
Suhu dingin di ruangan itu tidak lagi bisa menyejukkan hati Kian. Hatinya merasa panas dengan gigi yang menggeretak menahan emosi. Emosi yang tidak tahu harus ia luapkan kepada siapa. Mungkin kepada dirinya sendiri yang lagi-lagi melakukan kecerobohan.
Delia tersenyum puas melihat keadaan Kian sekarang. Akhirnya ia bisa membalas perbuatan gadis itu padanya tempo hari. Sejak saat itu, ia bertekad akan membalas gadis bodoh yang sudah berani mengecohnya dengan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Kali ini, gadis itu tidak akan mampu lagi mengangkat kepalanya di depan Arkan. Dan pria itu, apa ia masih bisa melirik gadis yang kini terlihat begitu memalukan.
Kian berusaha berdiri diantara kaki yang terasa tidak bertulang lagi. Sendi-sendinya seperti terlepas dari tempatnya. Membuat Kian sulit menggerakkan kakinya. Dengan semua tatapan mata yang kini tertuju padanya, ia tidak mampu lagi mengangkat kepalanya, bahkan sedikitpun. Malu, rasanya teramat malu melihat kondisinya saat ini. Lagi, kecerobohan membuatnya seperti terperosok ke dasar bumi.
Kenapa selalu saja begini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisakah aku menghilang saja, meskipun harus terbenam di dasar bumi, aku rela. Asal aku bisa lepas dari semua tatapan itu.
"Tes." Tanpa terasa butiran air menetes di pipinya, jatuh membasahi punggung tangan yang di penuhi tumpahan makanan. Ia tidak bisa menghapusnya. Dalam isakan, dibiarkan tetesan bening itu terus mengalir mengeluarkan sesak di dadanya. Rasanya ia ingin pingsan saja, berharap terbangun disaat dirinya sudah tidak lagi berada disana.
Meski terdengar serakah, bolehkah aku mengharap kehadiranmu lagi untuk saat ini?
"Tap tap tap." Suara derap langkah kaki menghampirinya. Kian tidak tahu siapa. Kepalanya masih menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kotor.
Suara langkah itu semakin jelas di telinganya, dengan jarak yang semakin dekat. Kian bisa melihat sepatu kulit berwarna hitam, sekarang berhenti tepat beberapa senti dari lututnya yang masih melemas. Hangat, ia bisa merasakan punggungnya yang dingin karena pakaiannya yang basah, tiba-tiba menghangat. Sesuatu menutupi tubuh mungilnya. Dengan sisa tenaga, Kian mencoba meliriknya. Jas berwarna navy sudah melekat di tubuhnya yang kotor dan bau makanan itu. Tidak lama, sebuah tangan besar nan kokoh menyentuh lengan bahunya, membantunya berdiri dan merengkuhnya dalam pelukan. Kian belum berani mengangkat wajahnya, ia terus menunduk sampai ia merasa berada di sebuah lorong sepi jauh dari keramaian.
__ADS_1
Perlahan, Kian mengangkat wajahnya. Ia terkesiap melihat sosok yang masih memeluk tubuhnya dalam dekapan tanpa perasaan jijik sedikitpun. Lagi-lagi pria itu datang disaat alarm minta tolong di hatinya berdenting. Ia tidak tahu bagaimana pria itu selalu datang di saat yang tepat. Yang ia tahu, ia semakin tidak bisa lepas dari sosok itu. Sosok yang dulu sangat ia benci, kini berubah menjadi seseorang yang Kian sendiri tidak mengerti arti pria itu di dalam hatinya. Ia terlalu bingung mengartikannya.
"Kenapa?" lirih Kian pelan. Pria itu menoleh, "Kenapa kau selalu datang disaat aku membutuhkan pertolongan?" sambungnya lagi.
"Apa kau bodoh? Kenapa kau datang tanpa memberitahuku?" Bukannya menjawab, Arkan malah mencibirnya.
"Aku hanya ingin memberimu kejutan. Dan sepertinya aku berhasil dengan penampilanku saat ini." ucap Kian dengan nada getir. Ia tidak menyangka kejutan yang ia rencanakan berakhir seperti itu.
"Aku memang sangat terkejut melihat kau datang dengan penampilanmu yang sangat cantik tadi. Meskipun norak, tapi aku suka melihat jepit rambut yang kau selipkan di rambutmu," tukas Arkan, matanya beralih menatap jalan ke depan. Menyembunyikan sorot matanya yang berbinar. Sebelum kejadian naas itu, Arkan memang terpana dengan penampilan Kian. Matanya terpaku melihat gadis yang berdiri di kejauhan. Baru saja ia ingin menghampiri Kian yang membalikkan tubuhnya hendak pergi, ia terperanjat dengan insiden yang menimpa gadis itu. Darahnya berdesir dengan emosi yang memuncak saat orang-orang mulai menertawakan Kian. Dengan langkah cepat, ia berjalan menghampiri gadis itu.
"Cantik?" Kian mengernyit mendengar penuturan pria itu. Jika mengingat semua tamu undangan yang hadir, jelas penampilan Kian adalah yang paling biasa. Bahkan sangat biasa hingga terkesan kampungan. Tapi pria itu justru memujinya cantik. Dia tidak sedang katarak, kan?
Dia ini sebenarnya sedang memuji atau menghinaku? Kenapa nada bicaranya terdengar menyebalkan begitu? Lihat, dia bahkan tertawa setelah mengatakannya. Ck.
Merasa Arkan mengerjainnya, Kian mengangkat satu tangannya dan memukul dada pria itu. Ia berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Arkan, tapi pria itu menahannya. Ia justru mengeratkan lingkaran tangannya di lengan Kian. Membuat gadis itu tidak bisa berkutik. Kian hanya menatapnya lekat sampai mereka masuk ke sebuah ruangan besar.
__ADS_1
Seperti sebuah kamar hotel yang besar, Arkan mendudukkan Kian di atas sofa. Lalu berjalan ke dapur mengambil handuk kecil bersama dengan baskom berisi air hangat di tangannya. Sambil berlutut, pelan-pelan pria itu membersihkan wajah Kian dari kotoran makanan yang menempel. Gadis itu hanya menurut sambil memejamkan matanya. Merasakan usapan lembut di wajahnya yang terasa hangat. Sebelah tangan Arkan yang menyentuh pipinya, spontan membuat darahnya berdesir. Jantungnya mulai berdegup tak beraturan, seperti ada sengatan listrik yang menyengat tubuhnya.
Baru beberapa menit, Arkan menghentikan aktivitasnya. Matanya tertuju pada bibir mungil yang tidak lagi beroleskan lipstik. Bibir berwarna merah muda itu begitu menggodanya, membuatnya harus meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Arkan melipat bibirnya ke dalam untuk menahan pergolakan batinnya. Ia tidak sanggup menahan gejolak di dadanya, yang membuat tubuhnya memanas seketika. Segera, ia ingin merasakan bibir itu lagi.
"Kenapa berhenti?" Kian membuka matanya saat merasa pria itu menghentikan kegiatannya. Ia melihat Arkan yang mematung di bawahnya, masih dengan posisi berlutut dengan handuk di tangannya yang menggantung.
"Kau.. Apa kau pernah berciuman sebelumnya?" tanya Arkan tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Arkan, Kian merasa wajahnya memanas seketika dengan rona merah di pipinya. Entah kenapa ia merasa begitu malu. Pandangan matanya bergerak kesana kemari untuk menghindari adu pandang dengan Arkan.
Kenapa tiba-tiba ia menanyakan itu sih? Aku kan jadi malu.
"Kenapa kau menanyakan itu? Jangan berpikir aneh-aneh! Awas saja kalau sampai kau berbuat macam-macam!" ancam Kian dengan mata membelalak.
Bukankah dia yang sudah berbuat macam-macam padaku? Aku bahkan kehilangan ciuman pertamaku karena dia. Dasar gadis bodoh, kenapa ia justru menuduhku berpikir yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Cepat mandi sana dan bersihkan tubuhmu. Aku sudah tidak tahan dengan baunya!" Arkan beranjak sambil melemparkan handuk ke pangkuan Kian. Ia berlalu ke dapur meninggalkan Kian yang masih menatapnya tidak percaya.
Perasaan dari tadi dia memeluk tubuhku yang sudah dipenuhi sampah sialan ini. Kenapa sekarang ia baru mengatakan bau? Dasar aneh!