
Arkan dan Kian pergi meninggalkan rumah besar setelah Nyonya Wina berhasil memaksa mereka untuk menikah. Wajah Kian yang sedari tadi terkejut hanya bisa membeku tanpa ekspresi. Otaknya masih belum bisa berpikir jernih menanggapi pembicaraan Arkan dan Ibunya.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana kau setuju dengan rencana pernikahan yang tidak masuk akal itu? Kita bahkan tidak memiliki hubungan apapun, bagaimana kita bisa langsung menikah?" Setibanya di mobil, Kian langsung mencecar Arkan. Ia tidak sabar kalau harus menunggu penjelasan dari pria itu.
Dasar gadis bodoh!! Apa kau tidak sadar, aku menyetujui pernikahan itu karena ingin memperjelas hubunganku denganmu. Aku ingin memilikimu seutuhnya.
Arkan yang sedang menyandarkan kepalanya yang terasa berat, mulai mengangkatnya, menoleh ke arah Kian yang menatapnya tajam.
"Apa lagi yang bisa ku katakan? Kau ingin aku menerima perjodohan dengan Delia?" Arkan memajukan wajahnya demi melihat reaksi gadis di depannya.
Kenapa rasanya sangat mengesalkan saat dia menyebut nama wanita itu.
"Ck, kenapa hari gini masih ada perjodohan segala? Kolot sekali! Tapi... tapi apa harus menyetujui pernikahan itu agar kau tidak dijodohkan dengan wanita itu?"
Arkan menyeringai, "Tentu saja. Kau tidak lihat bagaimana ayahku tersenyum mendengar aku akan dijodohkan dengan Delia? Dia pasti orang pertama yang akan menyetujuinya."
"Berhenti menyebut namanya!!" Tanpa sadar, Kian membentak Arkan. Ia langsung menutup mulutnya saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
Arkan terkekeh. "Wahh, apa sekarang kau sedang cemburu??"
"Ck, cemburu? Yang benar saja!!" Kian mengibaskan tangan di depan wajahnya seperti sedang kepanasan. Ya, wajahnya tengah memerah menahan malu karena Arkan mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.
Lihat, semakin kau cemburu, semakin terlihat menggemaskan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menerima perjodohan dengan Delia." Arkan mengubah pandangannya menjadi lurus ke depan menatap jalanan. Tidak memperhatikan Kian yang membelalak tidak percaya setelah mendengar ucapannya.
Apa?? Dia tidak benar-benar mengatakannya, kan? Tapi, kenapa ekspresi wajahnya seserius itu?
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju menikah denganmu. Tapi ada syaratnya!"
Arkan sumringah mendengarnya, ia langsung menoleh dan memicingkan matanya. "Syarat?"
"Tidak boleh ada kontak fisik, tidak ada kontak fisik, dan TIDAK PERNAH ADA!!" Kian menyilangkan tangannya ke udara, memberi penegasan akan ucapannya.
Tunggu, syarat macam apa itu? Bagaimana mungkin aku bisa tahan tidak menyentuhnya? Tapi kalau aku menolak syarat itu sekarang, dia juga akan menolak pernikahan ini.
"Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Apa kau pikir aku akan tertarik menyentuhmu? Ck, apa cermin di kamarmu kurang lebar hingga kau tidak bisa bercermin dengan baik? Melihat kulitmu saja sudah membuatku sakit mata, apalagi menyentuhnya!" Arkan mendengus kesal menjawab syarat dari Kian.
"Baguslah kalau kau tidak tertarik dengan kulitku yang seperti tempe gosong ini. Jadi aku bisa bernapas lega." Kian menyandarkan tubuhnya dengan santai.
"Tapi kalau kau yang memulainya duluan, maka jangan salahkan jika aku menyelesaikannya!"
Menyelesaikan apa yang dia maksud. Kenapa tiba-tiba aku jadi merinding?
Kian meneguk liurnya. Entah kenapa mendengar ucapan Arkan yang seperti ancaman itu membuat bulu kuduknya merinding. Ia merasa harus berhati-hati bersikap saat berdekatan dengan pria itu.
Kalian berdua ternyata memiliki gengsi yang cukup tinggi. Padahal siapapun bisa melihat kalau kalian saling menginginkan satu satu sama lain. Aku berani bertaruh, kalian akan melakukannya tidak lebih dari seminggu setelah kalian menikah!
***
Kian baru saja bersiap akan pulang ke kampung halamannya bersama Bibi Sumi. Bagaimana pun juga ia harus mengabari dan memberitahukan soal pernikahannya kepada orang tuanya. Meskipun Kian yakin orang tuanya pasti sudah mendengarnya dari berita yang tersebar di stasiun televisi, ia tetap harus mengatakannya sendiri.
Namun Kian justru dikejutkan dengan sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. Entah bagaimana caranya, kedua orang tua beserta adik-adiknya sudah berada di Ibukota. Mereka baru saja tiba disaat Kian sudah hendak berangkat.
"Ibu, Bapak." Kian mencium tangan kedua orang tuanya ketika rombongan keluarganya baru saja tiba di rumah Bibi Sumi. Mereka diantar sebuah mobil mewah yang Kian bisa menebak siapa pemiliknya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Kian? Apa kamu baik-baik saja?" Ibu mengusap lembut bahu Kian. "Ibu sudah mengetahui semuanya dari Nak Arkan." sambung Ibu lagi.
Kian mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa, Bu?"
"Kemarin dia datang ke rumah kita di kampung, terus mengatakan semuanya pada Ibu dan Ayah," jawab Ibu.
"Iya Kak Kian, bahkan Kak Arkan datang naik helikopter tahu!" timpal Ayu dengan antusias.
"Apa?! Kenapa dia tidak memberitahu aku terlebih dahulu?" dengus kian kesal. "Jadi Bapak dan Ibu sudah tahu aku akan menikah dengannya?"
Ibu dan Bapak mengangguk bersamaan. "Kalau seluruh negeri saja sudah tahu, bagaimana mungkin Ibu sama Bapak tidak tahu. Sebenarnya Bapak takut kamu akan menikah dengannya, Kian. Keluarga kita sangat-sangat berbeda jauh dengannya, apa tidak apa-apa jika tetap melakukan pernikahan ini? Walaupun Bapak lihat dia pria yang baik dan bertanggung jawab, tapi Bapak masih takut." Kian bisa melihat gurat kekhawatiran di wajah Bapaknya yang mulai menunjukkan garis kerutan di beberapa bagian.
"Benar apa yang dikatakan Bapakmu, Kian. Apa tidak apa-apa tetap melakukannya? Nak Arkan mengatakan bahwa Ibunya sudah menyetujui kalian. Apa benar?" selidik Ibu. Nada suaranya tidak kalah cemas seperti Bapak.
"Benar, Bu. Justru Ibunya Arkanlah yang menginginkan kami segera menikah. Bapak dan Ibu jangan khawatir, ya. Kian akan baik-baik saja. Aku sudah cukup mengenal Arkan dengan baik kok."
Maafin Kian, Bapak, Ibu.
Setelah mendapatkan penjelasan, akhirnya kedua orang tua Kian bisa sedikit bernapas lega. Meskipun sebenarnya mereka merasa sangat gugup dengan jadwal pertemuan keluarga yang akan dilaksanakan esok hari.
Dan hari ini semua persiapan sedang dilakukan untuk acara pertemuan besok. Beberapa orang suruhan Nyonya Wina datang ke rumah Bibi Sumi dengan membawa banyak perlengkapan, seperti pakaian, tas, sepatu dan berbagai aksesoris yang harganya terbilang cukup mahal. Kian dan keluarganya sampai menganga tidak percaya melihat barang-barang yang dikirim dari keluarga Arkan tersebut.
"Yang ini bagus!"
"Wah yang ini juga keren!"
"Besok aku mau pakai yang ini saja!"
__ADS_1
Adik-adik Kian terlihat sangat bersemangat menerima barang-barang itu. Tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Raut wajah mereka justru menunjukkan mereka merasa terbebani dengan pemberian dari calon besannya itu. Mengingat status sosial mereka yang seperti langit dan bumi saja sudah membuat orang tua Kian minder, apalagi dengan barang-barang mahal yang diberikan, tambah membuat mereka merasa tidak nyaman.
Seperti inikah rasanya jika berbesan dengan orang-orang kaya??