
Di ruangan kerja, Arkan terlihat mondar mandir kesana kemari. Pak Dan yang sudah mulai masuk bekerja hanya menggelengkan kepala melihat tingkah tuan mudanya.
Tenanglah, Tuan Muda. Jangan bertingkah aneh seperti itu. Galau karena wanita bukanlah keahlian anda, Tuan.
Pak Dan mengetahui kejadian yang sebenarnya setelah bertanya pada Sam. Supir itu bahkan juga merasakan hal yang sama dengan Pak Dan. Merasa aneh dengan kelakuan Arkan. Selama bertahun-tahun bekerja dengan Tuan Muda, baru kali ini dia melihat Arkan begitu tertarik dengan seorang wanita. Dan yang parahnya Tuan Muda bahkan tidak bisa menunjukkan perasaannya dengan baik. Dia sama sekali tidak mengetahui tentang perasaan wanita. Payah!. Yang Arkan pikir semua wanita itu sama, akan tertarik dengan ketampanan dan hartanya. Tapi setelah bertemu Kian, barulah dia menyadari susahnya menaklukan seorang wanita.
"Tuan Muda, anda ingin minum sesuatu?" tanya Pak Dan mencoba menenangkan.
"Aku ingin kopi, Pak," jawab Arkan.
"Baiklah, saya akan menyuruh sekretaris membuatkannya." Pak Dan siap berbalik untuk menyuruh sekretaris yang dia maksud.
Arkan mengernyit sendiri mendengar jawaban Pak Dan. Lalu dia mencegah pria paruh baya itu membuka pintu.
"Tunggu, Pak! Saya tidak jadi minum kopi. Anda kembali saja ke ruangan," ucapnya.
Ck. Sudah saya duga anda tidak mau minum kopi kalau bukan gadis itu yang membuatnya.
"Baiklah, Tuan Muda. Saya permisi." Akhirnya Pak Dan berbalik dan meninggalkan Arkan di ruangan itu. Di balik wajahnya ia tersenyum tipis.
Arkan kembali mondar mandir di ruangannya sambil memegang ponselnya. Dia ingin sekali menghubungi Kian, tapi takut tidak bisa mengontrol dirinya. Bagaimana kalau akhirnya Kian tahu perasaannya. Tidak, tidak, dia belum siap. Akhirnya ia lemparkan ponsel itu diatas sofa. Bahkan benda yang tidak berdosa itu harus menerima kekesalan pemiliknya. Sungguh malang!
Lelah berjalan kesana kemari, Arkan memilih mendudukkan dirinya diatas sofa. Menyandarkan kepala yang terasa berat. Bukan kepalanya, tapi isinya. Terlalu berat sampai membuatnya pusing. Pikirannya berhamburan kemana-mana. Dia tidak bisa membayangkan kalau Kian benar-benar mengundurkan diri dari perusahaannya. Meninggalkannya sendiri dengan perasaannya. Tidak, Arkan tidak akan
melepaskan Kian begitu saja.
Aku tidak akan melepaskanmu semudah itu. Aku yang memulai. Jika harus berakhir, maka aku yang akan mengakhirinya. Tunggulah sebentar lagi, aku akan membawamu ke istanaku. Hanya akan ada kita berdua disana.
Akhirnya orang yang membuat Tuan Muda gelisah tak karuan menunjukkan dirinya.
Kian baru saja memasuki ruangan. Ia melihat Arkan yang berdiri menatapnya. Tatapan pria itu terlihat dingin. Sedetik kemudian berdecih kesal.
__ADS_1
"Darimana saja kau?" tanyanya datar. Tapi ekspresi wajahnya masih belum berubah.
Ck. Bukannya tadi aku sudah memberitahunya.
"Wawancara kerja, Tuan," jawab Kian ragu-ragu.
"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Arkan penasaran.
"Maaf, Tuan. Sepertinya anda harus mencari sekretaris pribadi baru. Karena saya akan mengundurkan diri," ucap Kian dengan lugas. Dia terlihat percaya diri saat mengatakannya.
Mendengar jawaban Kian yang terkesan santai, Arkan membelalakkan mata. " Apa kau sudah tidak waras? Beraninya kau melamar di perusahaan lain sementara masih terikat kontrak di perusahaan ini? Apa kau tahu isi kontrak itu?" Arkan berusaha mengancam Kian dengan kontrak kerja mereka.
Tapi Kian sama sekali tidak terlihat takut. Ia justru dengan santainya mulai menjelaskan. "Seseorang yang ingin mengundurkan diri, dia harus membuat surat pengunduran diri minimal sebulan sebelumnya. Dan jika melanggar, maka dia harus bersedia mengganti rugi," jelas Kian.
Kalau dia tahu, kenapa dia tetap melakukannya? Besar juga nyali gadis bodoh ini.
"Jadi, kau sudah siap untuk mengganti rugi? Apa kau sudah tahu berapa nominalnya?" Arkan terus mencibir Kian. Berusaha mengubah pendirian gadis itu.
Apa dia sudah gila? kenapa dia masih bisa tersenyum.
"Maaf, Tuan. Sepertinya anda belum mengetahui informasi penting mengenai kontrak itu. Kontrak kerja saya berakhir tepat hari ini. Jadi saya memilih untuk tidak melanjutkan kontrak tersebut dan mengundurkan diri dari perusahaan anda," jawab Kian dengan senyum yang merekah dibibirnya, dia puas bisa membalas telak pria didepannya.
"Sial!" umpat Arkan pelan.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Saya akan membuatkan kopi anda untuk yang terakhir kalinya." Setelah mengatakan itu, Kian segera membalikkan tubuhnya. Dia tidak bisa menahan tawanya lagi saat melihat wajah Arkan berubah pucat pasi.
Hahaha.. Rasakan pembalasanku! Melihat wajahmu yang berubah bodoh itu membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya.
Arkan masih mengeluarkan umpatannya, tapi Kian pura-pura tidak mendengarnya. Ia tetap berlalu meninggalkan ruangan.
"HEIII KAU!!! Beraninya menertawakanku!" umpatnya kesal saat menyadari Kian baru saja menertawakannya.
__ADS_1
Sial. Kenapa kontrak itu berakhir di waktu seperti ini?.
"Argghhh," teriak Arkan frustasi.
Kian dengan langkah santainya berjalan menuju pantry. Sepanjang jalan, ia hanya tersenyum mengingat kejadian barusan. Tidak menyangka bisa melihat wajah arogan Arkan berubah seperti kambing mau dipotong. Hahaha. Sekali lagi dia tergelak sendiri.
Didepan pintu pantry Kian menghentikan langkahnya. Jantungnya mendadak berdegup lagi. Dari balik kaca pintu, ia bisa melihat seseorang didalamnya. Dengan tatapan kosong, orang itu mengaduk-aduk gelas hingga menumpahkan isinya.
"Kak Rendy!" Kian langsung membuka pintu saat melihat pria itu terkena cipratan air panas. Tangannya refleks meniup tangan Rendy yang memerah dan membersihkannya dengan sapu tangan. Diusapnya tangan itu perlahan sambil terus meniupnya.
"Kak Rendy, tidak apa-apa?" tanya Kian khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kian," jawabnya tersenyum sumringah. Dia justru bersyukur, karena dengan begitu ia bisa sedekat ini lagi dengan Kian.
"Hati-hati, Kak. Jangan sambil melamun!" Ia menatap Rendy. Matanya beradu pandang dengan pria itu. Untuk sesaat ia terlena dengan tatapan itu. Lupa akan tugasnya.
Kian langsung menundukkan kepala saat tersadar. Dia melepaskan tangan Rendy dengan hati-hati.
"Terimakasih, Kian," ucap Rendy masih menatap Kian. Sementara gadis itu segera mengambil gelas dan membuat kopi. Jangan sampai Arkan menyusulnya karena lama.
"Tidak perlu berterimakasih, Kak. Aku hanya membalas kebaikan Kak Rendy waktu itu," jawab Kian berbohong. Sebenarnya dia melakukannya karena peduli. Bahkan sangat peduli. Tapi, lagi lagi fakta diantara mereka menyadarkan Kian untuk tidak berharap lebih.
"Aku permisi dulu, Kak." Kian membawa nampan berisi gelas kopi untuk Arkan. Dia segera keluar dari pantry, sebelum perasaannya menjadi tidak terkendali.
Salah satu alasan Kian bersikukuh untuk mengundurkan diri adalah karena Rendy. Perasaannya sudah terlalu dalam untuk pria itu. Sekalipun Kian menjauh, pria itu tetap akan mendatanginya. Mendekatinya hingga Kian merasa harus memillikinya. Gila bukan?!.
Itulah kenapa dia harus pergi jauh dari pandangan pria itu. Dan mengundurkan diri adalah pilihan terbaik. Kian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Cinta membutuhkan pengorbanan. Dan pengorbananku adalah dengan melepasmu.
Mungkin hanya ini yang bisa kuberikan padamu.
__ADS_1
Berjanjilah, kau akan bahagia. Karena kalau kau tidak bahagia, maka aku juga tidak akan bahagia.