Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Pengakuan Tak Langsung


__ADS_3

Viona menggerutu sendiri sepulangnya dari kantor Rendy. Ia kesal, seseorang yang ingin dilihatnya, ternyata tidak ada disana. Bahkan penampilan yang sudah ia persiapkan sejak semalam sia-sia begitu saja. Viona sengaja berbelanja di butik mewah hanya untuk mendapatkan pakaian yang ia kenakan sekarang.


"Ahh dasar tidak berguna!" umpatnya kesal. "Kenapa Tuan Arkan tidak datang ke kantor, sih? Dan Gadis Bodoh itu, kenapa ia juga tidak datang bekerja? Apa ini ada hubungannya dengan dia? Aarggghh."


Viona mengambil ponselnya, ia memencet panggilan ke seseorang.


"Hei, kau dimana?" Viona meninggikan suaranya. Membuat orang yang ada diseberang telepon menjauhkan ponsel dari telinganya


"......."


"Baiklah, aku akan kesana. Jangan kemana-mana!" perintahnya.


"......"


Viona menyetop taksi dan tidak jadi berangkat bekerja hari ini. Padahal kantornya hanya bersebelahan dengan kantor Rendy. Tapi ia merasa sudah tidak mood. Ia lebih memilih pergi bersenang-senang.


Dua puluh menit kemudian, taksi tiba di sebuah Mini Bar. Ia memberikan beberapa lembar uang kepada supir dan berlalu meninggalkan taksi yang masih terparkir di pinggir jalan. Pandangannya mengedar mencari keberadaan seseorang. Ketemu. Dia berjalan menghampiri orang tersebut.


"Hei, hei, lihatlah siapa yang datang?" Seorang pria berparas tampan sambil memegang gelas berisi minuman, menyeringai melihat kedatangan Viona.


"Sial!" umpat Viona lagi. Ia mendudukkan dirinya kasar lalu memesan minuman.


"Wah, mood mu sedang tidak baik ternyata. Pantas saja kau mencariku pagi-pagi begini."


Viona masih bergeming, ia meneguk minumannya yang baru saja diantar. Ia mendesis pelan merasakan manis pahit yang keluar dari minuman itu. Lalu mengalihkan pandangan ke arah pria yang ada di depannya.


"Aku punya sesuatu untukmu!" Viona menyodorkan ponselnya.


Pria itu mengernyit melihat layar ponsel Viona. "Siapa dia?"


"Usianya 22 tahun, masih polos, naif, wajahnya juga tidak buruk, dan yang terpenting, dia belum pernah tersentuh oleh siapapun." Viona kembali meneguk minuman di gelasnya.


Pria di depan Viona masih menatap gambar yang muncul di layar ponsel sambil menggigit bibir bawahnya. Lalu mengangkat kepalanya, beralih menatap Viona. "Kau paling tahu kesukaanku! Bagaimana aku membayarnya?" tanyanya.


"Cukup beri aku bukti dengan mengambil fotonya saat tidur denganmu." Viona menyeringai dengan segala rencana di kepalanya.


"Ck. Mudah sekali. Kenapa kau memberikannya padaku?" tanya pria itu lagi. Tidak biasanya Viona memberinya wanita semudah ini tanpa bayaran sepeser pun.


Viona menarik napas panjang. "Kau tahu Arkan dari Wijaya Group?"


Pria itu mengangguk. "Tentu saja! Siapa yang tidak mengenalnya. Pewaris Tunggal dari Wijaya Group yang memiliki kekayaan seantero negeri."


Mendengar jawaban pria itu, Viona semakin tersenyum. "Kau benar, kekayaannya melebihi dari apa yang orang lain pikirkan. Bahkan jika dibandingkan dengan Reino Company, perusahaan itu tidak ada apa-apanya."


"Itu karena Tuan Wijaya cukup pintar menyembunyikan kekayaannya. Ia sengaja memakai nama orang lain untuk menghindari pajak yang begitu besar. Dan anaknya, ia hanya mengurus satu dari ratusan bisnis ayahnya. Pria itu belum cukup mahir seperti Tuan Wijaya." Pria itu menimpali.


Viona masih terus tersenyum sambil sesekali meneguk minumannya.


"Kenapa kau tiba-tiba membahasnya? Jangan katakan kau mengincarnya kali ini. Ingat, Kau sudah menjerat Reino."


Viona terkekeh kecil. "Sayangnya, tebakanmu benar! Maka dari itu aku ingin menyingkirkan tikus kecil yang menghalangiku. Jika aku bisa mendapatkan ikan yang lebih besar, kenapa aku harus puas dengan ikan kecil seperti Reino." Viona mengubah posisi duduknya, ia meletakkan gelas di tangannya lalu menyandarkan tubuhnya.


"Kau benar-benar serigala betina!" ucap pria itu tersenyum, namun dengan nada suara antara memuji dan mengejek.


Viona tidak peduli. Yang ia pikirkan adalah bisa menjerat pria kaya lainnya. Reino memang kaya, tapi sayangnya kekayaan pria itu tidak sebanding dengan pewaris tunggal dari Wijaya Group. Jika Kian gadis kampungan saja bisa dekat dengan pria itu, maka pasti tidak sulit baginya yang memiliki kecantikan dan penampilan yang lebih berkelas. Rasa percaya dirinya begitu tinggi.

__ADS_1


***


"Hei, kau mau kemana?" tanya Arkan melihat Kian seperti bersiap ingin pergi.


"Aku mau ke danau. Sudah lama sekali aku tidak berenang."


Arkan menelan ludah.


Berenang di danau? Apa dia mau mati?


"Danau disana tidak ada buayanya, kecuali buaya darat." Seperti bisa membaca pikiran Arkan, Kian menjawabnya dengan cibiran. Karena raut wajah pria itu sedikit ketakutan.


"Aku ikut!"


"Terserah kau saja!" Kian tidak mau ambil pusing. Dia mengunci pintu dan menyimpan kunci tersebut di bawah pot bunga.


"Kenapa kau menyimpannya disitu? Kau tidak takut orang akan mengetahuinya?" tanya Arkan heran.


"Ini biar siapa yang pulang lebih dulu, bisa membuka pintu. Lagipula jika ada yang tahu, memang mau apa? Toh semua orang tahu di rumahku tidak ada barang berharga." jawab Kian santai.


Mereka berdua berjalan kaki menuju danau. Saat tiba di depan rumah Arya, Kian mampir. Pria itu terlihat sedang menjemur padi.


"ARYA!!" panggil Kian.


Arya menoleh, ia tersenyum melihat Kian. Namun saat melihat pakaian yang dikenakan Kian sama dengan Arkan, raut wajah pria itu berubah. Seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya.


Sedangkan Arkan, pria itu justru sengaja membusungkan dadanya agar kaos yang ia pakai terlihat jelas. Terlihat sekali ia ingin pamer karena memakai kaos couple bersama Kian.


"Ayo ke danau!" ajak Kian.


Ck. Kenapa kau selalu mengajak pria lain bersamamu? Sedangkan aku, harus menawarkan diriku untuk bisa ikut. Menyebalkan.


"Ayolah... kapan lagi kita bisa berenang bareng? Ya..ya.." Kian memasang wajah imutnya.


"Hei, hentikan!! Kenapa wajahmu seperti itu?" Arkan yang melihat Kian bertingkah sok imut di depan pria lain, membuatnya kesal.


"Baiklah," jawab Arya. Melihat Arkan yang kesal karena Kian merayunya, Arya berubah pikiran. Ia ingin membalas dendam karena pria itu sudah mencoba memprovokasinya.


Akhirnya mereka bertiga berjalan kaki menuju danau. Kian tidak mempedulikan Arkan yang sedari tadi menatapnya tajam karena mengacuhkannya. Kian asyik mengajak Arya mengobrol. Sedangkan dia, hanya seperti obat nyamuk bagi mereka berdua.


Arkan terpana melihat danau yang ada di depan mereka. Tidak seperti yang ada dalam bayangannya, danau ini ternyata sangat indah. Airnya jernih berwarna kebiru-biruan. Beberapa batu besar mengelilingi pinggiran danau. Terlihat juga beberapa gazebo yang dibuat dari bambu. Sepertinya danau ini di tujukan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat sekitar. Karena masih pagi, suasana danau tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang bertugas menjaga danau terlihat disana.


"Wah ternyata danau ini sudah banyak berubah ya," ucap Kian ikut terpana.


"Tentu. Jika dulu hanya kita yang sering main kesini, sekarang banyak orang dari kampung sebelah juga main ke danau ini. Makanya, dibuatlah sebagai tempat rekreasi." jelas Arya.


"Byurrr."


Kian lompat lebih dulu. Tubuhnya meliuk-liuk di dalam air. Sebentar ia muncul di permukaan lalu menyelam lagi. Rasa rindunya benar-benar ia keluarkan dengan berenang sepuasnya.


"Arya, ayo kita adu kecepatan lagi seperti dulu!" tantang Kian.


"Siapa takut!" jawab Arya antusias.


Sementara Arkan lagi-lagi hanya melihat sinis ke arah mereka. Ia merasa kesal sendiri karena tidak bisa berenang.

__ADS_1


"Kau tidak ikut?" tanya Kian heran. Ia melihat pria itu hanya duduk diam melihatnya.


"Kau mau aku gatal-gatal karena berenang di tempat sembarangan?" jawabnya sombong.


"Cih, sombong sekali!" Mendengar jawaban Arkan, Kian berencana untuk mengerjai pria itu.


Kian berbicara pelan dengan Arya agar Arkan tidak bisa mendengarnya. Arya terlihat mengangguk, lalu pria itu berenang menjauhi Kian.


"Hei, tunggu aku!" teriak Kian pada Arya.


"Tidak mau! Kejarlah kalau kau bisa!" tantang Arya.


Baru saja Arkan ingin membuka suara, ia melihat tingkah Kian yang aneh. Ia tidak melihat gadis itu mengejar Arya. Justru ia melihat tangan Kian yang melambai-lambai.


"To..tolong!" Kian berteriak sambil tangannya terangkat ke atas. Kepalanya keluar masuk di dalam air.


Mendengar Kian meminta tolong, Arkan terlihat panik. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menceburkan dirinya. Ia sampai lupa kalau dirinya tidak bisa berenang. Yang ada di pikirannya hanyalah menyelamatkan Kian.


Sementara Kian dan Arya tergelak bersama. Mereka tertawa karena merasa sudah berhasil mengerjai pria sombong itu.


Namun, ada yang aneh. Arkan tak juga muncul ke permukaan. Karena penasaran, Kian berenang mendekati pria itu, namun ia tersentak saat melihat Arkan tidak berdaya di dalam air. Kian langsung menarik pria itu menepi. Dibantu Arya, mereka membawa Arkan ke daratan.


"Tuan, bangun!" teriak Kian menepuk pipi Arkan. Ia juga menekan dada pria itu beberapa kali. Namun, Arkan juga tidak sadarkan diri. Membuatnya semakin panik.


Kian merasa bersalah karena sudah mengerjai pria itu. Harusnya ia tidak melakukannya. Harusnya ia tidak bertindak seceroboh itu. Melihat Arkan terkulai lemas, Kian merasa dadanya sesak. Tiba-tiba ia merasa takut kehilangan pria itu.


"Tuan, bangun. Maafkan aku, Maafkan aku!" lirihnya. Tanpa sadar air matanya mulai menetes.


"Maafkan aku. Aku mohon bangunlah!" ucapnya dengan suara tercekat.


Kian masih terus menekan dada Arkan. Berusaha mengeluarkan air yang ditelan pria itu. Namun tidak berhasil. Arkan masih menutup mata. Sementara nadinya mulai melemah. Kian semakin terisak. Ia mengambil napas panjang lalu meniupnya di mulut Arkan. Beberapa kali ia lakukan sampai terdengar suara dari pria itu.


"Uhugh."


Arkan mengeluarkan air dari mulutnya. Ia mulai mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadarannya. Akhirnya Kian bisa bernapas lega. Ia membantu Arkan duduk. Matanya menatap sayu pria di depannya.


"Dasar bodoh! Kenapa kau menceburkan diri kalau tidak bisa berenang? Kau bisa saja mati tenggelam!" tanya Kian masih dengan suara bergetar.


"Aku juga akan mati jika melihatmu tenggelam!"


Deg.


Kian merasa sesuatu yang besar memukul dadanya saat itu juga. Dia berniat mengerjai Arkan, tapi pria itu justru berusaha menyelamatkannya meski harus mengorbankan dirinya.


"Dasar bodoh, kenapa kau bisa tenggelam seperti itu, hah?" Arkan menatap lekat Kian. Gadis itu menunduk.


"Maaf aku tadi hanya bercanda. Aku..." Belum sempat Kian melanjutkan, Arkan sudah memotong ucapannya.


"Apa?? Kau bilang hanya bercanda?" Arkan berusaha bangkit. "Kau pikir itu lucu, HAH?!" bentaknya.


Arya ingin membuka suaranya, namun Kian menahannya. Melihat Kian memegang tangan Arya, Arkan semakin emosi. Dia mengepalkan tangannya sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di danau itu.


"Dia menyukaimu." Arya membuka suaranya.


Kian menoleh, ia merasa telinganya salah mendengar ucapan pria itu.

__ADS_1


"Dia benar-benar menyukaimu!" ulang Arya lagi. Kali ini, ia merasa tidak salah dengar. Dengan jelas pria itu mengatakan Arkan menyukainya.


Bodoh. Kau benar-benar bodoh. Kenapa kau menyukai orang sepertiku?


__ADS_2