
Pak Dan mengetuk pintu ruangan Arkan. Setelah mendapat jawaban, pria paruh baya itu masuk sambil membawa proposal di tangannya.
-Proposal Gathering Memperingati HUT Wijaya Group ke 21-
Judul proposal yang dibawa Pak Dan terpampang jelas dihalaman depan. Semua persiapan untuk gathering besok sudah diselesaikan. Pak Dan hanya melaporkan berkasnya pada Arkan. Setiap tahun Tuan Muda itu hanya menandatangani proposal tersebut tanpa pernah berpartisipasi sekalipun.
Arkan bukanlah tipe orang yang akan melakukannya, karena dia tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti itu. Belum lagi waktunya yang terkuras untuk mengurus perusahaan. Membuatnya tidak punya waktu luang.
Jika pun ada waktu luang setelah mengurus perusahaan, dia lebih suka menghabiskan waktunya sendiri. Entah itu berolahraga atau pergi ke tempat yang ingin ia kunjungi untuk menenangkan pikirannya.
"Apa semua karyawan akan ikut acara ini?" tanyanya tak seperti biasa.
"Benar, Tuan. Apa ada masalah?"
"Tidak. Baiklah jika semua sudah beres. Semoga acara besok berjalan dengan semestinya." Setelah menandatanganinya ia mengembalikan proposal tersebut pada Pak Dan. Lalu Pak Dan keluar meninggalkan ruangan.
***
Seperti biasa, sore ini Rendy mengantar Kian sampai ke rumah Bibi Sumi dengan selamat. Setelah Kian mengucapkan terimakasih, pria itu berpamitan pulang. Walaupun Kian ingin sekali menawarkan Rendy untuk mampir sebentar, tapi gadis itu cukup tahu diri hubungan mereka hanya sebatas teman kantor. Kian tidak mau mengambil langkah lebih jauh, termasuk mengenalkannya pada Bibi Sumi. Akan semakin sulit melepaskannya saat ternyata perasaan Rendy tidak berpihak padanya.
Setelah membersihkan dirinya, Kian keluar kamar untuk makan malam bersama Bibi dan Paman. Sekaligus memberitahukan kepada mereka tentang acara gathering perusahaan yang akan diadakan dipuncak.
"Bik, besok Kian ijin ikut gathering ke puncak ya. Acara ulang tahun Perusahaan. Kayaknya Kian menginap satu malam disana," ucapnya pada Bibi Sumi. Wanita paruh baya itu sedang menyendokkan nasi untuk Paman.
"Ke puncak?" Bik Sumi terlihat berpikir.
"Hmm."
"Ya sudah. Yang penting kamu hati-hati di sana," pesan Bik Sumi. "Apa kamu ingin Bibi menyiapkan sesuatu?" tanyanya lagi.
Kian menggeleng. "Tidak perlu Bik. Aku hanya akan mengemas beberapa baju saja," ucapnya senang.
"Jangan lupa ." Paman membuka suaranya setelah menyelesaikan kunyahan terakhir.
__ADS_1
"Iya berhati-hatilah disana." timpal Bik Sumi.
"Baik Paman, Bibi." Selesai makan malam Kian langsung merapikan meja makan dan mencuci piring kotornya. Hal yang biasa Kian lakukan.
Setelah urusan minta ijin dan makan malam selesai, Kian kembali ke kamarnya untuk mengemas barang-barangnya. Dia mengemas beberapa baju dan perlengkapan mandi. Tidak banyak yang ia bawa karena acara hanya akan berlangsung 2 hari 1 malam. Kian menambahkan satu selimut favoritnya. Karena udara disana pasti jauh lebih dingin daripada di ibukota. Kian sendiri tidak terlalu tahan dengan udara dingin, tapi dia menyukai pemandangan yang ada di daerah puncak. Udaranya sejuk belum tercemar polusi seperti di ibukota.
Kian sempat beberapa kali liburan kesana bersama Bibi, Paman dan Mas Sholihin. Mas Sholihin adalah anak Bibi Sumi dan Paman, sudah enam bulan ini dia di pindah tugaskan ke luar kota. Karena profesinya yang seorang abdi negara, maka ia harus siap di tugaskan kemana saja. Sesekali Kian akan menghubungi Mas Sholihin saat gadis itu merasa kesepian. Karena saat disini Mas Sholihin yang selalu menghiburnya ketika ada masalah di kantornya. Ya walaupun jahilnya juga tidak ketulungan. Mengingat kejahilan pria itu membuat Kian merindukannya. Aku akan menghubunginya besok.
Setelah selesai mengemas barangnya, Kian bergegas menuju tempat tidurnya. Ia harus segera terlelap untuk mempersiapkan tenaga di acara besok. Acara diluar ruangan pasti akan lebih banyak menguras tenaganya.
***
Setelah hampir empat jam perjalanan, akhirnya rombongan bus pariwisata tiba di sebuah penginapan yang cukup luas untuk menampung para rombongan. Ada kurang lebih seratus karyawan yang ikut serta dalam acara. Semuanya adalah karyawan di Kantor Pusat. Kamar penginapan dibagi menjadi dua bagian. Kamar pria dan wanita. Kamar wanita berada di bagian depan penginapan, sedangkan kamar pria ada di bagian belakang. Setiap kamar akan dihuni oleh empat orang. Kian dan Dina beserta dua temannya ditempatkan dalam satu kamar. Setelah menerima kunci dari panitia acara, mereka bergegas menuju kamar. Mengambil waktu sejenak untuk rebahan sebelum kegiatan acara dimulai setelah makan siang.
"Udara disini benar-benar sejuk ya," ucap Dina yang merebahkan diri disamping Kian. Gadis itu memainkan tangannya mengusap kasur yang empuk. Mereka akan tidur di ranjang yang sama. Karena setiap kamar hanya memiliki dua ranjang.
"Iya benar. Udaranya jauh berbeda dengan di ibukota ya." Kian menutup matanya, menikmati udara yang keluar masuk ke rongga hidungnya. Mengalirkannya ke seluruh tubuh, mengganti udara yang ia hirup saat di ibukota.
Sekarang waktunya makan siang untuk para rombongan. Mereka menikmati makanan prasmanan yang sudah disediakan oleh pihak penginapan. Kian dan Dina tengah makan di meja yang sama, tak lama kemudian Rendy datang menghampiri dan bergabung dengan mereka.
"Kamu harus makan yang banyak Kian," ucap Rendy, lalu menyendok potongan daging dari piringnya meletakkannya ke piring Kian. " Makanlah ini," ucapnya lagi dengan senyum manis menggetarkan hati.
"Eumhh iya Kak Rendy. Terimakasih," jawab Kian membalas senyum Rendy.
"Ekhem." Dina berdehem untuk menyadarkan Kian dan Rendy akan keberadaannya. Rendy hanya tersenyum. Sementara Dina melirik Kian sambil menyorotnya tajam.
Hey, sudah berapa kali kubilang untuk tidak menanggapi perhatiannya. Apa kau mau hatimu hancur berkeping-keping? Begitulah maksud sorotan mata Dina.
"Selamat siang teman-teman. Bagaimana makan siang hari ini?" tanya panitia acara disela-sela makan siang. Dia berdiri sambil mengenggam gulungan kertas.
"Enak!" jawab rombongan kompak.
"Wah, sepertinya saya akan mulai membungkusnya untuk dibawa pulang." gurau panitia itu.
__ADS_1
Hanya dijawab tawa kecil para rombongan.
"Setelah makan siang ini, mohon untuk segera bersiap ya teman-teman! Karena kita akan melanjutkan kegiatan acara. Kegiatan pertama kita hari ini adalah olahraga arung jeram. Apa kalian siap?" tanya seorang panitia antusias.
"Siapppp!" Dijawab para rombongan serempak. Sama antusiasnya.
"Oh ya satu lagi. Kali ini kita kedatangan tamu spesial," ucap panitia itu lagi. Membuat para rombongan penasaran, bertanya dalam hati.
Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak ya. Kian
"Kita kedatangan Tuan Arkan selaku pemilik tunggal sekaligus tokoh utama dalam acara ini. Dan untuk pertama kalinya Tuan Arkan akan menyaksikan langsung setiap kegiatan dalam acara ini."
Mendengar ucapan panitia tersebut sontak membuat Kian kaget setengah mati. Sampai ia tersedak minuman yang baru saja di teguknya.
"Apa? Telingaku tidak salah dengarkan?" tanyanya pada Dina yang berada di sampingnya.
Dina menggelengkan kepalanya. Matanya membelalak saat melihat sosok yang ada dibalik Kian, seseorang baru dikatakan panitia.
Sial. Dia benar-benar ada disini.
" Kenapa tiba-tiba tuan Arkan ada disini"
" Apa dia juga akan ikut dalam kegiatan"
"Tumben sekali dia mau ikut acara beginian"
"Dia terlihat lebih tampan kalau dilihat dari dekat"
Berbagai pertanyaan dan opini bersahutan dari para karyawan. Raut terkejut masih terlihat jelas di wajah mereka, tak terkecuali Kian. Rasa senang bisa melihat tuan muda dari dekat sekaligus takut kalau sampai ada kesalahan bercampur menjadi satu. Namun Kian sama sekali tidak merasa senang melihat kehadiran Arkan. Dia seperti sudah merasakan hal buruk akan menimpanya saat kedatangan pria itu.
Lihat, dia bahkan menyeringai penuh misteri. Aaaahh aku ingin pulang saja.
Sekarang mereka harus berhati-hati dalam berbicara maupun bersikap. Terlebih saat didepan tuan muda. Untuk meminimalisir kesalahan yang bisa saja terjadi. Bagaimanapun mereka yang ikut kesini ingin menikmati acara tanpa masalah.
__ADS_1