
Rendy baru saja memarkirkan motornya. Dia menerima helm yang diberikan Kian, menaruhnya di kaca spion.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Rendy.
Kian menganggukkan kepala. "Sudah Kak."
"Kalau begitu kita langsung keatas saja ya."
"Iya, Kak."
Mereka memasuki lift bersamaan. Saat pintu nyaris menutup, tiba-tiba muncul seseorang menahannya. Membuat pintu lift terbuka lagi. Melihat siapa orang yang baru saja masuk lift, Kian mendengus.
Huh! Bukankah seharusnya dia sudah tiba lebih dulu?
Kian mundur saat orang itu masuk. Memilih bersandar di sudut dinding. Hanya ada mereka bertiga didalamnya. Rendy melirik Kian melalui ekor matanya, begitu juga Arkan. Sedangkan gadis itu hanya sibuk dengan ponselnya. Tidak menyadari lirikan tajam dari kedua orang itu.
"Klingg." Pintu lift terbuka, dengan santainya Kian jalan melengos meninggalkan dua pria itu. Senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.
Melihatnya seperti itu, Arkan dan Rendy saling menatap tidak percaya. Ada apa dengannya. Melengos begitu saja sambil senyum-senyum sendiri. Dia tidak sedang kesambet, kan?
Sementara Kian tertawa kecil menatap layar ponselnya. Membaca pesan dari mas Sholihin. Pria itu mengabari Kian bahwa akan pulang dalam waktu dekat.
Untuk tanggalnya sendiri, dia sengaja merahasiakannya. Katanya biar jadi kejutan. Alasan yang selalu mas Sholihin berikan saat mengabarkan akan pulang. Membuat Kian jadi tidak sabar menunggu kepulangan pria itu.
Kian menuju ruangan kerja terlebih dulu untuk menyimpan tasnya. Lalu keluar lagi menuju pantry. Seperti biasa, membuatkan kopi untuk tuan muda. Hari masih terlalu pagi, jadi baru beberapa karyawan yang datang. Suasana kantor seperti ini paling disukai Kian, karena suara-suara gaduh nan riuh belum santer terdengar.
Dua gelas kopi sudah selesai dia buat. Satu gelas untuk Arkan, dan gelas yang lain untuknya sendiri. Gelas kopi miliknya sendiri ia simpan dulu di pantry, nanti akan diambil setelah mengantar kopi tuan muda.
Sambil membawa nampan berisi kopi, Kian berjalan hati-hati menuju ruangan Arkan. Mengetuk pintu sebentar dan membukanya setelah mendapat ijin dari orang didalamnya. Arkan terlihat sedang menyandarkan kepalanya di atas sofa dengan mata terpejam. Seperti masih mengantuk. Penyebabnya karena dia tidak bisa tidur semalaman, otaknya memikirkan cara untuk meminta maaf pada Kian.
Kian menaruh gelas di meja depan sofa. Lalu berniat membalikkan badannya, namun tiba-tiba tertahan. Tangannya dipegang oleh Arkan. Pria itu menarik tangan Kian mendekat ke arahnya. Membuat darah Kian berdesir.
Eh, dia mau apa??
Arkan terus menariknya lagi, sampai tubuh Kian pun ikut bergeser. Mendekat ke arahnya. Sekarang jarak mereka tidak lebih dari selangkah. Sedikit lagi Kian maju, bisa-bisa tubuhnya jatuh ke pangkuan ke pria itu.
"Pijat disini!" Arkan menaruh tangan Kian tepat disisi keningnya. Matanya masih terpejam.
"Apa?!" Kian membelalakkan mata.
"Cepat lakukan!" perintahnya lagi.
"Baik, Tuan." Kian mulai memijat perlahan. Tangannya bergerak-gerak melingkar memijat kening Arkan.
Gadis itu memajukan bibirnya lima senti. Sambil komat kamit menyumpah serapahi pria didepannya.
Apa dia pikir aku tukang pijat? Seenak jidatnya memerintah orang!
__ADS_1
Rasanya aku ingin menoyor kepalanya saja!
"Kau mau mati ya?" Mata Arkan melotot, menatap tajam Kian.
Ohh tidak!! Apa aku sudah tidak waras?
Kian baru menyadari jari telunjuknya sudah berada tepat di kening Arkan. Siap menoyor kepala pria itu. Cepat-cepat dia turunkan, sebelum jarinya remuk seketika.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." Kian berusaha menyelamatkan dirinya.
"Kalau kau sengaja melakukannya, berarti kau benar-benar sudah bosan hidup!" ucap Arkan sinis.
"Tidak Tuan, Maaf!" Kian memasang wajah memelasnya. Mengiba. Seperti yang dilakukan Arkan tadi pagi.
Akhh..wajah itu...! Tidak Tidak, jantungku!
Akhh.. kenapa aku ingin menarik pipinya?
Arkan langsung membuang muka. Menyembunyikan senyum di wajahnya. Kalau terus melihatnya, bisa-bisa dia akan mencubit pipi gadis itu sungguhan.
"Duduk!" Arkan melirik sofa di sebelahnya.
Kian menurut. Daripada menambah masalah, pikirnya. Arkan kembali menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan matanya.
"Lanjutkan!" perintahnya.
"Apanya Tuan?" Kian bingung. Belum mencerna maksud pria itu.
"Memijat kepalaku," jawab Arkan santai.
Tumben dia tidak mengamuk.
Kian kembali meletakkan tangannya di kening Arkan, memijatnya perlahan. Menatap pria itu dari dekat rasanya ada yang aneh. Wajah tenangnya memberikan sensasi sejuk saat melihatnya. Kian menarik napas pelan, mengalirkan oksigen ke rongga dadanya yang terasa sedikit sesak. Andai hatinya tidak lebih dulu membenci pria itu, mungkin saat ini Kian sudah meleleh melihatnya sedekat ini. Garis wajahnya, rahang kokohnya, bibir tipisnya benar-benar ciptaan Tuhan yang sempurna.
Sepertinya Arkan menikmati pijatan Kian. Pria itu sampai ketiduran. Perlahan-lahan Kian melepaskan tangannya agar tidak membangunkan Arkan. Lalu meninggalkannya terlelap dalam tidur.
Kian kembali ke pantry untuk mengambil kopi miliknya. Sudah dingin. Tapi Kian tetap membawanya ke ruangan, menyeruputnya sebelum memulai pekerjaan. Hari ini langit bersinar sangat cerah, menambah semangat Kian.
-Istirahat makan siang-
Kian baru saja keluar ruangan sambil membawa bekal makan siangnya. Tiba-tiba petugas resepsionis menghampirinya.
"Kian ada yang mau bertemu sama kamu tuh," ucap resepsionis itu.
"Siapa?"
"Tidak tahu. Tadinya dia nanya Rendy, aku bilang Rendy pergi. Jadi dia nanya kamu," tuturnya.
__ADS_1
Ah iya, Rendy pergi dari sebelum jam makan siang karena urusan pekerjaan.
"Baiklah, aku akan menemuinya." Kian berjalan menuju bagian resepsionis, dimana orang itu menunggunya.
Viona? Mau apa dia mencari ku?
"Hai Kian, kamu masih ingat aku tidak? Kita pernah bertemu di penjual bubur waktu itu." Viona menyapa dengan panjang lebar.
Bagaimana mungkin aku lupa? Gara-gara melihat kau bercipika cipiki dengan Kak Rendy waktu itu, aku jadi berurusan dengan tuan muda gila itu.
"Iya aku masih ingat. Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" jawab Kian datar.
"Ayo kita makan siang diluar," ajak Viona.
"Aku sudah bawa bekal."
"Bawa saja, tidak apa-apa."
"Baiklah, ayo." Kian menyeret kakinya malas.
Akhirnya Kian mengikuti Viona mencari makan siang diluar. Jujur saja, perasaan Kian tidak enak. Tapi dia juga merasa tidak enak kalau harus menolaknya.
Mereka pergi ke kafe yang ada di seberang kantor. Viona memesan lebih dulu. Sementara Kian ragu memakan bekal makan siangnya di kafe ini, jadi dia juga ikut memesan. Menyimpan kembali bekalnya didalam tas.
"Tadinya aku mau memberi kejutan untuk Rendy karena sudah membelikan aku ini." Viona membuka percakapan lebih dulu. Tangannya menunjuk sesuatu yang melingkar dilehernya.
Itu kan kalung...
" Tapi Rendy nya malah tidak ada. Karena kamu teman dekatnya Rendy, jadi aku mau sekalian kenalan." ucap Viona lagi.
Kian memutar bola matanya. "Ohh.. Iya dia pergi dari pagi."
"Rendy banyak cerita tentang kamu. Dia bilang kamu gadis yang baik. Dia juga bilang, sudah menganggap kamu seperti adiknya sendiri. Dia sudah memberitahumu belum kalau sebentar lagi kami akan bertunangan?" ucap Viona penuh penekanan. Entah apa maksudnya hanya dia yang tahu.
Deg. Jantung Kian seolah berhenti. Mendengar ucapan Viona seperti itu, Kian merasa ada sesuatu yang menusuk jantungnya. Dadanya terasa sesak. Sakit. Perih. Semua melebur menjadi satu.
Jadi selama ini, dia hanya menganggap ku sebagai adiknya?
Dan apa itu? Tunangan? Apa sungguh dia sudah merencanakannya?
Lantas, kenapa dia seperti memberi harapan untukku?
Apa aku yang sudah begitu banyak menaruh harapan padanya?
"Ohhh. Dia... belum." Hanya itu kata-kata yang mampu diucapkan oleh Kian. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa dia harus tertawa karena sudah dianggap sebagai adik, atau malah menangis meraung-raung karena perasaannya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. Rendy menganggapnya tak lebih dari seorang adik. Kalimat itu terus terngiang di otaknya, menari-nari, mengejeknya tiada henti.
Apa kau pikir aku tidak mengetahui bahwa kau menyimpan rasa untuk Rendy? Beraninya kau ingin menjadi duri dalam hubungan kami. Lihat, wajahmu bahkan tidak bisa berbohong.
__ADS_1
Viona sebenarnya sudah tahu bahwa Rendy tidak ada dikantor, dia hanya ingin bertemu Kian. Melihat ekspresi wajah gadis itu saat dia mengatakan hal yang sudah di rencanakan-nya dari semalam.