Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Aku Yang Akan Pergi


__ADS_3

Sesuai perintah Arkan, Pak Dan mengumumkan bahwa bagi siapapun yang memiliki golongan darah "AB negatif", diminta untuk mendonorkannya. Mereka akan mendapatkan uang atau promosi jabatan sebagai imbalannya.


Sayangnya, tidak ada seorang pun yang mengajukan diri. Karena golongan darah mereka tidak sesuai. Namun tiba-tiba seseorang memberanikan diri untuk bertanya.


"Untuk apa donor darah itu, Pak?" tanya seseorang. Dan ternyata, itu Rendy.


Pak Dan menghela napas. "Rekan kalian Kian, sedang membutuhkan transfusi darah segera!" katanya lemas.


Mendengar nama Kian disebut, Rendy maju ke depan. "Saya, golongan darah saya AB negatif!" tukasnya.


Dengan cepat Pak Dan membawa Rendy ke rumah sakit. Arkan yang melihat kedatangan Rendy merasa tidak suka.


"Untuk apa kau kemari?" tanyanya sinis.


"Hanya dia yang memiliki golongan darah yang sama dengan Nona Kian, Tuan!" sahut Pak Dan lebih dulu.


Arkan membuang muka, "Apa tidak ada orang lain selain dia?"


"Nona Kian membutuhkan transfusi darah secepatnya, Tuan. Kalau kita mencari orang lain lagi, saya takut waktunya tidak akan cukup." Pak Dan mencoba memberi pemahaman agar Arkan bisa mengerti.


"Sial," umpatnya kesal.


Arkan menatap Rendy dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah, benci, memohon, bercampur menjadi satu. "Kau, apapun yang kau minta akan aku berikan. Tapi kau harus menyelamatkan Kian dengan darahmu!"


Rendy menyeringai. "Aku ingin kau menjauh darinya. Bisakah kau melakukannya?" Ia pikir inilah kesempatannya untuk menjauhkan pria itu dari Kian.


"Kau, brengsek!"


"Buggg." Sebuah pukulan mendarat di wajah Rendy. Namun pria itu justru tersenyum.


"Hanya aku yang bisa menyelamatkannya saat ini!" ujarnya sambil mengusap darah di sudut bibirnya.


"PAK DAN!! CARI PENDONOR DARAH YANG LAIN. AKU MAU SI BRENGSEK INI KELUAR DARI SINI!" teriak Arkan kesal.


Tiba-tiba muncul seorang dokter dengan wajah paniknya. "Nona Kian sedang kritis. Apa Tuan sudah menemukan donor darah untuknya?"


"Kau hanya perlu setuju dengan penawaranku maka Kian akan segera tertolong!" tawar Rendy lagi.


Arkan mengepalkan tangannya geram. Ia jelas tidak bisa menerimanya. Namun, mengingat kondisi Kian saat ini, Arkan merasa tidak memiliki pilihan. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus mengalah demi keselamatan Kian. Arkan rela jika memang ia harus menjauh, setidaknya ia masih bisa melihat senyum gadis itu lagi.


"Baiklah. Aku akan menjauh darinya. Tapi kalau sampai sesuatu terjadi padanya, aku akan menghabisimu." Dengan terpaksa Arkan menyetujui permintaan Rendy.


Rendy segera pergi ke ruang transfusi darah. Ia pasrah jika harus mendonorkan semua darahnya asal itu bisa menyelamatkan Kian.


Kian, semoga kamu baik-baik saja.


Pengambilan darah selesai. Dokter langsung memindahkannya pada Kian. Perlahan, darah Rendy mulai masuk ke tubuh Kian. Mengalir dan menyatu dengan darah gadis itu. Arkan mengigit bibirnya keluh. Rasanya sakit, perih menyeruak ke seluruh tubuhnya. Ia harus menyiapkan hatinya menjauh dari Kian.


"Keadaan Nona Kian sudah stabil. Jika ingin menjenguknya, mohon bergantian." ucap dokter yang baru saja memeriksa Kian.

__ADS_1


Rendy melangkahkan kakinya maju. Namun tangannya ditahan oleh Arkan. "Biarkan aku melihatnya dari dekat untuk yang terakhir kalinya." Rendy mengangguk, membiarkan pria itu masuk lebih dulu.


Arkan membuka pintu perlahan. Pandangannya tidak lepas menatap Kian yang masih memejamkan matanya. Wajah yang biasa tersenyum, cemberut, kesal, kini hanya terlihat datar dan pucat. Arkan duduk di samping Kian. Meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat, kali terakhir ia bisa melakukannya.


"Hei gadis bodoh, apa kau tidak lelah menutup matamu? Lihatlah, aku sedang mengejekmu sekarang."


"Aku akan melakukan apapun demi menyelamatkanmu. Meski harus menjauh darimu, aku rela." Arkan membelai kepala Kian lembut.


"Berjanjilah, kau akan selalu tersenyum. Atau kalau tidak, aku akan menyentil kepalamu. Kau dengar, hmmm?" Tanpa terasa, air mata Arkan mengalir.


"Aku pergi. Cepatlah sembuh gadis kesayanganku!" Arkan mengecup kening Kian lama. Hingga air matanya menetes di wajah gadis itu.


Kian menggerakkan jemarinya dalam genggaman Arkan. Membuat pria itu terkejut sekaligus senang. Perlahan, Kian membuka matanya. Melihat Arkan di sampingnya, senyum tipis terukir di wajah gadis itu.


"Kau sudah sadar, hmmm??" tanya Arkan. Suaranya terdengar sangat lembut.


Kian berusaha mengangguk. Senyumnya semakin mengembang. Sangat halus, terdengar ia bergumam.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya sedikit lambat dan pelan.


"Dasar gadis bodoh! Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu." Arkan terlihat gemas melihat Kian yang justru menanyakan keadaannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Arkan balik.


Kian mengangguk lagi. Dia berusaha bangkit, namun perutnya masih terasa sakit.


"Diamlah. Jangan banyak bergerak dulu." perintah Arkan.


"Aku haus."


"Terimakasih."


"Aku yang seharusnya berterimakasih. Kau memang bodoh, beraninya kau menyodorkan dirimu seperti itu. Apa kau pikir dirimu Limbad, hah?"


Kian tergelak tanpa suara. Meskipun perutnya terasa sakit, tapi entah kenapa hatinya merasa senang. Senang, saat melihat Arkan yang terus mengomelinya.


Syukurlah kau baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana sakitnya aku jika melihatmu yang terluka.


"Tok tok tok." Suara ketukan kecil di pintu menyadarkan Arkan. Ia harus segera pergi dari tempat ini.


"Aku ada urusan sebentar. Pastikan kau makan yang banyak dan meminum obatmu tepat waktu. Kau dengar?"


Kian tersenyum. "Aku tidak tuli."


"Baiklah. Jaga kesehatanmu, aku pergi ya!" Belum sempat Kian menjawab, Arkan sudah memalingkan wajahnya. Ia takut genangan yang susah payah ia tahan tumpah begitu saja di hadapan Kian.


Sebelum membuka pintu, Arkan berbalik. Menatap Kian dengan senyum dan melambaikan tangannya.


"Bye."


Pelan, Kian menjawabnya. "Bye."

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba dia melow begitu. Pergi sebentar saja, pamitnya sudah seperti pergi bertahun-tahun.


Arkan pergi dari rumah sakit bersama Sam dan Pak Dan. Meninggalkan Kian dan Rendy di ruangan itu. Rasanya sesak, perih menusuk ulu hatinya. Tidak mudah meninggalkan orang yang dicintainya, terlebih saat kondisinya seperti itu. Namun sebagai seorang pria, ia harus menepati janjinya. Janji yang sudah terlanjut dibuatnya.


Sementara di dalam ruangan, suasana canggung begitu terasa. Rendy bingung harus mengatakan apa lagi. Semua pertanyaan mengenai keadaan Kian, sudah ia tanyakan. Namun gadis itu hanya menanggapinya datar. Ia juga tidak banyak bicara. Tidak seperti saat bersama Arkan tadi, ia lebih banyak tersenyum menanggapi.


"Kak Rendy, aku ingin mengatakan sesuatu tentang Viona. Kak Rendy jangan marah ya?" Pelan-pelan Kian membuka suaranya.


Rendy tersenyum. "Aku sudah mengetahuinya. Jadi, kamu tidak perlu menjelaskannya lagi."


Apa? Dia sudah mengetahuinya? Kenapa ia masih bisa bersikap tenang setelah tahu dirinya dikhianati?


"Kak Rendy tidak marah?"


Rendy menghela napas berat. "Siapa sih orang yang tidak akan marah saat tahu dirinya dikhianati? Tentu saja aku marah, kecewa. Tapi, aku justru merasa lega."


Kian mengernyit. "Lega? Kenapa?"


Pria itu kembali tersenyum. "Karena pada akhirnya aku bisa mencintai satu wanita saja."


Kian masih memasang ekspresi bingungnya. Ia tidak mengerti maksud ucapan Rendy.


"Sekarang aku tidak perlu lagi merasa ragu untuk mencintaimu." sambung Rendy.


Seharusnya, Kian senang mendengar pengakuan cinta Rendy. Sudah lama ia menantikan hal itu, namun entah kenapa ada yang aneh. Hatinya sama sekali tidak bergetar ataupun berdegup lebih cepat seperti orang yang bahagia. Tidak seperti saat ia mendengar penjelasan Arya mengenai perasaan Arkan. Saat itu, ia bisa merasakan darahnya berdesir, bahkan jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Perasaan apa ini, sebenarnya? Kian merasa bingung sendiri.


"Aku mengantuk, Kak Rendy." ucapnya untuk mengalihkan pembicaraan yang tidak bisa ia respon sama sekali.


"Baiklah. Kau masih perlu banyak istirahat. Aku akan menunggumu disini sampai Bibi dan Pamanmu datang." Rendy menarik selimut menutupi tubuh Kian. Lalu, ia sendiri merebahkan tubuhnya di atas sofa. Menatap Kian dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya ia bisa memiliki gadis itu tanpa ragu.


Mulai sekarang, aku akan berada di sisimu. Melindungi dan menjagamu. Menghapus setiap air mata yang jatuh di pipimu. Rendy


Kenapa kau belum juga kembali. Bukankah kau bilang urusanmu hanya sebentar. Kian


Sementara di kantor.


Ruangan Arkan tidak lagi berbentuk, ia menjatuhkan dan membanting apa saja yang ada disana. Melampiaskan semua kekesalannya sampai hatinya bisa sedikit tenang. Ia benar-benar terlihat seperti orang yang sedang putus cinta. Hancur, berantakan, tak terkendali.


Sedangkan Pak Dan hanya membiarkan pria itu meluapkan semua amarahnya. Ia menutup ruangan itu dengan tirai agar tidak ada seorangpun yang melihat apa yang terjadi disana. Walaupun mungkin suara barang hancur terdengar di luar ruangan, tapi setidaknya orang lain tidak menyaksikan langsung betapa berantakannya tuan muda saat ini.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Baru saja aku meninggalkannya. Dan sekarang, aku sudah sangat merindukannya. Kian, apa kau sudah makan, apa kau sudah meminum obatmu, hmmm??


Arrgghhh aku bisa gila karena merindukannya.


-------


*** Terimakasih banyak buat yang udah setia baca sampai episode ini. Author akan berusaha lebih keras untuk melanjutkan episode menarik lainnya.💝💝💝


Jangan lupa like, comment, vote and rate ya.. Biar author makin semangat nulisnya..💕💕💕

__ADS_1


Satu lagi, masukin daftar favorit juga ya.. Biar kalian tahu kalau author sudah update.🤗🤗💕💕💕


__ADS_2