
Terik matahari di ibukota serasa membakar gairah. Para pengais rezeki terus bergerak, berkejaran dengan waktu. Tak peduli panas yang menyengat kulit mereka. Demi sesuap nasi, untuķnya dan keluarga. Atau demi gaya hidup yang terus menuntut untuk dilakoni. Tak ada satu pun sudut ibukota yang senyap dari hiruk pikuk penduduknya. Inilah ibukota, kota metropolitan yang diidamkan para pengejar mimpi saat masih di kampung halaman.
"Toktok." Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar.
Setelah mendapat ijin dari pemiliknya, pintu terbuka. Seseorang dengan pakaian jas warna hitam masuk menghampiri pria muda yang sedang duduk di sofa, menatap layar tabletnya. Dia belum membuka suara, masih menunggu perintah dari pria di depannya.
"Sejak kapan dia kembali?" tanya pria itu. Pandangannya masih menatap gambar yang muncul dilayar tabletnya.
"Sudah seminggu ini, Tuan. Apa tuan ingin saya mengundangnya ke acara tuan nanti?" Seseorang yang bersetelan jas tersebut terlihat seperti asisten dari pria itu.
"Tidak perlu, saya akan menyapanya sendiri. Siapkan mobil saja!" jawab pria itu lalu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar orang yang berdiri di belakangnya segera pergi.
"Baik, Tuan." Setelah berpamitan orang itu pergi meninggalkan tuannya.
Rombongan bus baru saja memasuki gerbang tol puncak, perjalanan masih panjang tapi Kian sudah tidak bisa menahan matanya terpejam. Tak butuh waktu lama dia langsung tertidur pulas. Arkan hanya menggelengkan kepalanya.
Huh! Gadis bodoh ini, memang dia pikir ini dimana! Dengan gampangnya dia tertidur.
Dia memandangi wajah Kian yang tertutup sebagian rambutnya. Cahaya matahari yang menembus kaca mengusik tidurnya. Beberapa kali kelopak matanya mengerjap karena silau. Melihat itu, Arkan menggeser duduknya sedikit agar bisa menjangkau tirai jendela. Dia berniat menutup jendela dengan tirai tersebut. Namun tiba-tiba sesuatu jatuh di bahunya.
Saat Arkan menarik tirai lengannya menyenggol Kian, membuat gadis itu menggeliat lalu tanpa sadar menjatuhkan kepalanya di bahu Arkan.
Lihat, bahkan sekarang dia berani memakai bahuku sebagai bantal!
Apa kau pikir ini di hotel, hah?
Meskipun Arkan mengomel sendiri dalam hatinya, tapi ia tetap membiarkan Kian memakai bahunya untuk bersandar. Bahkan dia menahan dirinya untuk tidak bergerak agar gadis itu tidur dengan nyaman.
__ADS_1
Di saat penumpang lain juga terlelap dalam tidurnya, ada seseorang yang masih rela membuka mata lebar-lebar. Di kursi bagian belakang Rendy terlihat gelisah. Dia meremas tangannya saat matanya menatap pantulan dua sosok manusia dari kaca yang ada di atas supir. Dia merasa sangat kesal. Hatinya panas saat melihat pemandangan itu.
Walaupun Kian sedang tertidur dan melakukannya tanpa sadar, tapi kenapa aku kesal melihat mereka seperti itu?
Rendy berharap semoga bus segera tiba di tujuan mereka, agar pemandangan itu bisa segera berakhir. Entah kenapa dia tidak rela melihat Kian dekat pria lain terlebih dengan orang itu. Orang yang selalu menyusahkan Kian dengan memanfaatkan kekuasaannya. Dan sepanjang perjalanan Rendy selalu terjaga, tak sedetik pun dia memejamkan mata. Matanya terus mengawasi mereka, kalau-kalau tuan muda itu melakukan sesuatu yang aneh. Walaupun akal sehatnya berpikir tidak mungkin tuan muda itu melakukan hal yang tidak-tidak, tapi tetap saja dia tidak bisa tenang. Saat pandangan Rendy masih tertuju untuk kedua orang itu, tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Sayang, Kamu masih di puncak?"
Sebuah pesan masuk di ponsel Rendy. Dari Viona. Sejak kemarin dia belum memberi kabar pada gadis itu. Karena terlalu sibuk mengkhawatirkan Kian, dia sampai lupa menghubungi kekasihnya.
"Tidak. Saat ini kami sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin 3 atau 4 lagi akan sampai. Kamu sedang apa**?'
Beberapa detik kemudian.
Ooh syukurlah. Aku sedang menemani sepupu ku belanja ke supermarket. Aku sangat merindukanmu.
"Maafkan aku," gumamnya lirih. Tiba-tiba perasaan bersalah muncul dalam benak Rendy. Walaupun dia dan Kian tidak memiliki hubungan spesial, tapi perasaan khawatir yang berlebihan pada gadis itu bukan lah hal yang benar disaat dia masih memiliki kekasih. Walau sebenarnya dia tidak menginginkan, tanpa disadari perasaan Rendy mulai terbagi antara kekasihnya dan Kian.
Dia kembali menatap keluar jendela. Melihat deretan awan yang saling bertaut berjalan perlahan. Menemani sinar mentari yang tidak lagi menyengat. Dadanya berkecamuk, mencoba memahami apa yang tidak dia pahami. Saat pikirannya ke Viona, dia tidak ingin menyakiti wanita itu. Dia selalu menghargainya. Selama mereka menjalin hubungan, nyaris tidak ada pertengkaran diantara mereka. Baginya viona adalah sosok wanita penyabar, mandiri dan tidak banyak menuntut. Sedangkan saat memikirkan Kian, dia merasa ingin selalu melindunginya. Tak jarang dia juga sering tertawa sendiri saat mengingat kelakuan gadis itu. Entah sampai kapan dia akan tenggelam dalam dilemanya.
Sementara ditempat lain.
"Sayang, kamu pilih saja mau yang mana!" Seorang pria dan wanita sedang berdiri di depan etalase perhiasan. Mata si wanita terus menatap takjub benda-benda yang berkilauan didalam etalase tersebut. Dia bingung mau memilih yang mana, karena semuanya terlihat bagus dan cantik.
"Aku mau yang ini, sayang. Boleh?" Nada suara wanita itu terdengar sangat manja, membuat hati pria yang disampingnya meleleh tak karuan.
"Tentu saja boleh," jawab pria itu sambil terus merangkul wanita disampingnya. Seperti tak ingin melepaskannya.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban, dengan semangat wanita itu menyuruh pelayan untuk segera membungkusnya.
"Kamu tidak ingin langsung memakainya?" Pria itu menoleh. Tangannya mengelus rambut yang terurai sebahu.
"Hhmm. Nanti saja aku pakai dirumah, sayang," jawab wanita itu.
"Baiklah. Terserah kau saja." Mengecup kepala si wanita lembut.
Setelah melakukan pembayaran, mereka pergi meninggalkan toko perhiasan. Pria itu terlihat masih ingin berkeliling menghabiskan waktu bersama. Namun si wanita bolak balik melirik jam tangannya. Dia merasa sedikit gelisah.
"Sayang, bagaimana kalau kita pulang saja? Aku mulai lelah." Rengek wanita itu.
"Tumben kamu sudah lelah, sayang. Padahal baru satu jam kita berkeliling. Bukannya kamu paling tahan keliling mall seharian?" Ledek pria itu.
"Hmmm sayang," gumam wanita itu manja.
"Baiklah, baiklah. Kita pulang sekarang." Akhirnya pria itu mengalah, menuruti kemauan wanita dalam pelukannya.
Mereka berjalan menuju lobby utama. Bertepatan dengan supir yang baru saja tiba untuk menjemput mereka. Seorang petugas pelayanan membantu membukakan pintu sambil tersenyum ramah pada mereka. Setelah memastikan kedua orang itu masuk, petugas kembali menutup pintu hati-hati. Lalu mobil melaju meninggalkan lobby. Menyusuri jalanan ibukota yang macet disana sini. Sementara petugas pelayanan melanjutkan hal yang sama saat mobil lain juga baru saja tiba.
Di dalam mobil pria dan wanita itu terus menempel satu sama lain. Si wanita merasa senang karena pria disampingnya memanjakannya dengan barang-barang mewah.
"Terima kasih, Sayang. Kamu yang terbaik.
Kapan-kapan kita belanja lagi ya!" ucap wanita itu sambil mendaratkan ciuman di pipi si pria.
Kapan lagi aku bisa memanfaatkan pria sepertimu!
__ADS_1
"Tentu, Sayang. Asal kamu senang aku juga senang," jawab pria itu dengan senyum menyeringai.
Kapan lagi aku bisa menikmati tubuh indah mu ini!