Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Perlawanan Kian


__ADS_3

Kian sedang duduk di kursi panjang diatas balkon. Menikmati pemandangan hijau yang berkilauan disembur cahaya matahari pagi. Sedangkan Arkan sedari tadi fokus dengan laptopnya. Entah apa yang dia kerjakan, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dia duduk di sofa di bagian dalam ruangan, tapi masih bisa melihat Kian dari dinding kaca yang membatasi mereka. Arkan menatap gadis itu dari tempatnya, melihat wajah yang terlihat kusut karena terkurung di dalam hotel.


Arkan tertawa kecil. "Dia pasti merasa bosan terkurung disini. Kita lihat, sampai kapan dia akan bertahan!" Arkan bergumam dengan dirinya sendiri.


Saat matanya masih menatap Kian, tiba-tiba gadis itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Membuat pandangan mereka bertemu. Meskipun terlihat gugup karena ketahuan sedang menatap Kian, pria itu tetap menjaga sikap sok kerennya. Dia langsung memasang wajah menyeringai. Lalu menggerakkan jarinya menyuruh Kian mendekat.


Melihat isyarat yang diberikan Arkan, gadis itu mengernyitkan keningnya.


Apa dia baru saja memanggilku?


Setelah beberapa saat Kian tidak merespon, Arkan kembali mengulangi isyaratnya. Sekarang ditambah dengan gerakan tangan di bagian leher. Yang menandakan, habislah kau jika tidak segera datang!.


Glek. Kian menelan ludahnya saat melihat gerakan tangan Arkan. Dia langsung beranjak menghampiri sebelum pria itu menerkamnya.


"Apa kau buta?" tanya Arkan sinis.


"Maaf, Tuan," jawab Kian sambil meremas tangannya. Singa jantan di depannya ini menunjukkan ekspresi seperti sudah siap menerkamnya.


"Buatkan aku kopi!" Arkan masih menatap Kian tajam, sedangkan gadis itu langsung mengangguk mendengar perintah Arkan.


"Baik, Tuan." Kian bergegas menuruni anak tangga.


Aaaaahh dia selalu saja membuatku jantungan! Aku bisa cepat mati kalau terus berdekatan dengannya.


Kian kembali ke lantai dua membawa segelas kopi di tangannya. Dengan wajah yang masih ditekuk. Dia benar-benar sudah merasa bosan hanya diam di hotel apalagi bersama singa yang siap menerkamnya kapan saja.


Kian meletakkan gelas dengan hati-hati. Pria di depannya masih fokus menatap layar laptop.


"Tuan, apa saya boleh kembali ke penginapan sekarang?" Kian mulai memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Tidak! Siapa yang mengatakan kau bisa kembali kesana?" jawab Arkan sinis.


"Lalu bagaimana acara gathering nya? saya juga ingin mengikutinya," ucap Kian tegas. Dia berpikir harus berani mengatakannya, karena ini bukan jam kerjanya sebagai karyawan.


"Kau dikeluarkan dari acara!" jawab Arkan datar. Pria itu belum mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dia tidak melihat raut wajah Kian yang sudah merah menahan kesal.


Kian mengerutkan dahinya. "APA??!! Bagaimana bisa?"


"Itu karena kebodohanmu!"


"Memang siapa juga yang mau tenggelam?" Nada ucapan Kian sudah mulai ketus mengimbangi orang yang ada didepannya.


"Wah kau sudah berani banyak bicara ya?" Arkan beralih menatap tajam Kian.


Kian menarik nafas dalam, mencoba mengumpulkan semua keberaniannya. "Memangnya kenapa? Toh sekarang bukan jam kerja saya. Lagian tuan sendiri yang mengatakan saya sudah dikeluarkan dari acara gathering, kan?" Kian merasa ini kesempatannya untuk melawan pria sombong itu.


Arkan terdiam mendengar ucapan Kian. Dia tidak menyangka gadis di depannya ini punya keberanian untuk melawannya. Meskipun saat awal pertemuan mereka Kian memakinya, tapi situasi kali ini berbeda. Sekarang Kian sudah tahu yang diajaknya bicara adalah tuan mudanya dikantor, dan dia tetap saja melawannya. Besar juga nyali gadis itu, pikirnya. Arkan lalu mencari jawaban untuk membalasnya.


Tuh kan! Dia selalu main curang.


"Huh, curang!" Kian mendengus kesal.


Gadis itu pergi ke kamar sambil menghentakkan kakinya, dia tidak peduli dengan Arkan yang sedang menertawakannya.


Melihatnya marah malah membuatku ingin tertawa.


Arkan kembali fokus dengan laptopnya, mengecek laporan perusahaan. Banyak hal yang harus dia periksa, terlebih setelah kembali dari luar negeri.


Kian menutup pintu dengan membantingnya, tapi tentu saja Arkan tidak mendengarnya. Karena mereka berada di lantai yang berbeda. Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dan beberapa pesan muncul di layar ponsel saat Kian membukanya.

__ADS_1


"Astaga, Kak Rendy menghubungiku sejak semalam!" serunya kaget. Dia membuka pesan masuk dari pria itu.


Pesan ke-1


Kian, apa kau baik-baik saja? Aku menelpon mu dari tadi malam, tapi kau tidak menjawabnya. Apa ada masalah?


Pesan ke-2


Kian, apa kau sudah sarapan? Aku dan para rombongan sedang sarapan prasmanan di penginapan. Lihatlah. Rendy mengirim sebuah foto dirinya bersama para rombongan.


Pesan ke-3


Kami baru saja tiba di perkebunan Wijaya Group, disini indah sekali. Sayang kamu tidak ada disini. :( Rendy mengirim foto pemandangan perkebunan.


"Astaga, ini indah sekali! Aku ingin ikut!" ucapnya dengan raut wajah sedih. Lalu Kian mulai mengetik pesan balasan untuk Rendy.


Maaf membuat Kak Rendy khawatir. Aku baik-baik saja, Kak. Tidak ada masalah sama sekali. Hanya saja aku belum bisa kembali sekarang. Pemandangannya bagus sekali, Kak. Kirimin aku fotonya lagi ya!. Terkirim.


Kian juga melihat ada pesan dari Dina, sahabatnya.


Kian bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?


"Mereka sangat mengkhawatirkan ku," ucapnya lirih. Lalu dia membalas pesan Dina dengan mengatakan dia baik-baik saja.


Ternyata sudah hampir satu jam Kian berada di kamar. Membuat Arkan bertanya apa yang sedang dilakukan gadis itu. Dia menutup laptopnya dan turun ke lantai satu, menuju kamar Kian. Arkan mengetuk kamar gadis itu, tapi tidak ada jawaban. Dia ketuk lagi sambil memanggil nama Kian, tidak ada jawaban juga. Lalu Arkan membuka pintu kamar perlahan, dia melihat gadis itu sedang terlelap dengan ponsel di tangannya.


"Ck, pantas saja dia tidak menjawab panggilanku. Pulas sekali dia tidur!" gumam Arkan pelan. Dia berjalan mendekati Kian, menatapnya sebentar dan menutup tubuh gadis itu dengan selimut. Arkan memindahkan ponsel yang dipegang Kian ke atas nakas di samping tempat tidur. Matanya melotot saat melihat layar ponsel tersebut.


"Jadi ini yang membuatmu betah didalam kamar sampai tertidur pulas?" Arkan bergumam sinis. "Ck, apa bagusnya sampai kau ingin pergi kesana?" Arkan melihat foto yang dikirim oleh Rendy.

__ADS_1


Arkan menutup pintu dengan hati-hati. Dia kembali ke atas dan mengambil ponselnya. Mengetikkan beberapa pesan entah ke siapa. Lalu menuju ke balkon, berbaring di atas kursi tidur. Matanya menatap langit kebiru-biruan. Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan yang membuatnya senang, marah, benci dan rindu sekaligus. Dia tidak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya dengan baik. Terkadang saat dia merasa senang, dia justru terlihat sedang marah. Dan sebaliknya, saat dia sedang marah entah kenapa dia malah menunjukkan sikap perhatian.


Apa aku benar-benar sudah gila seperti yang dia katakan?


__ADS_2