Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Kian mengaduk dua gelas kopi yang baru diseduhnya. Pikirannya berhamburan entah kemana. Sekelebat kejadian kemarin kembali memutar di otaknya. Dia mengutuk kecerobohan yang terlalu sering dia lakukan.


"Kian, kamu ditunggu tuan Arkan di ruangannya." Seseorang baru saja membuka pintu pantry, mengagetkan Kian dalam lamunannya.


"Ah iya, terima kasih," jawabnya. Kian tahu sebenarnya bukan dirinya yang ditunggu, melainkan kopi yang saat ini tengah diseduhnya.


Kian membawa nampan berisi kopi berjalan menuju ruangan tuan muda. Kali ini dia sudah tidak gemetaran seperti sebelumnya, ya walaupun perasaan takut masih sedikit menyelimutinya. Tapi itu bukan karena kegarangan tuan mudanya, melainkan karena sifat cerobohnya yang bisa saja melakukan kesalahan sewaktu-waktu. Saat sampai di depan pintu ruangan Arkan, dia berdiri sejenak. Mengatur nafas perlahan lalu mengetuk pintu pelan. Kian masuk setelah mendengar ijin dari pemiliknya.


Eh, tumben tidak ada Pak Dan!


Kian berjalan mendekati meja kecil yang ada di belakang Arkan. Dia meletakkan gelas dengan hati-hati. Saat berbalik dia melihat Arkan yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Tumben sekali pria itu belum membuka suara, batin kian. Lama menatap pria itu, bayangan kejadian kemarin muncul diingatannya.


***


Bus sudah memasuki wilayah ibukota, tapi mereka belum tiba di tujuan. Masih ada jarak beberapa puluh kilometer lagi. Kian mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.


"Astaga,," Kian terkejut mendapati dirinya dan Arkan saling menyenderkan kepala. Pria itu masih tertidur pulas.


Kenapa aku bisa bersandar di pundaknya?


Kian berusaha mengingat kembali, bagaimana dia bisa tertidur seperti itu. Tapi sayangnya dia tidak bisa mengingat apapun. Dia langsung bergidik ngeri membayangkan saat dia tengah menyandarkan kepala ke pria itu.


Apa dia tahu waktu aku menjatuhkan kepala di pundaknya? Semoga saja dia tidak menyadarinya. Kalau dia tahu, pasti dia sudah memakiku dari tadi.


"Kau sudah bangun?" Arkan sudah bangun dari tidur. Dia memutar lengan kanannya yang terasa pegal.


"Sudah, Tuan. Apa lengan tuan sakit?" tanya Kian yang memperhatikan gerakan Arkan. Dia merasa lengan pria itu sakit gara-gara dia.


"Ho-oh, ini gara-gara kau. Beraninya kau memakai pundakku untuk bersandar! Kau sudah bosan hidup ya?" Matanya menatap Kian tajam.


Heh? Jadi dia tahu aku bersandar di pundaknya. Kenapa dia baru marah sekarang?


"Maaf Tuan, tapi sepertinya tuan juga bersandar di pundak saya hingga lengan saya juga terasa sakit," balas Kian membela dirinya. Dia menunjuk pundak sebelah kirinya.

__ADS_1


Benarkah? Bagaimana mungkin??


"Wah sekarang kau juga sudah pintar membual ya. Bagaimana mungkin aku bersandar di pundakmu yang lapuk itu. Kau pasti langsung terjatuh kalau aku menyandarkan kepalaku disana." ucap Arkan dengan nada mengejeknya.


Apa dia bilang?? Pundakku lapuk?? Aisshh tuan muda ini benar-benar ahli menghina rupanya.


"Terserah tuan mau percaya atau tidak, saya permisi!" Kian langsung turun dari bus saat mereka tiba di halaman kantor.


"Apa-apaan dia main pergi begitu saja. Bukannya berterima kasih, dia malah menghampiri orang lain. Lihat, dia bahkan tertawa seperti orang bodoh di depan pria itu. Aargghh!" Arkan menendang kursi di depannya yang sudah kosong, mengumpat kesal karena Kian meninggalkannya begitu saja dan pergi menghampiri Rendy.


***


"Hey gadis bodoh!!" Arkan memutar kursinya, setengah berteriak di depan wajah Kian. Membuat gadis itu terkejut setengah mati.


"I-iya Tuan," jawab Kian gelagapan. Arkan tergelak.


Sialan, kenapa aku menjawab iya saat dia memanggilku gadis bodoh.


"Kenapa kau masih disini?"


"Maaf Tuan, saya permisi," jawab Kian sambil menundukkan kepalanya.


Dengan langkah cepat Kian berjalan menuju pintu. Baru saja dia memegang handle pintu, seseorang dari luar sudah mendorong pintu dengan keras. Hingga Kian jatuh tersungkur. Arkan yang melihat Kian jatuh langsung menghampiri.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Arkan cemas. Sambil membantu Kian berdiri.


"Saya baik-baik saja, Tuan." Menerima uluran tangan Arkan yang sedang membantunya.


"Maaf aku tidak sengaja." Seseorang baru saja masuk sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Menyakinkan bahwa dia benar-benar tidak sengaja membuat Kian terjatuh.


Melihat siapa yang baru saja masuk, air muka Arkan berubah. Matanya penuh sorotan tajam. Andai dia tidak menahan dirinya, mungkin ia sudah melayangkan pukulan ke pria itu.


"Kau? Mau apa kau kemari?" tanya Arkan sinis.

__ADS_1


Pria itu tertawa kecil. "Sudah lama ya kita tidak bertemu, aku hanya ingin menyapamu."


"Pergi, aku sedang tidak ingin menerima tamu!" Nada suara Arkan penuh penekanan mengusir pria yang ada di hadapannya. Sementara Kian hanya mematung, dia melirik tangannya yang masih digenggam Arkan.


"Ohh ayolah, kau tidak ingin menyapaku?" Pria itu berjalan ke sofa, berinisiatif duduk meskipun belum dipersilahkan.


"Kau tidak dengar apa yang aku katakan??!!!" Arkan berteriak. Membuat Kian takut. Belum pernah dia melihat raut wajah Arkan seperti itu. Walaupun sudah sering kali ia melihat Arkan berteriak, tapi kali ini berbeda. Seperti ada amarah yang benar-benar memuncak.


"Aku hanya ingin mengantarkan ini Tuan Muda yang terhormat." Pria itu mengatakannya dengan penuh penekanan, seperti sedang mengejek. Dia melemparkan sebuah undangan di meja depan sofa, lalu beranjak dari duduknya.


"Kau tidak perlu repot mengantarnya. Karena aku tidak akan datang."


"Baiklah kalau kau tidak akan datang. Kalau begitu aku akan mengundang gadis manis ini saja. Bagaimana menurutmu, nona?" Pandangan pria itu beralih menatap Kian. Sedangkan Kian masih diam belum bergeming.


Arkan melepaskan genggamannya. "Kembali ke ruangan mu!" perintahnya pada Kian.


"Baik, Tuan." Gadis itu mengangguk cepat.


"Tunggu dulu nona! Berikan satu undangan untuknya!" Perintah pria itu pada asistennya. Dengan sigap asisten tersebut mengeluarkan undangan dari dalam kantong jasnya dan memberikannya pada Kian.


Setelah menerima undangan, Kian pergi meninggalkan mereka yang masih bersitegang.


"Pergi!" ucap Arkan lagi. Mengusir pria yang ingin sekali ia tendang itu.


"Baiklah, baiklah." jawab pria itu sambil tertawa. "Jangan terlambat!"


Lalu pria itu meninggalkan Arkan yang kesal dalam ruangannya dengan senyum menyeringai.


Selepas pria dan asisten itu pergi, Arkan menyandarkan diri di sofa nya. Kepalanya bertumpu diatas kedua tangan, dan matanya menatap langit-langit ruangan yang berwarna keabu-abuan. Pikirannya melayang entah kemana.


Sementara Kian kembali ke ruangannya sambil mengenggam kertas ditangannya. Sebuah undangan yang diberikan asisten pria itu tadi. Setelah duduk di kursinya, dia membuka kertas itu dan membaca isinya.


"Grand Opening Karaoke & Spa"

__ADS_1


"Inikan cuma acara peresmian, kenapa tuan Arkan terlihat marah sekali dan bilang tidak akan datang? Huh! Dia itu memang suka aneh, dan tempramen sekali!" gumamnya pelan.


Aku datang apa tidak ya? Kelihatannya acaranya seru. Kalau dilihat-lihat tuan Arkan juga tidak akan datang kan. Jadi setidaknya aku aman disana, tidak akan ada tuan muda yang menyusahkan ku.


__ADS_2