
"Makan ini saja!" Arkan menaruh piring steak yang sudah dipotongnya kehadapan Kian, menukarnya dengan milik gadis itu.
Kian menatapnya tak percaya. Sejak kapan orang gila itu punya perasaan seperti sekarang.
"Terimakasih!" ucap Kian. Berusaha membalasnya dengan senyuman. Tapi Kian malah merasa bibirnya kaku untuk tersenyum pada pria itu. Akhirnya dia cuma nyengir.
"Wah Arkan kamu romantis sekali," puji Bibi menampilkan raut wajah terpesona. "Sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan?"
"Belum lama Bik," jawab Arkan dengan senyum menyeringai.
"Uhuk..!" Kian tersedak mendengar jawaban Arkan.
Hahaha. Lihat wajah bodoh mu itu! Aku berhasil mengerjaimu lagi kan.
Pria gila ini, omong kosong apa yang baru saja dia katakan?? Kau benar-benar ingin mengujiku ya. Kita lihat saja!
"Wah benarkah? Bibi hampir tidak percaya sekarang kau memiliki kekasih. Selama ini kau bahkan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu," ucap Bibi sambil menggelengkan kepalanya.
"Benar Bik, Dia sangat tergila-gila padaku. Dress yang aku pakai ini saja baru dia belikan tadi di pusat perbelanjaan," jawab Kian dengan mata yang berbinar. "Bahkan dia tidak bisa minum kopi kalau bukan aku yang membuatnya."
"Uhuk..!" Sekarang giliran Arkan yang tersedak mendengar ucapan Kian.
Lihat! Apa kau pikir aku tidak bisa membalas mu, hah? Sepertinya setelah ini aku harus menghilang dari hidupnya kalau perlu dari muka bumi. Kalau tidak, dia akan menerkam ku dan mencabik-cabik diriku hingga tulang belulang. Aaaaahh apa aku sudah gila!! Beraninya membangunkan singa tidur.
Wah dia sudah gila ya?? Beraninya dia mengatakan omong kosong itu! Kau mau cari mati ya?
"Benarkah? Wah Arkan, sekarang kamu sudah banyak berubah ya?" sambung Paman. Hanya ditimpali anggukan semangat oleh Bibi.
"Begitulah," jawabnya malu.
"Aduhh!" Kian merintih saat kakinya diinjak oleh Arkan. Dia melirik pria itu yang sedang memelototinya.
__ADS_1
"Kenapa, Nak Kian?" tanya bibi cemas.
"Tidak apa-apa Bibi," jawab Kian berbohong. Dia berusaha menyembunyikan rasa sakit dikakinya.
"Ayo dihabiskan makanannya," ucap bibi lagi.
"Baik Bibi." Walaupun kakinya terasa nyeri, Kian tetap tersenyum ramah menanggapi ucapan Bibi.
Setelah acara makan malam selesai, mereka melanjutkan obrolan singkat di ruang tamu. Karena topik pembicaraan lebih ke tentang keluarga Arkan, Kian lebih banyak diam. Dia memilih menjadi pendengar yang baik. Ada beberapa fakta baru yang dia ketahui tentang tuan mudanya.
"Arkan dari dulu paling takut di dekatin wanita,"
"Sebenarnya Arkan buka anak yang suka seenaknya. Hanya saja sejak kecil dia merasa kesepian karena terlahir sebagai anak tunggal. Sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan perusahaan. Jadi saat dia menjadi penerus ayahnya dia tidak tahu harus bersikap seperti apa."
Begitulah cerita yang Kian dengar dari Bibi. Wanita itu mengenal Arkan dengan baik sejak dia masih kecil. Bahkan Bibi sempat mengasuh Arkan disaat kedua orang tuanya sibuk bekerja. Pantas saja Arkan yang terkesan dingin dengan orang lain, justru bersikap sebaliknya saat bertemu Paman dan Bibi.
Kian akhirnya mengerti kenapa Arkan bersikap seperti itu. Tapi tetap saja dia tidak boleh bersikap kejam pada karyawannya terlebih jika dia seorang wanita. Mau bagaimana lagi, Arkan sendiri juga tidak pernah berhubungan dengan wanita, jadi mana dia tahu harus bersikap seperti apa.
"Kami pulang dulu Paman, Bibi. Lain waktu aku akan berkunjung lagi. Jaga kesehatan Paman dan Bibi ya!" Arkan berpamitan pulang dengan Paman dan Bibinya.
"Terimakasih atas makan malamnya, Bibi. Sekali lagi senang bertemu Paman dan Bibi." Kian berusaha meraih tangan Bibi untuk menciumnya lagi, tapi Bibi justru meraih bahu Kian dan memeluknya. Sambil berbisik, " Mulai sekarang kamu bisa memeluk Bibi saat kita bertemu." Bibi melepaskan pelukannya sambil mengerlingkan mata pada Kian.
"Baik, Bibi," jawab gadis itu tersenyum senang. Kian senang mendapat perlakuan baik dari Paman dan Bibi. Tapi dia juga merasa bersalah pada mereka. Karena mereka mengira Kian adalah kekasih Arkan sungguhan. Semoga saja kesalahpahaman ini bisa segera terselesaikan dengan baik.
Supir membukakan pintu mobil, mempersilahkan mereka berdua masuk. Lalu ia kembali ke kursi kemudi dan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Paman dan Bibi. Terlihat Paman dan Bibi melambaikan tangan sampai mereka benar-benar menghilang.
Kian sudah beberapa kali menutup mulutnya karena menguap. Matanya nyaris tak bisa bisa dibuka. Dia benar-benar mengantuk. Laju mobil juga sedikit melambat, karena sedang di berlakukan one way. Akhirnya tanpa sadar Kian tertidur di dalam mobil.
Arkan sendiri sedang fokus menatap layar ponselnya. Dia tidak menyadari gadis di sebelahnya sudah tertidur pulas. Hingga tiba-tiba supir mengerem mobil mendadak, membuat ponsel yang ditangannya terjatuh. Arkan menyalakan lampu
mobil untuk mencari ponselnya. Dia menemukannya. Tapi Arkan merasa melihat sesuatu yang aneh. Dimatikannya lampu mobil lalu menggantinya dengan senter ponsel. Dia mendekatkan pandangannya ke arah jari kaki Kian, ada noda darah disana. Ternyata jari gadis itu terluka saat tadi Arkan menginjaknya.
__ADS_1
Sial! Kenapa aku menginjaknya sampai seperti ini.
Arkan menyesali perbuatannya sendiri. Dia meminta supir untuk menghentikan mobil. Menyuruhnya membelikan plester. Supir berjalan keluar mencari warung terdekat. Tak lama ia pun kembali dengan beberapa plester ditangannya. Memberikannya pada Arkan.
Arkan masih menyalakan senter ponselnya, dia menunduk agar bisa menjangkau kaki Kian. Lalu pria itu membalut luka di jari Kian dengan plester. Kian sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan Arkan. Karena dia sudah terlelap dalam mimpinya. Mimpi bertemu sang pangeran berkuda putih.
Akhirnya mobil sampai di parkiran hotel. Arkan mencoba membangunkan Kian. Pria itu menepuk-nepuk bahu Kian agar terbangun. Tapi gadis itu hanya menggeliat disertai gumaman aneh.
"Dasar orang gila, sejak kapan aku menjadi kekasihmu?" Walaupun pelan, tapi gumaman itu terdengar jelas oleh Arkan.
"Wah beraninya dia mengataiku gila." Pria itu tertawa melihat tingkah Kian.
Arkan sudah beberapa kali menepuk bahu gadis itu, tapi dia sama sekali tidak bergeming. Terpaksa Arkan menggendong Kian di punggungnya.
"Tuan muda sombong, aku akan menghajar mu karena menginjak kakiku. Sakit tahu! Hiks." Kian melanjutkan gumamnya. Sepertinya gadis itu sedang mengigau.
Maafkan aku. Sungguh!
"Tapi aku harus melarikan diri, sebelum kau menerkam ku. Bodohnya aku mengatakan kau tergila-gila padaku!"
Arkan hanya menyeringai mendengar ocehan gadis itu.
"Awas saja kalau kau berani melarikan diri. Aku akan menerkam mu!" ucap Arkan.
"Lihat kau bahkan sudah mengancam ku. Hiks."
Akhirnya obrolan panjang tanpa kesadaran itu berhenti ketika akan merebahkan tubuh Kian di atas kasur. Pria itu melepaskan sandal Kian dan menyelimutinya. Saat Arkan ingin beranjak pergi, tiba-tiba lengannya ditarik oleh Kian.
"Jangan pergi, Kak Rendy!" gumam Kian lagi. "Orang gila itu akan menerkam ku."
Mendengar Kian menyebut nama Rendy, entah kenapa Arkan merasa kesal. Dia mengepalkan tangannya geram.
__ADS_1
Kau memanggilnya dengan menyebut namanya. Tapi kau justru menyebutku orang gila. Apa kau benar-benar menganggapku orang gila?? Awas saja kau besok!
Arkan duduk di tepi ranjang untuk beberapa saat. Karena gadis itu terus memegangi lengannya. Walaupun kesal, dia berusaha menahan dirinya. Setelah Kian melonggarkan genggamannya, Arkan melepaskan tangannya. Dia beranjak keluar meninggalkan gadis itu terlelap dalam mimpinya.