Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Secepat itukah?


__ADS_3

Para wartawan sepertinya menang banyak atas kejadian tadi malam. Saat Arkan menolong seorang gadis, hingga berita ia akan menikahinya, sudah mendominasi topik berita hari ini. Bahkan sejak malam, jejaring sosial sudah mengeluarkan banyak artikel dengan berbagai tajuk.


Pewaris Wijaya Group Akhirnya Memiliki Kekasih dan Akan Segera Menikah.


Wanita Malang Dalam Acara Ulang Tahun Pemilik Wijaya Group Adalah Kekasih Arkan Saguna Wijaya.


Siapa Sosok Kiandra Maharani Sebenarnya?


Kian yang sadar saat dirinya terbangun di pagi hari sudah berada di rumah Bibi Sumi, terkejut dengan keributan yang ada di depan rumah. Begitupun Paman dan Bibinya. Bahkan Paman sampai tidak bisa berangkat bekerja. Karena begitu membuka pintu, orang-orang itu sudah memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Akhirnya Paman dan Bibi Sumi memilih untuk menutup pintu sejak pagi.


Sementara di luar, puluhan wartawan sudah menunggu ingin bertemu dengan sosok Kiandra Maharani yang mendadak menjadi trending topic pagi ini. Mereka ingin menggali informasi mengenai wanita yang telah menaklukan hati dari seorang pewaris tunggal Wijaya Group. Tapi sejak pagi menunggu, sosok Kian tidak juga muncul. Mereka tidak akan menyerah hingga orang yang mereka tunggu menampakkan batang hidungnya.


"Ada apa ribut-ribut di luar, Bibi?" tanya Kian setelah mengumpulkan kesadarannya dan keluar dari kamar menemui Bibi dan Pamannya yang terlihat panik.


"Para wartawan ingin bertemu denganmu, Kian. Mereka penasaran sama kamu, katanya kamu mau menikah sama Nak Arkan, apa betul?" Sekarang malah Bibi yang balik bertanya padanya. Paman ikut memasang ekspresi wajah penasarannya, menunggu jawaban dari Kian.


Kian meneguk liurnya. Bagaimana caranya menjelaskan pada Paman dan Bibinya saat dia sendiri masih belum bisa mencerna kejadian sebenarnya.


"BUBAR SEKARANG!!" Terdengar teriakan khas suara pria di depan rumah. Mendengar suara itu, Kian mengenal siapa pemiliknya. Ia memilih mengintip dari balik jendela.


"KALIAN TIDAK DENGAR?? ATAU AKU HARUS MENGHANCURKAN PERUSAHAAN TEMPAT KALIAN BEKERJA BARU KALIAN PERGI DARI SINI??" Mendengar ancaman itu, satu persatu wartawan pergi meninggalkan rumah Bibi Sumi.


Dari tempat Kian berdiri, ia bisa melihat wajah Arkan di luar begitu emosi. Pria itu bahkan tidak segan-segan membanting kamera seorang wartawan yang mencoba mengambil gambarnya disana. Setelah memastikan semua wartawan pergi, Arkan melangkah masuk ke halaman rumah. Kian yang masih berada di balik jendela langsung membukakan pintu untuk pria itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Arkan begitu melihat Kian membuka pintu. Amarah yang tadi semnpat Kian lihat di wajahnya, sekarang berubah menjadi ekspresi kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja." Kian mengangguk pelan sambil terkesiap menatap pria di depannya.


"Kita harus pergi menemui Ibu sekarang! Sebelum Ibu mengatakan yang tidak-tidak lagi saat wartawan menemuinya." Arkan menarik tangan Kian, namun gadis itu menahannya.


"Kenapa?" tanya Arkan heran melihat Kian yang diam di tempat. Gadis itu lalu melirik Paman dan Bibinya yang sedari tadi berada di ruang tamu. Karena panik, mungkin Arkan melupakan sesuatu.


"Ah iya maaf, aku lupa." Arkan menghampiri Paman dan Bibi Sumi. "Maaf Paman, Bibi, saya ijin membawa Kian sebentar. Ada sesuatu yang harus segera kami urus," ujarnya.


"Baiklah. Jaga Kian baik-baik," tukas Paman.

__ADS_1


"Berhati-hatilah di jalan," sambung Bibi Sumi.


Arkan segera mengangguk lalu mencium tangan Paman dan Bibi, membuat kedua orang itu terkejut, begitu pun Kian. Ia tidak menyangka Arkan akan melakukannya. Padahal niatnya hanya untuk menyuruh pria itu meminta ijin saja, tapi ia malah mencium tangan Paman dan Bibinya.


Dia semakin banyak berubah.


Setelah mendapat ijin, Arkan dan Kian pergi menuju rumah utama. Dimana Nyonya Wina dan Tuan Wijaya berada.


***


Begitu mobil yang membawa Kian dan Arkan memasuki komplek perumahan, Kian berdecak kagum melihat bangunan-bangunan berjejer, yang lebih cocok disebut istana ketimbang rumah. Semua bangunan tersebut sangat mewah dan berkelas. Menunjukkan pemiliknya bukanlah dari kalangan biasa. Kian berani bertaruh kalau pemilik rumah di komplek ini pastilah seorang pengusaha atau pejabat.


"Bisnis apa yang mereka jalankan hingga bisa membangun rumah seperti ini?" Tanpa sadar, mulutnya menggumam.


"Perumahan ini khusus di bangun untuk para direktur yang masih mengabdikan hidupnya di bisnis ayahku. Setelah mereka mengundurkan diri atau dipecat, mereka harus meninggalkan rumah. Dan rumah tersebut akan segera dihuni dengan direktur yang baru. Bagaimana pun tidak akan ada yang rela melepaskan semua fasilitas mewah yang mereka dapat selama bekerja dengan ayahku. Begitulah caranya untuk menjaga orang-orang kepercayaan ayahku untuk tetap berada disisinya," ujar Arkan yang membuat Kian menganga tidak percaya.


Aku penasaran, sekaya apa sih keluarga Wijaya Group?


Belum selesai Kian mengagumi rumah-rumah mewah tersebut, Sam sudah menghentikan mobilnya di depan gerbang yang paling besar diantara rumah-rumah lainnya. Gerbang setinggi 2 meter itu tertutup rapat, namun tidak berapa lama kemudian terbuka secara otomatis. Barulah terlihat bangunan besar dengan dua tiang penyangga berwarna emas yang begitu kokoh dari kejauhan. Dari gerbang tersebut masih ada jarak sekitar beberapa ratus meter lagi untuk sampai di depan sebuah rumah. Sepanjang sisi jalan di penuhi taman-taman dengan rumput hijau yang mendominasi. Sungguh indah dan menenangkan.


Mobil akhirnya sudah berada di depan pintu rumah. Ternyata, warna emas yang Kian lihat dari kejauhan tadi bukanlah sekedar warna, melainkan lapisan emas sungguhan. Gila! Kian membasahi kerongkongan yang terasa kering dengan meneguk liurnya karena terus menganga sejak tadi. Sebuah bangunan megah dengan warna yang senada dengan tiang penyangganya, menambah kesan mewah dan glamour dari pemiliknya.


"I-iya," jawab Kian gugup. Arkan mengajaknya masuk ke dalam rumah yang terlihat beberapa penjaga sedang berdiri tegap di teras. Mereka mengangguk hormat ketika melihat Arkan datang. Seorang penjaga bergegas membukakan pintu untuknya.


Arkan terus menggandeng tangan Kian hingga mereka berada di sebuah ruangan yang cukup luas dengan sofa yang berjejer rapi dari berbagai model. Di salah satu sofa tersebut, Nyonya Wina dan Tuan Wijaya sedang duduk santai seperti tahu akan kedatangan anaknya.


Tanpa di suruh, Arkan langsung duduk berhadapan dengan mereka. Tidak lupa, ia juga menarik Kian untuk duduk di sebelahnya. Sekilas, Nyonya Wina tersenyum melihat kedua orang itu.


"Ibu, apa maksud ucapan Ibu semalam?" tanya Arkan langsung memulai pembicaraan.


"Kau tidak mengerti? Bukankah kau dan Kian berpacaran? Daripada cuma berpacaran, kenapa tidak langsung menikah saja? Lebih cepat kan lebih baik!" jawab Ibu sekenanya.


Aku memang ingin segera menikahinya. Tapi tidak secepat ini juga, Bu. Aku harus menyakinkan perasaan Kian dulu sebelum menuju pernikahan.


"Tapi Bu..."

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau tidak segera menikah dengan Kian. Maka terpaksa ibu akan menjodohkanmu dengan Delia!"


Kian yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu mulai terkejut sekaligus menunjukkan ekspresi tidak sukanya.


"Apa?!" Arkan tak kalah terkejutnya. Ia tidak ingin menikah dengan Delia. Tidak akan pernah!


Mendengar nama Delia disebut, Tuan Wijaya sedikit tersenyum tipis. Ia lebih setuju jika Arkan menikah dengan Delia, karena wanita itu memiliki status sosial yang sama dengan keluarganya. Dan tentu saja hubungan pernikahan akan menambah ranah bisnis mereka.


"Tidak, Bu," tolak Arkan tegas. "Baiklah, aku akan segera menikah dengan Kian jika itu mau ibu!"


Mendengar ucapan Arkan, Kian merasa ada sesuatu yang menggelitik tenggorokannya hingga membuatnya tersedak meski tidak memakan apapun.


"Apa yang sedang kau bicarakan?" bisiknya pelan.


"Aku akan menjelaskannya nanti!" sahutnya pelan.


"Baiklah, kalau begitu kalian akan menikah dalam dua pekan!" ujar Nyonya Wina santai. Tuan Wijaya ingin membuka suaranya, namun Nyonya Wina langsung memberinya isyarat untuk menutup mulut. Tuan Besar yang terlihat dingin dan sangar , tanpa disangka-sangka malah menurut isyarat dari istrinya itu.


"APA?!" Arkan dan Kian teriak bersamaan.


"Kenapa? Terlalu lama? Bagaimana kalau satu pekan?" tawar Nyonya Wina lagi.


"Ibu, waktu dua pekan saja sudah sangat mendadak. Bagaimana mungkin kami menyiapkan pernikahan dalam waktu sepekan. Ibu jangan bercanda!" tukas Arkan.


"Bukan kalian, tapi Ibu. Kalian cukup mempersiapkan diri kalian saja. Biar Ibu yang akan mengurusnya!" Nyonya Wina melipat kedua tangan di depan dadanya dengan santainya. Berbeda dengan Arkan dan Kian yang semakin panik melihat Nyonya Wina semakin bersemangat. Sedangkan Tuan Wijaya malah fokus membaca koran di tangannya. Ia sama sekali tidak berniat campur tangan setelah mendapat peringatan dari istrinya.


"Bu, memangnya menikah hanya dari satu keluarga saja? Bagaimana dengan keluarga Kian? Orang tuanya pasti terkejut kalau kami menikah mendadak." Kian mengangguk cepat merespon ucapan Arkan. Setidaknya mereka harus menunda pernikahan tidak masuk akal yang dimaksud Nyonya Wina.


"Ajak semua keluarga Kian ke Ibukota agar kita bisa melakukan pertemuan dua keluarga. Mudah, kan?"


Setelah melakukan debat panjang, sepertinya Nyonya Wina lah yang menjadi pemenangnya. Sebanyak apapun Arkan memberi alasan, maka sebanyak itu pula Nyonya Wina bersikeras dan memaksa dua sejoli itu untuk segera menikah.


**Penasaran bagaimana kelanjutannya???


Jangan lupa favorit ya, biar tahu ada update terbaruπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Maaf kalo akhir-akhir ini lama up ya.. Soalnya ide cerita suka ilang dan mendadak ga mood..


Tapi author akan tetap lanjutin cerita ini sampai tamat kokπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ€— terimakasih udah selalu setia mendukung.. I love you allπŸ’•πŸ’•**


__ADS_2