
Cepat lepaskan aku!" teriak Reino. Wajahnya masih penuh memar dengan darah yang sudah mengering di pakaiannya.
"Apa kau pikir aku bodoh? Takkan semudah itu!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Siapa orang yang sudah melepaskanmu?"
"Aku tidak bisa memberitahumu!"
"Oh seperti itu? Baiklah." Arkan menepuk tangannya. Dan seorang penjaga muncul dengan membawa seekor anjing Pitbull. Anjing tersebut terus menggonggong menatap Reino.
"Masukkan dia ke dalam!" Arkan menunjuk Pitbull hitam yang dibawa penjaga untuk dimasukkan bersama Reino. Reino sendiri langsung meneguk liurnya melihat anjing paling ganas itu akan dikurung bersamanya.
"Apa kau tidak waras? Dia akan mengoyak seluruh tubuhku!"
"Itu urusanmu! Cepat masukkan!" sang penjaga langsung berjalan mendekati kurungan. Sementara anjing yang bersamanya sudah bersiap ingin menyerang Reino. Baru saja membukakan pintu, Reino berteriak.
"Baiklah! Aku akan memberitahumu!" sambar Reino cepat. Arkan langsung memberikan isyarat kepada penjaga untuk pergi.
"Delia. Dia yang sudah membebaskanku! Dengan syarat aku harus membantunya mencelakai kalian!"
"Sial! Sudah ku duga! Apa yang dia rencanakan?"
"Dia ingin membuat perusahaanmu bangkrut! Dengan begitu Tuan Wijaya tidak akan merestui pernikahanmu. Dan memintamu meninggalkan Kian."
"Dasar wanita licik!" Arkan beranjak hendak meninggalkan ruangan itu.
"Aku sudah memberitahumu. Sekarang lepaskan aku!" teriak Reino lagi.
"Apa aku mengatakan akan melepaskanmu setelah memberitahuku?" sahut Arkan sambil tersenyum. Lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Nyonya Wijaya mengajak Kian untuk melihat kamar sewaktu Arkan kecil. Tidak ada yang berubah, masih sama persis seperti dulu. Banyak koleksi mainan dan buku yang masih tertata rapi di sana.
Kian terkekeh mendapati foto Arkan semasa kanak-kanak yang begitu imut dan menggemaskan. Namun pria itu memang sudah terlihat tampan sejak dulu kala.
"Siapa gadis kecil ini?" tanya Kian pada Nyonya Wijaya. Seorang gadis kecil yang tengah bermain di taman bersama Arkan.
"Oh, dia Ana. Sahabat Arkan waktu kecil. Sayangnya mereka berteman hanya selama 2 tahun. Setelah itu Ana pindah keluar negeri bersama kedua orang tuanya."
"Apa dia masih berada di luar negeri?"
"Ibu dengar sih dia sudah kembali ke Indonesia."
"Ternyata kamu disini," ujar Arkan yang baru muncul dari balik pintu.
"Hmm. Ibu mengajakku melihat-lihat kamarmu dulu."
__ADS_1
"Lihat Kian, ini album foto sewaktu Arkan kecil!" Ibu membawa sebuah album foto yang lumayan besar.
"Boleh Kian bawa pulang, Bu? Kian mau melihatnya di rumah."
"Tentu saja."
"Kalau begitu ayo kita pulang," ajak Arkan.
"Hmm."
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Arkan, mereka berdua meninggalkan rumah besar itu. Kian sendiri langsung terlelap begitu masuk ke dalam mobil. Arkan menyandarkan kepala Kian tepat di bahunya.
"Tolong perketat penjagaan untuk Kian. Kalau perlu cari orang untuk berjaga di depan apartemen!" perintah Arkan pada Sam.
"Baik, Tuan."
Ucapan Reino mengenai rencana Delia tidak bisa ia abaikan begitu saja. Wanita itu sangat licik. Ia akan menggunakan segala cara untuk mengusik mereka, terutama Kian. Sampai kapanpun Arkan tidak akan membiarkan sesuatu terjadi lagi pada istrinya. Kali ini Arkan harus benar-benar waspada.
Saat mereka tiba, Arkan sengaja tidak membangunkan Kian. Ia memilih menggendong istrinya hingga ke apartemen.
"Apa kebiasaan mengigaunya sudah sembuh? Sudah lama aku tidak mendengarnya," gumam Arkan sendiri.
Arkan merebahkan tubuh Kian perlahan ke ranjang. Lalu melepas sepatunya. Ia juga menyelimuti tubuh istrinya itu dengan selimut. Setelahnya ia membersihkan diri.
***
"Sebentar lagi, Sayang." Arkan menelusupkan wajahnya ke dada Kian. Sementara tangannya melingkari pinggang dan memeluk Kian erat.
Kian hanya mengusap rambut Arkan dalam pelukannya. Membiarkan pria itu menikmati tidurnya sebentar lagi. Karena hari ini adalah jadwal Kian untuk kontrol kehamilannya.
Namun tiba-tiba Arkan terduduk dengan wajah terkejut sekaligus panik. "Sayang, kenapa perutmu bergerak-gerak? Apa anak kita akan segera lahir?" tanyanya kebingungan. Ia langsung mengambil posisi menggendong Kian.
"Sayang, turunkan aku!" teriak Kian. "Anak kita belum mau lahir," sambung Kian cepat.
Arkan menurunkan Kian kembali ke atas ranjang. "Tapi kenapa perutmu terus bergerak-gerak?" Wajah Arkan yang polos benar-benar membuat Kian gemas. Bahkan ia menarik pipi suaminya ke kanan dan ke kiri sangking gemasnya.
"Hey, apa yang kamu lakukan?" tanya Arkan kesal.
"Abis kamu lucu banget sih. Perut aku gerak-gerak itu wajar sayang. Itu artinya calon anak kita sehat dan aktif," terang Kian.
Arkan hanya manggut-manggut. "Apa rasanya tidak sakit?"
Kian menggeleng. "Tidak. Dia sangat aktif hingga terus menendangku."
"APA?! Menendangmu?" Arkan langsung membungkukkan badannya. "Hey, kenapa kamu menendang ibumu? Awas saja kalau kamu sampai membuat ibumu kesakitan. Aku akan mencubit pipimu!" gumam Arkan di depan perut Kian.
"Aduh Sayang!" rintih Kian.
__ADS_1
"Kenapa Sayang?" Arkan langsung panik.
"Sepertinya anak kita kesal karena kamu memarahinya," sahut Kian sambil tertawa.
Arkan menyusul Kian memasuki kamar mandi. Ia pun membalas kejahilan Kian dengan membuatnya terus mendesah sepanjang membersihkan diri.
"Sayang, hentikan! Aku sudah tidak tahan!" Hingga akhirnya Arkan memasukinya dan mereka pun mencapai puncaknya bersama.
Arkan menggendong Kian menuju ruang ganti. Mereka segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menemui dokter yang biasa menangani Kian. Hari ini Kian akan di USG untuk mengetahui perkembangan janin dan jenis kelamin calon anak mereka.
"Selamat Nona, jenis kelamin anak Anda sepertinya perempuan. Perkembangan dan kesehatannya juga cukup baik," terang dokter menjelaskan.
"Syukurlah," ucap Kian dan Arkan bersamaan.
Mengetahui jenis kelamin anaknya perempuan, Kian sudah tidak sabar ingin segera membeli perlengkapan bayi yang beberapa waktu lalu ia lihat. Ia segera mengajak Arkan pergi ke Mall tersebut.
"Kura-kura!!!"
Baru saja mereka keluar dari rumah sakit. Terdengar suara seorang wanita menyebut nama kura-kura. Anehnya Arkan tersenyum mendengar sebutan itu.
"Hey, siapa yang kau maksud dengan kura-kura?" tanya Arkan dengan senyum miringnya.
"Sudahlah jangan pura-pura tidak mengenalku! Hanya aku yang memanggilmu dengan sebutan itu!" jawab wanita itu lugas.
Kian hanya mengerutkan kening melihat kelakuan kedua orang di depannya. Sepertinya mereka sudah cukup akrab. Jika dilihat dari wajahnya, sepertinya tidak asing. Kian merasa pernah melihat wanita itu sebelumnya.
"Kenalkan, dia Ana."
Ah benar. Kian melihat wanita itu lewat foto di kamar Arkan. Meskipun sekarang sudah dewasa, namun jika diperhatikan lebih teliti masih sedikit mirip.
"Kamu pasti Kian, kan? Wanita fenomenal yang berhasil merebut hati Arkan Saguna," ucap Ana ramah sambil mengulurkan tangannya.
Kian membalas jabat tangan Ana sambil tersenyum ramah. Meski dalam dadanya ada yang bergejolak.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Arkan.
"Mulai hari ini aku bekerja di rumah sakit ini! Kalian sendiri ada apa kesini?" Mata Ana langsung tertuju pada perut Kian yang sedikit membuncit. "Hmm, tidak ku sangka akhirnya kau bisa membuatnya!" kelakar Ana mengejek Arkan.
"Sialan. Tentu saja aku bisa! Dan kau si keras kepala, akhirnya bisa menggapai impianmu menjadi dokter. Kau pasti bertengkar hebat dengan Ayahmu!"
"Yaah seperti itulah."
"Ekhem," Kian berdehem. Sejak tadi ia hanya seperti obat nyamuk diantara kedua orang itu.
Arkan melirik wajah Kian yang menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Ia pun lanhsung berniat berpamitan pada Ana. "Ana, aku pergi dulu."
__ADS_1
"Hmm. Baiklah."