
Para rombongan baru saja tiba di perkebunan Wijaya Group. Perkebunan ini dikelola langsung oleh orang-orang kepercayaan perusahaan. Dan hasil dari perkebunan, sepenuhnya akan di supply langsung ke supermarket milik Wijaya Group. Itulah sebabnya, hasil sayur dan buah-buahan yang dijual di supermarket mereka kualitasnya lebih baik daripada memesan dari luar perkebunan.
Rendy mengambil beberapa foto pemandangan saat berada di perkebunan. Lalu mengirim foto tersebut kepada Kian. Gadis itu memintanya untuk mengirimkan lebih banyak gambar pemandangan disana karena dia sendiri tidak bisa ikut. Walaupun sebenarnya dia kecewa karena Kian tidak ikut bersama mereka, tapi pria itu tetap memenuhi keinginannya.
Kian baru saja bangun dan dia keluar dari kamar setelah sebelumnya membasuh wajahnya. Ia melihat Arkan sedang duduk di sofa. Pria itu mengalihkan pandangan ke arah Kian setelah mendengar gadis itu membuka pintu.
"Lama sekali kau tidur!" ucap pria dengan nada mengejek.
"Maaf, Tuan," jawab Kian, berjalan mendekati Arkan.
Pria itu bangkit dari duduknya. "Ikut aku!" ucapnya lagi.
"Kemana, Tuan?"
"Jangan banyak tanya!," jawabnya datar.
Kian berdecih. Tapi gadis itu tetap menutup mulutnya sesuai perintah. Dia hanya mengikuti langkah Arkan yang terkesan cepat. Kian saja sampai setengah berlari untuk mengimbanginya.
Di depan hotel sudah ada mobil dan supir yang menunggu mereka. Supir itu membukakan pintu saat Arkan mendekati mobil.
"Masuk!" Arkan menyuruh Kian masuk terlebih dulu. Setelah gadis itu masuk ke mobil, barulah dia masuk.
Walaupun sebenarnya Kian penasaran kemana tujuan mereka, tapi dia menahan mulutnya untuk tidak bertanya. Atau tuan muda di sampingnya ini akan menyorotnya tajam, setajam silet.
__ADS_1
Kian menatap jalanan yang tidak terlalu ramai. Disisi kanan dan kiri berjejer para pedagang makanan khas oleh-oleh, ada beberapa aksesoris dan pakaian juga tapi tidak seberapa jika dibanding pedagang makanannya. Jika kamu jalan-jalan kepuncak, kamu akan lihat Ubi Madu bakar tersedia di setiap kios oleh-oleh, karena ini termasuk makanan khas yang ada dipuncak. Ubi tersebut tidak dibakar sesuai dengan namanya, melainkan di masukkan kedalam oven hingga matang. Setelah ubi itu matang, barulah terlihat seperti cairan madu yang menempel di bagian dagingnya. Rasanya lembut dan manis, apalagi jika dimakan sewaktu hangat, akan terasa lebih nikmat.
Kian menelan ludahnya setelah membayangkan ubi madu tersebut lumer di mulutnya. Tiba-tiba dia menginginkannya. Tapi melihat pria di sampingnya itu, Kian jadi ragu.
Apa dia mengijinkan kalau aku ingin membelinya?
Kian menarik nafas pelan. Sebelum bicara, paling tidak dia harus mengumpulkan keberaniannya dulu. "Tuan?" ucapnya satu kata.
"Tidak boleh!" jawab pria itu cepat.
Ehh, tidak boleh? Memangnya dia tahu aku mau ngomong apa?
"Memangnya Tuan tahu saya ingin mengatakan apa?" tanya Kian heran.
"Kau ingin membeli makanan itu, kan?" jawab Arkan sambil menunjuk tumpukan ubi madu disalah satu kios dengan lirikan matanya.
Kian mengerutkan dahinya heran. "Apa tidak boleh berhenti sebentar saja, Tuan?" menatap Arkan dengan bola mata yang melebar, berharap pria itu akan berbaik hati padanya.
"Kau tidak dengar?" ucapnya dengan intonasi menekan.
Kian tidak menjawabnya. Dia hanya membuang muka dari pria itu dengan raut kesalnya.
Ini pengalaman pergi ke puncak yang paling buruk untukku. Karena harus berurusan dengannya.
__ADS_1
Lalu Kian mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia terkekeh tanpa suara setelah membuka kunci layar ponselnya. Menatap foto-foto yang dikirimkan oleh Rendy. Dia tidak menyadari orang di sebelahnya meliriknya dengan kesal.
Kau ingin membalas ku ya??
Akhirnya mobil berhenti di sebuah halaman parkir yang cukup luas. Mata Kian langsung berbinar saat melihat bus pariwisata para rombongan juga terparkir di halaman. Itu artinya mereka masih ada disini, pikirnya.
Kian langsung turun dari mobil dan mengikuti Arkan yang berjalan memasuki gapura. - Selamat Datang di Perkebunan Wijaya Group -. Tulisan itu terukir jelas di bagian atas gapura. Kian sangat bersemangat mengikuti langkah kaki Arkan, sedangkan sang supir hanya menunggu mereka di warung yang tidak jauh dari parkiran. Karena tuan muda tidak menyuruhnya untuk ikut, dia lebih memilih bersantai sambil minum segelas kopi daripada berinisiatif mengikuti mereka ke perkebunan.
Kian langsung berlari saat melihat sekumpulan orang di tengah perkebunan. Dia menghambur memeluk sahabatnya, Dina. Dan tersenyum mengangguk melihat Rendy di depannya. Walaupun sebenarnya ia ingin memeluk pria itu juga, tapi dia menahan dirinya. Dia belum boleh memeluk pria sembarangan, sebelum pria itu menjadi suaminya.
"Kamu sama siapa kesini?" tanya Dina.
"Siapa lagi kalau bukan orang gila itu!" jawab Kian sambil memutar bola matanya, malas mengingat pria itu.
Dina hanya senyum-senyum mendengar penuturan sahabatnya. "Benarkah? Dimana tuan Arkan?" Matanya mencari keberadaan orang yang dia maksud. Ternyata pria itu sedang berada di sebuah pondok kecil. Dina menelan ludah saat melihat pria itu terlihat sinis sambil memandangi mereka.
Apa dia marah karena ada Rendy? Tapi tidak mungkin juga aku mengusir pria ini. Biarkan saja, kita lihat sebesar apa perasaan anda untuk Kian.
Dina hanya mengangguk saat pandangan mereka bertemu. Tapi pria itu bahkan tidak meresponnya. Membuat Dina bergidik sendiri. Sedangkan Rendy hanya berpura-pura tidak melihatnya, dia lebih fokus pada Kian yang sekarang ada di hadapannya. Dia menatap gadis itu seperti tidak pernah melihatnya selama bertahun-tahun. Entah karena memang dia rindu atau Kian yang berpenampilan berbeda saat itu. Matanya nyaris tidak berkedip, membuat seseorang yang melihat mereka bertambah kesal.
Sial. Kenapa dia terus menatap gadis bodoh itu? Lihat, matanya bahkan tidak berkedip.
Dina langsung memahami situasi. "Ke sana yuk!" ajak nya pada Kian. Dia berusaha untuk mengalihkan sorotan tajam tuan Arkan ke arah mereka dengan membawa Kian pergi.
__ADS_1
"Ayuk!" jawab Kian semangat. Gadis itu bahkan tidak tahu Arkan sedari tadi menyoroti mereka. Setelah bertemu dengan Dina dan Rendy, Kian tidak peduli lagi dengan tuan muda itu. Memang sebenarnya dia tidak peduli, hanya saja pria itu yang terus menyusahkan nya. Hingga dia sulit bernafas.
Kian dan Dina berjalan bergandengan, mengikuti seorang pemandu menyusuri perkebunan. Pemandu tersebut memberikan banyak penjelasan seputar perkebunan. Mulai dari luasnya, hingga tanaman apa saja yang di tanam di lahan seluas 10 hektar. Mereka tidak mengelilingi semuanya, hanya beberapa. Bisa-bisa mereka memakan waktu 3 hari 3 malam untuk menyusuri lahan seluas itu. Para rombongan menatap takjub, termasuk Kian. Setiap tanaman yang ditanam benar-benar dirawat dengan baik. Banyak masyarakat dari lingkungan sekitar yang dipekerjakan untuk merawat perkebunan. Itulah salah satu motto Wijaya Group, mengurangi angka pengangguran di negeri ini. Dengan membuka lowongan pekerjaan sebanyak mungkin. Dalam hati Kian, terbesit perasaan bangga akan perusahaannya. Perusahaannya lho, bukan pemiliknya! Catat.