
******Hai para readers tercinta π€π€
Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, rate, and comment ya..ππ
Dukungan dari readers sekalian, sangat membantu author untuk tetap semangat dalam menulis..
Semoga sehat selaluπ€π€****
----
Matahari masih malu-malu menampakkan diri, namun sinar lembutnya mampu menembus melalui celah-celah papan kayu. Memberikan titik-titik cahaya yang berkilauan di dalam kamar. Meski tidak menggunakan AC tapi suhu di ruangan kecil itu terasa dingin. Arkan meringkuk dibalik selimutnya. Sedangkan Angga dan Didi, yang menemani Arkan tidur sudah pergi berangkat sekolah sedari tadi. Meninggalkan Arkan yang masih terlelap.
Sementara di luar terjadi keributan. Beberapa orang terlihat marah-marah di depan rumah sambil terus memaki orangtua Kian. Mereka adalah rentenir sekaligus orang suruhannya yang berbadan kekar.
Ternyata, orangtua Kian berhutang pada rentenir untuk modal mengurus sawah mereka. Namun, saat panen tiba, hasilnya tidak bisa untuk menutupi hutang beserta bunga-bunganya. Sekarang rentenir itu datang sambil membawa beberapa pria berbadan kekar. Mereka mengancam akan mengambil surat tanah jika orangtua Kian tidak bisa membayar hutang mereka hari ini juga.
Sejak awal, Kian memang tidak pernah setuju jika orangtuanya berhutang pada rentenir. Rentenir itu lintah darat, mereka akan menghisap jerih payah orang-orang yang datang pada mereka, tanpa belas kasih. Lagipula itu dilarang dalam agama. Riba, haram hukumnya. Tapi orangtua Kian tetap bersikeras dengan alasan tidak ada jalan lain. Sebagai anak, mau tidak mau Kian hanya bisa pasrah. Dia sendiri juga tidak bisa memberikan modal untuk mengurus sawah mereka.
"Maaf, beri kami waktu satu pekan lagi untuk melunasinya," ucap Ibu dengan wajah memelas.
"Tidak! Aku sudah memberimu waktu hampir satu bulan. Tapi kalian tidak datang untuk melunasinya. Sekarang, bayar semuanya. Pokok sekaligus bunganya!. Kalau tidak, aku akan mengambil surat rumah reot ini." Rentenir itu berbicara dengan intonasi tinggi.
Melihat orangtuanya yang terus-terusan dimaki-maki, Kian tidak terima. Dia yang sedari tadi hanya diam karena menghormati rentenir itu lebih tua darinya, mulai murka.
"Apa ibu tidak punya hati nurani? Orangtua saya baru saja mengalami gagal panen, setidaknya beri kami keringanan untuk membayarnya. Bukannya terus menaikkan bunganya. Dasar lintah darat!!" Kian berusaha membela orangtuanya. Nada suaranya juga ikut meninggi bersamaan dengan emosinya.
"KAU, Beraninya!!" Rentenir itu berusaha melayangkan tamparan ke wajah Kian. Namun, tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.
"Lepaskan tanganku!" Rentenir itu meronta, meminta tangannya dilepaskan. Tapi orang yang menahan tangannya justru menggenggamnya semakin kuat. Membuat ia mengerang kesakitan.
Kian yang sempat menutup matanya karena takut terkena tamparan, kini membuka mata. Ia melihat Arkan berdiri didepannya sambil menahan tangan yang berusaha menamparnya. Arkan menatap rentenir itu tajam.
Beraninya dia mau menampar wanitaku!
"Lepaskan!" rintih rentenir itu lagi.
Sementara Arkan, sama sekali tidak berniat melepaskannya. Ia ingin meremas tangan itu sampai berkeping-keping. Si rentenir semakin mengerang saat Arkan menguatkan genggamannya.
"Aku tidak apa-apa, tolong lepaskan dia," Kian berusaha menenangkan Arkan yang masih dipenuhi amarah.
Mendengar permintaan Kian, Arkan melemparkan tangan itu kasar. Ia menghembuskan napas kasar, masih tidak bisa menerima.
"Berapa hutangnya?" tanya Arkan dengan sorot matanya yang tajam.
__ADS_1
"Kau tidak akan mampu membayarnya, Anak Muda!" Dengan senyum sombongnya rentenir itu menghina Arkan.
"KATAKAN!!!" Arkan berteriak kesal saat rentenir itu bukan menjawab pertanyaannya tapi malah menghinanya.
"50 juta beserta bunganya!" jawab rentenir itu sambil mengibaskan tangannya.
Arkan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menempelkannya di telinga. Sepertinya ia menghubungi seseorang.
"Sam, siapkan uang 100 juta SEKARANG!!!" ucapnya lalu mematikan sambungan telepon. Semua orang yang ada disitu menelan ludah saat mendengar ucapan Arkan barusan.
"Tunggu disini!" perintahnya pada rentenir itu.
Dengan raut wajah sumringah rentenir itu mengangguk tidak tahu malu.
30 menit kemudian.
Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di halaman rumah Kian. Terlihat Sam keluar sambil membawa koper di tangannya. Kian menggeleng tidak percaya saat Sam membuka koper itu dan menunjukkannya pada Arkan. Arkan hanya mengangguk, lalu Sam menutupnya lagi.
"Berikan padanya!" Arkan menunjuk rentenir yang matanya sudah berbinar-binar siap menerima duit itu.
Baru saja Sam ingin menyerahkan koper itu, tiba-tiba Kian membuka suara.
"Tunggu!" perintahnya pada Sam. Pria itu hanya menurut dan memegang koper itu kembali.
Lalu Kian mengambil beberapa gepok uang di dalam koper sambil menghitungnya. Semua orang yang ada disitu hanya mengernyit melihat tingkahnya, termasuk Arkan.
Apa yang sedang gadis bodoh itu lakukan?
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan.
Kian tidak menjawab. Dia hanya fokus menghitung. Setelah menghitung uang di tangannya, Kian tersenyum puas. "Sekarang, berikan itu padanya!"
Lagi-lagi Sam menurutinya. Kali ini Sam pun ikut tersenyum melihat apa yang baru saja Kian lakukan. Sepertinya dia mengerti maksud gadis itu.
Ternyata anda pintar juga, Nona.
Rentenir yang menerima koper dari tangan Sam hanya bisa cemberut. Dia kesal tidak jadi menerima uang 100 juta yang sedari tadi dia khayalkan.
"Pergi dan jangan pernah kembali!" ancam Arkan pada rentenir itu.
Rentenir itu hanya mengangguk lalu meninggalkan rumah Kian bersama para suruhannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan lagi.
__ADS_1
Pria ini bodoh atau apa sih? Masa iya tidak paham. Bahkan Sam saja pun paham apa yang sedang Kian lakukan.
"Enak saja dia menerima uang 100 juta, hutang orangtuaku kan cuma 50 juta," jawab Kian merasa tidak terima kalau rentenir itu mendapat untung berkali-kali lipat.
"Ck. Pintar juga otakmu ya?" cibir Arkan.
"Bukan aku yang pintar, tapi kau yang kelewat bodoh!" Kian tergelak saat wajah Arkan berubah masam mendengar penuturannya.
"KAU!!" Arkan melayangkan jitakan ke udara di depan Kian. Dia merasa gemas karena gadis di depannya sudah mulai berani mengatainya. Meski begitu, ia tetap menyukai gadis itu. Gadis pertama yang mengisi hatinya.
"Nih, uangmu!" Kian menyodorkan sisa uang yang tadi diambilnya pada Arkan.
"Kau simpan saja!" jawab Arkan santai.
"Tidak mau! Aku bahkan sudah berhutang 50 juta padamu!" Kian menolak untuk menerima uang itu. Baginya, Arkan mau meminjamkannya uang untuk membayar hutang saja dia sudah sangat bersyukur. Ia tidak ingin menambah hutang lagi.
"Kalau kau tidak mau, bakar saja uang-uang itu!"
Aku rasa otaknya benar-benar tidak waras.
Kian menelan ludah, pria di depannya dengan santai menyuruhnya membakar uang di tangannya.
"APA? Hei, ini 50 juta isinya uang semua, bukan daun! Seenaknya saja main bakar! Kau tidak tahu apa, gara-gara uang sebanyak ini, rumahku nyaris di sita oleh rentenir tadi,"
"Kalau saja kau mau menyimpannya, uang itu tidak perlu dibakar!"
Kian menimang-nimang perkataan Arkan sejenak. "Baiklah aku akan menerimanya. Lagi pula orang gila macam apa yang membakar duitnya!" Kian pergi meninggalkan Arkan sendirian. Sedangkan, orangtua Kian dan Sam sudah meninggalkan mereka sedari tadi.
Sudut bibir Arkan tertarik melihat Kian menerima duit itu. Ia senang, akhirnya bisa membantu gadis yang disukainya. Walaupun Kian belum menyadari perasaannya, biarlah ia yang berusaha mendekati gadis itu duluan.
Arkan masuk ke dalam rumah dan berniat membersihkan diri di kamar mandi. Sekarang ia sudah tahu bagaimana caranya mandi ala rakyat jelata.
Sementara di dalam kamar, Kian menyimpan tumpukan uang di dalam tasnya. Ingatannya kembali memutar kejadian tadi. Melihat Arkan yang berusaha melindunginya, membuat Kian tertegun. Ia tidak menyangka pria itu akan melakukannya, terlebih dengan mudahnya Arkan melunasi hutang keluarganya.
Ahh dasar Kian bodoh. Kau bahkan belum mengatakan terimakasih padanya.
Kian mengutuk kebodohannya. Karena berdebat dengan Arkan, ia sampai lupa untuk mengucapkan terimakasih. Walaupun orangtuanya sudah mengucapkannya, tapi rasanya tidak pantas kalau Kian hanya berpangku tangan. Bagaimanapun juga, ia harus mengucapkan terimakasih.
Tapi gimana caranya ya?
Kian berpikir keras. Lalu tak lama, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.
Aku punya ide.
__ADS_1