Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Berita Heboh


__ADS_3

Setelah Kian dan Arkan selesai, beberapa orang ikut menyusul mengucapkan kata-kata selamat untuk Nyonya Wina dan Tuan Wijaya, termasuk Delia.


"Selamat Tante, Om.. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia. Doa'in semoga aku segera menyusul." Delia memberikan penekanan pada kata-katanya sambil melirik Arkan yang berdiri di sisi Tuan Wijaya.


Arkan hanya melengos mendapat lirikan itu lalu beralih menatap Kian yang berada di sampingnya. Guratan senyum terus terukir di wajahnya saat melihat gadisnya yang begitu berbeda malam ini. Cantik dan anggun.


Mendapat ucapan dari Delia, Tuan Wijaya menyunggingkan senyum tipis. Sedikit menunjukkan ekspresinya, tidak seperti saat menerima ucapan dari Kian yang terkesan dingin. Melihat itu, Kian merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya, tapi ia bisa memakluminya. Dirinya bukan siapa-siapa. Sangat wajar jika Tuan Wijaya tersenyum seperti itu pada orang yang memiliki status sosial yang sama dengannya, bukan?


Tanpa ia sadari, Arkan menggenggam tangannya erat. Tatapan matanya seolah ingin mengatakan pada Kian, itu bukanlah masalah.


Bagaimana dia mengerti apa yang sedang ku butuhkan saat ini?


Kian tersenyum menanggapi tatapan Arkan yang langsung menenangkan perasaannya. Ternyata, pria itu lebih peka dari apa yang ia bayangkan.


Setelah sesi memberi ucapan selamat selesai, Nyonya Wina tiba-tiba membuka suaranya. Membuat semua pandangan beralih ke arahnya.


"Selamat malam semuanya! Terimakasih telah memenuhi undangan dan menyempatkan diri untuk datang ke acara ini. Tidak seperti acara-acara sebelumnya, kali ini saya dan keluarga merasa sangat bahagia. Karena di pesta ulang tahun pernikahan saya dan suami yang ke 32 tahun, putra kami tercinta datang bersama kekasihnya yang akan segera dinikahinya, Kiandra Maharani." ucap Nyonya Wina sangat antusias.

__ADS_1


Sontak semua para tamu undangan dibuat terkejut, mata mereka langsung mengarah pada wanita yang berdiri di samping Arkan. Melihat genggaman tangan mereka, akhirnya para tamu mengangguk paham dan tanpa aba-aba, mereka semua memberikan tepuk tangan yang meriah dengan riuhnya.


Namun sepertinya, ada beberapa orang yang masih terkejut dengan ucapan itu. Mereka belum sepenuhnya mencerna apa yang dikatakan Nyonya Wina barusan. Tak terkecuali Arkan dan Kian. Bahkan Tuan Wijaya juga tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang mendadak kesal.


"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Tuan Wijaya sedikit berbisik. Tapi masih bisa terdengar jelas oleh Kian dan Arkan yang masih terlihat syok.


"Aku ingin Arkan segera menikah agar aku bisa segera menimang cucu," sahut Nyonya Wina sambil berbisik.


"Apa kau sudah tidak waras? Dia masih harus mengurus perusahaan dengan baik dulu baru boleh menikah!" tegas Tuan Wijaya.


Tapi sepertinya Nyonya Wina tidak peduli. Ia kembali berbisik. "Kita bisa membahasnya di rumah nanti. Sekarang aku sangat bahagia melihat puteraku bahagia." Akhirnya Tuan Wijaya lebih menutup mulutnya daripada membuat keributan di acaranya sendiri. Menjaga reputasi lebih penting untuk saat ini, mengingat tamu undangan yang hadir sebagian besar adalah orang-orang penting yang masih menjalin hubungan bisnis dengannya.


Sedangkan Delia, ia semakin kesal setelah mendengarnya. Bahkan sebelum acara berakhir, ia sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Entah apa yang ia rencanakan, yang jelas, ia tidak akan menyerah begitu saja.


***


Arkan sedang mengantarkan Kian pulang ke rumah Bibi Sumi. Seperti biasa, dia sudah terlelap di dalam mobil sejak kendaraan berjalan itu baru saja meninggalkan hotel. Melihat kepala Kian yang bergerak kesana kemari karena, Arkan terkekeh. Baginya, setiap kali melihat Kian tertidur, ada saja ulah gadis itu yang membuatnya gemas. Mulai dari menempel di bahunya, melihat ekspresi wajahnya yang tenang hingga mulutnya yang meracau tidak jelas. Aahh dia tidak rela jika ada orang lain yang melihat gadis itu tertidur. Bahkan Sam yang pernah mencoba meliriknya saja sudah mendapatkan peringatan keras dari Arkan.

__ADS_1


"Jangan coba-coba untuk meliriknya saat dia sedang terlelap! Kalau aku tidak ada, larang dia tertidur di mobil bagaimanapun caranya!" peringatan sekaligus perintah Arkan langsung tercetak jelas di otak Sam. Sampai saat ini, Sam tidak berani melirik meskipun hanya melalui kaca di atasnya.


Arkan masih menatap Kian yang terlelap, melihat kepala gadis itu yang bergerak naik turun karena tidak bersandar dengan benar. Hampir saja kepala Kian nyaris terbentur kaca jendela, kalau saja Arkan tidak dengan cepat meraihnya. Perlahan ia menempelkan kepala Kian di pundaknya. Barulah gadis itu terlihat nyaman tidak bergerak kesana kemari.


***


Tuan Wijaya tidak lagi bisa menunggu hingga mereka tiba di rumah. Begitu masuk di dalam mobil, ia langsung mencecar istrinya yang sudah membuat kehebohan hingga penjuru negeri. Bagaimana tidak, wartawan yang ikut meliput acara mewah itu, tidak ingin kehilangan kesempatan dengan berita yang di sampaikan Nyonya Wina. Mereka pasti sudah merekam kejadian tadi tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Apa kau sudah tidak waras? Kenapa mulutmu selalu berkata yang tidak-tidak? Tidak cukupkah kau hanya membuang uang dengan berbelanja dan mengadakan pesta remeh temeh saja?" cecarnya berapi-api. "Anak itu masih harus belajar banyak mengurus bisnis ketimbang membuang waktu dengan menikah. Kau tahu, berapa banyak bisnis yang akan dia emban di masa depan? Dia tidak boleh menikah secepat itu, terlebih dengan gadis yang asal usulnya tidak jelas!"


Nyonya Wina yang sedang bercermin untuk memastikan penampilan tetap cantik, menyimpan cerminnya kembali ke dalam tas mahalnya. Tas yang bertuliskan huruf H di tengah-tengahnya. Ia menoleh menatap Tuan Wijaya yang duduk di sampingnya dengan tatapan tajam.


"Sampai kapan kita akan merusak kebahagiaannya hanya karena bisnis dan bisnis. Apa kau lupa, sewaktu Arkan masih kecil hingga tumbuh remaja kita bahkan tidak punya waktu untuk sekedar bermain dengannya. Kita hanya sibuk mengurus semua bisnis yang baru kita rintis. Kita hanya memaksanya untuk mengerti tanpa kita bisa mengerti perasaannya yang membutuhkan kasih sayang kita." jawab Nyonya Wina dengan suara yang mulai bergetar. "Dia terus tumbuh menjadi pribadi yang dingin, sombong dan sesuka hati karena kita tidak pernah memberikan kehangatan keluarga padanya. Sampai kapan? Sampai kapan kita terus mengorbankan perasaannya? Setelah kekakuan dan sikap dinginnya selama ini, Arkan mulai bisa tersenyum. Senyuman tulus yang tidak pernah kita lihat semenjak dia tumbuh dewasa. Tidak, aku tidak akan lagi merusak kebahagiaan puteraku satu-satunya disaat dia sudah menemukan wanita pilihannya. Apapun status sosial dan asal usul Kian, itu bukan masalah. Toh kita sudah punya semuanya. Kecuali putera yang bisa tertawa bahagia hanya karena bersama seorang gadis." Nyonya Wina menghapus tetesan bening yang tanpa terasa mengalir di pipi tirusnya.


Tuan Wijaya tidak menjawab, pikirannya berputar mengulang kilasan masa lalunya. Tidak, ia sedang mengingat masa kecil puteranya yang dulu masih bisa tersenyum tulus dan polos setiap kali menyambutnya pulang kerja. Seiring waktu, senyuman itu memudar, bahkan tidak pernah ia dapatkan disaat Arkan kecil mulai tumbuh remaja. Sikapnya yang selalu jadi anak manis dan baik, berubah menjadi dingin dan tidak berperasaan. Ia selalu bersikap kasar dan membully teman-temannya di sekolah, hingga panggilan untuk orang tua selalu Tuan Wijaya dan Nyonya Wina terima. Itulah sebabnya Arkan mulai mendapatkan pelajaran di rumah daripada di sekolah alias Home School. Tapi ternyata tidak berhasil untuk merubah sikapnya. Arkan semakin menjadi-jadi, hingga hanya mengelola satu bisnis yang Tuan Wijaya serahkan padanya kacau tidak karuan. Terpaksa ia menghukum Arkan dengan mengirimnya ke luar negeri selama dua tahun. Kalau dipikir-pikir, semua itu karena Arkan tumbuh tanpa kasih sayang dan kehangatan keluarga.


"Baiklah, untuk kali ini aku akan menuruti kemauan tidak masuk akalmu. Tapi kalau sampai kinerja Arkan dalam mengurus perusahaan semakin buruk, aku tidak akan tinggal diam!" ancam Tuan Wijaya yang segera mendapat anggukan dan sorot mata berbinar dari istrinya.

__ADS_1


"Okay, aku setuju," sahut Nyonya Wina bersemangat.


__ADS_2