Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Pengakuan Cinta


__ADS_3

Kian mendapatkan ijin masuk setelah mengatakan bahwa dia adalah sekertaris pribadi dari Arkan. Jelas saja, karena acara ini bukanlah untuk sembarang orang. Hanya orang-orang yang berpengaruh dalam bisnis seperti para pemegang sahamlah yang boleh masuk.


Kian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari keberadaan Arkan. Karena sibuk memperhatikan sekitar, Kian tidak menyadari menabrak seseorang hingga minuman yang dipegang orang itu tumpah mengenai pakaian.


"Sial. Apa ini?" umpat orang itu kesal karena pakaiannya yang menjadi basah dan kotor.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja." Kian menunduk menyesali perbuatannya. Lagi-lagi ia melakukan kecerobohan. Ah, entah sudah seberapa sering ia lakukan. Tapi sepertinya kali ini sangat fatal, karena seseorang yang tidak sengaja Kian tabrak adalah Alex, salah seorang yang berpengaruh dalam bisnis Arkan. Wajah pria berusia 30 tahunan itu terlihat merah padam karena emosi sambil tangannya mengibaskan jasnya yang kotor.


"Apa kau buta? Dimana matamu?!" Alex mencaci maki Kian yang menunduk menahan buliran disudut matanya. Ia merasa sangat malu dicaci maki didepan banyak orang yang kini tengah menatapnya.


"Ma-maaf, Tuan," lirih Kian lagi dengan suara yang bergetar.


Sementara orang-orang yang ada disana hanya bisa memandang insiden itu dengan gelengan kepala. Merasa miris sekaligus iba pada Kian, karena Alex yang terkenal memiliki tempramen.


"Dasar tidak berguna. Bagaimana bisa kau masuk kesini dengan penampilanmu yang kampungan." Alex mengambil napas sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Lihat, gara-gara gadis bodoh sepertimu pakaianku jadi kotor!"


"Ma-maaf, Tuan. Saya akan membersihkannya." Kian berbicara masih dengan suara yang bergetar.


"Apa kau bilang? Membersihkannya? Apa kau pikir ini baju murahan yang bisa sembarang orang membersihkannya? Dasar bodoh!!"


"HENTIKANN!!!"


Suara bentakan dan perintah khas bariton milik Arkan menggelegar memenuhi seisi ruangan. Alex yang mengetahui bentakan itu ditujukan untuknya, langsung menutup mulutnya. Ia terkejut melihat Arkan yang tiba-tiba membentaknya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan sinis menatap tajam Alex. Tidak biasanya Arkan berbicara tidak sopan seperti itu padanya selaku rekan bisnis.


"Wanita bodoh ini menabrakku hingga membuat pakaianku kotor, lihatlah!" Alex menunjukkan pakaiannya yang kotor.


Mendengar istrinya disebut wanita bodoh, Arkan meradang. "Apa kau bilang?" Arkan mencengkeram kerah kemeja Alex hingga pria itu tercekik.


"Apa yang Anda lakukan? Kenapa bersikap seperti ini hanya karena wanita kampungan ini?"


"Kau tahu? Wanita yang kau sebut kampungan itu adalah istriku!"


"APA?!" Semua orang didalam acara tersebut berseru kaget, tak terkecuali Kian. Bahkan wajah Alex berubah pias setelah mendengar pengakuan Arkan.


Kian meraih tangan Arkan dan berbisik pelan. "Apa yang kau katakan? Aku mohon lepaskan Tuan Alex." Karena permintaan Kian, akhirnya Arkan melepaskan cengkeramannya.


"Anda tidak sedang bercanda, kan?" tanya Alex memastikan. Sejujurnya ia sudah mulai takut melihat reaksi Arkan seperti itu.


"Pak Dan, hapus nama orang ini sebagai pemegang saham di perusahaan!" perintah Arkan pada Pak Dan, namun matanya masih menyorot tajam pria di depannya. "Sekarang kau tahu aku sedang bercanda atau tidak."


"Tapi, Tuan-" Pak Dan terlihat ragu. Karena bagaimanapun ia tahu, bahwa melepas salah satu saham terbesar, akan sangat berpengaruh pada perusahaan.


"Aku tidak peduli apapun resikonya! Aku tidak ingin dia bergabung di perusahaanku lagi!" perintah Arkan telak. Rahangnya yang mengeras karena emosi, terlihat sedang tidak ingin bernegosiasi.


Keputusan Arkan sudah bulat. Membuat Pak Dan menghela napas. "Baik, Tuan," angguknya paham.


Wajah Alex semakin pucat pasi mendengar ucapan Arkan. Meskipun ia termasuk salah satu pemegang saham terbesar, namun jika dihapus begitu saja dari perusahaan Arkan, maka tentu Alexlah yang akan rugi besar. Pasti tidak ada perusahaan lain yang mau bekerjasama dengannya setelah insiden ini. Terlebih karena sudah berurusan dengan keluarga Wijaya.


"Maaf, salah saya tidak mengenali istri Anda. Tolong jangan hapus nama saya dari perusahaan Anda," pinta Alex dengan wajah mengiba.


"Tolong maafkan saya, Nona. Saya benar-benar bodoh!" Alex beralih menatap Kian. Berharap wanita itu luluh dan bisa membujuk Arkan untuk tidak menghapusnya.


Kian yang sejak tadi masih memegang lengan Arkan agar pria itu tidak berbuat nekat mengayunkan tangannya. Menampilkan wajah memohon.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Tidak perlu sampai menghapus namanya hanya karena aku. Ingat pesan Ayah, beliau tidak ingin kau melakukan kesalahan di perusahaan setelah menikah, atau akan menyuruhmu mengakhiri pernikahan ini," bisik Kian mengingatkan.


Benar! Ancaman sang Ayah yang akan mengakhiri pernikahannya jika sampai ia membuat kekacauan, membuatnya tak bisa berkutik. Di satu sisi ia tidak terima melihat Kian dihina, tapi di sisi lain, ia tidak ingin pernikahannya berakhir.


Arkan berteriak frustasi dalam hati. Demi pernikahan, ia harus mengalah kali ini. "Baiklah, karena istriku yang meminta untuk memaafkanmu, maka aku akan melepasmu kali ini. Bagaimanapun, aku sangat mencintai istriku, kalau sampai ada yang berani menghinanya sekali lagi, aku tidak segan-segan akan menghabisinya!" Bukan hanya untuk Alex, Arkan menekan kata-katanya untuk semua orang yang ada di ruangan itu sebagai peringatan. Siapapun yang berani mengusik istrinya, maka harus siap berhadapan dengannya.


"Te-terima ka-kasih, Tuan, Nona." Namun, hanya Kian yang menanggapi ucapan Alex dengan anggukan. Alex ingin menyalami Kian sebagai ucapan terima kasih, namun mata Arkan sudah lebih dulu menyorotnya dengan sorotan membunuh. Membuat ia mengurungkan niat. Orang-orang yang sejak tadi menonton kejadian itu pun sudah membubarkan diri sebelum terkena semprot amarah Arkan.


"Aku akan kembali ke kamar," ujar Kian setelah keadaan membaik. Gelayut tangannya juga sudah lepas dari lengan Arkan.


"Aku akan mengantarmu," sahut Arkan kemudian.


Kian terkesiap. "Eh, Tidak perlu! aku akan menunggumu di kamar saja hingga acaranya selesai."


"Bagiku acaranya sudah selesai sejak kekacauan tadi."


"Maaf, semua ini salahku."


Melihat wajah Kian yang murung karena merasa bersalah, Arkan menghela napas. "Sudahlah, semua ini bukan salahmu. Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Arkan mengulurkan tangannya.


Kian menatap tangan dan wajah Arkan bergantian untuk sepersekian detik. Lalu tersenyum, "hmmm," jawabnya sambil menerima uluran tangan Arkan dengan antusias.


Mereka berjalan melewati orang-orang yang hanya bisa melirik mereka dari ekor mata. Tidak berani menatap langsung apalagi berkomentar. Namun di hati mereka, terbesit kekaguman untuk pasangan itu. Di luar dugaan, Arkan mengakui sudah memiliki seorang istri, dan ia pun terlihat begitu menyayangi istrinya tersebut. Benar-benar pria idaman!


"Kau ingin pulang?" tanya Arkan sambil mengendurkan ikatan dasi di kerah kemejanya. Sementara Kian duduk di tepi ranjang memperhatikan gerakan Arkan.


Tiba-tiba manik mata Kian berbinar seperti menginginkan sesuatu. "Apa boleh kita menginap disini semalam saja? Aku ingin menikmati kamar mewah ini sekaliii saja," ucapnya dengan nada gemas.


"Kalau kau menyukainya, aku akan menyuruh orang untuk mengubah apartemen kita jadi seperti ini," jawab Arkan santai. Ia mendudukkan diri di sofa sebelah tempat tidur.


Arkan terkekeh kecil. "Kau benar-benar tidak mau rugi, ya!" Kian hanya nyengir menanggapinya.


"Baiklah, kita akan menginap disini selama yang kau mau." Arkan melepas sepatunya lalu beranjak. "Aku akan mandi sebentar," lanjutnya berjalan menuju kamar mandi.


Di atas tempat tidur, Kian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Pikirannya kembali melayang mengingat ucapan Arkan yang mengatakan sangat mencintainya.


Benarkah ia mencintaiku? Atau hanya sebatas menjaga harga diriku di depan rekan-rekannya?


***


Kian keluar dari kamar mandi dengan piyama handuk membalut tubuhnya. Rambutnya yang basah ia keringkan dengan mengusap-usap handuk di tangannya. Lama ia lakukan karena rambutnya tak kunjung mengering.


"Kemarilah!" Arkan yang duduk bersandar di tepi ranjang, menepuk sisi sebelahnya. Menyuruh Kian mendekat.


Bukannya mendekat, Kian justru mematung ditempatnya. Ia ragu mendekati Arkan atau tidak. Berada di kamar berdua dalam keadaan baru keluar dari kamar mandi bukanlah ide bagus untuk berdekatan dengan pria itu pikirnya. Bagaimana kalau sampai sesuatu terjadi? Ahh bagaimana ini?


"Kau tidak dengar?" Nada suara Arkan mulai terdengar tidak suka. Akhirnya pelan, Kian melangkah menghampiri pria itu.


"Duduk!" Perintahnya melirik sisi di sebelahnya. Kian menurut.


Lalu Arkan membuka laci nakas dan mengeluarkan hairdryer dari dalamnya. Meraih rambut Kian dan mulai mengeringkannya. Sambil menyisir dengan jemari, sesekali Arkan mencium aroma yang keluar dari rambut Kian. Membuat gairahnya seketika bergolak.


Sementara Kian terkejut mendapati perlakuan Arkan yang sangat romantis menurutnya. Jemari Arkan yang menyisir lembut rambutnya, sempat beberapa kali menyentuh tengkuknya. Sontak, membuatnya merinding. Seperti ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kian untuk mengalihkan debaran jantungnya.

__ADS_1


"Tidak!!" sahut Arkan cepat. Entah kenapa, rasanya ia tahu apa yang ingin ditanyakan Kian sebenarnya.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu di acara tadi atau hanya sekedar ingin melindungiku?"


"Sudah ku bilang tidak masih saja bertanya!" dengus Arkan kesal.


"Ayo jawab!" rengek Kian.


"Apanya?!" Pura-pura tidak tahu.


"Tadi,, saat kau mengatakan mencintaiku, apa itu sungguhan atau cuma akting untuk melindungiku?"


"Menurutmu?"


"Entahlah. Hatiku mengatakan sungguhan, tapi otakku mengatakan itu cuma akting," sungut Kian kesal tidak bisa memahami dirinya sendiri.


"Dasar, otakmu itu memang bodoh sejak dulu kala!" cibir Arkan. Ia merapikan rambut Kian yang sudah kering dengan menyisirnya perlahan.


Kian mencebikkan bibirnya tanpa Arkan tahu. "Jadi maksudnya, itu sungguhan?" Kian membalikkan tubuhnya menghadap Arkan, menatap mata pria itu untuk memastikan.


"Apa otakmu itu benar-benar tidak bisa berpikir?" ejek Arkan yang membuat Kian kesal. Ia ingin beranjak, namun Arkan menahannya.


"Itu sungguhan," ucap Arkan pasti.


Kian kembali menatap Arkan yang tengah menatapnya lekat. Pandangan mereka beradu tanpa ada yang membuka suara sedikitpun.


"Sekarang aku tahu." Kian berbicara lebih dulu.


"Apa?" tanya Arkan tidak mengerti.


"Penyebab aku tidak mempercayai orang-orang yang mengatakan kau menyukaiku."


Dahi Arkan berkerut. "Kenapa?"


"Karena bukan kau yang mengatakannya sendiri," jawab Kian polos.


Arkan tersenyum tipis namun sangat manis. "Jadi, sekarang kau percaya?"


Kian mengangguk. "Hmmm. Sekarang aku percaya." Seulas senyum terukir di wajahnya.


Arkan meraih dagu Kian lalu menciumnya lembut. Namun, ciuman itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja tubuh Arkan bergetar. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu gemetaran?" tanya Kian panik melihat kondisi Arkan yang seperti orang demam. Padahal badannya tidak panas.


"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil mengalihkan pandangan.


"Tunggu, jangan-jangan?" Kian melongo kaget. Ia segera menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Hei, apa yang kau pikirkan?"


"Apa benar kau tidak pernah sekalipun berciuman?" tanya Kian balik dengan nada sedikit mengejek.


"Ck. Meskipun aku menyebalkan, tapi aku bukan pria brengsek yang akan mencium banyak wanita!"


Kian tertawa dalam hati saat laki-laki di depannya mengakui dirinya memang menyebalkan. Namun ia juga tertegun mendengar pengakuan berikutnya. Tanpa Arkan tahu, ada perasaan bangga yang Kian tujukan pada pria yang kini telah menjadi suaminya

__ADS_1


__ADS_2