Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Aku MerindukanMu


__ADS_3

Kian memutar tubuhnya membelakangi Rendy. Ia tahu pria itu sedang memperhatikannya, membuatnya tidak nyaman.


"Cklek."


Terdengar suara pintu dibuka, Kian segera menoleh berharap orang yang ia tunggu muncul dari baliknya. Namun, ia harus menelan rasa kecewa saat bukan orang itu yang datang.


"Kian!!! Apa yang sudah terjadi, Nak?" tanya Bibi Sumi histeris dengan suara yang sesenggukan.


"Tenanglah. Ini rumah sakit. Jangan membuat keributan." Paman mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa Bi, hanya kecelakaan kecil saja." jawab Kian pelan.


Rendy yang melihat kedatangan Bibi dan Paman, langsung menyalami mereka. Ia juga mengambilkan air putih untuk Bibi Sumi, agar wanita paruh baya itu bisa lebih tenang.


"Terimakasih, Nak Rendy sudah menjaga Kian dengan baik." ucap Bibi.


Pria itu tersenyum ramah. "Iya Bi, sudah tugas saya untuk menjaganya."


Pandangan Bibi Sumi mengedar, ia seperti mencari keberadaan seseorang. Ingin menanyakannya pada Kian, tapi ragu, karena melihat Rendy ada disana.


"Lebih baik Nak Rendy pulang dulu agar bisa beristirahat. Biar malam ini Bibi dan Paman yang akan menjaganya." ucap Paman dengan suara bassnya.


"Baiklah Paman, Bibi saya pamit dulu." Rendy berjalan menghampiri Kian. "Aku pulang dulu ya, besok aku akan datang lagi. Jangan lupa minum obat." pesannya pada Kian.


Gadis itu mengangguk pelan. "Terimakasih, Kak Rendy."


Setelah mencium tangan Bibi dan Paman, Rendy meninggalkan ruangan Kian. Sekarang, hanya ada mereka bertiga disana. Bibi Sumi yang sedari tadi penasaran, mulai membuka suaranya.


"Apa Nak Arkan tidak datang melihatmu, Kian?"


Wajah Kian semakin berubah tanpa ekspresi. Terlihat ia sedang murung. "Tadi dia disini, Bi. Lalu pergi karena ada urusan kantor."


Bibi Sumi mengangguk tanda mengerti. Ia lalu mengeluarkan termos air panas yang sengaja ia bawa dari rumah. Katanya untuk membuat teh panas di rumah sakit. Paman hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu. Dasar emak-emak rempong emang!


Padahal, di ruangan VVIP ini, apapun yang mereka butuhkan cukup mengatakannya saja pada perawat, maka semua akan disiapkan. Apalagi yang membawa Kian adalah anak dari pemilik rumah sakit. Mereka tidak akan berani menolaknya. Pelayanan kelas atas dan atas sudah pasti mereka berikan.


Malam sudah menyambut. Namun yang ditunggu belum juga tiba. Kian resah, rasanya ia ingin melihat orang itu ada disini menemaninya. Meskipun aneh dan menggelikan, ia merasa merindukan Arkan. Ya, Kian sangat merindukan pria itu sekarang.


Kenapa kau belum juga datang? Ahh mungkin kau lelah setelah kejadian hari ini. Beristirahatlah, aku akan menunggumu datang besok.


Bibi dan Paman sudah tidur lebih dulu, merasa tidak ada yang bisa diajak bicara, Kian pun memejamkan matanya. Memilih terlelap dalam mimpinya.


Selamat tidur, malam.


Disaat Kian sudah terlelap dalam tidurnya, di tempat ini justru sebaliknya. Seseorang masih berjuang dengan perasaannya. Sekuat tenaga ia melawan rindu yang menyesakkan dadanya. Andai saja ia tidak mengingat kesepakatan bodoh itu, mungkin ia sudah berlari menghampiri Kian. Menemani gadis itu sepanjang siang dan malam. Tanpa memperdulikan hal lain. Dia sangat tersiksa sekarang, tidak bisa mendekati Kian atau bahkan menanyakan keadaannya.


"ARRGGHHH." Arkan berteriak sekencang-kencangnya. Entah untuk apa tapi ia merasa harus melakukannya. Setidaknya untuk mengurangi sesak di dadanya.


"Drrttt." Ponsel miliknya bergetar. Ia membuka sebuah gambar yang baru saja diterimanya. Matanya menatap lekat gambar itu. Tidak ingin berpaling.


"Apa kau sudah makan?"


"Apa kau sudah meminum obatmu?"

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu sekarang?"


Mulutnya terus bergumam melihat foto Kian yang sedang terlelap. Tanpa terasa air matanya kembali jatuh. Ia tidak akan menahannya sekarang. Ia ingin menumpahkan semuanya sampai air mata itu mengering dengan sendirinya. Ia mendekap ponselnya erat, merasakan seolah-olah itu Kian. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa begitu lemah.


Ponselnya bergetar lagi. Kali ini ada pesan di bawah gambar itu.


Dia sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Mulai sekarang, aku yang akan menjaganya.


Arkan meremas ponsel di genggamannya. Mendapatkan pesan itu dari Rendy, rasanya ia ingin menghajar pria itu saja.


"Kalau sampai kau membuatnya terluka, aku tidak akan mengampunimu." gumamnya lagi.


***


Matahari sudah bersinar cerah. Tapi Kian hanya bisa menikmatinya dari dalam ruangan ini. Menatap cahaya lembut di balik jendela kaca, Kian mengangkat tangannya. Entah kapan datangnya, tiba-tiba Rendy berjalan menutup tirai jendela. Ia tahu Kian silau menatap cahaya itu.


"Kak Rendy tidak bekerja?" tanya Kian heran.


Pria itu mendudukkan diri di samping Kian lalu tersenyum ramah padanya. "Aku mengambil cuti beberapa hari agar bisa menjagamu."


"Kak Rendy tidak perlu mengambil cuti segala. Aku tidak apa-apa kok. Lagipula ada Bibi yang menjagaku." jawab Kian merasa tidak enak hati. Bibi Sumi memang masih ada di rumah sakit untuk menjaganya, sedangkan Paman, pria itu sudah pulang untuk berangkat bekerja.


"Bibi kan juga perlu istirahat. Biar aku yang menggantikannya menjagamu." jawab Rendy sambil melirik Bibi Sumi yang sedang duduk di sofa. Wanita itu hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Kapan aku boleh pulang? Rasanya bosan berada di rumah sakit sepanjang hari." ucap Kian memasang wajah cemberut.


Rendy terkekeh melihat wajah Kian seperti itu. "Nanti, aku akan menanyakannya pada dokter."


"Ya Allah Kian, kenapa bisa sampai seperti ini?" Suara cempreng Dina begitu nyaring terdengar. Tapi wajahnya menunjukkan kekhawatirannya.


"Panjang ceritanya. Memang kamu ga kerja?"


"Ijin setengah hari. Aku bilang ingin menjengukmu, eh langsung diijinkan begitu aja. Padahal kan selama ini susah banget kalau minta ijin kayak gitu." jawabnya yang mulai merembet kemana-mana.


Kian melirik jam dinding yang ada di hadapannya. Lalu beralih menatap pintu yang masih bergeming.


Sudah jam segini, kenapa dia belum datang juga sih? Apa dia tidak merindukanku seperti aku merindukannya. Dasar nyebelin! Awas saja kalau dia sampai muncul di depanku, aku akan langsung meninjunya.


~Ternyata rindu itu tidak bertepuk sebelah tangan. Ia akan mencari dan menemukan pasangannya~


Arkan mendekap selimut ke dalam pelukannya. Bukan karena dingin, tapi karena selimut itu bekas Kian gunakan saat tidur di apartemennya. Bahkan aroma khas gadis itu masih menempel disana. Setidaknya hanya itu yang bisa ia gunakan untuk melepas rindunya.


Hari ini, dia tidak akan berangkat ke kantor. Dia ingin tidur sepanjang hari bersama selimut itu. Merasakan kehadiran Kian ada di dekatnya. Terlihat gila memang, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin merindukan gadisnya, gadis yang sangat dicintainya.


***


Sudah empat hari ini Kian berada di rumah. Bahkan sampai hari kepulangannya dari rumah sakit, Arkan juga tidak kunjung datang menjenguknya. Membuatnya merasa sedih dan kecewa. Bagaimana bisa pria itu tidak menanyakan kabarnya sekalipun.


Sekarang, luka di perutnya tidak terasa sakit lagi. Bahkan bekas jahitannya juga sudah mengering. Namun, Kian belum bisa berangkat ke kantor. Ia diberi cuti selama satu bulan untuk beristirahat di rumah. Sudah seperti cuti melahirkan saja! gerutunya kesal.


Kian merasa sangat bosan berdiam diri di rumah selama berhari-hari. Ia berniat ingin pergi ke suatu tempat. Dengan bersusah payah membujuk rayu Bibi Sumi, akhirnya ia diijinkan untuk pergi. Dengan syarat harus berhati-hati. Sudah seringkali ia mendapatkan kecelakaan karena kecerobohannya, seperti itulah yang dipikirkan Bibi Sumi. Lagi, Kian menutupi kejadian yang sebenarnya pada Bibinya. Ia tidak ingin wanita itu bertambah khawatir.


Kian menaiki ojek online agar cepat sampai di tempat tujuannya. Karena terburu-buru, ia sampai lupa membawa sweaternya. Padahal hari sudah sore dan sebentar lagi malam datang. Tapi ia tidak terlalu memusingkannya, yang terpenting ia bisa cepat sampai di tempat itu.

__ADS_1


Kian memasuki lift dan memencet angka yang menempel di dalamnya. Beberapa menit pintu lift terbuka. Ia berada di sebuah lorong dengan menghadap pintu yang berukuran cukup besar.


Dia sudah pulang belum ya?


Kian melirik jam tangannya. Ia memutuskan untuk menunggu di depan pintu. Karena merasa lelah berdiri, Kian memilih duduk bersandar di dinding. Tanpa sadar, ia terlelap disana.


Satu jam kemudian.


Arkan baru saja pulang dari kantornya. Setelah libur beberapa hari, ia memutuskan untuk berangkat bekerja. Mengurus kekacauan yang dibuatnya. Namun, saat tiba di apartemennya, ia terkejut melihat sosok yang tertidur pulas di depan pintu. Arkan berjongkok demi melihat sosok itu dari dekat. Melihat paras mungil dengan anak rambut yang menutupi sebagian wajah, membuat jantungnya berdegup kencang.


Sosok yang membuat Arkan nyaris gila karena begitu merindukannya, kini berada di depannya. Memejamkan mata indah yang selalu membelalak kesal padanya. Ingin sekali ia membelai wajah itu, memeluknya dalam dekapan hingga tak bisa melepaskannya. Namun saat tangannya hampir menyentuh wajah Kian, ia justru menariknya kembali. Meremas udara kosong di tangannya.


"Sial." umpatnya kesal.


Merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya, Kian mengerjapkan matanya. Ia membuka matanya perlahan lalu menatap sosok pria di depannya. Tatapan mereka kembali bertemu, menatap dalam-dalam satu sama lain. Berbagai emosi tersirat disana, namun hanya bisa ditahan tanpa bisa mengungkapkannya.


Melihat Arkan di depannya, Kian mengukir senyum bahagia di bibirnya. Rasa rindunya terbayarkan hanya dengan melihat wajah pria itu.


Ahh wajah ini. Aku sangat merindukannya!!


"Kau sudah pulang?" tanya Kian masih dengan senyuman manisnya.


Memandang senyuman itu, Arkan merasakan dadanya bergemuruh. Secepat kilat ia ingin membalasnya. Namun, bibirnya terasa kaku untuk tersenyum.


"Apa yang kau lakukan disini?" Arkan balik bertanya dengan nada dingin. Tidak hanya nada suaranya, wajahnya juga terlihat sangat dingin tanpa ekspresi.


"Aku merindukanmu."


Deg.


Arkan merasakan jantungnya berhenti. Mendengar kalimat itu, ia tak ingin waktu berlalu. Rasanya, ia ingin menghentikannya saat ini juga. Agar bisa terus mendengar kalimat itu di telinganya.


"Pulanglah. Ini sudah malam." ujarnya datar. Tanpa ada niat untuk merespon ucapan Kian.


"Kau tidak merindukanku?"


Aku merindukanmu. Sangat. Bisakah kau mendengarnya meskipun aku tidak mengatakannya. Aku mohon dengarlah, agar aku tidak perlu melanggar janjiku.


"Aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu. Pergilah!" Arkan bangkit, sebelum ia masuk ke apartemennya, ia mengucapkan sesuatu.


"Lain kali pakai sweatermu jika ingin berpergian!" Setelah mengatakannya ia menghilang dari balik pintu. Tidak menjauh, namun bersandar disana. Menjambak rambutnya dengan frustasi.


Kenapa kau pergi dengan pakaian seperti itu. Kau tidak tahan dingin. Bagaimana kalau kau sampai jatuh sakit lagi? Pulanglah. Sebelum udara semakin dingin.


"Aku juga sangat merindukanmu." lirihnya lagi dengan bening kristal yang jatuh entah sejak kapan.


-------------


*** **Terimakasih banyak buat yang udah setia baca sampai episode ini. Author akan berusaha lebih keras untuk melanjutkan episode menarik lainnya.💝💝💝


Jangan lupa like, comment, vote and rate ya.. Biar author makin semangat nulisnya..💕💕💕


Satu lagi, masukin daftar favorit juga ya.. Biar kalian tahu kalau author sudah update.🤗🤗💕💕💕**

__ADS_1


__ADS_2