
Kian terbangun sebelum senja benar-benar menghilang berganti dengan gelapnya malam. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah, sebentar berkerut, sebentar datar, lalu berkerut lagi. Lalu ia berdiri dengan tubuh yang nyaris melompat dan membuka pintu lemari. Mencari-cari sesuatu didalam sana. Isi lemari itu tidak banyak, tapi ia begitu bingung memilah-milah, menimang-nimang sesuatu. Hingga pilihannya berakhir pada dress putih yang warnanya tidak lagi cemerlang, tapi masih terlihat bagus. Kian memutuskan untuk datang ke acara makan malam memenuhi undangan Nyonya Wina, Ibunya Arkan.
Ia pikir, makan malam keluarga bukanlah acara yang terlalu formal hingga ia tidak perlu berpenampilan dan berdandan berlebihan. Dan pada dasarnya pun ia memang tidak bisa berdandan. Hanya memoleskan pelembab dan ditimpali dengan bedak padat, serta lipstik berwarna peach yang terlihat pas di bibir mungilnya. Rambutnya lurusnya ia biarkan terurai dengan menyelipkan jepit rambut kecil di sisi kanannya. Sederhana tapi terlihat manis. Ia sudah bersiap untuk berangkat.
"Kamu mau kemana, Kian? Tumben-tumbenan dandan kayak gitu?" tanya Bibi Sumi heran melihat penampilan Kian yang terlihat berbeda. Seperti akan menghadiri acara, batinnya.
"Bibi, jangan kaget ya kalau Kian beritahu." Kian mencoba memperingatkan Bibinya terlebih dulu. Ia takut Bibi Sumi akan terkejut sama seperti dirinya saat pertama kali mendengar undangan dari Nyonya Wina.
"Apaan sih, bikin Bibi penasaran saja. Iya, Bibi janji tidak akan kaget. Asal kamu tidak bilang mau makan malam sama Arkan dan keluarganya saja," ujar Bibi sambil memainkan mimik wajahnya. Seperti sedang meledek Kian.
"Kok Bibi bisa tahu sih??" seru Kian terkejut diikuti Bibi Sumi yang tidak kalah terkejutnya. Wanita paruh baya itu sampai menganga tidak percaya.
"Kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu belum mencuci mukamu sehabis tidur? Apa kamu masih bermimpi?" Bibi Sumi menepuk-nepuk pipi Kian pelan, agar gadis itu segera bangun dari buaian mimpinya. Tidak mungkin kan keponakannya yang berasal dari rakyat biasa, bisa diundang makan malam bersama keluarga Wijaya Group. Ya, meskipun selama ini Kian dekat dengan Arkan, tapi ia pikir hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Kalaupun mereka saling memiliki perasaan, Bibi Sumi yakin perasaan itu hanya sementara saja. Ibarat remaja yang sedang mengidap cinta monyet. Tidak akan sampai melibatkan keluarga, hingga berujung makan malam bersama keluarga konglomerat itu.
"Bibi, sakit tahu." Kian mengelus pipinya yang baru saja ditepuk oleh Bibi Sumi sambil mengerucutkan bibirnya. "Kian tidak mimpi, Bi. Nyonya Wina sendiri yang nyuruh Kian datang. Tadinya Kian mau nolak, tapi tidak enak. Takut menyinggung perasaannya. Jadi mau tidak mau Kian harus datang." ungkapnya.
Bibi kembali mengangkat tangan menutup mulutnya yang menganga. Kian menyebut nama Nyonya Wina, istri dari pemilik Wijaya Group yang telah mengundangnya. Wanita kontroversial dengan penampilannya yang super glamour. Rela menghabiskan uang ratusan juta hanya untuk memburu barang-barang branded. Dalam acara gosip, sosoknya selalu muncul dengan memamerkan barang-barang mahalnya. Membuat iri para wanita seantero negeri. Berbeda dengan suami dan anaknya, mereka jarang sekali terlihat muncul di tv. Nama mereka lebih sering muncul di koran bursa saham, sebagai pemilik dan pewaris perusahaan ternama di negeri ini. Dan Bibi tidak percaya wanita itu mengundang keponakannya untuk makan malam bersama keluarga.
"Bagaimana kau bisa mengenal Nyonya Wina? Tidak, bagaimana wanita itu bisa mengenalmu?" Bibi Sumi membalik pertanyaannya, karena tidak mungkin tidak ada yang mengenal Nyonya Besar itu. Ya meskipun ia tahu keponakannya hampir tidak pernah menonton Tv, Kian hanya menonton drama di waktu senggangnya. Mungkin itulah sebabnya, ia sampai tidak mengenali Arkan diawal pertemuan mereka.
__ADS_1
"Panjang ceritanya, Bibi. Kalau Kian jelasin sekarang, bisa-bisa Kian terlambat," Kian melirik jam tangan ditangannya.
"Kalau begitu, kamu harus cepat pergi. Ingat, jaga sikapmu jangan sampai melakukan tindakan ceroboh lagi!" pesan Bibi Sumi. Dibalas anggukan oleh Kian.
Gadis itu berpamitan, setelahnya menaiki taksi online yang sudah ia pesan sejak tadi. Dia tidak menghiraukan perkataan Arkan yang melarangnya menaiki transportasi itu. Meminta Sam menjemputnya? oh tidak. Dia tidak akan bersikap seperti Nona Muda yang harus diantar supir kemana pun ia pergi. Kian bukanlah siapa-siapa. Ia masih cukup tahu diri untuk memposisikan dirinya. Lagi pula, ia ingin memberi kejutan pada seseorang.
***
Kian tiba di sebuah gedung sesuai alamat yang diberikan Nyonya Wina tadi pagi. Untunglah dia masih mengingatnya dengan baik, jadi ia bisa tiba disana tanpa kendala apapun.
Kenapa acara makan malam keluarga saja sampai di hotel?
Dengan jantung yang mulai berdegup tidak karuan, Kian mulai merasa gugup. Ia melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Seseorang menghampiri Kian saat melihat gadis itu terlihat bingung menuju arah yang mana.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang pria dengan berpakaian setelan serba hitam.
"Saya ingin tahu dimana acara makan malam keluarga Wijaya Group diadakan?" tanya Kian sambil melihat sekeliling. Dia baru menyadari orang-orang yang berlalu lalang terlihat mengenakan pakaian yang begitu formal. Setelan jas untuk para pria, dan gaun mewah nan indah untuk para wanitanya. Dia juga melihat sosok yang baru saja memasuki gedung dan berlalu melewatinya. Melirik ke arahnya sekilas lalu menyunggingkan senyum miring.
Bukankah dia wanita yang ku temui di apartemen Arkan?
__ADS_1
Kian baru saja melihat Delia masuk dengan menggunakan gaun merah mencolok yang menampilkan belahan kaki jenjangnya yang begitu mulus. Terlihat sangat anggun dan berkelas. Tanpa sadar, ia melirik dirinya sendiri. Meskipun saat di rumah ia merasa penampilannya sudah cukup baik, tapi saat melihat penampilan Delia, benar-benar tidak ada apa-apanya. Bahkan untuk secuil pun ia tidak bisa membandingkannya.
"Sebelah sini, Nona." Kian tersadar dari lamunannya saat pria di depannya membuka suara. Pria bersetelan serba hitam itu mengantarkan Kian ke sebuah Ballroom yang sangat luas dengan dekorasi yang begitu megah. Untuk sejenak, ia langsung terpana melihat ruangan itu.
Makan malam apa sebenarnya ini? Bukankah ini lebih cocok disebut pesta daripada makan malam keluarga?
Kian masih terperangah melihat situasi di dalam ballroom itu. Ia tidak menyangka makan malam yang dimaksud Nyonya Wina adalah sebuah pesta. Kian bisa melihat sebuah figura besar menyambut tamu yang baru saja memasuki ballroom tersebut.
~Happy Anniversary 32th~
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Tuan Wijaya dan Nyonya Wina yang 32 tahun. Terlihat dari figura yang menampilkan foto mereka berdua.Tapi bukankah Nyonya Wina hanya mengatakan acara makan malam saja?. Seketika, Kian jadi mengingat perkataan Arkan padanya. Ternyata ini bukanlah makan malam biasa seperti yang ia bayangkan. Sekarang, ia baru mengerti ucapan pria itu padanya.
Tiba-tiba terbesit di benak Kian untuk pergi meninggalkan tempat itu, ia tidak ingin mempermalukan dirinya dengan memaksa untuk tetap berada disana. Penampilannya, status sosialnya, meronta padanya untuk segera pergi. Ia juga tidak membawa apapun seperti para tamu undangan yang lain. Mereka berlomba-lomba membawakan hadiah untuk si empunya acara. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar menumpuk di salah satu sudut ruangan. Kian membalikan tubuhnya hendak beranjak dari tempat itu.
Karena buru-buru dan tidak memperhatikan langkahnya, Kian menyenggol seseorang. "Bruggg." Tanpa sengaja ia menabrak seorang pelayan yang berjalan disisinya dan terjatuh. Dan sialnya, makanan yang dibawa pelayan tersebut jatuh menumpahi dirinya. Seluruh tubuhnya kini di penuhi tumpukan makanan. Membuatnya menjadi sosok yang menakutkan sekaligus menyedihkan.
Spontan, para tamu undangan mengalihkan pandangan ke arah Kian yang masih terduduk lemas. Sebagian dari mereka terkejut melihat kejadian itu, namun tak jarang ada yang menatapnya dengan senyum mengejek dan mencemooh kecerobohannya. Termasuk Delia, wanita itu tersenyum menyeringai melihat Kian yang sekarang menjadi bahan tontonan. Segera, ia memberikan kode melalui lirikan matanya pada pelayan yang baru saja menabrak Kian untuk segera pergi. Sambil mengangguk paham, pria itu pergi meninggalkan Kian seorang diri.
Berani-beraninya dia mengaku sebagai kekasih Arkan. Tidak ada yang boleh memiliki pria itu selain diriku. Sekarang rasakan pembalasanku!
__ADS_1