Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Jangan Pergi, Ku Mohon!


__ADS_3

*********Hai para readers tercinta πŸ€—πŸ€—


Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, rate, and comment ya..πŸ˜‰πŸ˜‰


Dukungan dari readers sekalian, sangat membantu author untuk tetap semangat dalam menulis..


Semoga sehat selaluπŸ€—πŸ€—*******


--------


Seperti mendapat angin segar, Arkan kembali bersemangat. Ia juga meneguk habis kopi yang Kian buat. Membuat kepalanya ringan seketika. Entah karena kopi yang ia minum atau karena orang yang membuatnya. Yang jelas, ia merasa tenang melihat Kian berada di sisinya. Bahkan di sela-sela pekerjaannya, Arkan mencuri-curi pandang untuk melirik gadis itu. Dasar bucin!.


Kian mengetuk pintu ruangan Arkan meminta ijin untuk masuk. Setelah seseorang di dalam mengijinkannya, ia membukanya. Raut wajahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun ia ragu. Sementara Arkan hanya diam menunggu gadis itu bicara.


"Tuan, apa boleh saya meminta ijin keluar setelah jam makan siang?" tanyanya takut-takut.


"Memangnya kau mau kemana?" Jawaban sekaligus pertanyaan pria itu terdengar sangat dingin. Tersirat perasaan tidak suka disana.


Kian menarik napas dalam. "Saya mau mengabari perusahaan tempat saya melakukan interview kerja beberapa hari lalu, bahwasannya saya tidak jadi bekerja disana."


"Kenapa kau harus kesana, bukankah kau bisa menghubunginya via telepon?"


"Akan lebih sopan jika saya datang langsung kesana, Tuan." Kian masih berusaha tenang menghadapi tatapan sinis dari pria di depannya.


Terdengar desahan dari Arkan. "Baiklah, setelah itu kau harus kembali kesini!"


"Baik, Tuan," jawab Kian tersenyum senang.


Ia kembali bekerja hingga makan siang tiba. Sekarang acara makan siang Kian tidak pernah lagi di ruang istirahat bersama Dina dan Rendy. Ngomong-ngomong soal Rendy, pria itu sangat senang saat melihat Kian datang ke kantor hari ini. Meskipun ia tidak bisa mengobrol dengan gadis itu, tapi dengan melihat kehadirannya saja sudah cukup membuatnya tenang.


Kian sudah menyiapkan makan siang Arkan di atas meja. Ternyata makanan itu di pesan di salah satu restoran milik keluarganya. Pantas saja, ia selalu menyuruh Kian memesan makanan disitu. Karena yang memasak langsung koki professional. Kian menghampiri Arkan yang masih mengecek beberapa file.


Kenapa dia terlihat sangat tampan saat fokus bekerja?


"Tuan, makan siang Anda sudah selesai disiapkan."


Arkan menoleh, "Hmm baiklah. Ayo kita makan siang dulu!"


Pria itu sudah mendudukkan dirinya, lalu menepuk sisi di sebelahnya. "Duduklah!"


Kian menurut, ia duduk agak jauh dari pria itu. Namun dengan cepat tangan pria itu menariknya. "Kau pikir aku akan memakanmu apa!"


Dengan jarak tidak lebih dari setengah meter, mereka makan siang dengan khidmat. Kian terlihat sangat lahap menyantap makanan di depannya. Kelezatannya membuat ia ingin memakan lagi dan lagi. Terlebih, ia tidak sempat sarapan sewaktu di apartemen tadi. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan sebagian dari makanan di meja.


Kian hanya melongo malu setelah menyadari ia seperti orang yang tidak makan selama setahun. Ia meletakkan sendok di atas meja, berniat mengakhiri kebrutalannya.


Namun tiba-tiba Arkan membuka suara. "Kalau kau tidak menghabiskan semua makanan ini, aku akan memotong gajimu!"


"Apa?" tanya Kian kaget. Baru saja ia ingin mengakhiri makannya, namun pria itu malah mengancamnya seperti itu.


Apa boleh buat, kau yang mengancamku ya. Bukan aku yang rakus lho!


Kian melanjutkan makan siangnya dengan wajah sumringah. Sementara Arkan, hanya terkekeh kecil melihat tingkah gadis itu.


Dia benar-benar sangat menggemaskan.


Seusai jam makan siang, Kian langsung memesan ojek online dan menuju kantor Reino Company. Ia harus memberi kabar bahwa ia tidak jadi bekerja di perusahaan itu.


Setibanya disana, Kian langsung menemui resepsionis dan mengatakan ingin bertemu Reino, sang CEO yang sudah mewawancarainya waktu itu. Dan lagi, resepsionis mengantarkannya ke ruang yang sudah pernah ia masukin sebelumnya. Namun, Kian terperanjak saat melihat pria itu sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita. Tunggu, bukannya itu Viona!

__ADS_1


Tidak hanya Kian, sepertinya Viona juga terkejut melihat kedatangan gadis itu. Ia langsung merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan karena aksi brutal Reino.


"Kau?" tanya Kian tidak percaya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Viona balik, masih dengan raut terkejutnya.


"Aku ada urusan dengan Tuan Reino!" tegas Kian.


Reino memberi isyarat agar Viona keluar dari ruangannya. Sambil menatap tajam Kian, Viona melangkahkan kakinya kesal. Sebelum membuka pintu, ia berbalik.


"Setelah ini kita perlu bicara!" ucapnya ke arah Kian.


Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Apa yang sudah kau lakukan di belakang Kak Rendy. Sekarang aku bertambah yakin jika yang kulihat semalam itu adalah kau bersama pria ini.


"Ada apa Nona Kiandra Maharani mencariku? Bukankah besok adalah hari pertamamu bekerja disini?" tanya Reino dengan nada menggoda.


"Maaf Tuan, sepertinya saya tidak jadi bekerja di perusahaan Anda," jawab Kian sopan. Namun raut wajahnya jelas menunjukkan tidak suka, mengingat apa yang baru saja ia lihat.


"Kenapa?" selidik pria itu.


"Saya memutuskan untuk tetap menjadi sekretaris pribadi Tuan Arkan."


Reino menarik napas dalam sambil mengepalkan tangannya. Mendengar nama pria itu disebut, membuatnya geram. Terlebih, alasan Kian tidak jadi bekerja dengannya karena pria itu. Semakin membuatnya emosi.


Dia berjalan menghampiri Kian, mencengkeram kuat tangan gadis itu. Hingga membuat Kian mengerang kesakitan.


"Apa kau pikir bisa membuang waktuku seenaknya, hah?"


"Maaf Tuan. Saya tidak bisa meninggalkan Tuan Arkan begitu saja," jawab Kian di sela-sela rasa sakitnya akibat cengkeraman Reino.


Mata pria itu semakin membelalak. "Kenapa? Kenapa kau tidak bisa meninggalkannya? Apa kau menyukainya?" cecarnya penuh emosi.


Reino dan Kian menoleh bersamaan ke sumber suara. Lagi, orang itu datang disaat darurat seperti ini. Reino melepaskan cengkeramannya, ia beralih menghampiri Arkan yang menatapnya penuh emosi.


"Cepat sekali kau datang, aku bahkan belum mencumbunya," Kata-kata Reino seperti ingin memancing emosi Arkan lebih dalam.


Dan sepertinya berhasil. Kini Arkan yang mencengkeram leher Reino hingga pria itu kesulitan bernapas. Didorongnya tubuh Reino hingga membentur meja. Sorot matanya penuh kebencian, tidak hanya Arkan, Reino pun menatapnya tajam. Seperti ada emosi yang siap meledak.


"Apa kau ingin mendekam di penjara seperti ayahmu?" Arkan menekan setiap kata-katanya. Mengingatkan Reino akan satu hal.


"Huh, bisakah aku menidurinya dulu sebelum kau mengirimku ke penjara? Seperti yang ayahku perbuat pada ibumu dulu?" Reino belum menyerah untuk memprovokasi Arkan. Dan sepertinya ia memang sengaja melakukannya.


"Buggg." Satu pukulan mendarat di wajah Reino. Darah segar langsung menetes dari sudut bibirnya.


"Tutup mulutmu!" Arkan kembali meraih kerah kemeja Reino.


"Kenapa? Atau kau belum menyentuhnya?" cibir Reino.


"Buggg." Pukulan kedua kembali mendarat di wajah Reino. Kian yang menyaksikan perkelahian itu hanya gemetar ketakutan. Air matanya menetes di pipinya. Ia takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Arkan.


Entah sejak kapan Reino memegang senjata tajam di tangannya. Melihat pria itu siap menghunuskan senjatanya ke arah Arkan, Kian berlari mencegahnya.


"Argghh." Kian terkulai lemas dengan darah yang mengalir deras dari perutnya.


Melihat Reino yang baru saja menusukkan pisau ke arah Kian, membuat amarah Arkan semakin memuncak. Dengan brutal ia menghajar Reino sampai pria itu babak belur. Setelah Reino ambruk, Arkan berlari ke arah Kian. Terlihat gadis itu sudah tidak sadarkan diri.


"Kian, bangun Kian! Aku mohon, buka matamu!" Arkan menepuk pipi Kian untuk menyadarkannya. Bagaimanapun gadis itu tidak boleh menutup mata. Arkan takut Kian tidak akan membuka matanya lagi.


"Kian, aku mohon bangunlah. Buka matamu!" Arkan langsung membopong Kian ke dalam mobil. Dengan kecepatan tinggi, Sam mengemudikan mobil menuju rumah sakit.

__ADS_1


Melihat darah yang masih terus mengalir dari perut Kian, membuat Arkan benar-benar panik. Ia takut akan kehilangan gadis itu selamanya. Ia merengkuh tubuh Kian dalam pelukannya. Tanpa sadar, Arkan menangis.


"Tenanglah, Tuan. Nona Kian pasti kuat," ucap Sam mencoba menenangkan. Walaupun ia tahu itu tidak akan berhasil. Tangis Tuan Muda itu semakin menjadi.


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon!" lirih Arkan dengan suara yang bergetar. Ia mengusap wajah Kian yang sudah pucat pasi. Kalau sampai Kian meninggalkannya, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sampai kapanpun.


Sam menghentikan mobil di depan ruang IGD. Tanpa menunggu petugas medis menjemput, Arkan langsung menggendong Kian memasuki ruangan tersebut.


"DOKTER! DIMANA PARA DOKTER ITU!!!" teriakan Arkan memenuhi ruangan rumah sakit.


Melihat siapa yang datang, para dokter langsung sigap memeriksa Kian.


"Mohon untuk menunggu diluar, Tuan" ucap salah satu perawat.


"TIDAK!! Aku tidak akan meninggalkannya sedetik pun!"


"Ini untuk kebaikan pasien, Tuan,"


Sam yang melihat Arkan bersikukuh, mendekati pria itu.


"Sabar, Tuan. Anda harus menunggu diluar agar para dokter bisa menyelamatkan Nona Kian." Akhirnya Arkan mengalah, ia membiarkan para dokter membawa Kian ke ruang operasi.


Arkan mondar mandir menunggu jalannya operasi. Ia sama sekali tidak bisa duduk atau pun minum saat Sam membawakannya minuman. Dia terus berdoa semoga Kian bisa selamat.


Satu jam kemudian.


Seorang dokter keluar dari ruangan operasi. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Membuat Arkan semakin khawatir.


"Operasi berjalan lancar. Namun..." dokter belum melanjutkan. Ia takut untuk menjelaskan.


"Namun apa, Dok?" tanya Arkan cepat.


"Karena Nona tersebut mengeluarkan banyak darah, ia membutuhkan transfusi darah segera. Sementara, di rumah sakit ini stok golongan darah Nona Kian sedang kosong," jelas dokter.


Arkan mencengkeram pakaian dokter tersebut. "Rumah sakit apa yang tidak memiliki stok darah?" tanyanya kesal.


"Maaf Tuan, tapi golongan darah Nona Kian termasuk yang langka," sesal dokter tersebut.


"Golongan darah apa yang yang ia butuhkan?" Masih mencengkeram pakaian dokter.


Napas dokter tersebut nyaris tersengal. Sam meminta Tuan Mudanya untuk melepas gengamannya terlebih dulu agar dokter itu bisa mengatakannya. Akhirnya Arkan melepaskannya.


"AB negatif, Tuan!" jawab sang dokter.


"Sial, golongan darahku B." Arkan menoleh ke Sam. "Kau?"


"Saya juga B, Tuan," jawab Sam sambil menundukkan kepalanya.


Sekarang Arkan semakin tambah panik saja. Ia harus segera mendapatkan donor darah secepatnya agar Kian bisa diselamatkan. Arkan merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya.


"Pak, Dan, tolong umumkan di kantor, saya membutuhkan donor darah golongan AB negatif secepatnya!"


"...."


Arkan mematikan ponselnya dan melemparkannya ke lantai. Ia frustasi tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Kian. Sam yang melihat benda tidak berdosa itu tergeletak di lantai segera mengambilnya.


Arkan berjalan menghampiri ruangan Kian. Ia masih belum diijinkan masuk. Dari pintu kaca, Arkan bisa melihat Kian terbaring dengan bantuan alat bertahan hidup di tubuhnya. Pemandangan itu begitu menyesakkan dadanya. Ia tidak sanggup melihat gadis yang dicintainya dalam kondisi seperti itu. Kalau bisa, ia ingin menggantikan posisi Kian terbaring disana.


Aku mohon bertahanlah. Aku akan berusaha semampuku untuk menyelamatkanmu. Kalau perlu aku akan menyerahkan hidupku agar kau bisa tersenyum lagi.

__ADS_1


__ADS_2