Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Seperti Hantu


__ADS_3

Kian sudah melakukan check in dan boarding pass 15 menit yang lalu. Sambil menunggu pesawat take off, Kian ingin memejamkan mata sejenak. Semalaman ia tidak bisa tidur menantikan hal ini. Rasanya sedikit gugup. Ia tak sabar ingin segera bertemu keluarganya.


Lima menit menjelang take off, seorang petugas memberikan instruksi keselamatan dan menjelaskan fasilitas yang akan digunakan saat kondisi darurat.


Beberapa pramugari berdiri di antara penumpang, memperagakan semua instruksi tersebut.


Setelah selesai memberi instruksi tersebut, semua penumpang diwajibkan memasang sabuk pengaman. Karena pesawat akan lepas landas. Suara gemuruh mesin memenuhi gendang telinga. Kian memegang sandaran kursi dengan kuat. Jantungnya berdegup saat pesawat mulai jalan. Tubuhnya seperti terdorong ke belakang saat laju pesawat dengan cepat menembus udara. Setelah beberapa menit, pesawat sudah mengapung di udara. Kian melepas genggamannya saat laju pesawat mulai stabil.


Ini kedua kalinya Kian menaiki benda terbang itu. Tapi tetap saja degup jantungnya masih sama persis, bahkan lebih terasa kali ini. Mungkin karena kali ini ia naik pesawat sendiri. Tidak seperti dulu, pertama kalinya ia menaiki benda itu bersama Paman dan Bibi.


Untuk menghemat ongkos, Kian memilih kelas ekonomi. Di kelas ini, para penumpang mendapatkan pelayanan dan fasilitas standar. Tidak dapat snack atau makanan tambahan. Berbeda dengan kelas bisnis. Di sana, pelayanan dan fasilitasnya lebih diutamakan. Bahkan mereka mendapatkan snack atau makanan lezat secara cuma-cuma. Ya karena itu sesuai dengan kocek yang mereka keluarkan. Bisa 5 kali lipat dari harga kelas bisnis. Kian tidak akan membuang uang hanya untuk hal seperti itu. Biarpun kelas ekonomi, asal dia bisa pulang dengan selamat, itu yang terpenting.


Perut Kian mulai terasa keroncongan, dia belum sempat sarapan shubuh tadi. Kian ingin memejamkan matanya lagi saja. Mengusir lapar dan rasa kantuknya. Namun, tiba-tiba seorang pramugari menghampirinya. Pramugari itu membawa sebuah nampan dan meletakkannya di hadapan Kian. Gadis itu terkejut melihat nampan didepannya berisi makanan-makanan lezat. Dia pikir, pramugari itu pasti salah meletakkannya.


"Selamat menikmati makanan anda, Nona." Pramugari itu tersenyum ramah padanya.


"Maaf, saya tidak memesannya. Mungkin anda salah orang." Kian menyodorkan kembali nampan itu.


Pramugari itu masih tersenyum. "Bukankah anda Nona Kiandra Maharani?"


Glek. Kian menelan ludah. Bagaimana dia bisa tahu. "Benar saya Kiandra Maharani. Tapi saya merasa tidak memesan ini," tanya Kian bingung.


"Itu karena Nona adalah salah satu penumpang yang beruntung. Kami sudah memilihnya secara acak. Dan nama anda lah yang muncul. Nona akan mendapatkan pelayanan seperti kelas bisnis."


"Benarkah?"


"Iya Nona. Anda bisa menikmatinya sekarang. Kami siap melayani anda kapanpun dibutuhkan," tutur pramugari itu.


Kian tersenyum senang. Tidak menyangka akan mendapatkan keberuntungan. Sedangkan para penumpang lain merasa iri padanya. Kenapa bukan nama mereka yang muncul saat pemilihan. Sedari tadi mereka hanya menguping pembicaraan Kian dan pramugari itu.


Tak ingin membuang kesempatan, Kian langsung mempercayai ucapan pramugari itu. Dia melahap makanan itu sampai ludes. Melihat makanan itu habis dalam sekejap, seorang pramugari datang lagi sambil membawa minuman segar dan cemilan untuk Kian. Gadis itu bertambah girang. Wah, ini toh yang namanya keberuntungan, batin Kian. Senyum sumringah terus terukir di wajahnya.


Kian sudah tidak sanggup lagi. Ia merasa perutnya nyaris meledakkan makanan yang sedari tadi ia makan. Para pramugari itu masih saja mengantarkan makanan untuknya. Dengan berat hati, terpaksa ia menolak makanan yang baru saja diantar seorang pramugari.


Apa-apaan ini. Apa mereka pikir perutku terbuat dari karet. Terus-terusan memberiku makanan. Ahh perutku rasanya mau meledakkk!


Untunglah penerbangan Kian tidak membutuhkan waktu lama. Dalam dua jam pesawat yang Kian naikin sudah mendarat di bandara X. Akhirnya setelah dua tahun, Kian bisa menghirup udara di kota ini lagi. Bahagia dan haru melebur menjadi satu.

__ADS_1


Kian berjalan keluar dari bandara untuk mencari taksi. Ia sengaja mencari taksi di luar bandara karena tarifnya jauh lebih murah. Sambil menggendong tas punggung, Kian juga membawa tentengan kardus ditangannya. Isinya beberapa makanan oleh-oleh untuk keluarganya. Ia merasa kecewa tidak bisa membelikan hadiah untuk mereka. Jadi, sebagai gantinya, Kian membawa makanan ringan khas ibukota.


Sudah hampir 15 menit Kian menunggu ditepi jalan, namun belum juga ada taksi yang lewat di depannya. Hanya kendaraan lain yang berlalu lalang sejak tadi. Namun, tiba-tiba.


"Tiiinnnnnnn." Terdengar suara klakson mobil memekakkan telinga. Terlihat sebuah mobil sport Merci berwarna hitam mendekat ke arah Kian.


Bulu kuduk Kian merinding. Ia merasa ada sesuatu yang akan menimpanya. Kian ingin berjalan menjauh dari mobil itu, namun suara teriakan terdengar saat pintu mobil terbuka.


"HEYY!!! Mau lari kemana kau?"


Tunggu. Kian merasa seperti mengenal suara itu. Dia masih mematung di tempatnya. Belum berani berbalik. Matanya berkedip-kedip sambil kepalanya menggeleng tidak percaya.


Tidak,Tidak mungkin! Tidak mungkin orang itu ada disini. Aku mungkin sedang berhalusinasi**.


"Apa kau tuli?" Seorang pria sudah berdiri dihadapan Kian.


Kian mendongak. Lalu refleks mendorong tubuhnya mundur beberapa langkah. Mengedipkan matanya berkali-kali. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bayangan itu tidak juga menghilang. Kali ini Kian menepuk pipinya dan mencubitnya. Sakit. Orang didepannya juga tidak menghilang.


"Hei gadis bodoh, apa yang kau lakukan? Apa kau pikir ini mimpi?"


"Cletakkk." Sebuah sentilan mendarat di kening Kian.


Ini nyata!


"Apa yang kau lakukan disini?" Kian berbicara tidak seformal biasanya. Karena ia pikir pria didepannya bukan siapa-siapanya lagi. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu Arkan muncul di hadapannya. Seperti hantu!.


"Wahh kau sudah mulai kurang ajar ya?" cibir pria itu.


Meskipun Kian tidak berbicara formal seperti biasanya, tapi entah kenapa Arkan justru senang mendengarnya. Sekuat tenaga, ia menahan gejolak di dadanya.


Kenapa aku sebahagia ini? Aku ingin mendengarnya lagi.


"Memangnya kau siapa? Aku muak bersikap formal padamu," jawab Kian ketus. Ia kesal mendapat sentilan dari pria itu. Sakit.


"KAU!!" Arkan nyaris menjitak kening Kian, namun ia urungkan.


"Apa yang kau lakukan disini?"

__ADS_1


Belum sempat Arkan menjawab.


"Apa jangan-jangan kau mengikuti ku ya?" Kian menodongkan jari telunjuknya tepat di hadapan Arkan. Membuat pria itu gelagapan. Kian merasa kejadian di pesawat tadi ada hubungannya dengan Arkan.


"Apa maksudmu? Siapa yang mengikuti siapa? Aku sedang ada urusan pekerjaan di kota ini. Kau sendiri apa yang kau lakukan?" Pura-pura amnesia. "Atau jangan-jangan kau yang mengikuti ku ya?" serang balik Arkan. Dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak ketahuan oleh Kian.


"Ck, apa kau pikir aku gila sepertimu? Aku sudah memberitahumu bahwa aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Jelas saja aku ada disini."


"Ahh iya aku baru ingat ini adalah kampung halamanmu ya?" Arkan bertingkah seolah-olah ia baru mengingatnya.


"Sudahlah lupakan, aku ingin pergi mencari taksi," Nyelonong meninggalkan Arkan.


"Hei, aku bisa memberimu tumpangan gratis!" ucap Arkan. Namun wajahnya ia palingkan ke arah lain. Menjaga image nya.


Kian menghentikan langkahnya. Ia berpikir sejenak, lalu menoleh.


"Beneran gratis?" Mata Kian berbinar-binar.


Ck. Mudah sekali dia di pancing sama yang gratisan.


"Hmmm. Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran!"


Kian memutar badannya menuju mobil. Ia masuk ke dalamnya bersama Arkan.


Hah, orang ini juga ikut?


Kian melihat Sam dibalik kemudi. Pria itu mengangguk sekilas untuk menyapa. Lalu mereka melaju menuju rumah Kian.


Sejauh mata memandang, tak banyak yang berubah dari kota ini. Hanya ada beberapa bangunan gedung tinggi yang baru ini Kian lihat. Sepertinya kotanya akan menjadi kota besar ke depannya.


Kian menyandarkan kepala, perjalanan ke rumahnya memakan waktu selama hampir dua jam. Lumayan ongkos taksi yang bernilai ratusan ribu, bisa ia simpan di kantongnya lagi.


Siapa suruh menawarkan tumpangan gratis?!


Kian memejamkan mata, kali ini ia benar-benar mengantuk. Dalam sekejap dia sudah terlelap.


Arkan meliriknya, ia menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyum.

__ADS_1


Istirahatlah, kau pasti lelah.


__ADS_2