Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Kejutan Dari Kian


__ADS_3

Sam mengantarkan Kian tepat di halaman gedung kantor. Beberapa orang langsung memandangnya dengan tatapan bermacam-macam, tapi Kian sudah bertekad untuk tidak memperdulikannya.


"Kiannnn!!" Suara seseorang yang sangat Kian kenal membuat ia menoleh ke asal suara tersebut.


"Dinaaa!" Kian tampak begitu senang, ia langsung menghambur memeluk sahabat karibnya selama di kantor.


"Yaa ampun.. kamu cantik banget, Kian!" puji Dina setelah melepas pelukannya.


"Bisa aja kamu!"


"Kamu sudah benar-benar pulih?"


"Sudah. Lagian aku bosan di rumah terus."


"Syukurlah kalau kamu sudah pulih. Oh ya, gimana hubungan kamu sama Tuan Arkan?" goda Dina yang membuat wajah Kian bersemu merah.


"Hubungan apaan sih? Hubungan sekretaris sama bos maksud kamu?" tanya Kian balik.


"Jangan pura-pura ngga tahu deh. Seluruh negeri juga tahu kalau kamu ada hubungan sama Arkan. Lagian Aku tahu kok kalau Tuan Arkan suka sama kamu."


Benar juga. Meskipun Arkan memaksa media untuk bungkam. Tapi tetap saja banyak orang yang sudah mengetahui berita itu.


"Apa?! Jadi kamu juga tahu?" seru Kian kaget.


"Hu-uhh," balas Dina mengangguk.


"Sejak kapan?" Sungguh Kian masih penasaran bagaimana Dina bisa tahu soal itu. Banyak orang-orang disekelilingnya mengatakan hal yang serupa, tapi ia masih juga tidak menyadarinya.


"Sejak gathering di puncak. Kamu tahu ngga, pas kamu tenggelam waktu itu, Tuan Arkan panik banget tahu. Secara ngga mungkin dia akan panik kalau ngga ada perasaan sama kamu."


Bahkan Dina saja bisa melihat perasaannya padaku. Tapi kenapa rasanya sulit dipercaya. Benarkah dia menyukaiku?


"Terus gimana?" tanya Dina lagi. Sepertinya ia masih penasaran kelanjutan hubungan Arkan dan Kian yang sempat fenomenal di jagat internet.


"Jaga rahasia ini ya.." Kian mengingatkan Dina. Membuat Dina semakin mengangguk antusias mendengarkan Kian. " Sebenarnya aku dan Arkan sudah menikah."


"APAAA??!!" Dina berteriak histeris.


Dengan cepat Kian membungkam mulut Dina sambil mengacungkan jari telunjuk di mulut. Memberi isyarat agar Dina tidak berteriak.


"Hmmpp" Dina mengangguk paham dibalik tangan Kian. Kian pun melepaskan bungkamannya.


"Kamu serius?" Kali ini Dina berbisik agar tidak ada yang mendengarkan mereka.


"Iya. Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku ceritain ke kamu ya. Sudah masuk jam kerja nih!" Kian menunjuk jam di tangannya.


"Oke deh. Kalau ntar Tuan Arkan tidak ada, kita makan siang bareng ya!" ujar Dina.


"Siapp!" Akhirnya mereka pun menuju ke ruangan kerja masing-masing.


Kian membuka pintu ruangan kerjanya dan mendapati ruangan itu masih sama persis seperti sebulan yang lalu. Tidak ada sesuatu yang berubah atau berpindah dari tempatnya. Bahkan ruangan itu tetap bersih meskipun ia tidak berada disana.


Kian menghampiri sekertaris kantor untuk mengecek jadwal atau pekerjaan Arkan yang masih tertunda. Setelah mendapatkannya, ia pun kembali ke ruangannya. Melakukan tugas yang biasa ia kerjakan hingga jam istirahat tiba.


***

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, Arkan baru saja selesai meeting dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran.


"Apa Tuan ingin sekalian makan siang disini?" tanya Pak Dan setelah rekan bisnis mereka pergi dari sana.


"Tidak, Pak. Saya ingin kembali ke kantor saja." Arkan yang sedang duduk, beranjak dari kursi.


"Bukankah kita akan berkunjung ke salah satu anak cabang supermarket, Tuan?"


"Ditunda saja, Pak. Hari ini pertama Kian bekerja setelah cuti, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya," ujar Arkan antusias.


"Baiklah, Tuan.


Dari restoran tersebut, mereka langsung kembali menuju kantor. Arkan yang sangat bersemangat ingin bertemu Kian, terus tersenyum sendiri. Melihat itu, Pak Dan hanya bisa menggelengkan kepala.


Sepertinya Anda sangat bahagia akhirnya bisa menikah dengan Nona Kian. Syukurlah akhirnya ada wanita yang bisa mengetuk hati, Anda.


Sesampainya di kantor, Arkan langsung bergegas turun dari mobil. Bahkan sebelum Pak Dan membukakannya pintu. Ia berjalan dengan langkah cepat menaiki lift dan melewati lorong ruangan.


Kini, ia sudah berada tepat di depan pintu ruangan Kian yang tertutup. Perlahan, ia membukanya dan mendapati sosok yang sedang membungkuk membelakanginya.


"Hei, siapa kau yang sudah berani masuk ke ruangan ini?!" bentak Arkan. Ia kesal melihat seseorang yang berani masuk ke ruangan Kian tanpa ijinnya.


"Tidak ada yang boleh masuk kesini selain Kiandra Maharani!" hardiknya lagi. Sedangkan orang itu belum bergerak dari posisinya.


"Apa kau tuli?"


Perlahan, orang itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar mendengar ucapan Arkan.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh memasuki ruangan kerjaku sendiri?" goda Kian melihat gurat kesal di wajah Arkan yang mengira dirinya adalah orang lain.


"Bukankah kau yang membeli ini?" Kian menatap sekilas penampilannya sendiri.


"Aku pikir kau membutuhkan waktu untuk berpenampilan seperti ini," jawab Arkan masih menatap Kian lekat.


"Lebih cepat lebih baik. Lagian pakaian ini juga lumayan cocok untukku."


Bukan hanya cocok. Tapi kau sangat cantik, Kian.


"Kalau kau suka, aku akan membelinya lagi untukmu."


"Tidak usah buru-buru. Yang ada di lemari juga masih banyak. Aku hanya tidak menyangka kau akan membeli pakaian seperti ini. Biasanya pria sepertimu menyukai penampilan wanita yang seksi dan terbuka."


"Kau benar, aku memang menyukainya." Mendengar jawaban Arkan, Kian mencebikkan bibirnya kesal. "Aku menyukai wanita yang berpenampilan seksi dan terbuka hanya di atas ranjangku." goda Arkan yang membuat pipi Kian memanas seketika.


"Kau..!" Kian memukul bahu Arkan hingga pria itu meringis kesakitan.


"Argghh.. Sakit tahu!"


"Bodo amat!" Kian menyilangkan tangan di dadanya bersikap acuh.


"Wahh kau sudah berani dengan bosmu ya??"


"Bos macam apa yang membahas pakaian dan ranjang di kantor?"


"Bos sekaligus suami.. hmmpp" Arkan tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Kian sudah membungkam mulutnya dengan tangan.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau ada yang mendengar ucapanmu?" Kian memelototi Arkan yang bertindak ceroboh menurutnya.


Arkan menarik paksa tangan Kian di mulutnya hingga terlepas. "Beraninya kau..!" Giliran Arkan yang menatap tajam Kian.


Sadar pria di depannya mulai kesal, Kian menundukkan kepala. "Maaf, aku hanya takut ada orang yang mendengarnya."


Arkan menghela napas melihat wajah Kian yang berubah memelas. "Sudahlah, aku lapar. Pesankan makanan untuk dua orang."


"Dua orang?" Dahi Kian berkerut bingung.


"Apa kau tidak lapar?"


"Ah iya. Baiklah.


Sambil menunggu makanan datang, Kian berdiri di belakang sofa sambil memijat kepala Arkan. Karena pria itu sendiri yang menyuruhnya. Meskipun jam istirahat, tapi Kian tidak menolak. Ia melihat wajah Arkan memang terlihat lelah. Bisa dibilang, beberapa pekan terakhir mereka tidak bisa beristirahat dengan tenang. Mulai dari insiden penusukan berlanjut kegalauan karena harus berpisah sesaat, dan ditambah dengan persiapan pernikahan yang mendadak membuat pikiran dan tenaga mereka terkuras.


"Duduklah." Arkan mengangkat kepalanya dari sandaran sofa dan menepuk sisi sebelahnya. Menyuruh Kian duduk disana. Tanpa protes, Kian mendudukkan diri di tempat yang Arkan maksud.


"Angkat kakimu!" perintah Arkan yang membuat Kian terperangah.


"Apa?"


"Angkat kakimu!" ulang Arkan lagi.


"A-pa yang ingin kau lakukan?" tanya Kian penasaran. Ia takut kalau Arkan sampai berbuat yang tidak-tidak di kantor.


"Kau ingin melakukannya atau aku yang melakukannya?" Gertakan Arkan akhirnya berhasil membuat Kian menurut. Ia mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas paha pria itu.


Pikiran buruk Kian menghilang saat melihat Arkan justru memijat lembut kakinya. "Kau pasti lelah," ucap Arkan dengan mata fokus pada pijatannya.


"Bagaimana kalau ada yang melihat kita?" tanya Kian khawatir.


Arkan meraih sebuah remote di atas meja dan memencet salah satu tombol. Seketika tirai jendela menutup ruangan secara otomatis, hingga tidak seorangpun bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan di dalam.


"Kau tahu kenapa aku membeli pakaian ini untukmu?" Pertanyaan Arkan hanya dibalas gelengan kepala oleh Kian.


"Saat pertama kali aku melihatmu memakainya di acara pernikahan kita, Kau sangat cantik!" ucap Arkan tulus.


Mendengar ucapan Arkan, Kian merasa darahnya berdesir. Hatinya seperti taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Bagaimana mungkin Arkan bisa memujinya?


"Lagipula aku tidak ingin orang lain melihat kulitmu yang seperti tempe gosong itu. Cukup aku saja yang boleh melihatnya!"


Dia ini memuji atau menghinaku?


Wajah Kian yang sempat merona karena mendapat pujian, berubah menjadi merah padam karena kesal. Ia menarik kakinya dari pangkuan Arkan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalau ingin menghinaku, menghina saja. Tidak usah pakai memuji!" dengus Kian kesal.


Arkan tergelak melihat tingkah Kian yang berubah ngambek seperti anak kecil. Membuatnya semakin menggemaskan.


"Tok tok tok.." Sebuah ketukan di pintu mengagetkan mereka. Kian langsung beranjak dan membuka pintu.


"Ah iya, terima kasih." Kian menutup pintu dan kembali ke sofa sambil membawa makanan.


Akhirnya makanan yang ditunggu pun tiba. Mereka langsung memakannya sebelum jam istirahat berakhir.

__ADS_1


__ADS_2