau dia sedang tidak enak badan seperti saat ini, Kian langsung menginginkannya.
__ADS_1
Dan beruntungnya, kali ini dia makan ditemani orang yang dia suka. Membayangkannya saja bahkan tidak pernah.
"Kata Bibi kamu sedang tidak enak badan, benar?" tanya Rendy, saat mereka sedang menunggu bubur disiapkan.
"Iya sedikit, Kak. Tapi sekarang sudah enakan," lirih Kian.
"Kamu baik-baik saja?" Entah kenapa Rendy merasa ada sesuatu yang terjadi pada Kian.
"Iya, Kak. Aku baik-baik saja."
Kalau aku katakan yang sebenarnya, hanya akan membuat Kak Rendy tambah cemas. Apalagi kalau penyebabnya gara-gara pria gila itu. Lebih baik aku simpan saja sendiri.
Sekilas bayangan kejadian tadi siang muncul diingatannya. Mengusik pikiran. Tapi segera menepis saat sepiring bubur ayam datang ke hadapannya. Tumpukan daging ayam, cakwe, kedelai, daun seledri, bawang goreng dan kerupuk, ditambah sedikit siraman kecap benar-benar mengunggah selera. Selesai membaca doa makan, tanpa ba-bi-bu Kian langsung menyantapnya. Sesuatu yang menganggu pikirannya hilang seketika. Begitulah Kian, dia mudah melupakan sakit hatinya saat berhadapan dengan makanan lezat.
Euhmmm nikmatnya!
Rendy hanya tersenyum saat melihat tingkah Kian yang menggemaskan. Dia bahkan mengambil daging ayam dari piringnya dan memindahkannya ke piring Kian.
Kian menoleh ke Rendy dengan raut wajah tak percaya.
"Makanlah!" ucapnya sambil tersenyum.
Kian langsung melebarkan senyumnya. "Terima kasih, Kak!"
"Hemmm." angguk pria itu.
Tuhh kan, dia paling bisa buat orang meleleh deh!
Di ujung jalan, terparkir sebuah mobil disana. Orang di dalamnya menatap resah, memperhatikan dua sosok manusia yang saling melempar senyuman. Bungkusan yang ditangannya, diremasnya kuat. Hingga isinya bertumpahan didalam kantong. Niat Arkan untuk menjenguk Kian, ia urungkan.
"Kita pulang!" titah Arkan pada supirnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Supir pun melajukan mobil meninggalkan komplek perumahan.
Akhirnya Arkan memilih pulang. Membiarkan dua orang itu saling tertawa lepas. Sementara dadanya terasa nyeri.