
*****Hai para pembaca IHYTM yang setia, maaf kalau author lama up nya. Padahal sebisa mungkin author update setiap hari, walaupun cuma satu bab. Tapi mungkin masih kurang untuk para readers sekalian. Jadi author mohon maaf atas ketidakpuasan iniππ
Untuk membantu author biar makin semangat nulisnya, jangan lupa like, vote, dan 5 ya dear.. Semoga para readers panjang umur dan sehat selalu π€π€
Happy Readingππ*****
-----
Kian baru saja membersihkan sisa-sisa piring kotor. Dia kembali ke ruang tengah dan mendapati Arkan sedang tidur bersandar di dinding. Beberapa kali kepalanya jatuh menunduk lalu tegak lagi.
Dia tidur lagi? Bukankah tadi dia sudah tidur di mobil?
Kian mengambil bantal di kamar dan membaringkan Arkan perlahan. Ia membiarkan pria itu terlelap. Mungkin Sam akan menjemputnya sebentar lagi, pikir Kian. Lalu ia berniat ke sawah, mencari keong untuk bebek-bebeknya. Meskipun orangtuanya menyuruhnya istirahat, Kian menolaknya. Ia tidak sabar ingin segera bermain di sawah. Sudah lama ia tidak melakukannya.
Kian pergi bersama adik bungsunya, Didi. Mereka berjalan kaki karena letak sawahnya tidak jauh dari rumah mereka. Sambil membawa ember dan camilan, Kian bersenandung ria sepanjang jalan.
Dalam perjalanan, Kian bertemu dengan Arya, teman masa kecilnya sekaligus sahabatnya di kampung.
"KIAN!!!!"
"ARYA!!!!"
Mereka saling memanggil satu sama lain. Melihat kedatangan Kian, Arya yang sedang membelah kayu langsung berlari menghampirinya. Meninggalkan kapak dan kayu tersebut tergeletak di tanah.
"Kapan kamu datang?" tanya Arya tersenyum bahagia.
"Baru saja. Kamu apa kabar?"
"Baik. Kamu sendiri bagaimana? Makin cantik saja kamu," Arya malu-malu mengatakannya.
Bagi Arya, sekarang Kian terlihat jauh lebih cantik sebelum ia berangkat merantau. Kian yang sekarang terlihat seperti wanita dewasa yang tangguh. Walaupun dulu, Kian terkenal sebagai gadis tangguh tapi sekarang dia terlihat lebih mempesona sebagai wanita dewasa.
"Huuu gombal. Kabarku baik juga kok."
"Kamu mau kemana bawa ember?" tanya Arya setelah memperhatikan ember yang dibawa Kian.
"Mau cari keong. Mau ikut?" tawar Kian.
Secepat kilat, Arya langsung mengangguk. "Ayo!"
Akhirnya mereka bertiga pergi ke sawah bersama-sama. Arya menenteng ember yang Kian bawa sambil bercerita panjang lebar tentang kehidupan di kampung setelah Kian pergi.
Dulu, Kian dan Arya sering ke sawah bareng. Mereka selalu bergantian menemani satu sama lain saat mencari keong atau sekedar bermain disana. Setelah Kian memutuskan merantau ke Ibukota, Arya jarang sekali mau disuruh ke sawah. Bahkan hampir tidak pernah. Setiap kali orangtuanya menyuruh, Arya selalu punya alasan untuk menolaknya. Karena setiap kali ia kesana, bayangan Kian selalu muncul di kepalanya. Arya merindukan Kian, ia kehilangan sosok yang berarti dalam hidupnya setelah gadis itu pergi. Sekarang, setelah Kian kembali, tanpa disuruh dia sangat bersemangat menemani gadis itu lagi.
Kian, Arya dan Didi sudah mengumpulkan keong hampir setengah ember. Lalu mereka istirahat sejenak. Panas matahari sudah sangat menyengat di tengah hari bolong begini. Sambil berteduh di dalam gubuk, mereka menikmati camilan yang dibawa Kian tadi.
"KAK KIANNN!!!" Terdengar seseorang memanggil nama Kian. Mereka bertiga menoleh, itu Ayu adik Kian nomor dua yang baru saja memanggilnya. Kian menyipitkan mata melihat seseorang yang datang bersama Ayu dan Angga.
Hah? Dia belum pulang juga?
Kian terkejut melihat Arkan ikut bersama kedua adiknya menyusul kesini.
Tunggu! Apa itu yang dia pakai? Bukankah itu pakaian Bapak?
Kian tergelak melihat Arkan mengenakan pakaian Bapaknya. Tubuh tinggi pria itu jelas tidak bisa mengimbangi pakaian yang ia pakai. Mulai dari baju sampai celana, semuanya terlihat cingkrang.
Tapi wajahnya, kenapa masih tampan begitu sih?? Ahh wajahmu itu curang sekali, Tuan Muda.
"Kenapa kalian kesini?" tanya Kian penasaran.
__ADS_1
"Kak Arkan tuh, merengek minta diantar kesini! Sekalian deh aku ajak Angga biar bisa main bareng," jawab Ayu polos.
Hah? Dia merengek?
"Hei, siapa yang merengek? Aku hanya ingin tahu bentuk sawah itu seperti apa. Ternyata cuma begini!" kilah Arkan.
Ck. Bukannya tadi dia yang terus merengek minta diantar kesini. Sampai menganggu orang lagi makan. Dia ini aneh sekali.
Flashback On
Arkan mengibaskan jasnya karena merasa gerah. Ia mengerjapkan mata lalu tersadar dia tertidur di atas tikar. Melihat bantal yang baru saja menopang kepalanya, Arkan langsung mencari keberadaan Kian.
"Assalammualaikum!" Terdengar suara salam dari luar rumah.
Seorang anak perempuan dan anak laki-laki berpakaian putih abu-abu saja masuk. Arkan dan kedua anak remaja itu saling bertatapan. Mereka terlihat sama-sama bingung. Lalu Ibu datang dari dapur dan menyambut kedua remaja itu.
"Ehh kalian sudah pulang," ujar Ibu. Lalu disalami oleh kedua anak itu.
"Itu siapa, bu?" tanya anak perempuan itu.
"Ohh itu atasannya Kak Kian. Dia tadi datang bersama kakak kalian."
"Kak Kian pulang, bu?" tanya kedua anak itu bersamaan. Wajah mereka terlihat sangat senang.
"Iya," jawab Ibu lembut. Lalu menoleh ke Arkan. "Nak Arkan, kenalin ini adik-adiknya Kian. Ayu dan Angga." Ibu menyuruh Ayu dan Angga menyalami Arkan. Lalu mereka berdua menuju kamar untuk mengganti seragam sekolah.
"Kian dimana, bu?" tanya Arkan. Dia melihat kesana kemari tapi tidak menemukan gadis itu.
"Ohh dia ke sawah sama Didi tadi," jawab ibu. Setelahnya wanita paruh baya itu kembali ke dapur.
Ayu baru saja keluar kamar setelah berganti pakaian. Lalu Arkan menghampirinya.
"Iya Om, ada apa?"
Sialan. Aku dipanggil Om lagi. Memang tampangku kayak Om-Om apa!
"Jangan panggil Om, panggil Kak Arkan saja."
"Eh iya, ada apa, Kak Arkan?" Ayu terlihat malu-malu. Jujur saja, dia terpesona melihat ketampanan Arkan.
"Tolong antar aku ke sawah!" pinta Arkan.
"Tapi Kak, aku mau makan dulu!" jawab Ayu sambil memegangi perutnya.
"Baiklah. Setelah makan antar aku kesana!"
Ayu dan Angga makan siang bersama. Hari ini karena kepulangan Kian, Ibu memasak makanan enak. Jadi mereka berdua terlihat sangat lahap. Arkan bolak balik menghampiri mereka dan meminta mereka untuk cepat menyelesaikan makannya. Sampai Ayu dan Angga saling bertatapan. Ada apa sih dengan pria itu!.
Akhirnya setelah diburu-buru, Ayu mengajak Angga untuk mengantar Arkan ke sawah. Kalau tidak pria itu akan terus merengek tidak tahu malu.
Flashback off
Arkan menatap pria yang bersama Kian. Ia merasa tidak senang melihat pria lain berdekatan dengan wanitanya.
"Siapa dia?" tanya Arkan sinis.
Kian menoleh ke arah lirikan Arkan. "Oh, dia Arya, temanku."
"Ck. Entah berapa pria yang kau sebut temanmu," gumam Arkan pelan.
__ADS_1
"Apa?" tanya Kian. Ia tidak mendengar jelas gumaman Arkan.
"Bukan apa-apa!" jawab Arkan ketus.
Kian mengangkat bahunya tidak peduli. Tapi Arya tahu laki-laki itu sedang cemburu. Seperti dirinya yang cemburu saat tahu Kian pulang bersama laki-laki lain. Sudah lama Arya menyukai Kian. Tapi gadis itu hanya menganggapnya sahabat. Arya takut kalau ia mengakui perasaannya pada Kian, gadis itu akan menjauhinya karena merasa tidak nyaman. Jadi, lebih baik kalau Arya memendam perasaannya sendiri saja daripada kehilangan Kian.
Terik matahari sudah tidak terlalu panas. Mereka kembali mengumpulkan keong menyusuri pinggiran sawah. Arkan yang tidak tahu menahu pun mengikuti Kian di belakang. Dia hanya melihat Kian dan yang lainnya mengumpulkan binatang kecil bercangkang itu. Arkan sendiri tidak ikut mengumpulkan, dia merasa geli dan jijik melihat binatang itu. Apalagi kalau sampai masuk ke dalam sawah yang penuh lumpur, Arkan bergidik sendiri.
Arkan sedari tadi hanya menatap Kian yang terus tertawa. Gadis itu terlihat senang walaupun separuh badannya di penuhi lumpur. Melihat tawa Kian yang terkesan lepas, Arkan juga merasa senang. Belum pernah ia melihat Kian sebahagia itu.
"Brukkkk."
Karena tidak memperhatikan langkahnya, Arkan tiba-tiba tergelincir. Ia nyemplung ke kubangan lumpur. Seluruh badannya dipenuhi lumpur dari ujung kepala hingga kaki. Bahkan wajah tampannya juga nyaris tidak terlihat.
"Hahahahha." Suara gelak tawa terdengar di tengah sawah. Kian dan yang lainnya terbahak-bahak melihat ekspresi Arkan. Pria itu terlihat syok melihat tubuhnya bermandikan lumpur.
"Sial!" umpatnya kesal.
Arkan meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal. Ia ingin kembali ke rumah untuk membersihkan dirinya. Namun, di tengah jalan ia menemukan sungai kecil. Airnya terlihat jernih. Dia berpikir untuk membilas tubuhnya dulu dengan air itu.
"Kian, Bos kamu kemana?" tanya Arya.
"Paling-paling juga ia pulang ke rumah," jawab Kian santai.
Setelah ember mereka penuh dengan keong. Mereka kembali ke rumah. Kian meletakkan ember itu ke dalam kandang, untuk kemudian direbus sebagai makanan bebek. Kian membersihkan dirinya dengan mandi selama setengah jam lamanya. Lalu ia keluar sambil mengusap-usap rambutnya yang basah.
"Nak Arkan kemana, Kian?" tanya ibu. Wanita itu tidak melihat Arkan pulang bersama Kian dan adik-adiknya
"Lho, bukannya dia sudah pulang dari tadi, bu?" jawab Kian bingung. Karena sedari tadi Arkan sudah meninggalkan sawah lebih dulu.
"Tidak Kian. Ibu tidak melihatnya pulang."
Mendengar jawaban Ibu, Kian langsung melempar handuknya. Ia bergegas kembali ke sawah sambil membawa senter. Karena hari sudah mulai gelap.
"TUAN ARKANN!!!" teriak Kian. Ia mencari-cari pria itu sambil terus menyusuri sawah. Mulai dari tempat yang mereka datangi hingga mengelilingi tempat lain.
Hari semakin gelap, senter yang Kian bawa nyaris mati. Di mulai panik saat Arkan belum juga ia temukan. Kian khawatir jika sesuatu terjadi pada pria itu. Sambil tetap berjalan, Kian terus meneriaki nama pria itu. Berharap Arkan akan menyahut.
Tuan Arkan, anda dimana sih?
Kian berjalan menyusuri pinggiran sungai, tiba-tiba kakinya menabrak sesuatu. Ia terkejut saat melihat Arkan tergeletak di pinggiran sungai.
"Tuan, Tuan, Tuan Arkan, bangun!!!" Kian mengguncang tubuh Arkan agar pria itu terbangun.
"Tuan, anda kenapa?" Kian meraih kepala Arkan dan meletakkannya di pangkuannya. Ia menepuk pipi pria itu pelan. Berusaha membangunkannya.
Merasa sesuatu menepuk pipinya kuat, Arkan terbangun. Ia langsung menghambur memeluk Kian erat. Tubuhnya bergetar hebat. Seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Lama ia memeluk Kian. Gadis itu hanya terpaku, merasakan tubuh Arkan yang bergetar. Sampai akhirnya Arkan tersadar dan melepaskan pelukannya perlahan.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Kian setelah Arkan terlihat sedikit tenang.
"Aku, aku melihat binatang itu melingkar disana." Arkan menunjuk sesuatu dengan lirikan matanya. Ia tidak berani melihatnya langsung.
"Binatang? Melingkar? Apa kau baru saja melihat ular?" tanya Kian sambil menyenteri tempat yang dimaksud Arkan.
Arkan mengangguk. "Iya."
Kian tersenyum mendengarnya. Tidak disangka pria sombong yang terkesan garang itu takut dengan ular. "Dia sudah pergi. Ayo kita pulang!" ajak Kian sambil membantu Arkan berdiri.
Akhirnya mereka kembali pulang. Sepanjang jalan, Arkan terus menggenggam tangan Kian erat. Gadis itu hanya membiarkannya, ia merasa pria itu masih merasa ketakutan.
__ADS_1
Ahh ternyata dia tidak segarang yang ku kira.