
"Pak, tolong selidiki laporan perusahaan bulan ini! Profit kita turun nyaris 15%. Cari tahu apa penyebabnya!" titah Arkan di ruangan Pak Dan. Ia sengaja mendatangi Pak Dan ke ruangannya karena tidak ingin Kian mengetahui hal ini.
"Baik, Tuan." Pak Dan mengambil laporan yang diserahkan Arkan dan mulai mengeceknya satu persatu. Dalam mengurus masalah perusahaan, Pak Dan memang lebih berpengalaman. Bisa dikatakan, lebih dari setengah umurnya sudah berkecimpung di bidang ini.
Jangankan 15%, profit yang turun sebesar 5% saja sudah sangat berdampak pada stabilitas perusahaan. Kalau sampai Tuan Wijaya tahu perusahaan Arkan merosot setelah ia menikah, maka pernikahannya lah yang akan di pertaruhkan. Pernikahannya dengan Kian akan di anggap kesalahan besar. Bahkan Kian mengetahui hal ini. Arkan tidak ingin Kian merasa bersalah.
Arkan kembali ke ruangannya. Namun, sebelum ia masuk, ia melihat Kian yang tengah sibuk menyiapkan jadwalnya. Sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Arkan.
"Sayang, jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau kamu kecapean!" ucap Arkan sambil bersandar di pintu.
Kian terkejut. Sejak kapan Arkan berdiri disitu, pikirnya. "Jangan panggil aku seperti itu saat ada di kantor!" protesnya.
"Kenapa? Toh tidak ada orang yang mendengarnya! Kalau dipikir-pikir, kamu bahkan tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Kenapa, Sayang?" Arkan maju beberapa langkah. Menatap Kian penuh selidik.
"Hmm, i-itu..." Kian merasa gugup. Jujur saja ia masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Panggil aku Sayang mulai dari sekarang!"
"Apa?!" Kian menggeleng cepat. "Bagaimana kalau Tuan?" tawarnya.
Arkan membelalakkan matanya. "Tuan? Tidak! Apa kamu pikir aku Tuanmu? Aku suamimu. Ayo cepat panggil aku Sayang!"
"Bagaimana kalau di rumah saja?"
"Tidak. Aku ingin mendengarnya sekarang!"
Kian melipat bibirnya kedalam. Terdengar gumaman yang tertahan dari dalam sana. "Sudah!" ucapnya.
Arkan mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang baru saja dilakukan Kian. "Sudah? Kapan? Aku tidak mendengarnya! Ayo ulangi! Atau aku akan teriak sambil memanggilmu SAAA-"
Kian segera menangkup mulut Arkan yang hampir saja berteriak dengan tangannya. "Baiklah. Tapi tutup matamu terlebih dulu!"
"Kenapa harus tutup mata?"
"Kalau tidak mau ya sudah."
"Baiklah. Aku akan menutup mataku." Arkan memejamkan matanya sesuai permintaan Kian.
"Sa-Sa-Sa," ucapan Kian tertahan. Rasanya begitu kaku memanggil Arkan dengan sebutan itu. Tiba-tiba muncul ide di kepalanya.
__ADS_1
Kian berjalan mengendap-endap menuju pintu dan meninggalkan Arkan yang masih memejamkan matanya. Sementara Arkan yang sudah menunggu lama merasa tidak ada suara, mulai membuka mata. Ia membelalak saat melihat Kian sudah tidak ada disana.
"Wah beraninya dia mengerjai ku!' Arkan menggeleng-gelengkan kepala sambil keluar dari ruangan Kian. Sebuah senyuman terbit dari ujung bibirnya. "Awas saja, aku akan membalasmu!"
***
Jam istirahat sudah selesai beberapa menit lalu. Namun Kian masih belum kembali. Sebelumnya ia meminta ijin Arkan untuk menjenguk temannya yang sakit. Dan pria itu bisa-bisanya lupa menanyakan ke rumah sakit mana Kian akan pergi. Istrinya juga menolak diantar oleh Sam karena ia pergi bersama Dina.
"Arghh! Kenapa ponselnya masih tidak bisa dihubungi? Sebenarnya kemana dia pergi?" Arkan menatap kesal ponsel yang ada di tangannya. Lalu meletakkan dengan kasar ke atas meja. Ia terlihat begitu risau.
Arkan meninggalkan ruangannya dan menuju mobil. Ia ingin mencari keberadaan Kian meski tidak tahu harus kemana. Sam hanya membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Pak, tolong carikan kontak wanita bernama Dina!" perintahnya pada Pak Dan di telpon. Lalu tidak lama memencet nomor yang dikirim Pak Dan.
"Dimana istriku?!" tanyanya tanpa basa-basi. Bahkan nada suaranya terdengar emosi.
"Kenapa kau meninggalkannya sendirian disana? Dasar teman tidak berguna!!" umpatnya kesal. Membuat seseorang diseberang sana seketika pucat pasi.
"Segera ke rumah sakit X!" perintahnya pada Sam.
"Baik, Tuan."
Sesampainya di rumah sakit, Arkan langsung menuju resepsionis. Namun ia justru berang saat resepsionis itu mengatakan tidak melihat kedatangan Kian.
"Ma-maaf Tuan. Saya benar-benar tidak melihatnya. Tolong jangan pecat saya!"
Seorang perawat datang menghampiri mereka. "Maaf Tuan, Nona Kian sedang berada di ruang pemeriksaan. Mari saya antar!"
Mendengar Kian berada di ruang pemeriksaan, Arkan semakin panik. Apa yang sudah terjadi pada istrinya?. Kalau sampai sesuatu terjadi, ia akan memecat Dina. Beraninya dia meninggalkan Kian sendirian.
Flashback
Setelah Kian dan Dina selesai menjenguk seorang teman yang sakit, Kian memutuskan untuk memeriksakan diri. Karena sudah beberapa hari ini dia telat datang bulan.
"Kamu pergi saja duluan. Aku akan kembali nanti. Ada sesuatu yang harus kuperiksa lebih dulu," katanya pada Dina.
"Tapi-" Dina terlihat ragu membiarkan Kian sendiri.
"Tidak apa-apa. Aku akan memberi tahu Arkan sendiri. Lagi pula aku tidak akan lama," ucapnya seperti tahu kegelisahan Dina.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu!"
"Hmm. Hati-hati di jalan!"
Kian langsung menuju dokter obgyn setelah Dina pergi. Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter tersebut sebelum memastikan kalau Kian benar-benar hamil. Jangan sampai ada kesalahan, jika ia masih ingin bekerja sebagai dokter. Karena dokter itu tahu betul siapa Kian. Istri dari Arkan Saguna sekaligus menantu dari pemilik rumah sakit ini.
"Selamat Nona, sepertinya Anda sedang hamil," ucap sang dokter sambil menunjukkan hasil pemeriksaan.
"Benarkah, Dok?" tanya Kian tidak percaya. Ia senang bukan main mengetahui dirinya hamil. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera memberi tahu Arkan.
Flashback End
Tanpa mengetuk, Arkan langsung membuka pintu ruangan dan mengejutkan orang yang ada di dalamnya. Termasuk Kian.
"Apa yang sudah terjadi? Apa kau terluka?" tanyanya panik. Ia langsung memeluk Kian dan meraba seluruh tubuhnya. Memastikan istrinya tidak terluka.
"Aku hamil," ucap Kian girang.
"Apa itu penting sekarang?! Apa kau tidak tahu betapa cemasnya aku?" Oh tidak. Arkan mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan.
Bening kristal jatuh di pipi Kian. Ia tidak menyangka Arkan akan mengatakan itu. Sungguh, ia berharap berita kehamilannya akan membuat Arkan senang bukan kepalang seperti dirinya. Namun pria itu justru terlihat tidak menghiraukannya.
Apa dia tidak menginginkan anakku?
"Aku mengkhawatirkan mu." Arkan merangkul Kian. Namun Kian segera menepisnya. Ia berjalan menuju mobil tanpa menghiraukan Arkan yang terus memanggilnya.
***
Sudah beberapa hari berlalu. Sejak saat itu ia irit sekali berbicara. Tidak seperti biasanya yang selalu mengoceh panjang lebar hingga membuat Arkan gemas. Kali ini ia hanya berbicara jika ditanya, selebihnya lebih banyak diam. Kian juga lebih sering menyendiri, ia lebih suka mengajak bicara janin didalam perutnya ketimbang Arkan.
"Kalau Papamu tidak menginginkan dirimu, tidak perlu khawatir. Ada Mama yang akan selalu menemanimu. Mama juga tidak sabar ingin segera bertemu denganmu." Begitulah yang selalu dikatakan Kian beberapa hari ini.
Kian juga enggan berangkat ke kantor. Ia tidak ingin terlalu sering bertemu dengan Arkan. Rasanya masih sangat kecewa dengan perkataan suaminya beberapa hari lalu.
Untuk membuang kebosanan, terkadang ia pergi ke Mall. Sekedar menenangkan diri dengan melihat-lihat perlengkapan bayi.
"Yang ini lucu! Kalau anakku perempuan, aku pasti akan membeli yang ini," gumamnya sambil tersenyum sendiri.
Rasanya Kian sudah tidak sabar untuk segera membeli perlengkapan bayi yang sangat menggemaskan itu. Namun karena ia masih belum tahu kelak anaknya perempuan atau laki-laki, Kian menundanya sampai ia tahu jenis kelamin calon anaknya.
__ADS_1
Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Kalau kehadirannya begitu membuatmu bahagia, seharusnya aku lebih bahagia. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk menjaga kalian. Memastikan kalian baik-baik saja.
Arkan terus menatap Kian dari kejauhan. Tak jarang ia ikut tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan saat melihat-lihat perlengkapan bayi.