Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Bertemu Rina


__ADS_3

Kian keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk kimono dengan gulungan handuk yang menutupi rambut basahnya. Sekarang, tubuhnya terasa segar dan wangi. Tidak berminyak ataupun bau aneh seperti tadi. Bagaimana tidak, satu botol shampoo dan sabun habis ia gunakan untuk membersihkan tubuhnya. Setidaknya, itu membuat Arkan tidak mengejeknya.


Masih berdiri di depan pintu kamar mandi, Kian menyapukan pandangan mencari keberadaan Arkan. Ia mengernyit saat melihat pria itu tengah berbincang dengan seorang wanita. Gaya wanita itu sangat fashionable dengan pakaian yang mengikuti tren mode saat ini dengan tatanan rambut yang tidak kalah kerennya. Ahh gayanya membuat Kian iri saja.


"Ekhemm." Kian berdehem untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Berhasil. Mereka beralih menatap Kian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Arkan menghampirinya dengan ekspresi wajah datarnya.


"Kau sudah selesai?" tanya pria itu lembut.


"Hmmm... Siapa dia?" tanya Kian balik.


Arkan mengikuti pandangan Kian yang mengarah pada wanita yang bersamanya tadi. Lalu ia tersenyum tipis. "Ohh.. perkenalkan, dia Rina. Dia salah satu Make Up Artist terbaik di salon Ibu. Aku yang menyuruhnya datang." Rina langsung membungkuk, memberi salam penghormatan pada Kian dengan menyunggingkan senyum ramah.


Hah? Make Up Artist? Kenapa dia menyuruhnya datang? Apa dia akan mendandani seorang artis disini?


Kian melirik kesana kemari, tapi tidak menemukan orang lain selain mereka bertiga. Jadi ia bertanya, "Sedang apa dia disini?"


Bukannya menjawab pertanyaan Kian. Arkan malah berbalik menoleh pada Rina. "Sekarang kau bisa lakukan tugasmu. Berikan yang terbaik dalam waktu yang sesingkatnya!" perintahnya pada Rina. Wanita itu kembali membungkuk sambil menganggukkan kepalanya.


'Baik, Tuan."


Tugas? Apa sih yang mereka bicarakan?


Disaat Kian masih bingung dengan pembicaraan kedua orang di depannya. Arkan menepuk bahunya. Spontan membuyarkan lamunannya. "Jangan banyak bertanya! Hanya turuti saja apa yang dikatakan Rina. Aku akan keluar sebentar." ucapnya seperti tahu apa yang di benak Kian, lalu berbalik pergi.

__ADS_1


"Silahkan duduk sebelah sini, Nona." Rina mengarahkan Kian pada sebuah kursi yang berada di depan meja rias yang besar. Sangking besarnya, cermin yang terpasang disana bisa menangkap hampir semua isi ruangan. Kian baru menyadari dirinya sedang berada di Presiden Suite kamar hotel.


Setelah mendudukkan diri, Kian melihat Rina mengeluarkan alat make up satu persatu dari tasnya. Ia tidak mengetahui semua nama produk kecantikan itu, ia hanya mengenali beberapa saja. Seperti bedak dan lipstik. Ah ya ada eyeliner dan maskara juga, tapi Kian jarang sekali memakainya. Bahkan nyaris tidak pernah.


Sebelum memulai memoles, Rina menyemprotkan sesuatu di wajah Kian. Gadis itu langsung menutup mata saat Rina melakukannya. Entah apa namanya, tapi terasa dingin dan menyejukkan. Dilanjutkan dengan mengoleskan krim yang senada dengan warna kulitnya. Tidak lama, Kian merasakan Rani mulai mengarahkan jemarinya di sekitar mata. Kian tidak tahu apa yang lakukan wanita itu. Ia hanya diam tanpa banyak protes. Seperti pesan Arkan padanya.


Sebagai Make Up Artist professional, tidak butuh waktu lama bagi Rani untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sesuai perintah, ia melakukannya dalam waktu yang singkat. Kian masih menutup matanya, hingga ia merasa Rani tidak lagi menyentuh wajahnya namun melepas gulungan handuk yang membungkus rambutnya. Wanita itu mengurai-urai rambut Kian dengan jemarinya. Lalu mengeringkannya dengan hairdryer.


Perlahan, Kian mulai membuka matanya. Mengerjap sesaat menatap bayangan seseorang yang ada di pantulan cermin. Ia tidak percaya bahwa dirinyalah yang sedang ia lihat di dalam cermin tersebut. Dengan raut terkesima, Kian menyentuh wajahnya yang saat ini berubah 180 derajat dari biasanya.


"Apa ini aku?" gumamnya tidak percaya.


Rina tersenyum. "Tentu saja, Nona. Anda terlihat sangat cantik." Lalu Rina mengambil sebuah gaun yang tadi ia letakkan di atas ranjang.


"Pakailah ini, Nona. Penampilan Anda akan semakin mengagumkan." Rina menyodorkan sebuah gaun berwarna putih pada Kian. Tidak seperti dress sebelumnya yang warnanya nyaris pudar, gaun tersebut berwarna putih cemerlang dengan manik-manik yang berkilauan. Terlihat dari desain dan bahannya, Pasti harganya sangat mahal.


"Anda sangat pantas memakainya, Nona. Anda pasti terlihat semakin cantik, dan Tuan Arkan pasti terpana melihatnya," tukas Rina berusaha menyakinkan Kian.


"Jangan membual, Rina. Dia pasti sudah sering melihat wanita yang jauh lebih cantik dari aku. Bahkan mungkin menjadikannya kekasihnya."


Lagi-lagi Rina tersenyum. "Sepertinya Anda salah menilai Tuan Arkan, Nona. Tuan mungkin sering melihat wanita cantik di luar sana. Tapi, baru Nona lah yang terlihat dekat dengannya. Bahkan Tuan menyuruh saya untuk mendandani Anda jadi seperti ini."


Benarkah yang dikatakan Rina? Tapi tunggu, bukankah Nyonya Wina juga sempat mengkhawatirkan kenormalan pria itu. Tapi, apa mungkin dia tidak pernah dekat dengan wanita sebelumnya? Aahh.. Rasanya sulit dipercaya.

__ADS_1


"Nona.. Nona..." Rina memanggil Kian berulang kali saat gadis itu masih terus melamun. Hingga refleks ia menyentuh bahu Kian.


"Ehh..!" seru Kian kaget.


"Maaf, saya sudah mengagetkan Anda. Tapi Nona harus segera berganti pakaian sebelum Tuan Arkan masuk dan memarahi saya," ujar Rina mengiba.


"Ahh baiklah. Tunggulah di luar sebentar. Aku akan memakainya.


"Baik, Nona." Rina berjalan keluar kamar membiarkan Kian mengenakan gaunnya.


Sambil bersusah payah, akhirnya Kian berhasil memakainya. Namun, ia masih kesulitan menaikkan resleting di bagian punggungnya.


"Cklek." Terdengar pintu kamar dibuka. Tanpa menoleh, Kian langsung berseru.


"Cepat kemarilah! Tolong bantu aku menaikkan resleting ini!" seru Kian membelakangi arah pintu.


Arkan yang baru saja masuk kamar terlihat kebingungan. Ia tidak melihat Rina ada disana. Sementara Kian terlihat sedang kesulitan memakai pakaiannya. Gadis itu malah menyuruhnya untuk menaikkan resleting yang masih mnenunjukkan bagian belakang tubuhnya.


Apa dia sudah tidak waras? Dimana Rina? Bukankah aku menyuruhnya untuk membantu gadis bodoh itu. Lihat, dia bahkan tidak melihat siapa yang masuk tapi langsung menyuruh menaikkan resleting. Bagaimana kalau orang lain yang masuk? Apa dia sebodoh itu?


"Cepatlah, keburu orang itu masuk!" perintah Kian lagi.


Orang itu? Siapa yang dia maksud? Apa itu aku?

__ADS_1


Akhirnya Arkan berjalan mendekat. Sekilas ia bisa melihat kulit Kian yang berwarna kulit langsat tapi terlihat mulus itu, sebelum ia memalingkan wajahnya segera. Dengan detak jantung yang berlompatan, Arkan meneguk liurnya. Tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh kulit mulus Kian.


Aneh, kenapa sekarang tangan Rina terasa berbeda. Jarinya terasa lebih besar daripada saat menyentuh wajahku tadi? Dan jantungku, kenapa tiba-tiba berdetak tidak karuan begini?


__ADS_2