Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Tempe Gosong


__ADS_3

Cklek." Terdengar suara pintu kembali dibuka.


Melihat pemandangan di depannya, Rina sangat terkejut. Ia segera berjalan cepat menghampiri Arkan yang sedang berusaha membantu Kian menaikkan resleting.


"Maaf, Tuan. Tadi saya pergi ke kamar kecil sebentar," ucap Rina yang wajahnya sudah ketakutan. Ia takut Arkan akan memarahinya karena meninggalkan Kian. Meskipun Kian yang menyuruhnya.


Kian sontak memutar tubuhnya saat mendengar ucapan Rina. Resleting pakaiannya sudah menutup sempurna, tapi ia


masih bisa melihat tangan Arkan yang menggantung di udara.


Apa dia yang baru saja membantuku menaikkan resleting?


"Tunggu, apa kau yang membantuku barusan?" tanya Kian pada Arkan sambil memicingkan matanya.


Pria itu mengangguk kaku. Dia sendiri belum bisa menetralkan perasaannya, tapi sekarang ditambah lagi Kian yang mengetahui perbuatannya.


"Apa?! Itu artinya kau melihat punggungku yang terbuka?" Mata Kian membelalak membayangkannya. Sedangkan Arkan mengangguk lagi sambil memandang ke arah lain. Ia merasa gugup beradu pandang dengan Kian.


"Apa kau tidak waras? Bagaimana bisa kau melihat bagian tubuh wanita seenaknya."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Apa kau sudah gila, menyuruh orang lain menaikkan resleting pakaianmu tanpa melihat siapa orang itu." Sebelum Kian menjawabnya, Arkan membalikkan badan menatap Rina yang menunduk di belakangnya.


"Kau sudah bisa pergi dari sini. Kerjamu cukup bagus. Secepatnya, Aku akan mengirimkan bonus untukmu," ucap Arkan pada Rina yang membuat mata gadis itu berbinar.


"Baik, Tuan. Terimakasih. Saya permisi dulu, Nona." Rina segera membereskan barang-barangnya dan meninggalkan ruangan tersebut.


Arkan kembali menatap Kian yang menundukkan wajahnya. Ia merasa perkataan Arkan ada benarnya. Bagaimana bisa ia menyuruh orang membantunya, tanpa melihat siapa orang itu. Bagaimana kalau itu orang lain dan berbuat yang tidak-tidak padanya. Kenapa dia begitu ceroboh?

__ADS_1


"Kenapa kau begitu bodoh? Aku mungkin bisa saja mengalihkan pandanganku saat melihat bagian tubuhmu, tapi kalau itu orang lain? Aku tidak akan mengampuninya!"


"Bukankah sebelumnya kau bilang melihatnya?" Kian memicingkan matanya.


"Saat masuk aku memang tidak sengaja melihatnya. Namun aku segera memalingkan wajahku. Apa kau pikir aku akan tertarik melihat kulitmu yang seperti tempe gosong itu? Jadi jangan berpikir kalau aku sengaja ingin melihatnya," sahut Arkan dengan memalingkan wajahnya. Ucapannya, tidak sepenuhnya benar. Kalau ia terus menatap Kian, ia takut gadis itu akan mengetahuinya.


Sialan, kulitku dibilang kayak tempe gosong! Ini orang mulutnya belum pernah di tabok kanan kiri depan belakang apa??


"Terserah kau mengatakan kulitku tempe gosong atau apalah, yang penting kau tidak melototinya!" dengus Kian kesal. Lalu ia mengambil sepatu high heels yang sengaja ditinggalkan Rina untuknya dan mendudukkan dirinya di sofa. Kian berusaha memakai sepatu tersebut, namun gaun yang ia pakai membuatnya sulit membungkuk.


"Jangan bertingkah ceroboh lagi." Arkan berlutut di depan Kian. Lalu meraih sepatu yang belum bisa Kian kenakan.


Melihat perbuatan pria didepannya, Kian terkesiap. Ia sama sekali tidak menduganya. Tuan Muda sombong yang pernah meludahinya dan mempermalukannya, kini tengah berlutut sambil memakaikan sepatu di kakinya.


Benarkah dia Tuan Muda yang pernah ku temui sebelumnya?


"Eh.. i-iya. Terimakasih." Kian berdiri setelah sepatu high heels sudah menempel sempurna di kakinya.


Kali ini Arkan yang terkesiap melihat sosok yang berdiri di depannya. Ia baru menyadari penampilan Kian yang begitu sempurna. Wajahnya, rambutnya, pakaiannya membuat Arkan tidak bisa mengedipkan mata. Ia seperti terpaku ingin terus menatap gadis itu.


Benarkah dia gadis yang ku kenal?


Kian melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Jelas sekali ia belum terbiasa menggunakan sepatu itu. Terlihat, dari cara jalannya yang miring ke kanan dan kiri.


"Kau tidak ingin keluar?" tanya Kian menoleh, melihat Arkan yang masih mematung memandanginya.


Arkan berjalan menghampiri Kian setelah berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya. "Aku pikir, wajahmu yang buruk rupa itu tidak bisa secantik ini." ejeknya. Ia berhenti tepat di samping Kian.

__ADS_1


Bisa tidak sih sekali saja tidak menghinaku? Rasanya aku ingin menendang kakinya saja!


Baru saja Kian ingin membalasnya, Arkan sudah menekuk tangannya di pinggangnya. "Kau sudah siap permaisuriku?" tanyanya santai.


Tadi dia mengejek kulitku tempe gosong. Lalu menyebutku buruk rupa. Dan sekarang, dia memanggilku permaisuri? Apa dia masih mengidap kepribadian ganda? Atau otak gesreknya masih belum normal? Aaah sudahlah..


Daripada melanjutkan perdebatan, akhirnya Kian memilih menggelayutkan tangannya di lengan Arkan yang sudah siap membantunya berjalan. Mereka melangkah perlahan seperti sepasang pengantin yang siap memasuki aula pernikahan. Senyuman yang merekah terus menghiasi wajah mereka yang terlihat bahagia.


***


Malam masih begitu panjang. Bahkan pesta pun baru saja dimulai. Tapi-tapi para tamu undangan sudah dibuat terkejut dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat. Gadis malang yang tadi sempat mereka tertawakan, kini menjelma menjadi sosok cantik bak putri kerajaan. Dengan gaun indah yang menjuntai manja mengikuti setiap langkah kakinya. Semua mata terpana melihatnya, wajah yang tadi dipenuhi makanan, sekarang terlihat cantik tanpa cacat. Ditambah lagi seorang pria yang berjalan di sebelahnya, membuat orang-orang yang menertawakan Kian, mendadak ciut.


Namun dari semua sorot mata yang kini menatap kagum Kian dan Arkan, ada sepasang mata yang justru menyorot tajam ke arah mereka. Raut wajahnya jelas ia tidak suka melihat pemandangan itu. Hatinya panas dipenuhi bara api kebencian. Ya, Delia tengah menatap mereka dengan penuh amarah. Rencananya untuk mempermalukan Kian malah berakhir dengan semua kekaguman yang tertuju untuk gadis itu.


Brengs*k! Kenapa ia malah berubah seperti itu. Apa benar dia kekasih Arkan? Aahh aku tidak peduli! Bagaimanapun caranya, aku harus memiliki pria itu.


Delia terus mengumpat dan bersumpah serapah melihat kedekatan Kian dan Arkan. Terlebih saat kedua orang itu disambut gembira oleh sang pemilik acara. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Wina. Wanita paruh baya yang tidak kalah cantiknya dengan wanita muda lainnya tengah menyambut gembira anaknya yang sedang berjalan menghampirinya. Senyumnya terus melebar saat melihat Arkan bahagia menggandeng wanita di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Arkan tersenyum tulus di acara ulang tahun pernikahan mereka.


Mereka terlihat sangat serasi. Aku tidak boleh menundanya lagi!


"Happy anniversary, Bu. Semoga pernikahan Ibu sama Tuan langgeng sampai akhir hayat," ucap Kian sambil mencium tangan Ibu.


Nyonya Wina memeluk Kian saat gadis itu sudah berada di depannya. "Terimakasih, Kian. Semoga kamu juga langgeng sama Arkan sampai kakek nenek," balas wanita itu.


"Uhugh." Kian terkejut saat mendengar ucapan Nyonya Wina. Wanita itu ternyata menganggap serius hubungan Kian dan Arkan yang hanya... hanya apa ya? Ahh Kian sendiri saja bingung menganggapnya apa. Sambil membalas pelukan hangat tersebut, Kian tersenyum ramah. Ia senang, mendapat sambutan yang hangat dan diterima oleh Nyonya Besar itu tanpa melihat statusnya.


Berbeda dengan Nyonya Wina, Tuan Wijaya justru menunjukkan sikap dingin. Ekspresi wajahnya datar, tidak menunjukkan senyum ataupun raut wajah tidak suka. Benar-benar lurus kayak jalan tol! Tapi Kian tetap berusaha bersikap ramah dan sopan. Ia tersenyum sambil mencium tangan Tuan Wijaya, pria itu tidak menolaknya namun tidak juga berkata apa-apa. Membuat Kian bergidik takut.

__ADS_1


Kenapa Tuan Wijaya menatapku seperti itu?


__ADS_2