
Seketika pengakuan Arkan membuat heboh dan riuh para pengunjung Mall. Ada yang menyanjung, kagum dan tak sedikit juga yang iri pada Kian. Siapa yang tidak ingin mendapat pengakuan seperti itu di khalayak umum. Meskipun mungkin menurut kamu lebay, percayalah hati kecilmu juga menginginkannya!
Sedangkan ketiga wanita di sebelah Kian mulai menciut ketakutan. Mereka menyadari bahwa merekalah yang dimaksud oleh Arkan. Tidak menunggu waktu lama, mereka langsung memohon dihadapan Kian.
"Tolong maafkan kami. Kami tidak tahu kalau Nona duduk disini," lirih salah seorang dari mereka.
"Ohh jadi kalau saya tidak ada, kalian bebas menjelekkan saya. Begitu?" balas Kian dengan gestur tubuh yang terlihat seperti wanita berkelas.
Ketiga orang itu menggeleng cepat. "Tidak! Bukan begitu. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi!"
Melihat wajah yang memelas iba, niat Kian ingin menjahili ia urungkan. "Hmm baiklah. Kalian saya maafkan."
"Terima kasih, Nona!"
"Ingat, jangan pernah menilai seseorang dari fisiknya! Sebuah cover tidak menjamin kualitas isi sebuah buku."
"Baik, Nona. Kami akan ingat itu!"
Selepas ketiga wanita itu pergi, Arkan masih belum kembali. Bahkan makanan yang mereka pesan pun sudah terhidang rapi diatas meja.
Kian memanggil Sam yang sejak tadi hanya mengamati dari jauh. "Tolong cari Arkan. Kenapa dia masih belum kembali?"
"Maaf Nona, Tuan menyuruh saat untuk menjaga Nona." Benar, sebelum Arkan meninggalkan restoran, ia meminta Sam untuk terus mengawasi Kian. Jangan sampai sesuatu terjadi pada istrinya.
Tidak lama Arkan muncul dengan paper bag besar ditangannya. Kian yang penasaran langsung bertanya. "Apa ini?"
"Lihatlah!"
Lagi-lagi Kian hanya melongo syok saat melihat isi paper bag tersebut adalah dalaman wanita.
"Bagaimana? Bagus tidak? Aku sendiri yang memilihkannya untukmu," akunya dengan polos.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa dia benar-benar Arkan Saguna yang selama ini ku kenal??
"Kamu balik lagi ke toko tadi?" Ekspresi heran sekaligus syok terpajang jelas di wajah Kian.
"Hmm. Ayo kita makan! Aku sudah lapar." Arkan mulai memotong steak yang ada di piring Kian. Sekarang, Kian tidak perlu lagi bergelut dengan makanan itu. Karena kapan pun mereka menyantapnya, ada Arkan yang selalu siap memotongnya.
Sementara Kian masih menatap wajah tampan Arkan. Tanpa ragu, ia mendaratkan sebuah ciuman di pipi mulus tanpa celah itu.
"Terima kasih," ucapnya dengan senyum merekah.
Mendapat ciuman dari Kian, Arkan terkejut. Sebab, ini kali pertama Kian yang lebih dulu melakukannya. "Kenapa kamu tidak bilang dulu?"
Kian mengernyit, "memangnya harus ngomong dulu?"
"Hmm. Agar aku bisa merekamnya!" Arkan mengeluarkan ponsel dari kantong jasnya. "Ayo lakukan lagi!"
Kian memutar bola matanya malas. Mulai lagi deh konyolnya.
"Tidak mau!" Kian menarik piring steak yang sudah di potong Arkan lalu menyantapnya. Berpura-pura tidak menghiraukan wajah suaminya yang cemberut.
Riasan wajah Kian nyaris selesai. Namun rasa gugup membuat peluh kembali menyisir pelipisnya. Seharusnya dia tidak perlu merasa gugup lagi. Ini bukanlah momen sakral seperti akad pernikahannya waktu lalu. Tapi tetap saja, membayangkan para tamu undangan yang hadir sudah membuat degup jantungnya berpacu lebih cepat. Tentu saja karena kebanyakan mereka bukan dari kalangan biasa.
"Nona, apa Anda sangat gugup?" tanya Rina, MUA yang selalu merias Kian untuk acara-acara penting.
"Hmm. Sedikit," akunya malu-malu.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Semua pasti akan berjalan dengan baik." Rina kembali merapikan riasan bagian pelipis Kian.
Terdengar helaan napas Kian. "Aku takut membuat kesalahan lagi, Rin! Sebelumnya, setiap kali ada acara seperti ini, aku selalu bertindak ceroboh," desahnya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Ada aku yang akan selalu berdiri disampingmu." Entah kapan datangnya, tahu-tahu Arkan muncul dan langsung melingkarkan tangannya di bahu Kian. Memberikan sebuah pelukan hangat yang seolah meluruhkan kegugupan istrinya.
__ADS_1
Sementara Rina memilih untuk mengalihkan pandangannya dari polusi di depannya. Melihat kemesraan kedua orang itu hanya membuat jiwa jomblonya meronta. Lebih baik mengambil gaun pengantin yang akan di kenakan Kian, pikirnya.
Kedua pengantin baru saja memasuki aula. Sorak dan tepuk tangan meriah langsung menyambut sepasang insan yang berbahagia. Meski tidak semuanya berbahagia di acara itu.
Delia, yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Arkan memaksakan dirinya hadir meskipun hatinya meras kesal. Ia merasa dibohongi dan dikhianati. Bagaimana bisa ia baru tahu sekarang kalau Arkan sudah menikah dengan Kian sebulan yang lalu. Bahkan saat ia datang ke kantor pria itu, Kian tidak mengatakan apapun padanya. Apa mungkin wanita itu sengaja untuk membuatnya semakin kalah telak?
"Awas saja! Aku akan membalas kalian!" umpatnya kesal.
Delia menghampiri kedua pengantin yang tengah sibuk menyambut tamu. Entah apa lagi yang ia rencanakan, yang pasti ia akan melampiaskan kekesalannya saat ini juga.
"Arkan!!" Sapanya tanpa ikut menyapa Kian.
Melihat wanita rubah itu datang, Arkan sudah merasa jengah. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri yang mengundangnya. Sebenarnya Arkan tahu kejadian bulan lalu saat Delia membuat kekacauan di kantornya dan menghina Kian. Meskipun Kian tidak mengatakan, tidak sulit bagi Arkan untuk mengetahuinya. Jadi ia sengaja mengirim undangan untuk Delia, agar wanita itu sadar bahwa dirinya sama sekali tidak ada artinya di dibandingkan Kian dalam hidupnya.
"Terima kasih, sudah mengundangku langsung ke acara ini!" ujar Delia dengan intonasi sedikit keras hingga orang-orang disekitar bisa mendengarnya.
Kian membelalak tidak percaya. Bagaimana bisa Arkan mengundang Delia tanpa persetujuannya. "Apa benar kamu yang mengundangnya?" bisik Kian.
"Kenapa kau terkejut? Jangan katakan bahwa kau tidak tahu bahwa Arkan mengundangku. Apa kau ini benar-benar istrinya?" cibirnya pada Kian. Senyum pongahnya seolah ia menemukan sesuatu untuk mempermalukan Kian.
Arkan hampir membuka suaranya, kalau saja Kian tidak memberinya kode untuk diam. "Tentu saja aku tahu. Hanya saja aku tidak percaya kau benar-benar datang ke acara pernikahan kami. Aku pikir kau akan meratapi nasib setelah tahu cintamu bertepuk sebelah tangan," balas Kian dengan seringaian. Bahkan Arkan sampai menatap tidak percaya istrinya bisa mengatakan itu.
"Kau! Sialan! Awas saja aku kembali membalas kalian!" ancamnya sebelum pergi.
"Beraninya-," ucapan Arkan terputus saat Kian lagi-lagi menahannya. Nyalinya juga menciut saat mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Kau! Tunggu giliranmu!" ancam Kian.
Glek. Arkan menelan salivanya. Dulu, ia yang sering mengucapkan kalimat ancaman itu untuk Kian. Namun kini, justru ia yang harus merasa takut akan nasibnya nanti.
Bagaimana kalau sampai ia merajuk lagi? Bagaimana kalau sampai nanti aku tidak dapat jatah? Oh No!!!!
__ADS_1
------
Jangan lupa untuk like, comment dan vote ya para readers teruwuuwu 😍😍😘😘😘 Semoga kalian selalu suka 😉😉