
Hujan masih sangat deras mengguyur ibukota. Sementara Arkan baru selesai mengecek laporan yang dikirimkan padanya. Dia melirik jamnya sekilas, ahh sudah malam rupanya! Arkan mengambil jas yang tadi ia letakkan diatas kursinya lalu mengenakannya. Arkan menghubungi supirnya untuk bersiap, dia akan segera turun.
Mobil baru saja keluar dari halaman kantor, lalu lintas terlalu macet untuk bisa menerobos ke jalan raya. Akhirnya mobil hanya melaju tersendat-sendat mengikuti kendaraan didepannya. Arkan melihat ke luar jendela, matanya menatap sosok bayangan yang dikenalnya.
Kenapa dia masih disitu?
Arkan menyuruh supir menepikan mobil. Mengambil payung yang ada disebelah supir, lalu berniat keluar. Melihat apa yang ingin dilakukan pria itu, supir mencegatnya. Sang supir menawarkan, agar dirinya saja yang keluar untuk menjemput Kian. Akhirnya Arkan menyetujuinya. Dari dalam mobil, dia bisa melihat kondisi Kian yang menyedihkan. Dengan pakaian yang nyaris basah kuyup dan rambut lepek. Dia terlihat berantakan!
Ck. Kemana pria yang selalu bersikap sok pahlawan didepanmu itu? Kenapa disaat seperti ini dia malah meninggalkanmu?!
Supir membukakan pintu, mempersilahkan Kian masuk kedalam mobil. Gadis itu menyapanya sebentar lalu bergeming. Meskipun Kian tidak bersuara, namun Arkan melihat gerak geriknya yang gelisah. Sepertinya dia kedinginan. Tanpa pikir panjang, Arkan langsung melepaskan jasnya menutupi tubuh Kian.
Sekarang, disinilah mereka. Di sebuah apartemen di pusat kota. Saat supir sedang mengemudi menuju rumah Bibi Sumi, ternyata jalan yang ingin mereka lewati terhalang banjir yang lumayan tinggi. Kalaupun mereka ingin mencari jalan alternatif lain, bisa memakan waktu berjam-jam. Apalagi dengan kondisi lalu lintas yang seperti ini, mereka juga tidak bisa memastikan jalan lain terbebas dari banjir atau tidak.
Akhirnya Arkan memutuskan membawa Kian ke apartemennya. Sementara gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Jadi dia tidak menyadari kemana tujuan mereka.
Setibanya di apartemen tadi, Arkan membangunkan Kian. Dia menepuk hingga mengguncang tubuh gadis itu perlahan. Tapi entah kenapa Kian sangat sulit dibangunkan. Hanya menggeliat ke kanan dan ke kiri setelah itu memejamkan matanya lagi.
Aisshh kau ini benar-benar ya! Apa aku harus menyiram mu dengan air baru kau sadar?
Akhirnya, terpaksa Arkan menggendongnya di punggung lagi seperti waktu itu. Sampai beberapa orang di lobby menatap mereka dengan berbagai tatapan. Ada yang menatap mereka aneh atau dengan ekspresi datar, namun ada juga yang senyum-senyum melihat kelakuan mereka.
Bagaimana tidak, dengan mata yang terpejam Kian lagi-lagi meracau. Dan anehnya, Arkan malah menanggapinya.
"Kak Rendy jahat! Kenapa kau hanya menganggap ku sebagai adikmu? Aku ingin menjadi kekasihmu!" racau Kian tidak jelas.
"Dasar gadis bodoh! Siapa suruh kau menaruh harapan padanya?"
"Hmmm... Aku tidak bodoh! AKU BENAR-BENAR MENYUKAI MU!!" racaunya lagi dengan nada suara meninggi. "Rasanya sakit kalau aku terus melihatmu. Apa aku harus mengundurkan diri agar bisa menjauh darimu, hah?"
Arkan bergeming sesaat.
"JAWAB!!" teriak Kian.
Arkan mendesah. "Jangan bertindak bodoh kalau jelas-jelas dia tidak menyukaimu!"
__ADS_1
"Hiks." Terdengar isakan kecil.
Apa dia sedang menangis?
"Tuan Muda, apa kau sedang menggendongku hmm?" ucap Kian seperti orang yang tengah mabuk.
"He'emm, kau sudah sadar?" Arkan menoleh sedikit.
"Ahh aku pasti bermimpi! Tidak mungkin kau menggendongku." Tertidur lagi.
"Jadi kau pikir ini mimpi? Dasar bodoh!" gumam Arkan pelan.
Arkan menutup tubuh Kian dengan selimut. Dia juga menyalakan penghangat ruangan, agar suhu di kamarnya tidak terlalu dingin. Arkan sendiri memilih tidur di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.
Sebelum benar-benar tertidur, dia menatap tempat tidurnya. Baru kali ini dia membiarkan orang lain tidur disana. Selintas senyum terukir saat dia mengingat kejadian tadi.
Aaahh.. Apa aku sudah gila melakukan itu padanya?!
Keesokan harinya.
"Ini dimana?? Dan pakaianku? Apa yang terjadi?" Kian meraba seluruh pakaiannya yang sudah berubah bentuk. Dia berpikir keras mengingat kejadian semalam. Sial! dia tidak bisa mengingat apapun. Terakhir kali yang dia ingat berada di mobil Arkan. Benar! Ini pasti dirumahnya! Kian turun dari tempat tidur dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Pria itu tidak ada. Lalu Kian mendengar suara gemericik dari kamar mandi.
Dia pasti didalam sana!
"Tuan... Tuan Arkan! Anda pasti didalam kan? Buka pintunya sekarang!" Kian berteriak penuh emosi.
Sedangkan yang dipanggil hanya tersenyum sambil menyikat giginya. Dia tidak keluar sebelum menyelesaikan urusannya.
"Buka pintunya!! Atau aku akan mendobraknya." Kian mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Dia mengambil napas panjang dan berlari sekuat tenaga.
"Aaaaaaaa!" Brugg! Kian tersungkur ke lantai kamar mandi. Saat dia nyaris mendobrak pintu itu, Arkan sudah membuka nya terlebih dulu. Gadis itu menatap tajam pria didepannya yang malah bengong.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya datar.
Kian berusaha bangkit. Tapi tangannya terlalu sakit untuk menopang tubuhnya. Akhirnya Arkan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
__ADS_1
"Lepaskan! Aku bisa sendiri." ucap Kian sinis.
Pria itu tidak mendengarkan kata-kata Kian, dia tetap membantu gadis itu berdiri. "Dasar keras kepala!"
"Tolong jelaskan kenapa aku bisa ada disini!" seru Kian saat tubuhnya sudah berdiri dihadapan Arkan.
"Kau tidak ingat?" Arkan mengerutkan dahinya. Lalu memutar badannya menjauhi Kian.
"Kalau aku ingat, tidak mungkin aku memintamu menjelaskannya!" Kian mengikuti langkah kaki Arkan. Dia tidak menyadari cara bicaranya yang informal. Atau memang dia sengaja melakukannya karena kesal.
Arkan menyeringai dibalik punggungnya, meraih pakaian didalam lemari.
"Katakan!!" bentak Kian. Dia tidak tahu kekuatan apa yang sudah merasukinya hingga dia berani meneriaki pria didepannya. Tapi tidak bisa mengingat apapun yang menimpanya, membuat emosinya meledak.
"Kau ingin melihatku telanjang?" tanya Arkan dengan ekspresi wajah datar.
"APA?!!" Kian baru menyadari sedari tadi pria itu hanya memakai lilitan handuk di pinggangnya. Dan sekarang dia malah memelototi Arkan yang hendak memakai pakaiannya.
Aaaahh apa yang aku lakukan???
Kian langsung berbalik. Ia merasa wajahnya mulai memanas. Ada rona merah yang bersemayam disana. Bodoh! Kian merutuki dirinya sendiri. Apa yang dia lakukan di tempat ini sebenarnya!
Arkan sudah menyelesaikan urusannya. Dia sedang merapikan kancing di lengan bajunya. Melihat Kian mematung seperti itu, dia tersenyum. Menggemaskan!
" Apa Tuan sudah selesai?" tanya Kian ragu.
"Hemmm." Hanya dijawab gumaman oleh Arkan.
Kian membalikkan tubuhnya lagi. Dia berniat melanjutkan interogasinya, namun matanya malah tidak berkedip menatap pria didepannya. Dia tampan sekali! Tidak, tidak! Kian kembali menyadarkan pikirannya.
"Tolong jelaskan kenapa saya ada disini, Tuan!" Kian kembali menginterogasi Arkan. Hanya saja, kali ini dia sedikit memelankan suaranya.
Pria itu baru selesai merapikan rambutnya. Dia mendudukkan diri diatas sofa. "Duduk!" Arkan menepuk tempat disebelahnya. Menyuruh Kian duduk disana.
Kian berjalan mendekat, mendudukkan diri ditempat yang Arkan maksud. Raut wajahnya masih penuh tanda tanya. Dia belum puas jika belum mendapatkan penjelasan dari pria itu.
__ADS_1
Arkan menarik napas pelan, lalu membuka mulutnya. Mulai menjelaskan apa yang ingin diketahui wanita didepannya. Walaupun tidak semuanya benar, tapi sepertinya Kian mulai mengerti.