Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Jangan Macam-Macam


__ADS_3

~Jika rasanya sulit untuk melupakan, maka jangan lupakan. Tapi, lihatlah senyum di wajahnya. Saat ia tertawa bahagia meski bukan bersamamu, akankah kau merusaknya?~


Meski rasanya sakit, Rendy akan mencoba melepaskan Kian. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan gadis itu dengan memaksanya untuk terus berada di sisinya. Siapapun yang bersamanya, asal Kian bahagia, ia akan merelakannya.


Sebelum pulang, ia mengantarkan Kian kembali ke apartemen Arkan. Ia bisa melihat senyum yang terukir di bibir Kian begitu indah.


"Kau sepertinya sangat bahagia," ucap Rendy. Kali ini nada suaranya terdengar lebih normal, tanpa beban.


Kian menoleh. Ia tersipu malu, ternyata Rendy memperhatikan ekspresi wajahnya sedari tadi. "Apa hobi Kak Rendy mengamati wajah orang?" Bukannya menjawab, ia malah melontarkan pertanyaan meledek pria itu.


"Tidak sembarang orang. Hanya kau."


"Benarkah? Wahh berarti peruntunganku sangat baik. Bisa menaklukan dua pria tampan sekaligus. Hahaha." Kian tertawa nyaring diikuti oleh Rendy. Mereka tertawa seperti tidak ingat apa yang baru saja terjadi di antara mereka.


Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu apartemen Arkan. Kian memencet bel dan menunggu pria itu membukanya. Ia melirik Rendy di sebelahnya. Wajahnya lebih terlihat santai meski Kian merasa pria itu sedikit gugup.


"Kak Rendy baik-baik saja?" Rendy terkesiap. Dulu, ia yang sering mengatakan itu pada Kian, tapi kini sebaliknya. Keadaan mereka benar-benar berbalik sekarang. Ia menoleh lalu tersenyum.


"Aku baik-baik saja." Seseorang membuka pintu, Arkan melihat dua orang di depannya masih saling melempar tatapan dan senyuman. Hatinya panas melihat pemandangan itu, tapi ia mencoba untuk menahan dirinya.


"Kalau kalian masih ingin saling memandang, aku akan menutup pintunya," ucapan Arkan terdengar sinis. Ia berbalik, namun seseorang menahan tangannya.


"Masih ada yang perlu kita bicarakan." Arkan menatap Rendy yang menahan lengannya, lalu menyorot tajam. Refleks, membuat pria itu langsung melepas tangannya.


"Kian, masuklah ke dalam. Di luar sangat dingin." Rendy melirik Kian yang ada di sampingnya. Ia sengaja menyuruh Kian masuk karena tidak ingin gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Arkan.


Sementara Arkan mendelik, "Apa aku tidak salah dengar? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu! Ini rumahku bukan rumahmu"


"Lantas, kenapa kau tidak mengatakannya?" Rendy mencoba menggoda Arkan melalui Kian. Memberikan sedikit pembalasan dengan membuat pria itu cemburu dan kesal.


"Karena kau sudah mengatakannya duluan!" Suara Arkan meninggi. Sepertinya ia mulai terprovokasi.


"Ck. Aku memang selalu lebih dulu memberikan perhatian untuk Kian." Rendy membanggakan dirinya sendiri. Dalam hatinya, ia nyaris tergelak melihat wajah Arkan yang sudah merah padam.

__ADS_1


"KAU..!!!" Arkan mengacungkan jari telunjuk di depan Rendy.


"CUKUP!!!" Kian menghentakkan suaranya. Membuat Arkan dan Rendy menghentikan pertengkaran mereka lalu beralih memandang Kian. Gadis itu cemberut. Ia sebal melihat adegan adu mulut kedua pria di depannya yang seperti anak kecil saja. Bukan, lebih tepatnya seperti Tom and Jerry.


"Kalau kalian masih ingin bertengkar, lebih baik aku pulang saja!" bentak Kian.


"JANGAN!!" sahut Arkan dan Rendy bersamaan. Untuk pertama kalinya, mereka terdengar kompak.


Yes, aku berhasil.


Kian tertawa senang dalam hatinya saat melihat kedua pria itu menurut. Ia memandangi wajah mereka yang canggung, gugup dan takut sekaligus. Mereka takut kalau Kian benar-benar pulang dalam keadaan marah.


"Kian, aku tidak akan bertengkar lagi dengannya. Jadi, kau bisa masuk sekarang," ujar Rendy menenangkan. Lagi, Arkan menatapnya sinis, tapi ia juga tidak berani protes. Takut Kian akan marah lagi.


"Baiklah. Aku percaya dengan Kak Rendy. Nanti pulang, hati-hati di jalan ya." Arkan merasa kepalanya mengeluarkan kepulan asap saat melihat Kian berbicara selembut itu pada Rendy. Terlebih, ia melambaikan tangannya sebelum menutup pintu. Kepala Arkan nyaris meledakk!!


"Kau senang?" cibir Arkan. Memutar bola matanya dan tersenyum miring. Menunjukkan ekspresi tidak suka.


Arkan tertegun. Ia bahkan tidak bisa menelan liurnya karena merasa ada yang mengganjal di kerongkongannya. Rendy ternyata lebih tegar dari apa yang ia bayangkan. Kalau saja itu dia, mungkin tidak akan bisa mengatakannya setenang itu.


"Kau yang seharusnya senang. Aku sudah membatalkan janji yang kau buat dan merelakan dia untukmu. Kau harus menjaganya mulai sekarang. Kalau kau menyakitinya, aku yang akan menggantikan posisimu." ujar Rendy lagi.


"Mimpilah sebanyak yang kau bisa. Aku tidak akan pernah menyakitinya dan membiarkan ia pergi ke pelukanmu atau siapapun itu."


Rendy tersenyum, "Baiklah, kalau begitu aku pergi. Ingat, jangan berbuat macam-macam sebelum kau menghalalkannya."


"Apa aku perlu mengirimkan undangan untukmu?"


Mereka tersenyum bersama. Akhirnya Rendy pergi meninggalkan apartemen Arkan. Ia merasa hatinya benar-benar lega sekarang.


Selepas Rendy pergi, Arkan masuk ke apartemennya dan melihat Kian yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu. Ia menggoyangkan tubuh Kian pelan untuk membangunkannya. Namun gadis itu tidak bergerak sedikitpun, ia bahkan tidak merasa terusik.


"Hei, bangun! Kau ingin pulang atau menginap disini?"

__ADS_1


Kian masih memejamkan mata, namun samar-samar ia bergumam, "Aku ingin tidur denganmu."


GLEK. Arkan menelan ludah. Mendengar gumaman Kian, pikirannya langsung mengarah entah kemana. Jantungnya terasa mau copot menahan gejolak di dadanya. Ia mendekatkan wajahnya ke Kian lalu mengibaskan tangannya tepat di depan wajah gadis itu. Tidak ada reaksi.


Dia tidur beneran atau hanya pura-pura tidur.


"Kau ingin tidur denganku?" tanya Arkan dengan kalimat yang terputus-putus. Wajahnya masih berada tepat di depan wajah Kian. Tidak ada sahutan. Akhirnya Arkan berpikir bahwa gadis itu hanya mengigau.


Apa kebiasaannya tidur sambil berbicara?


Arkan hanya menggelengkan kepala. Ia tersenyum tipis melihat kelakuan gadis di depannya yang begitu menggemaskan baginya. Rasanya ia ingin mencubit hidungnya saja, tapi ia urungkan. Tidak ingin membangunkan gadis mungilnya.


Sambil berhati-hati, Arkan menggendong tubuh Kian ala bridal style. Ia menahan wajahnya untuk tidak menatap gadis itu sekarang. Terlebih, gemuruh di dadanya benar-benar hampir menggoyahkan imannya. Pikirannya terusik dengan ucapan Kian barusan.


Baru saja Arkan ingin meletakkan tubuh Kian di atas ranjang, tiba-tiba gadis itu melingkarkan tangan di lehernya. Menahan pria itu untuk bangkit. Dan, "Cup." Ciuman tipis mendarat di bibir Arkan. Sontak ia terkejut. Matanya membelalak tidak percaya, lalu menatap wajah Kian yang berada tepat di bawahnya. Gadis itu menjatuhkan tangannya tanpa bereaksi apa pun lagi. Ia tidur seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu tenang dan pulas.


Lain halnya dengan Arkan. Pria itu cepat-cepat menegakkan tubuhnya. Ia berjalan menuju sofa sambil terhuyung-huyung. Rasanya dunia sedang berputar hingga membuatnya begitu pusing dan mual. Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa lalu memegangi bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Kian.


Apa dia baru saja mencuri ciuman pertamaku?


Dag..dig...dug DUARR!! Arkan merasa jantungnya meledak. Mendapatkan ciuman itu, ia tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Arkan menarik bajunya dan melepaskannya. Tubuhnya merasa gerah seketika. Ia bangkit dan berjalan kesana kemari. Mondar mandir seperti orang kebingungan. Diliriknya Kian yang berada dibalik selimut lalu menghampirinya. Gadis itu masih terlelap, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ulahnya membuat Arkan seperti cacing kepanasan sekarang. Bahkan sesuatu dibawahnya sudah menegang sejak tadi.


S*al, Bagaimana ia bisa tidur dengan nyenyak setelah melakukan itu padaku. Argghh Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar sudah tidak tahan.


Arkan memajukan kepalanya mendekati Kian. Melihat wajah gadis itu yang polos ia juga tidak tega melakukannya.


"Jangan berbuat macam-macam sebelum kau menghalalkannya."


Tiba-tiba peringatan Rendy menancap di otaknya. Pria itu benar, ia tidak boleh melakukan apapun pada Kian sebelum mereka sah.


Akhirnya, Arkan memilih merendamkan dirinya di air hangat. Melemaskan otot-ototnya yang sudah menegang tidak karuan. Ia akan sabar menunggu sampai saat ia boleh melakukan itu pada Kian.


Aku akan menikahimu, segera!!

__ADS_1


__ADS_2