
Matahari cerah menerangi pagi. Sinarnya masih menggelayut manja diantara rimbun pepohonan. Terasa hangat meski embun belum sepenuhnya hilang.
Kian duduk termenung didalam mobil. Matanya menatap kosong keluar jendela kaca. Pikirannya kembali memutar percakapannya dengan Arkan.
"Aku membawamu kesini karena jalan ke rumah bibi mu terkena banjir." Arkan mulai menjelaskan.
"Tapi seharusnya anda memberi tahu saya terlebih dulu, sebelum memutuskan membawa saya kesini!" pungkas Kian. Gadis itu merasa Arkan terlalu lancang membawanya ke apartemen tanpa persetujuannya.
Arkan mendesah. "Kau tidak ingat aku membangunkan mu berulang kali?
"Benarkah?" tanya Kian mendelik.
"Ck. Bagaimana kau bisa ingat kalau kau tidur seperti orang mati!" cibir Arkan.
"Apa?!" Kian mendengus. "Lalu pakaian saya? Bagaimana saya bisa memakai pakaian ini?" Kian menarik ujung kerah kemeja yang dipakainya.
Aaaahh.. Apa ini?? Celana boxer??
Lagi?!
Kian memegang celana yang dipakainya dengan raut tidak percaya. Wajahnya cemberut. Gila! Dia benar-benar bisa gila kalau terus berurusan dengan pria didepannya.
"Soal itu... Emmhh," ucapan Arkan masih menggantung.
Kian memajukan wajahnya. Menelisik, menunggu jawaban pria itu.
"Aku menyuruh seseorang untuk menggantinya. Pakaianmu basah!" jawab Arkan gelagapan.
"APA?!!" teriak Kian melengking. Sampai Arkan mengusap telinganya. " Siapa yang sudah menggantinya?? Tuan??" tanya Kian cemas. Dia sangat cemas sampai tidak bisa berpikir jernih.
"Apa kau sudah gila? Kenapa harus aku yang menggantinya!" jawab Arkan gelagapan.
"Lantas siapa orang itu? Pria atau wanita?'" tanya Kian lagi. Dia menyilangkan tangannya ke dada. Membayangkan orang lain menyentuh tubuhnya, dia bergidik. "Kenapa Tuan tidak membangunkan saya? Kalau saya tidak bangun, anda bisa menyiram saya sampai saya terbangun!"
"Hah, benar. Seharusnya aku menyiram mu saja! Tidak. Seharusnya aku memukul kepalamu agar kau terbangun!" jawab Arkan kesal.
" Siapa orang itu? Wanita atau pria?" selidik Kian lagi. Matanya menatap tajam Arkan.
Mendapat tatapan seperti itu Arkan terlihat gugup. "Apa aku sudah gila menyuruh pria mengganti pakaianmu?!" teriak Arkan kesal. Dia berdiri seperti menghindari sesuatu.
"Syukurlah kalau itu bukan pria." Kian mengelus dadanya. Lega.
Arkan berjalan mengambil ponselnya yang ada diatas nakas. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Kian bernapas lega. Setidaknya jika wanita yang mengganti pakaiannya itu lebih baik. Walaupun dia tetap merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, Nona." Suara supir taksi membuyarkan lamunannya.
"Ah iya. Terima kasih, Pak!" Kian meraih tas yang ia letakkan disampingnya. Lalu membuka pintu taksi. Dia sudah berada didepan kantor sekarang.
Satu jam sebelumnya.
Kian sedang menyisir rambutnya yang terurai, rambut hitam panjang dan lurus itu selalu ia rawat dengan baik. Sudah sejak kecil rambutnya lurus seperti itu, tanpa obat pelurus sekalipun. Sedangkan Arkan sedari tadi memainkan ponselnya sambil menunggu Kian bersiap.
"Kau lama sekali!" gerutu Arkan kesal.
Kian berdiri didepan pria itu. "Maaf, Tuan." ucapnya kemudian.
Arkan beranjak. Memasukkan ponsel kedalam sakunya. Keluar apartemennya yang diikuti Kian. Gadis itu nyaris berlari kecil demi mengimbangi langkah Arkan yang terkesan cepat.
"Kita berangkat ke kantor bersama, Tuan?" tanya Kian.
"Hemm." Hanya dijawab gumaman.
Kian mengerutkan dahinya. Berpikir. Lalu matanya membelalak.
"Tidak Tuan. Saya berangkat sendiri saja!" tegas Kian.
"Kenapa?"
"Saya tidak ingin orang lain melihat kita berangkat ke kantor bersama. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka pikirkan kalau mereka melihat kita berangkat bersama pagi ini," tutur Kian. Ya para karyawan di kantor keponya melebihi wartawan. Bisa jengah sendiri kalau mendengarnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sedari tadi, hah? Aku sudah menunggumu selama SATU JAMM!!"
"Maaf, Tuan. Saya baru kepikiran!" ucap Kian menyesalinya.
"Otakmu memang lambat!" cibirnya. "Terus kau berangkat naik apa?"
Sialan. Otakku dibilang lambat!
"Naik bis!" jawab Kian ketus.
"Hubungi taksi!" perintah Arkan pada supirnya. Pria itu sedari tadi menunggu didepan pintu mobil.
Akhirnya jadilah Kian berangkat menggunakan taksi. Pria itu juga membayar ongkosnya terlebih dulu. Memberi beberapa uang lembar ratusan kepada supir. Supir itu sempat terkejut menerima uang dari Arkan. Katanya terlalu banyak.
"Itu ongkos tambahan untuk menjaga gadis ini sampai dengan selamat!" ucap Arkan tegas.
"Baik Tuan, terimakasih!" Senyum sumringah terpancar di wajah supir taksi itu.
__ADS_1
Kian tidak menyangka Arkan akan berbuat demikian. Wajah sinis, sikap bengis bisa berbuat baik juga. Ya setiap orang punya sisi baiknya, bukan? Jadi mungkin saat itu sisi baik pria itu yang keluar. Mungkin saja!
Kian sedang berjalan mengantar gelas kopi ke ruangan Arkan. Saat diluar, Kian bisa melihat pria itu sedang melihat ke arahnya, lalu menggerakkan tangannya menyuruh Kian segera masuk.
Karena sudah mendapat persetujuan, Kian masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Arkan menatapnya datar saat Kian meletakkan gelas kopi di mejanya. Sedangkan yang ditatap merasa canggung dengan tatapan itu. Dia buru-buru ingin keluar setelah pamit undur diri.
"Tunggu!" kata Arkan, menghentikan langkah Kian yang sudah memegang handle pintu.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap Kian setelah membalikkan badannya.
"Copy file ini!" Arkan menyodorkan file ke udara. Kian berjalan menghampiri dan mengambil file itu. "Masing-masing satu lembar!" perintahnya lagi.
"Baik Tuan."
Dan hari ini sepertinya dia mendapat tugas baru selain sebagai seorang admin. Melayani tuan muda yang sedari tadi menyuruhnya tiada henti. Huff! Apa aku ini pelayannya? Membuatkan kopi, membawakan cemilan, hingga menyemirkan sepatunya karena dia akan meeting. Kian merasa orang itu sedang mengerjainnya.
"Pesankan aku makanan X untuk makan siang!" ucap pria itu saat Kian sedang merapikan file yang berserakan di sofa.
""Baik Tuan!" Meskipun mengiyakan, tapi Kian tidak bisa menutup raut kesal diwajahnya. Dari pagi sampai menjelang makan siang, dia hanya berkutat di ruangan pria itu. Entah bagaimana nasib pekerjaannya, dia tidak tahu. Pasti Menumpuk! batinnya. Kian menghela napas berat.
Sementara di ruangan lain Rendy mencari keberadaan Kian sedari pagi. Dia melihat tas Kian, tapi tidak melihat pemiliknya. Saat bertanya pada Dina, gadis itu juga tidak mengetahuinya. Kian datang sebelum mereka, jadi saat dia mengantar kopi ke ruangan tuan muda, tidak ada yang melihatnya. Rendy gelisah, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
Akhirnya pesanan makan siang datang. Kian menatanya di atas meja depan sofa. Arkan sendiri masih sibuk menandatangani beberapa file lagi. Lalu Kian menghampirinya.
"Tuan makan siang anda sudah siap," ucap Kian.
"Baiklah." Arkan menutup filenya. Beranjak menuju sofa.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan."
Arkan membalikkan tubuhnya. Menatap tajam Kian. "Kau mau kemana?"
"Kembali ke ruangan, Tuan. Kerjaan saya pasti menumpuk." jawab Kian sambil menunduk.
"Duduk. Temani aku makan!"
Apa dia anak kecil? Makan saja minta ditemani!
Kian diam. Belum menanggapi.
"Kau tidak dengar?" nadanya mulai mengancam.
Tanpa menjawab, Kian langsung mendudukkan dirinya di sofa.
__ADS_1
Akhirnya Kian dan Arkan makan siang bersama lagi di ruangan itu. Meskipun Kian menolak karena merasa tidak nyaman, pria itu selalu punya cara untuk memaksanya. Mau tidak mau, Kian menurutinya. Lagi pula dia merasa lapar karena dari semalam belum makan nasi. Mencomot cemilan Arkan di pantry tidak membuatnya kenyang. Hanya menahan rasa laparnya sedikit. Kalau dia tahu aku mencomot makanannya tadi dia marah tidak, ya?! Kian terkekeh sendiri dalam hatinya. Mengingat perbuatannya yang terbilang nekad.
Maaf tuan muda, aku khilaf tadi.