Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Menonton Film


__ADS_3

Meskipun hari sudah siang, tapi matahari masih memantulkan cahaya hangatnya. Cuaca yang tidak terlalu terik dan tidak terlalu mendung, sangat nyaman untuk menghabiskan waktu diluar ruangan. Tapi tidak untuk Kian, bagi dia kenyamanan itu ada disini. Bersama seseorang yang selalu datang diwaktu yang tepat.


Kian menatap tangannya yang masih digenggam Rendy. Di sana -di dalam dadanya- ia bisa merasakan jantungnya nyaris terlepas karena berdegup terlalu kencang. Dan begitu sampai di gedung Bioskop, Kian langsung menarik lengannya dari genggaman pria itu kalau tidak ingin terkena serangan jantung mendadak.


"Maaf." Rendy akhirnya tersadar sedari tadi dia menggenggam tangan Kian.


"Eh? Nggak apa-apa, Kak!" Giliran Kian yang merasa tidak enak melihat wajah bersalah Rendy.


"Tunggu disini ya!" pinta Rendy. Dia berjalan ke bagian pembelian tiket, memilih film dan tempat duduk yang sesuai lalu membayarnya. Setelah itu kembali ke tempat Kian berdiri sambil memegang dua Popcorn dan minuman ringan. Memberi masing-masing satu ke Kian.


"Ayo masuk. Filmnya hampir dimulai," ajak Rendy antusias.


"Iya Kak." Lalu berjalan mengikuti arah langkah Rendy.


Setelah Rendy menyerahkan tiket ke petugas yang berjaga, mereka dipersilahkan masuk. Udara dingin lebih menusuk kulit saat mereka memasuki ruang Bioskop. Rendy berjalan menunjukkan arah tempat duduk mereka pada Kian. Dan Gadis itu hanya mengikutinya dari belakang.


Karena hari ini adalah akhir pekan, banyak orang mulai berdatangan memenuhi ruang Bioskop. Terlebih film yang akan diputar, termasuk film yang paling banyak ditunggu para peminatnya. Dalam beberapa menit, seluruh tempat duduk sudah penuh para penonton.


Layar besar pun sudah mulai menampilkan gambar bergerak, mengeluarkan suara yang mendominasi hingga ke seluruh sudut ruangan. Para penonton hening, menikmati gambar yang tersaji dihadapannya. Begitupun Kian dan Rendy.


Kian lebih terlihat antusias dari sebelumnya, karena genre film yang diputar adalah termasuk dalam favoritnya. Matanya sama sekali tak beralih dari layar didepannya, meskipun saat mengambil Popcorn di lengan kursinya. Sedangkan Rendy hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya. Dia merasa lega saat melihat kondisi Kian baik-baik saja. Senyumnya juga masih sama seperti biasa, walaupun setelah kejadian kemarin.


Bukan Kian namanya kalau tidak melakukan kesalahan. Karena terlalu asyik menonton film didepannya, dia sampai tidak sadar telah mengambil gelas minuman yang salah.


Glek. Setelah meneguknya dia baru sadar bahwa minuman miliknya berada di sisi kanannya. Sedangkan yang ia minum saat ini adalah milik Rendy. Dia menggigit bibirnya kelu. Melirik kearah Rendy yang tersenyum melihatnya sambil menggelengkan kepala.


Dalam hati ia mengumpat kecerobohannya. Bisa-bisanya ia meminum dari bekas bibir Rendy. Benar-benar memalukan.


"Maaf Kak," ucapnya sambil menundukkan kepala. Memukul mulutnya pelan. Seolah memberi hukuman.


Rendy tergelak melihat tingkahnya. Meraih gelas minumannya yang sudah diletakkan Kian, lalu menaruhnya kembali ke tangan gadis itu.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa meminumnya sebanyak yang kamu mau. Tidak perlu malu," jawab Rendy tersenyum.

__ADS_1


Kian menggigit bibirnya menahan malu. "Terimakasih, Kak."


Rendy mengangguk pelan lalu kembali fokus menonton film. Ia tidak menyadari Kian yang masih menatapnya dengan tatapan memuja. Bahkan Kian merasa memandang orang di sampingnya lebih menarik ketimbang menonton film yang tengah diputar.


Setelah hampir dua jam, film akhirnya berakhir. Para penonton mulai beranjak meninggalkan ruangan Bioskop. Begitupun Kian dan Rendy.


"Ceritanya menarik, ya! Pemeran utama pria akhirnya bersatu dengan kekasihnya," ujar Rendy begitu mereka keluar.


"Heum? Eh iya, Kak!" jawab Kian gelagapan. Dia bahkan hanya memandang Rendy setengah dari film hingga selesai. Jadi mana dia tahu ending filmnya bagaimana. Ia tersenyum kikuk.


"Oh ya, Kak Rendy ke Mall mau cari sesuatu? Atau cuma jalan-jalan saja?" tanya Kian heran. Sebab saat pria itu keluar dari Supermarket tidak membawa satu barang pun.


"Heemm.. Aku mau cari kado buat adik sepupu. Tapi bingung mau kasih kado apa," tutur Rendy.


"Adik sepupu Kak Rendy cewek atau cowok?"


"Cewek. Tadinya aku berniat mau membelikannya kalung. Menurut kamu gimana?" tanya Rendy mencoba meminta saran dari Kian.


"Kalung juga bagus, Kak! Aku tahu tempat dimana Kak Rendy bisa membelinya. Ayo!" Kini gantian Kian yang menarik tangan Rendy tanpa gadis itu sadari. Sedangkan Rendy hanya tersenyum melihat tangannya yang dipegang oleh Kian. Entah kenapa pria itu merasa sangat senang.


"Maaf Kak Rendy. Aku pasti terlalu bersemangat menunjukkan toko ini ke Kakak," ucapnya mencari alasan.


"Tidak apa-apa. Aku juga senang." Rendy terkejut setelah sadar apa yang baru dia ucapkan.


"Apa?" tanya Kian merasa aneh dengan ucapan Rendy.


"Maksudnya Aku juga senang bisa menemukan kado untuk adik sepupuku," ucapnya mencari alasan.


"Ooh seperti itu!" Padahal Kian sudah berharap pria itu juga menaruh rasa untuknya. Tapi sepertinya ia terlalu percaya diri. Ia menghela napas.


"Ayo masuk," ajak Rendy.


"Iya, Kak."

__ADS_1


Rendy memilih-milih kalung yang cocok di jadikan kado untuk adik sepupunya. Dia terlihat bingung karena semua kalungnya bagus-bagus. Setelah pelayan yang berjaga memberikan informasi setiap kalung yang di tanya Rendy, baru lah pria itu sedikit mengerti.


"Yang ini bagus, Kak!" Kian menunjuk salah satu kalung yang diletakkan pelayan di atas kaca. "Walaupun design nya simple tapi kelihatan elegant, Kak!" jelasnya lagi.


Rendy terlihat berpikir. "Oke! Saya pilih yang ini saja, Mba!" ucap Rendy sambil menunjuk kalung yang disarankan oleh Kian.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar!" jawab si pramuniaga sambil membawa kalung yang dimaksud Rendy. Setelah beberapa menit pelayan itu kembali dengan kalung yang sudah dibungkus rapi.


"Pembayarannya sebelah sini," pramuniaga itu mengarahkan Rendy ke bagian pembayaran.


Setelah membayar sesuai harga kalung tersebut, Kian dan Rendy keluar dari toko perhiasan.


"Mau pulang sekarang?" tanya Rendy pada Kian.


Gadis itu melihat jam tangannya sebentar. Lalu mengangguk. "Iya Kak, sudah hampir sore."


"Kalau begitu kita ambil tas belanjaan kamu dulu ya." Menunjuk arah tempat penitipan barang.


"Iya, Kak."


Lalu mereka kembali menuju tempat penitipan barang dan mengambil tas belanjaan.


"Terimakasih sudah mentraktir nonton dan ini tadi." Kian mengangkat tas belanjaannya.


"Iya sama-sama," jawab Rendy ramah. Terimakasih juga sudah menemaniku mencari kado. Kamu mau pulang naik apa?" tanya Rendy


"Naik bajaj kak."


Rendy terlihat berpikir sebentar. "Kalo begitu pulang bareng aku sekalian. Soalnya aku juga sudah selesai."


Kian hanya menganggukkan kepala. Menerima ajakan Rendy. Kalau Kian menolak juga percuma, karena pria itu juga tidak akan menerima alasan Kian.


Rendy kembali menarik tas belanjaan Kian dan menentengnya. Kali ini gadis itu tidak protes, karena sudah tahu jawaban yang akan dia dapat. Lalu mereka menuju parkiran tempat motor Rendy berada. Rendy memakaikan helm di kepala Kian. Seperti yang dilakukan Doni pada Dina. Setelah mengaitkan helm Kian, pria itu menyalakan mesin motornya dan mereka berlalu meninggalkan area parkir.

__ADS_1


Benar-benar akhir pekan yang indah untuk mereka berdua.


__ADS_2