
Sudah setengah jam Rendy berada di pantry, menunggu kedatangan Kian. Ada yang mengusik pikirannya setelah kejadian kemarin. Melihat perhatian yang diberikan Arkan pada Kian, membuatnya tidak tenang. Dilihat dari kacamata mana pun, perhatian itu begitu mencolok. Siapa pun bisa melihatnya. Apa mereka memiliki hubungan? Pertanyaan itu terus memutar di kepala Rendy. Ia harus segera mencari tahu kebenarannya dari Kian sendiri.
Entah apa yang dirisaukan Rendy. Seharusnya dia senang saat ada orang lain yang memberi perhatian untuk Kian. Tapi ternyata, hati tidak semudah itu menerimanya.
Rendy melirik jam tangannya lagi. Sudah memasuki jam kerja, tapi Kian belum juga menampakkan diri. Tidak biasanya. Rendy kembali ke ruangannya, mencari-cari Dina untuk dijadikan tempat menggali informasi lainnya.
"Aku tidak tahu apa-apa mengenai hubungan Kian sama Tuan Arkan. Dia tidak banyak cerita mengenai itu." jawab Dina.
Ternyata, gadis itu juga tidak banyak tahu. Sepertinya memang Kian sedikit tertutup akhir-akhir ini. Bahkan setelah jam kerja dimulai, Kian dan Arkan belum juga tiba. Ahh membuat Rendy semakin penasaran saja.
***
Sam melirik dua orang yang ada di belakangnya sambil senyum-senyum sendiri.
Dua orang ini kalau sedang tidur manisnya bukan main. Tapi nanti, giliran bangun, sudah seperti Tom and Jerry saja. Ck.
Kian menggeliat saat bahunya terasa pegal, seperti ada sesuatu yang bertengger disana. Ia mengerjapkan mata sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali. Kian terkejut saat melihat Arkan bersandar di bahunya. Refleks tangannya mendorong kepala pria itu hingga membentur kaca.
"Aargghhh," erang Arkan. Sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut nyeri, ia juga mengumpulkan lagi kesadarannya. Sakit karena benturan itu sudah mengagetkannya. Matanya melotot tajam ke Kian yang baru saja mendorongnya.
"Apa kau gila?? Beraninya kau mendorongku?" bentak Arkan.
"Lagian siapa suruh menempel padaku?"
Arkan mendengus. "Aku, menempel padamu? Apa kau tidak salah? Bukannya sebaliknya, kau yang menempel di bahuku duluan sampai rasanya bahuku mau patah," jawab Arkan.
Tuh kan, benar apa yang saya bilang? Mereka benar-benar seperti Tom and Jerry sekarang. Sudahlah, toh kalian sama-sama menikmatinya kan. Sam.
Kian memicingkan mata. "Benarkah?"
"Kau tanyakan saja pada Sam!" Arkan menunjuk Sam yang sedang fokus menyetir.
Kenapa saya dibawa-bawa, Tuan.
Kian melongok ke depan Sam, sampai pria itu terkejut sendiri. Arkan yang melihat tingkah Kian mendadak gelagapan. Dia menyesal sudah menyuruh Kian bertanya pada Sam.
"Hei,, apa yang kau lakukan?!" teriak Arkan. Namun, Kian tidak peduli. Dia tetap pada posisinya.
__ADS_1
Sial, kenapa dia sedekat itu pada Sam?!
"Benar yang dia bilang, Sam?" tanya Kian penuh selidik.
Sam mengangguk cepat, agar Kian segera kembali ke posisinya. Dia grogi Kian sedekat itu di wajahnya. "Benar, Nona."
Memang Kian lah yang menyandarkan kepalanya lebih dulu di bahu Arkan. Meski ia tidak menyadarinya, tapi Arkan tetap membiarkannya. Justru pria itu menahan diri untuk tidak bergerak agar Kian merasa nyaman.
Mendengar jawaban Sam, raut wajah Kian berubah. Dia menunduk menahan malu. Tidak sanggup melihat wajah Arkan yang tergelak penuh kemenangan.
"Hei, apa rumahmu masih jauh? Sudah hampir dua jam, kita belum juga sampai. Apa kau tinggal di gua?" tanya Arkan dengan nada mengejek.
Sialan, memangnya aku manusia gua apa!!
"Sebentar lagi sampai, kok."
Benar saja, tak lama kemudian mereka tiba di sebuah perkampungan. Tidak terlalu padat dan tidak terlalu sepi. Namun, begitu mobil sport milik Arkan memasuki perkampungan tersebut, semua mata langsung tertarik melihatnya. Maklum saja, belum pernah ada mobil semewah itu masuk ke desa mereka. Membuat mereka penasaran kemana mobil tersebut akan berhenti.
Kian menunjuk sebuah rumah pada Sam. Pria itu langsung berbelok dan menghentikan mobil di halaman rumah tersebut.
"Apa ini rumahmu?" tanya Arkan. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat bangunan di depannya.
Di luar dugaan, Arkan pun ikut turun. Dia menatap nanar rumah didepannya. Bahkan dalam pikirannya, bangunan itu tak layak disebut rumah. Bangunan itu hanya memiliki tembok berukuran satu meter. Selebihnya dipasang papan kayu untuk menutupi. Atap rumahnya juga bukan terbuat dari genteng, melainkan seng. Yang saat hujan deras menerpa, akan menimbulkan suara berisik. Arkan merasakan darahnya berdesir, dia melirik Kian yang justru menatap rumah itu dengan penuh kebahagiaan.
Dari dalam rumah, keluar sepasang wanita dan pria paruh baya beserta seorang anak anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Mereka adalah orang tua dan adik Kian. Raut wajah mereka masih terlihat terkejut dengan kejadian tadi pagi. Ditambah lagi melihat kedatangan Kian yang mendadak bersama dengan seorang pria tampan. Rasanya mereka seperti mimpi.
"Kian, apa itu kamu, Nak?" tanya Ibu masih dengan wajah bengongnya.
"Iya bu, ini Kian." Gadis itu menghampiri Ibu dan Bapaknya sembari mencium tangan mereka.
"Siapa laki-laki ini, Kian?" tanya Bapak penasaran. Wajah Bapak terlihat dingin.
"Hhmm dia....." Kian bingung mau menyebut Arkan apa.
"Saya Arkan, Om. Atasan Kian di kantor," jawab Arkan sopan. Dia juga menyalami Ibu dan Bapak bergantian.
Kian mendelik. Dia kan bukan atasanku lagi, batin Kian. Tapi saat melihat wajah orangtuanya tersenyum ramah pada Arkan, Kian tidak ingin memprotesnya. Biarlah, setidaknya untuk saat ini.
__ADS_1
"Maaf bu, Kian tidak bisa bawa apa-apa buat Ibu, Bapak sama adik-adik." lirihnya getir.
"Kamu bicara apa Kian, bukannya hadiah-hadiah itu kamu yang mengirimnya? Adik-adikmu sangat senang saat tahu kamu membeli semua itu untuk mereka." ujar Ibu penuh sumringah.
Kian mengernyit sendiri. "Hadiah?"
"Iya hadiah yang kamu kirim tadi pagi sudah sampai. Bahkan sebelum Ayu dan Angga berangkat ke sekolah." tutur Ibu lagi. Kian masih tidak mengerti hadiah apa yang Ibu maksud. Namun saat dia ingin bertanya lagi, Bapak sudah membuka suara dulu.
"Sudah, sudah, ayo lanjutkan mengobrol di dalam saja!" pungkas Bapak.
"Ayo Nak Arkan, masuk dulu!" ajak Ibu.
Kian terkejut mendengar ajakan ibu. Lalu dengan cepat dia menggeleng. "Tidak bu, Tuan Arkan tidak bisa lama-lama disini. Dia masih ada urusan. Benarkan, Tuan?" Kian melirik ke Arkan sambil tersenyum memberi kode agar pria itu cepat pergi.
"Tidak, saya sedang tidak ada urusan." jawab Arkan penuh seringaian.
Apa?! Bukannya dia bilang datang kesini karena sedang ada urusan pekerjaan? Dia ini amnesia apa gimana sih?
"Ayo Kian, ajak Nak Arkan masuk," ucap Ibu dan Bapak. Lalu mereka masuk rumah lebih dulu. Sementara Kian dan Arkan masih berdiri di halaman rumah. Masih sama-sama mematung.
"Apa kau yakin mau masuk ke rumahku?" tanya Kian dengan tatapan lurus ke depan.
Arkan menoleh, "Memangnya kenapa? Kau tidak mengizinkannya?"
"Aku tidak yakin kau akan nyaman masuk kesana,"
"Jangan meremehkan ku! Ya walaupun ini tidak sebagus rumahku, tapi setidaknya ini bukan gua," jawab Arkan sesantai mungkin. Benar yang dikatakan Kian, dia mungkin saja tidak akan nyaman masuk kesana. Tapi melihat gadis di sampingnya, ia mencoba melawan perasaan itu
"Apa itu kau?" Kian menoleh ke arah Arkan. Untuk sejenak, tatapan mereka bertemu. Kian menyorot mata Arkan untuk menemukan jawaban. Namun, pria itu langsung memalingkan wajahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Arkan. Ia berusaha menahan gejolak di dadanya saat pandangan mereka bertemu lagi.
"Kau kan yang mengirim hadiah-hadiah itu?"
"Aku tidak tahu apa maksudmu. Ahhhh cuaca disini panas sekali!" Arkan berjalan meninggalkan Kian. Pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud gadis itu.
Kian mendesah.
__ADS_1
Jadi kau dibalik semua makanan di pesawat tadi.