Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Gara-Gara Steak


__ADS_3

Cinta memang selalu membingungkan. Di mulut seringkali mengatakan benci, tapi rindu selalu bersarang di hati. Cinta tak melulu berlemah lembut, ataupun perhatian beromantis ria. Terkadang marah, kesal, benci juga bagian dari cinta. Walaupun terlihat rumit, orang yang jatuh cinta tetap saja berbunga-bunga.


Kian meringkuk saat merasakan udara dingin menembus kulitnya. Selimut tebal ini bahkan tidak bisa menghangatkannya.


Kenapa hawanya semakin dingin begini sih?


Gadis itu menggeliat sambil mengerjapkan matanya. Mengeluarkan kepala dari dalam selimut.


Ini dimana? Apa aku masih berada di hotel orang gila itu? Kenapa aku bisa tertidur disini?


Kian mencoba mengingat kejadian semalam. Seingatnya dia dan Arkan pergi berbelanja, setelah itu ke rumah Paman dan Bibi dan makan malam bersama mereka, lalu berpamitan pulang.


Ah iya, sepulang dari rumah Paman dan Bibi aku tertidur di dalam mobil. Tapi kenapa aku bisa sampai ke tempat tidur?


Kian mengingat lagi.


Astagaaa! Apa yang sudah terjadi?


Kian langsung meraba tubuhnya, mencoba mencari sesuatu yang dirasa aneh. Tidak ada, pikirnya. Bahkan pakaian yang dia pakai semalam masih menempel rapi di tubuhnya. Kian menyandarkan kepalanya.


"Syukurlah," gumamnya. Lagian mana mungkin juga tuan muda akan berbuat yang tidak-tidak padanya. Mustahil juga kan dia akan tertarik. Batinnya.


Apa dia yang menggendongku ke tempat tidur ya?


"Huammm." Kian menutup mulutnya yang menguap. Dia beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kian memilih kembali berendam air hangat didalam bath up. Sepertinya dia akan memiliki kesempatan kedua, ketiga atau mungkin seterusnya untuk menikmati tempat itu. Dia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Namun saat ia menggosok sampai dibagian kaki, dia heran melihat jarinya yang dibalut plester. Seingatnya itu adalah bagian kaki yang diinjak Arkan.


"Eh, plester? Kenapa bisa ada disini? Siapa yang menempelnya?" tanyanya sendiri. Kian bingung kenapa ada plester dikakinya. Seingatnya dia tidak pernah menempelkannya.


Mungkinkah dia yang melakukannya? Tidak, tidak! Tidak mungkin dia semanusiawi itu.


Akhirnya Kian memutuskan untuk tidak memusingkannya. Dia kembali menikmati merendam dirinya dengan air hangat.

__ADS_1


"Apa kegiatan para rombongan selanjutnya, Pak?" Pagi-pagi begini Pak Dan sudah muncul saja dihadapan Arkan. Sepertinya dia memang selalu bersiaga saat tuan muda memanggilnya.


"Pagi ini mereka akan berkunjung ke perkebunan, Tuan. Setelah makan siang mereka akan diberikan jam bebas. Seperti berbelanja makanan atau oleh-oleh," jawab Pak Dan menjelaskan.


"Baiklah. Terimakasih, Pak Dan."


"Apa rencana anda hari ini, Tuan? Apakah anda ingin saya mengantar Nona Kian kembali ke penginapan rombongan?" tanya Pak Dan lagi.


"Tidak perlu, Pak. Saya yang akan mengurusnya. Anda juga perlu bersantai hari ini," ucap Arkan tersenyum.


"Baiklah, tuan muda." Pak Dan pun berpamitan meninggalkan Arkan di hotel bersama Kian.


Gadis itu baru saja keluar dari kamar. Dia mengenakan dress yang kemarin dibelikan oleh Arkan. Sebelum keluar, dia sempat berdiri lama didepan cermin. Menatap takjub dirinya dalam balutan dress. Selama ini Kian lebih suka berpenampilan tomboy. Karena sering naik transportasi umum, dia menghindari gaya feminim. Banyak lelaki bermata keranjang yang suka memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Seperti yang dia alami beberapa waktu lalu. Untung saja ada super hero yang dengan sigap menolongnya. Dia tidak menyangka akan berpakaian seperti ini. Terlebih di depan Arkan, makhluk yang dia benci.


Arkan menatap Kian yang masih berdiri di depan pintu. Seperti kejadian semalam, matanya nyaris tidak berkedip.


"Kemari!" Arkan menggerakkan jari telunjukknya, menyuruh gadis itu mendekat.


"Duduk!" Arkan menunjuk kursi yang ada di seberangnya. "Makan!" Lanjut menunjuk piring yang berisi daging steak.


Gadis itu hanya menurutinya. Dia mengambil pisau dan garpu yang ada disebelahnya. Mulai memotong steak yang ada didepannya. Dia terlihat ragu, tapi tetap mencobanya. Setelah bersusah payah, akhirnya ia berhasil memotong steak tersebut. Namun Arkan justru terbahak, karena potongan steak itu malah terlempar jatuh ke lantai.


"Hhahah dasar bodoh! Begitu saja tidak bisa," ejeknya. Masih dengan tertawa.


Kian tidak menjawab, hanya saja raut wajahnya berubah kecut.


"Bukan begitu caranya, lihat ini!" Arkan mengambil pisau dan garpu disebelahnya, memotong steak dengan perlahan. Menunjukkan cara yang benar pada Kian. Gadis itu hanya memperhatikannya dengan seksama.


Lalu Kian mencoba mempraktekannya sendiri, tapi tetap saja potongan steak itu terlempar dari piring walaupun tidak jatuh ke lantai.


"Kau tidak perlu mengeluarkan semua tenagamu hanya untuk memotongnya, lakukan saja perlahan!" ucap Arkan lagi. Pria itu nyaris tertawa tapi juga gregetan melihat Kian. Kenapa masih ada gadis sekampungan dia. Akhirnya Arkan beranjak dari kursinya, menghampiri Kian.

__ADS_1


Pria itu refleks memegang tangan Kian lalu mulai menggerakkan tangan Kian memotong steak. Melakukannya dengan perlahan. Dan berhasil.


"Yeayy, aku bisa," ucap Kian senang. Arkan langsung melepaskan tangannya setelah menyadari sesuatu.


Apa aku sudah gila? Bagaimana bisa aku menyentuh tangannya?


Sial! Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar?


Arkan kembali ke tempat duduknya, dia melanjutkan makan tanpa bersuara.


"Tuan, terimakasih," ucap Kian kemudian.


"Apa kau pikir mengucapkan terimakasih saja cukup?"


Ck. Sudah ku duga. Memang kau mau aku melakukan apa?


"Habiskan sarapanmu, cepat!!" ucapnya dengan intonasi tinggi.


"Baik, Tuan," jawab Kian dengan nada kesal.


***


Pagi ini para rombongan sedang menikmati sarapan sebelum bersiap melakukan kegiatan. Mereka semua terlihat sangat antusias dan bersemangat, kecuali satu orang. Yakni Rendy. Pria itu merasa tidak tenang karena Kian belum juga kembali. Dia sudah mengirimkan pesan teks tapi tidak ada jawaban dari gadis itu. Membuatnya semakin gusar.


"Dina, Kian sudah menghubungi kamu lagi belum?" tanya Rendy pada Dina yang sedang asyik menikmati sarapannya.


"Belum. Setelah mengirimkan pesan kemarin, dia belum mengabariku lagi," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.


Dina sendiri terlihat biasa saja. Sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu. Ya, itu benar. Kemarin disaat semua orang mencemaskan Kian, Dina melihat seseorang yang jauh lebih mencemaskan nya. Dia melihat jelas sorot matanya, sorot yang penuh kegelisahan. Apalagi saat dia menyadari tidak bisa melakukan apapun untuk menemukan Kian. Pria itu nyaris frustasi. Pria itu adalah Arkan Saguna.


Dina baru menyadari bahwa pria itu mulai menaruh rasa untuk sahabatnya. Jadi saat Dina tahu Kian dijemput oleh Pak Dan, dia sudah bisa menebak kemana tujuan mereka. Kemana lagi kalau bukan menemui tuan mudanya, pikirnya. Kian pasti akan baik-baik saja. Setidaknya itu lebih baik daripada Kian bersama Rendy. Jujur saja, Dina tidak begitu menyukai melihat kedekatan mereka. Mengingat Rendy yang sudah memiliki kekasih, dia tahu pasti sahabatnya yang akan terluka. Berbeda dengan tuan Arkan, walaupun selama ini dia terlihat kasar pada Kian tapi sebenarnya dia sangat peduli. Hanya saja sepertinya dia belum bisa mengapresiasikan perasaannya. Atau mungkin dia belum menyadarinya.

__ADS_1


Kian kamu beruntung!


__ADS_2