
Hari sudah sore, hembusan angin terasa lebih kencang menerpa. Tapi pemandangan didepan mata masih enggan untuk dialihkan.
Kian masih duduk di kursi dibawah tenda kecil, melihat pria yang sedang berbaring dari jarak beberapa meter. Sudah hampir satu jam pria itu tertidur di atas kursi tidur. Melihat pria itu tertidur rasanya sepeti sedang melihat seekor singa jantan yang tidur. Sangat tenang. Namun begitu membuka mata, siap menerkam apa saja yang ada di depannya.
Kalau kata orang pria itu tampan, ya Kian memang setuju. Garis wajahnya memang menampilkan itu. Tapi kalau katanya setiap wanita tergila-gila padanya, jelas Kian tidak menyetujuinya. Mungkin banyak wanita yang terpikat pesonanya dan ingin berdekatan dengannya. Tapi Kian, dia justru benar-benar ingin pergi dari pria itu. Menjauh, sejauh mungkin. Agar sesak nafas yang dideritanya saat bersama pria itu segera sirna. Dia bukanlah tipe pria idaman Kian, sikapnya yang kejam dan seenaknya membuat gadis itu hanya ketakutan di dekatnya.
Berbeda dengan Rendy, dia pria yang penuh kehangatan dan perhatian. Kian selalu nyaman saat bersamanya. Bahkan dia selalu ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan pria hangat itu. Hanya saja dia tahu diri hubungan apa yang ada diantara mereka. Membuat Kian menahan perasaannya.
"Sampai kapan dia akan tidur seperti itu? Dan kenapa Pak Dan belum datang juga untuk mengantarku kembali ke penginapan?" gumamnya pelan.
Hari sudah mulai gelap, matahari pun sudah kembali ke peraduannya. Menyisakan langit yang sedikit kemerahan, yang nyaris menghilang diselimuti malam.
Kian melihat tubuh Arkan menggeliat, dia mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Tuan, apa Pak Dan tidak akan datang?" tanya Kian ragu. Beberapa detik pria itu diam tidak ada jawaban.
"Tidak tahu!" jawabnya dengan gumaman.
Kian ingin bertanya lagi, tapi dia urungkan setelah mendengar yang dikatakan pria itu.
"Kalau kau bertanya lagi, habislah kau!" ancamnya masih dengan memejamkan mata.
Akhirnya Kian hanya mengunci mulutnya rapat. Sebelum pria itu bangun dan mengaum seperti singa.
Sebenarnya kalimat yang ingin dikatakan Kian hanyalah dia ingin menumpang kamar mandi pria itu. Karena Kian merasa tubuhnya mulai lengket, bahkan dia tidak sempat membersihkan dirinya sewaktu Pak Dan datang menjemputnya tadi.
"Apa aku pakai saja ya kamar mandinya? Toh dia masih tertidur!" gumamnya pelan.
Lalu Kian berjalan memasuki rumah, meninggalkan Arkan yang masih tertidur di balkon. Gadis itu menuju kamar mandi yang ada di lantai dua.
__ADS_1
Begitu memasukinya Kian dibuat takjub dengan fasilitas yang tersedia. Ada bath up yang baru kali ini dia lihat secara langsung. Dia mengangkat kakinya dan duduk didalamnya masih dengan pakaian yang lengkap. Dia berbaring sambil membayangkan dirinya berendam didalam bath up. Tangannya bergerak seolah mengusap seluruh tubuhnya. Seperti orang yang tengah mandi sungguhan. Dan tanpa sadar tangannya menyentuh kran air yang ada disisi bath up, seketika kran itu mengeluarkan air dan membasahi pakaiannya. Kian tergelak melihat kekonyolannya sendiri. Dia merasa dirinya benar-benar kampungan.
Setelah selesai melepaskan pakaiannya yang basah, Kian kembali masuk ke dalam bath up. Dia merasakan sensasi berendam air hangat sungguhan yang merilekskan tubuh dan pikirannya.
Enaknya jadi orang kaya bisa menikmati ini setiap hari!
Cukup lama dia berada di kamar mandi. Menikmati kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Akhirnya setelah merasa puas berendam, dia beranjak dari bath up. Membilas dirinya sebentar lalu mengambil handuk putih yang sudah disediakan.
Matilah aku! Aku tidak membawa pakaian pengganti. Bagaimana ini?
Kian baru menyadari satu-satunya pakaian yang dia bawa adalah yang terlanjur basah tadi. Sekarang dia panik memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pakaiannya.
Kian cukup lama berpikir, lalu mendapatkan ide untuk meminta tolong Rendy atau Dina mengantarkan pakaian untuknya. Dia berharap tuan muda itu masih tertidur pulas di tempatnya. Sehingga dia bisa mengambil ponsel yang dia letakkan diatas meja di balkon. Kian melilitkan handuk ke tubuhnya dan berencana keluar dengan cara mengendap-endap. Namun baru saja dia membuka pintu, dia dibuat terkejut setengah mati oleh seseorang. Orang itu pun tidak kalah terkejutnya dengan Kian. Dan orang itu adalah Arkan. Sepertinya dia baru terbangun dari tidurnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya gugup. Dia memalingkan wajahnya dari tubuh Kian yang hanya dililit handuk.
"Kenapa kau memakai lilitan handuk seperti itu? Bukankah di kamar mandi ada handuk Kimono yang bisa kau kenakan lebih dulu?" Sekarang wajah Arkan pun nyaris memerah.
Benarkah??
Kian langsung berbalik ke kamar mandi, mencari handuk yang dimaksud Arkan. Benar saja handuk itu memang ada disana. Bagaimana bisa dia tidak melihatnya. Kian lagi-lagi merutuki kebodohannya.
Arkan berdiri di samping sofa, menunggu Kian keluar dari kamar mandi. Mendengar handle pintu yang diputar membuat pria itu mulai gugup. Saat gadis itu keluar, matanya menatap Kian yang berdiri di depan pintu mengenakan handuk kimono, gadis itu sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya. Mengusap-usap rambutnya bergantian. Melihat pemandangan itu Arkan merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Dia menepuk-nepuk dadanya, membuat Kian kaget. Sedari tadi Kian tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Apa tuan sakit?" tanya Kian mendekat.
"Omong kosong apa itu? Cepat kenakan ini dan ikut aku!" Arkan menunjuk pakaian diatas sofa dengan matanya.
"Baik tuan". Kian langsung meraihnya tanpa memperhatikan apa yang dia bawa.
__ADS_1
Arkan langsung berjalan menuruni anak tangga, menunggu Kian dibawah. Sedangkan gadis itu kembali ke kamar mandi, mengenakan pakaian pemberian Arkan.
Kian menatap dirinya dalam cermin. Dia memajukan bibirnya. Kian benar-benar tidak percaya akan memakai pakaian seperti itu. Kemeja hitam berlengan panjang dan celana boxer berwarna merah sudah menempel di tubuhnya. Dia terlihat seperti orang aneh dengan pakaian itu. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin juga memakai handuk kimono sepanjang malam, kan.
Kian menuruni tangga sambil menundukkan kepala. Malu. Apalagi saat dia mendengar kekehan kecil dari Arkan. Rasanya dia ingin menutup wajahnya dengan kantong plastik.
Haaha lihatlah gadis bodoh itu! Walaupun kemeja itu kebesaran, tapi masih cocok untuknya. Dan celana boxer itu?? Aaaaahh aku sudah gila menyuruhnya memakai itu. Tapi hanya itu ukuran celana yang bisa dipakainya.
"Pakai itu!" Arkan melemparkan jaket hoodie ke arah Kian. Lalu membuka pintu dan berjalan keluar.
Kian bergegas memakainya dan berlari menyusul langkah kaki Arkan. Mereka berjalan keluar dari lobi bersamaan. Di halaman parkir sudah ada supir yang menunggu mereka. Begitu Arkan mendekat ke mobil, supir tersebut membukakan pintu untuk Arkan.
"Masuk!" Arkan menyuruh Kian masuk terlebih dulu. Lalu dia menyusul dan duduk disebelah gadis itu.
Supir menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas memasuki jalan raya. Menyusuri jalanan yang tertutup kabut tipis. Udara semakin terasa dingin di malam hari.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Kian membuka tasnya lalu mengambil ponsel, karena merasa suara itu berasal dari ponsel miliknya. Ternyata sebuah pesan singkat dari Rendy.
"Apa kamu baik-baik saja? Kata Dina kamu pergi bersama Pak Dan, apa ada masalah lagi?"
Ah iya, dia lupa mengabari pria itu untuk tidak mencarinya. Selain Dina, Rendy termasuk orang yang akan mencarinya saat Kian tidak ada.
"Aku baik-baik saja, Kak. Tidak ada masalah sama sekali. Jadi jangan mengkhawatirkan ku. Aku akan kembali ke penginapan nanti atau mungkin besok. Jadi Kak Rendy tidak perlu mencemaskan ku."
Kian menarik nafas pelan, dia senang ada seseorang yang selalu mengkhawatirkan keadaannya. Walaupun hubungan mereka bukan sepasang kekasih, tapi Kian merasa sangat cukup hanya dengan mendapatkan perhatian dari pria itu. Dia menahan diri untuk tidak berharap lebih.
Tanpa dia sadari seseorang disebelahnya sedang menyorot tajam ponsel yang digenggamnya. Sorotan seperti ingin menghancurkan ponsel itu berkeping-keping.
Sial! Siapa yang sudah mengirimnya pesan hingga dia tersenyum seperti itu?
__ADS_1