Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Bertemu Paman dan Bibi


__ADS_3

Cinta bukan soal apa yang terlihat, tapi apa yang dirasa. Bukan soal terikat dengan hubungan, tapi soal bisa merasa bebas meluapkan perasaan. Bukan hubungan yang akan mengikat, tapi perasaan. Berapa banyak hubungan yang terjalin tapi perasaan tak saling memahami. Begitupun sebaliknya, meski tidak dalam satu hubungan, saling mengkhawatirkan justru terjadi. Entah ini benar atau salah, biarlah perasaan ini mengalir dengan sendirinya.


Rendy menatap layar ponselnya nanar. Pesan balasan yang dia dapat dari Kian sama sekali tidak menghapus kekhawatirannya. Setiap kali gadis itu mengatakan dia baik-baik saja, Rendy justru berpikir sebaliknya. Entah kenapa dia semakin peduli dengan Kian. Walaupun disisinya sudah ada Viona, gadis yang menjadi kekasihnya hampir tiga tahun belakangan. Dia sendiri bingung dengan perasaannya. Dia mencintai Viona, tapi juga tidak ingin jauh dari Kian. Dari awalnya yang hanya bertegur sapa, berlanjut ke kepedulian, dan semakin kesini Rendy semakin hanyut dengan perasaannya.


Apa benar dia baik-baik saja? Kenapa dia belum kembali?


Pikirannya masih melayang soal Kian. Semoga gadis itu benar-benar baik-baik saja.


Mobil berhenti tepat di sebuah pusat perbelanjaan. Supir keluar terlebih dulu untuk membukakan pintu tuan mudanya. Setelah Arkan turun, disusul oleh Kian. Mereka masuk ke pusat perbelanjaan tersebut. Kian hanya mengikuti langkah kaki Arkan dari belakang. Beberapa orang meliriknya aneh. Kenapa ada wanita memakai pakaian pria. Apa dia memiliki kelainan. Begitulah sarat tatapan mereka.


Kian menaikkan penutup kepala jaket hingga wajahnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Lalu langkah kaki mereka tiba-tiba terhenti di area penjualan pakaian wanita.


"Pilih satu dari pakaian ini dan pakai!" Arkan menunjuk deretan dress yang tergantung lalu tangannya mengarah ke ruang ganti.


Ck. Pelit sekali dia menyuruhku hanya memilih satu pakaian. Ya itu lebih baik sih daripada aku harus memakai pakaian ini.


Kian menurut sesuai perintah. Mengambil satu dress, membawanya ke ruang ganti. Selang beberapa menit dia keluar dengan dress anggun berwarna merah. Arkan yang menunggunya diluar nyaris tidak berkedip. Matanya menatap gadis itu tidak percaya.


Dia lumayan juga!


Tunggu, apa aku baru saja memujinya?


"Ganti!" ucap Arkan datar.


"Eh?" Kian melongo tak percaya.


"CEPAT!!" Pria itu mendelikkan matanya.


Kian bergegas mengambil satu dress lagi, membawanya ke ruang ganti.


"Ganti!" kata itu selalu keluar dari mulut Arkan saat Kian baru saja keluar dari ruang ganti. Membuat gadis itu kesal. Memakinya dalam hati.

__ADS_1


Maunya dia apa sih?


Dan ini sudah ke sepuluh kalinya Kian keluar masuk ruang ganti. Gadis itu nyaris melemparkan pakaian tersebut ke wajah Arkan. Karena kesalnya.


Kian menghentakkan kakinya mengambil dress terakhir yang ada di gantungan. Kalau tuan muda itu masih menyuruhnya menggantinya, Kian benar-benar akan melemparkan pakaian tersebut ke wajahnya.


"Cukup!" Akhirnya Arkan menghentikan aksinya.


Kau benar-benar ingin mengerjaiku ya. Awas saja kau!


Setelah puas mengerjai Kian, pria itu menuju bagian pembayaran. Dan anehnya Kian melihat semua pakaian yang tadi dicobanya sudah berada di kasir. Arkan meminta petugas kasir membungkus semuanya lalu membayar total harganya. Kian menatap pria itu aneh. Sama sekali tidak bisa menebak jalan pikirannya.


"Bawa!" Arkan menyuruh Kian menenteng semua tas belanja. Karena isi tas itu semua adalah milik Kian.


"Apa ini semua untuk saya, tuan?" tanya Kian ragu.


"Kalau kau tidak mau aku bisa memberikannya ke pelayan di rumah." jawabnya menjengkelkan.


"Tidak!!" Kian nyaris berteriak. "Tentu saja saya mau. Terimakasih, tuan!" jawabnya girang. Dibalik wajahnya, Arkan juga tersenyum mendengarnya.


Mereka berdua kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Kian sendiri tidak tahu tujuan mereka kemana. Yang jelas jalan yang mereka lalui bukanlah mengarah ke hotel atau ke penginapan. Kian melirik Arkan melalui ujung matanya, pria itu sedang fokus menatap layar ponselnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya menatap ke luar jendela, saat malam hari pemandangan hijau yang tadi siang dilihatnya hanya tertutup oleh kabut tebal. Dia juga sempat melihat jalan masuk villa yang sering dia lewati bersama Paman dan Bibi saat di puncak. Tempat biasa mereka menginap.


Saat Kian memutar kembali ingatannya berlibur bersama keluarganya, supir menghentikan mobilnya. Sekarang mereka berada di depan halaman sebuah rumah. Rumah siapa ini, Kian jelas tidak tahu. Jika dilihat dari luar, rumah ini memiliki dua lantai yang designnya terlihat sangat berkelas. Setelah Arkan dan Kian turun dari mobil, ada dua orang yang menyambut mereka. Seorang pria dan wanita paruh baya.


"Paman, Bibi, bagaimana kabar kalian?" Arkan menyapa mereka saat mendekat. Memeluk mereka bergantian.


"Tentu saja kami baik." Setelah lepas dari pelukan Arkan. "Sudah lama kita tidak bertemu, kau sendiri bagaimana kabarmu? Kau tidak pernah menghubungi paman selama di luar negeri, apa kau lupa dengan pamanmu ini?" tanya pria yang dipanggil Paman oleh Arkan.


"Kabarku baik Paman. Maaf aku tidak menghubungi Paman dan Bibi bukan karena melupakan kalian. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kalian?" jawab Arkan setelah melepas pelukan dari Bibi.


"Siapa gadis manis ini, Arkan? Apa kau sudah memiliki kekasih sekarang?" tanya Bibi saat melihat ada seorang gadis yang datang bersama Arkan.

__ADS_1


Arkan tidak menjawab, dia hanya tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Bibi yang terakhir.


"Saya Kiandra Bibi." Kian membuka suaranya, memperkenalkan dirinya. "Senang bertemu Paman dan Bibi." Kian meraih tangan Bibi lalu menciumnya, begitupun dengan paman.


Eh kenapa mereka terkejut begitu? Bukankah ini cara yang yang paling sopan saat bertemu orang tua?


Arkan, Paman dan Bibi terkejut dengan perlakuan Kian. Zaman sekarang, jarang sekali anak muda masih menggunakan tradisi ini saat bertemu orang tua. Bagi mereka salaman saja sudah cukup. Tapi Kian masih memegang tradisi ini dari orang tuanya. Orang tuanya selalu mengajarkannya sopan santun kepada yang lebih tua.


"Ayo masuk! Kita lanjutkan mengobrol didalam saja," ucap Paman sambil merangkul bahu Arkan memasuki rumah.


"Ayo Nak Kian!" timpal Bibi memegang lengan Kian. Wanita paruh baya itu terlihat sangat ramah pada Kian. Senyuman selalu terukir saat Bibi berbicara padanya.


"Iya Bibi," jawab Kian mengangguk.


Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan di meja makan. Paman mempersilahkan Arkan dan Kian untuk duduk. Mereka berdua duduk bersebelahan. Tak lama datang seorang pelayan meletakkan beberapa makanan di atas meja. Lalu meletakkan piring ke masing-masing orang yang ada disana. Kian mengernyitkan dahinya saat melihat isi piring yang ada di depannya.


Ya Tuhan ini steak! Bagaimana ini?


Kian sedikit ada masalah dengan menu makanan yang satu ini. Bukan tidak suka ataupun alergi. Dia hanya tidak bisa memotong steak dengan baik. Walaupun dia sempat memakannya bersama teman-temannya, tapi saat Kian memotongnya sendiri akan berakhir memalukan. Oleh karena itu temannya akan memotong steak untuknya. Kali ini dia berhadapan dengan makanan ini didepan tuan muda dan keluarganya.


Kalau sampai Kian berbuat hal yang memalukan, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh tuan muda di sampingnya ini.


"Ayo dimakan, Nak Kian!" ucap Bibi karena melihat Kian masih diam. Arkan dan Paman yang sudah mulai menyantap makanan mereka beralih memandang Kian.


"I-iya Bibi," jawab Kian gugup. Dia menarik nafas pelan mengambil pisau dan garpu di sebelahnya.


Tenang Kian! Pelan-pelan saja. Kau pasti bisa!


Paman dan Bibi kembali fokus pada makanan mereka. Tinggal Arkan yang masih melirik Kian dengan ujung matanya. Dia tersenyum melihat gadis itu kesulitan memotong steak di depannya.


Apa sesulit itu memotong steak baginya??

__ADS_1


__ADS_2