Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Ternyata Salah Paham


__ADS_3

~Aku tidak ingin lari darimu. Aku hanya ingin menghapus ingatanku tentangmu. Tapi ternyata itu lebih sulit daripada melihatmu bahagia dengan orang lain~


Kian merasa lega. Karena dia pikir Bibi Sumi berhasil menyakinkan Arkan untuk pergi. Dia mengambil ponselnya. Memainkan game untuk menghibur kebosanannya. Tak lama ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Mungkin itu Bibi Sumi yang ingin mengatakan sesuatu. Tanpa pikir panjang, dia mempersilahkan masuk.


Pandangannya masih fokus menatap layar ponsel, sambil tangannya yang bergerak lihai kesana kemari. Menikmati permainan itu. Sementara langkah kaki seseorang semakin mendekat, namun dia belum menyadari sesuatu.


"Orang gila itu sudah pergi Bibi?" tanya Kian tanpa menoleh.


Tidak ada jawaban. Orang yang dia ajak bicara malah menyodorkan piring berisi potongan buah, masih belum membuka suaranya.


Sambil tersenyum Kian mengambil potongan buah apel didepannya. "Terimakasih, Bi.... ASTAGA!!!!! Tu-tuan Arkan?" serunya kaget, sampai buah yang ditangannya jatuh menggelinding di lantai. Kian nyaris lompat dari tempat tidur saat melihat sosok yang berdiri didepannya sedang menatapnya tajam. Kilatan sorotan itu seperti menembusnya. Membuat lubang-lubang ditubuhnya.


"Kenapa?? Kau terkejut?" tanya Arkan masih dengan sorotan tajamnya.


Mendapat tatapan seperti itu, Kian menelan ludahnya. Membasahi kerongkongannya yang terasa kering kerontang. "Kenapa anda masih disini? Dimana Bibi?" tanyanya balik. Berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bibimu sedang ada di dapur. Kau butuh sesuatu?" jawab Arkan tersenyum menyeringai.


Kian bergidik ngeri melihat senyuman itu. Senyuman penuh sarat tuan muda itu pasti memiliki niat terselubung.


"Bagaimana anda bisa masuk ke kamarku? Apa Bibi tahu?" tanya Kian heran. Tidak mungkinkan Bibi membiarkan seorang pria masuk ke kamarnya begitu saja.


"Bukankah kau yang menyuruhku masuk tadi?"


Ahh benar. Kian sendiri yang sudah menyuruhnya masuk tadi, tapi karena dia pikir itu Bibi Sumi. Bukan monster ini.


"Lagi pula justru Bibimu yang memintaku untuk mengantarkan ini padamu." Arkan menunjuk piring ditangannya. Lalu meletakkannya diatas nakas.


APA?!! Bibi... Kenapa bibi meminta padanya? Apa Bibi tidak tahu aku dalam bahaya sekarang?


Kian menarik napas dalam, "Terimakasih, Tuan. Kalau begitu anda sudah bisa pergi sekarang. Saya ingin beristirahat." ucap Kian beringsut turun membaringkan tubuhnya. Pura-pura tidur. Menarik selimut menutup seluruh tubuhnya hingga kepala. Di dalam selimut, Kian mengatur napasnya perlahan. Berdoa semoga pria itu segera keluar dari kamarnya.


Kumohon, pergilah.


Kian fokus memasang pendengarannya. Berharap mendengar langkah kaki pria itu menuju pintu keluar.


"Hei, bangun!!" bentak Arkan.


Kian tidak berani bergerak, matanya hanya berkedip-kedip dibalik selimut. Masih melanjutkan aksi pura-pura tidurnya.


"Kalau kau tidak bangun, aku akan menekan kakimu yang sakit. Aku hitung sampai tiga!"


"Satu."

__ADS_1


"Dua."


"Ti..."


Kian langsung membuka selimutnya. Meniup kasar anak rambut yang berantakan diwajahnya. Dia memilih menyerah. Daripada Arkan benar-benar menekan kakinya. Kian mencebikkan bibirnya kesal. Usahanya untuk mengusir pria itu gagal. Kali ini dia pasrah kalau harus menerima caci maki lagi dari Arkan karena sudah mengatainya.


"Dasar bodoh! Kau pikir bisa mengusirku begitu saja, hah?" Arkan menggeser bangku kecil dimeja rias mendekat ke tepi ranjang dengan kakinya. Menimbulkan suara berderek yang membuat ngilu.


"Apa yang anda inginkan?" tanya Kian pura-pura naif. Padahal dia tahu pria itu akan memakinya habis-habisan.


"Beraninya kau tidak masuk kerja tanpa mengabariku! Dan sekarang setelah aku jauh-jauh datang kesini, kau ingin mengusirku? Kau mau mati ya?" tanya Arkan sinis.


"Tidak Tuan, maafkan saya. Tadi saya ingin memberi kabar ke anda, tapi Dina lebih dulu menelpon sa..." Kian menutup mulutnya dengan tangan. Ia keceplosan mengungkit masalah tadi. Bodoh. Seharusnya dia tidak melakukannya.


"Bagian mana yang sakit?" tanya Arkan. Dia sama sekali tidak membahas masalah di telepon tadi atau saat Kian keceplosan mengungkitnya.


Eh, dia tidak marah? Tidak memakiku juga? Syukurlah.. Tapi tunggu, kenapa dia menanyakan bagian mana yang sakit? Apa dia akan membalasku dengan itu?


Kian menggeleng, tidak menjawab. Dia takut Arkan justru akan menekannya. Tapi pria itu tidak akan menyerah begitu saja.


"Kau tidak ingin menjawabnya? Kau ingin aku menyentuh semuanya??" tanya Arkan dengan suara penuh penekanan disertai seringaian.


APA?!! Dia sudah gila ya?


"Wah kau sudah berani mengancamku ya?"


Akhirnya Kian menyerah. Ia menghembus napasnya kasar, ragu-ragu ia menunjuk bagian yang sakit. Pergelangan kakinya. Sepertinya ia keseleo.


Arkan melihatnya dari dekat, tangannya bergerak maju. Berusaha meraih pergelangan kaki yang ditunjuk Kian. Melihat gelagat pria itu Kian langsung menggeser kakinya.


"Tuan mau apa?" tanya Kian takut-takut. "Ampun Tuan, saya tidak akan mengulangi kebodohan saya, tapi tolong jangan menyentuhnya," ucap Kian dengan mengatupkan kedua tangan di wajahnya.


"Kau berisik sekali! Aku hanya ingin melihatnya," jawabnya santai.


"Bohong! Anda ingin menekannya, kan? Tuan ingin membalas saya karena sudah mengatai anda pria gila, tidak waras, singa buas, brengsek gila, iya kan?" pungkas Kian. Dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang diucapkannya barusan. Dia takut pria itu akan membalasnya, tapi sekarang dia bukan hanya mengungkit masalah yang tidak seharusnya dia bahas namun malah memprovokasinya.


Arkan tidak menjawab. Dia hanya menatap Kian dengan ekspresi dingin. Lalu tangannya bergerak lagi meraih kaki Kian. Gadis itu menutup mata sambil menggigit bibirnya kuat untuk menahan rasa sakit saat Arkan benar-benar menekan kakinya. Dalam hatinya dia berteriak sekaligus mengumpat kesal.


Apa sekarang dia benar-benar akan menekan kakiku? Aaahh tidakkk... Bibi, tolong aku!


Kian merasa tangan Arkan sudah menyentuh kakinya, namun dia tidak merasakan sakit seperti yang ia bayangkan. Malahan dia merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya lembut, enak dan nyaman. Perlahan, Kian membuka matanya. Untuk beberapa detik mata Kian berkedip-kedip melihat sesuatu yang ada didepannya.


Apa aku sedang bermimpi?

__ADS_1


Kian mencubit pipinya keras. Sakit. Itu artinya dia tidak sedang bermimpi. Ia melihat Arkan sedang memijat kakinya perlahan. Rasanya lembut dan nyaman sekali.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Kian dengan polosnya.


"Apa kau tidak melihat aku sedang memijatmu?" jawab Arkan sinis.


"Tapi kenapa?" Mengernyit sendiri.


Arkan menghentikan pijatannya, mengalihkan pandangan ke Kian. "Jadi kau ingin aku menekannya saja?"


"Tidakkkk!!" geleng Kian cepat.


"Kalau begitu jangan banyak bicara!" ancam Arkan kembali. Lalu melanjutkan pijatannya.


Kian hanya mengerjapkan mata menatap langit-langit kamarnya. Sambil sesekali melirik Arkan yang masih setia memijatnya. Entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Oksigen yang masuk ke rongga dadanya juga jauh berkurang, membuatnya sesak.


Kian meraih buku tipis yang ada disebelahnya. Buku yang ia isi dengan catatan hariannya. Lalu mengibaskan buku itu ke wajahnya. Memberi angin segar untuk ia hirup dalam-dalam.


Arkan mengalihkan pandangan dari kaki Kian. Pandangannya mengedar ke setiap sudut ruangan itu. Tidak ada AC. Hanya ada kipas kecil di meja riasnya.


"Apa dikamarmu tidak ada AC?" tanya Arkan penasaran.


Kian menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkan Bibi dengan menambah tagihan listriknya. Diterima dirumah ini secara gratis saja aku sudah bersyukur," jawab Kian.


"Kalau Tuan merasa gerah, disana ada kipas kecil. Ya walaupun tidak dingin, tapi lebih baik daripada kepanasan." Kian menunjuk kipas kecil yang sempat dilihat Arkan tadi.


Arkan mendesah. Tapi ia tetap berjalan mengambilnya. Meletakkan kipas itu diatas nakas. Lalu menyalakan dan mengarahkannya ke Kian.


Eh, kenapa ia arahkan padaku?


Bukannya dia yang kegerahan?


Setelah menyalakan kipas, Arkan kembali memijat kaki Kian yang sakit. Suasana kembali hening. Arkan tetap fokus pada kegiatannya. Sementara Kian, perlahan mulai mengantuk. Dalam sekejap dia sudah terlelap.


"Cepat sekali kau tidur. Padahal aku baru memijat mu beberapa menit. Sepertinya pijatan ku memang enak! Kau beruntung, kau adalah orang pertama yang ku pijat dengan kedua tanganku." Arkan tersenyum dengan gumamannya sendiri.


"Istirahatlah, aku akan kembali lagi nanti," ucapnya sambil menutup setengah tubuh Kian dengan selimut.


Note: Mohon maaf kalau ada tulisan atau kata-kata yang tidak nyambung, karena ide menulis lagi gak stabil. Mengikuti mood yang kadang naik turun. πŸ™πŸ™


Tapi author usahakan akan memberikan yang terbaik untuk para pembaca setiaπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Salam dari author, Ka bany 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2