Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Acara Makan Malam


__ADS_3

Kian masih berdiri disini. Sudah hampir setengah jam dia berada didepan halaman kantor, tanpa beranjak. Dia ragu untuk melanjutkan langkahnya. Membawa jas yang sudah berantakan ini di hadapan Arkan, apa benar tidak apa-apa?. Dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Kian mengutuk kecerobohannya yang selalu saja melakukan kesalahan. Rasanya ingin lari, bersembunyi, atau kalau perlu menghilang dari pandangan tuan mudanya. Tapi dia tidak bisa. Dia harus bertanggung jawab apapun resikonya.


Langkah kakinya perlahan memasuki gedung, menaiki lift dan tiba didepan ruangan Arkan. Selintas pria itu tersenyum tipis melihat kedatangan Kian. Lalu menunggunya masuk ke dalam ruangan. Ragu-ragu Kian membuka pintu dan menghampiri Arkan. Tanpa aba-aba, dia langsung berlutut di depan pria itu.


"Maafkan saya, Tuan. Maafkan kecerobohan saya," ucap Kian penuh penyesalan. Wajahnya tertunduk lemas.


Melihat sikap Kian, Arkan menduga pasti ada sesuatu yang tidak beres baru saja terjadi. Dengan kasar pria itu merebut jas yang ada dalam pelukan Kian. Gadis itu masih berlutut, memohon pengampunan.


"Dasar tidak berguna!" Arkan melemparkan jas itu ke lantai. Hampir mengenai wajah Kian. "Menjaga satu jas saja kau tidak bisa. Kau ini bodoh atau apa?!" teriaknya memenuhi seisi ruangan.


Kian semakin menundukkan kepalanya, tidak berani menatap pria di depannya. "Maaf Tuan, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya. Tolong maafkan saya." lirih Kian. Suaranya nyaris tercekat.


"Berdiri!" teriak Arkan.


Gadis itu berdiri perlahan, dengan kepala masih menunduk.


"Apa? Maaf?" Arkan mencengkeram lengan Kian kuat. Membuat gadis itu mengerang kesakitan. Arkan langsung memutar lengannya, untuk melihat sesuatu. Kenapa dia begitu kesakitan, padahal selama ini dia bisa menahannya. Sial! Ada darah yang mengalir dari lengan gadis itu. Cengkraman Arkan menekan darah itu kembali keluar.


"Apa yang terjadi?" tanya Arkan. Masih dengan intonasi tinggi. Lalu dia melepaskan tangan Kian dengan kasar.


Akhirnya Kian menjelaskan semuanya. Dari awal mula kejadian sampai dia berakhir seperti itu. Benar-benar gadis yang malang!.


"Kau memang bodoh!" Sekali lagi Arkan memaki gadis itu. Namun dengan intonasi sedikit rendah.


Arkan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam nakas. Berjalan ke arah sofa lalu membuka kotak itu.


"Kemari!" ucap Arkan tanpa melihat Kian.


Gadis itu menurutinya. Dia menghampiri Arkan dan berdiri di sampingnya.


"Duduk!" perintah Arkan lagi.


Kian duduk tidak jauh dari Arkan. Mengamati apa yang dilakukannya. Pria itu menuangkan sedikit alkohol kedalam kapas. Lalu meraih lengan Kian yang terluka dan mulai membersihkannya.


"Aww," rintih Kian. Lukanya terasa perih.

__ADS_1


"Tahan sebentar!" Arkan membersihkannya sambil sesekali meniupnya.


Mendadak rasa perihnya menghilang. Kian tidak merasakan sakit sama sekali. Dia hanya merasakan hembusan napas Arkan memenuhi rongga dadanya. Membuatnya merasa sesak. Dengan telaten pria itu mengobati luka-lukanya. Rasa takut yang sedari tadi menyergapnya, sirna seketika. Berubah menjadi kehangatan yang ia rasa. Dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu. Bayangan ia akan diludahi, ditampar, dijambak, menguap begitu saja. Sekali lagi, ia melihat sisi yang berbeda dari tuan muda itu.


Setelah selesai membalut semua luka dengan obat, Arkan melemparkan tangan Kian begitu saja. Membuat gadis itu terkejut.


"Menyusahkan saja!" gumamnya.


Dia ini aneh sekali. Sebentar galak, sebentar baik, sebentar lagi galak lagi. Dia mengidap kepribadian ganda apa gimana sih?


"Terimakasih, Tuan," ucap Kian.


"Aku belum memaafkan kesalahanmu. Secepatnya aku akan menghukummu setelah kau sembuh dari luka-luka itu," ancamnya tegas.


Syukurlah, setidaknya hari ini aku selamat.


Hari sudah gelap. Menandakan malam sudah mulai menyapa. Para karyawan sudah pulang dari tadi, tapi dua orang ini masih membereskan sisa-sisa pengobatan dokter ala tuan muda.


"Ayo pulang, aku akan mengantarmu!" ajak Arkan.


Kian nyaris tak percaya mendengarnya. "Tuan tidak jadi menghadiri acara makan malam?"


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan." Kian jadi tambah merasa bersalah pada Arkan. Gara-gara kecerobohan dia, Arkan tidak jadi datang ke acara itu. Kian baru ingat pembicaraannya dengan Sam mengenai acara itu. Sebenarnya acara makan malam itu bukan makan malam biasa, melainkan sangat penting untuknya. Karena dihadiri oleh rekan-rekan bisnisnya, sebagai ucapan selamat atas peringatan ulang tahun perusahaannya. Sebagian dari mereka juga akan menjalin kontrak kerja sama baru melalui acara itu. Tapi semuanya gagal begitu saja. Karena pria itu malah memilih mengobati luka Kian.


"Sudah, ayo cepat!" ucap Arkan sambil berjalan mendahului.


Kian mengikutinya dari belakang. Matanya menatap punggung Arkan yang tak jauh darinya.


"Kian...!" Seseorang memanggil nama Kian saat dia tiba di lobby.


Mendengar suara itu, Kian langsung mengenali siapa pemiliknya.


Kak Rendy! Kenapa dia masih disini?


Kian menoleh. Mendapati Rendy yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Senyuman yang Kian rindukan beberapa hari ini. Ingin rasanya dia membalas senyuman itu, tapi entah kenapa tiba-tiba bibirnya terasa kaku. Akhirnya Kian hanya memasang ekspresi wajah datarnya.

__ADS_1


"Cepat selesaikan urusanmu. Ku tunggu di mobil!" ucap Arkan ketus. Lalu berlalu meninggalkan Kian dan Rendy.


Kian menghela napas.


"Kenapa Kak Rendy masih disini?" tanyanya duluan.


Ekspresi Rendy masih terkejut mendengar ucapan Arkan barusan. Tapi segera ia kendalikan saat mendengar pertanyaan Kian.


"Aku menunggumu. Aku ingin mengantarmu pulang. Tapi setelah mendengar ucapan Tuan Arkan, sepertinya kamu masih ada urusan." ucap Rendy. Raut kecewa terlihat jelas diwajahnya.


"Iya Kak Rendy maaf, aku harus segera pergi!" jawab Kian. Seolah-olah memang masih ada yang akan mereka kerjakan.


"Hmm baiklah. Hati-hati dijalan ya!"


Meskipun kecewa, tapi Rendy masih bisa menunjukkan senyum tulusnya untuk Kian. Membuat gadis itu merasa bersalah karena sudah berbohong.


"Kak Rendy juga, berhati-hatilah pulangnya." jawab Kian. Menyematkan nada khawatir untuk mengurangi rasa bersalahnya.


Lalu ia meninggalkan Rendy seorang diri dan menuju mobil Arkan. Di dalam mobil, Kian melihat ekspresi Arkan berubah dingin. Tidak ada senyum atau amarah disana, terlihat sangat datar.


"Maaf membuat anda menunggu, Tuan."


"Jalan, Sam!" Tanpa menjawab ucapan Kian, pria itu menyuruh supir menjalankan mobilnya.


"Baik, Tuan."


Lalu hening. Mereka semua larut dalam perasaan mereka masing-masing. Menyelami pikiran terdalam mereka hingga rasanya sulit kembali. Arkan memejamkan mata dengan menyandarkan kepalanya. Sedangkan Kian, menatap jalanan yang dipenuhi kilauan cahaya dari lampu kendaraan yang melintas.


Maafkan aku Kak Rendy, sudah berbohong. Aku harus belajar menjauh darimu. Meskipun aku sangat menyukaimu, tapi aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan Viona. Aku takut akan melukaimu. Biar perasaan ini aku saja yang menyimpannya. Dan satu lagi, kenapa kau harus berbohong soal kalung itu?


Kian kembali teringat pertemuannya dengan Viona, gadis itu menunjukkan kalung yang dipakainya. Kian ingat betul itu adalah kalung yang ia pilihkan untuk Rendy. Karena pria itu mengatakan ingin memberikan hadiah untuk sepupunya. Namun yang ia lihat justru Vionalah yang memakainya. Ternyata Rendy juga berbohong padanya.


Apa kau masih mengingat perasaanmu untuknya? Ck. Padahal aku sudah berusaha membuatmu sibuk hari ini. Bahkan aku sampai harus memindahkan mu segala agar kau tidak bertemu lagi dengannya. Tapi lihat, sekali saja dia menghampirimu, usahaku terlihat sia-sia.


Arkan menarik napas dalam, mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Dia tidak tahu kenapa perasaannya jatuh pada gadis bodoh disampingnya. Apa sekarang malah dia yang terlihat bodoh? Ahh entahlah.

__ADS_1


Apa kau baik-baik saja? Kenapa tanganmu penuh perban? Aku bahkan belum sempat menanyakan keadaanmu, tapi kau sudah berlalu begitu saja. Aku menunggumu karena aku ingin menanyakan sesuatu. Kenapa sekarang kau sering menghindari ku? Apa aku sudah melakukan kesalahan padamu?


Rendy masih duduk diatas motornya. Belum menyalakan mesin. Pikirannya berkecamuk. Merasa sedih saat melihat kondisi Kian seperti itu. Apa dia terluka? Apa dia baik-baik saja? Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya. Yang membuatnya merasa lebih frustasi dia tidak bisa menghibur Kian walau untuk sesaat. Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkannya.


__ADS_2