
Sepulangnya dari rumah sakit, Kian tetap menemani Arkan di apartemen. Mengingat perkataan dokter yang mengatakan pria itu kelelahan dan butuh istirahat, ia tetap harus berada disana. Takut kalau sesuatu terjadi lagi. Walau sebenarnya wajah pria itu sudah terlihat segar dan tidak menunjukkan tanda sedikitpun bahwa ia baru saja mengalami demam. Kian sedang duduk di sofa kamar. Pria itu membebaskannya untuk keluar masuk ke kamarnya bahkan tidur di kasurnya. Tidak seperti orang lain, yang harus meminta ijin terlebih dulu, Kian tidak perlu memiliki ijin khusus hanya untuk menyentuh atau menggunakan barang-barang milik Arkan. Begitulah pria itu membuat perbedaan antara Kian dan orang lain, termasuk orang tuanya.
"Ibu tadi mencarimu!" ujar Kian setelah Arkan keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah membuat pria itu lebih mempesona. Susah payah, Kian membasahi tenggorokannya yang terasa kering dengan meneguk liurnya sendiri.
"Apa yang Ibu katakan?" Pria itu mendudukkan dirinya di sofa sebelah Kian. Satu tangannya mengusap-usap rambutnya yang basah sedangkan yang lain mengecek ponselnya. Ia melihat panggilan tak terjawab dari Ibunya sebanyak 10 kali.
Kian belum menjawab, matanya masih terpaku melihat pemandangan di depannya. Seperti terhipnotis, ia tidak bisa berkedip sekalipun.
Perasaan, dulu wajahnya tidak setampan ini. Kenapa sekarang jadi ganteng banget sih?? Pantas saja banyak wanita yang mengejarnya. Menyebalkan!
"Apa yang kau lihat sampai liurmu menetes?" Arkan mendekatkan wajahnya saat Kian tidak menjawab pertanyaannya. Mata gadis itu mengikuti kemana ia menggerakkan tubuhnya.
Kian segera menutup mulutnya yang menganga, ia kembali menelan liur yang sudah berada di ujung tanduk. "Apa? Tadi kau bilang apa?" tanyanya gelagapan.
"Apa yang Ibu katakan padamu?" ulang Arkan lagi, ia tersenyum simpul melihat reaksi Kian yang terkejut dan memalingkan wajah karena malu.
"Ahhh itu... Ibu menyuruhmu untuk datang ke acara makan malam keluarga," terang Kian. Ia sengaja tidak mengatakan bahwa Ibu juga menyuruhnya datang.
"Membosankan!" Arkan menggerutu kesal.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah wajar makan malam bersama keluarga? Hampir semua orang melakukannya."
Kian tidak mengerti apa yang membuat Arkan begitu kesal. Baginya makan malam keluarga adalah hal yang biasa. Kecuali, saat dirinya yang diundang untuk makan malam bersama keluarga konglomerat itu, barulah luar biasa. Kian bahkan belum memutuskan untuk datang atau tidak memenuhi undangan itu. Meski sudah pernah bertemu dengan Ibunya dan menerimanya, tapi rasanya ia masih takut berada di lingkungan keluarga Arkan. Status sosial mereka ibarat bumi dan langit.
"Ini bukan malam seperti yang keluargamu biasa lakukan. Ini... Ahh sudahlah, kau juga tidak akan mengerti jika ku jelaskan." Arkan beranjak dari sofa, meninggalkan Kian yang menunggu penjelasannya.
"Bagaimana aku bisa tahu kalau dia saja tidak menjelaskannya. Ck!" decak Kian kesal.
"Apa kau ingin berangkat ke kantor?" tanyanya lagi saat melihat Arkan mengambil setelan jas di lemari.
Pria itu sedang mengaitkan kancing kemejanya. "Tidak, aku ada janji temu dengan seseorang?" sahutnya.
"Seseorang? Siapa?" selidik Kian penasaran. Sorot matanya menunggu jawaban Arkan.
Arkan menyunggingkan senyum miring melihat respon Kian. Tiba-tiba saja ia ingin menggoda gadis itu. "Seseorang yang penting. Tidak, maksudku sangat penting."
Kian semakin penasaran. "Pria atau wanita?"
"Kenapa kau begitu antusias menanyakannya?"
"Tidak, biasa saja sih. Aku hanya ingin tahu saja." Kian pura-pura tidak tertarik sekarang.
"Wanita...."
__ADS_1
"Ohhh jadi benar kau akan bertemu dengan wanita. Pantas saja penampilanmu berbeda sekali." cibir Kian kesal. Belum juga Arkan menyelesaikan kalimatnya, Kian sudah memotongnya dan mencecarnya. Belum lagi raut wajahnya yang cemberut, begitu menggemaskan.
Aaahh dia menggemaskan sekali dengan raut wajah seperti itu. Andai saja dia sudah menjadi istriku, aku pasti sudah memakannya saat ini juga.
Arkan tergelak melihatnya. "Apa kau cemburu?"
"Woaahh yang benar saja! Tidak, aku tidak sedang cemburu. Buat apa juga?" Kian memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Ia tengsin kalau harus mengatakan yang sebenarnya ia cemburu.
Buat aku semakin tergila-gila padamu. Batin Arkan.
"Dasar bodoh! Aku belum menuntaskan kalimatku tadi. Wanita atau pria sama saja bagiku. Asal itu rekan bisnis, aku selalu bersikap professional. Lagipula aku akan bertemu dengan seorang klien pria. Aku tidak pernah mengadakan janji temu dengan klien wanita hanya berdua. Kau dengar?"
Kian tertegun mendengarnya. Entah sudah berapa sering ia salah paham, hanya karena mengambil kesimpulannya sendiri, sebelum pria itu menyelesaikan penjelasannya. Lagi, ia merutuki kebodohannya.
"Maaf," lirih Kian menundukkan wajahnya.
Arkan menghela napas pelan. Ia senang saat Kian menunjukkan ekspresi wajah cemburunya, tapi saat gadis itu justru berubah murung karena menyesal, Arkan ikut merasa bersalah. Ia kembali mendudukkan dirinya di sofa.
"Kenapa kau selalu menyimpulkan sesuatu sebelum aku menjelaskannya?" Kian semakin menunduk sesal. "Sudahlah, kau tidak perlu meminta maaf. Aku justru senang saat kau mencemburuiku." Arkan langsung beranjak tanpa memperhatikan Kian yang mengerucutkan bibir kesal di belakangnya.
"Kau masih ingin disini?" tanya Arkan lagi
Kian menggeleng pelan. "Tidak, aku ingin pulang saja."
"Tidak usah, kau sebaiknya pergi saja. Aku takut kau akan terlambat ke pertemuan itu."
"Kau yakin?" Kian mengangguk. "Lalu, kau sendiri pulang naik apa?" tanya Arkan lagi.
"Aku bisa memesan ojek online."
Arkan membelalak, "Tidak. Mulai sekarang berhenti menaiki kendaraan itu. Aku tidak ingin tubuhmu menggelembung karena terlalu sering terkena angin," tegasnya.
"Kalau begitu aku bisa menaiki taksi online."
"Tidak juga. Kau tidak boleh menaiki kendaraan umum apapun itu. Kau itu *****, dimana-mana menempel langsung molor.
Apa? *****?? Dapat istilah itu darimana dia?
"Terus aku harus jalan kaki gitu?"
"Tidak. Aku akan menyiapkan supir untukmu mulai sekarang. Untuk sementara, kau akan di antar oleh Sam. Aku bisa pergi dengan supirku yang lain."
"Apa?!" Kian ingin protes tapi Arkan tidak menggubrisnya. Pria itu sudah berlalu meninggalkannya.
__ADS_1
"Dia pikir aku Nyonya rumah apa yang harus diantar supir segala?" keluhnya kesal.
Kian langsung turun tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dulu, ia melihat Arkan baru saja melaju meninggalkan apartemen dengan mobilnya yang lain. Dan benar, Sam sudah menunggunya di bawah. Pria itu membuka kan pintu setelah Kian mendekat.
"Selamat siang, Nona!" Sam menyapa dan mengangguk ramah.
"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu? Yang atasanmu itu Arkan, bukan aku. Jadi cukup panggil aku dengan nama saja. Oke!"
"Tuan Muda akan marah jika saya tidak bersikap sopan pada Anda, Nona," pungkas Sam.
Kian memutar bola matanya, "Kau bisa memanggilku dengan sebutan itu jika hanya ada dia. Aku bukan majikanmu sampai kau harus bersikap canggung seperti itu."
Sebentar lagi, Nona. Sebentar lagi Anda pasti akan menjadi majikan saya.
"Baiklah Nona. Terserah Nona saja."
Tuh kan, dia masih saja memanggilku itu. Ahh sudahlah.
Kian memilih masuk ke dalam mobil daripada melanjutkan perdebatan yang ujungnya akan sia-sia. Ia menghela napas kasar lalu menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Menatap lurus ke depan saat Sam sudah melaju mobil menembus jalanan. Kian baru saja ingin memejamkan mata, namun seseorang dibalik kemudi melarangnya.
"Nona, mohon untuk tidak tidur di dalam mobil," ujar Sam setelah melirik Kian yang nyaris terlelap dari kaca di atasnya.
Gadis itu mengerutkan keningnya, "Kenapa? Bukankah biasanya aku juga tertidur di mobil ini?"
"Tuan Arkan melarang Anda tidur di mobil jika Tuan tidak ada," tukas Sam.
"Ck, ternyata dia benar-benar melarangku untuk tidur sembarangan saat dia tidak ada," decak Kian sebal. "Memangnya apa yang terjadi saat aku tertidur di mobil? Kenapa ia sampai melarangku?" tanyanya lagi.
Anda tidak tahu betapa menggemaskannya Anda saat sedang tidur. Apalagi saat Anda meracau tidak jelas, Tuan Muda tentu tidak akan membiarkan orang lain melihatnya, Nona.
"Tidak ada yang terjadi, Nona. Hanya saja Tuan Muda tidak menyukai jika ada orang lain yang melihat Anda sedang tidur."
Ck. Memangnya kenapa sampai dia tidak suka. Apa dia suamiku yang bisa melarang orang lain untuk menatapku? Ya memang sih, aku juga merasa risih jika ada yang melihatku seperti itu. Tapii.. Ahh entahlah.
Karena dilarang untuk tertidur, akhirnya Kian hanya menatap ke luar jendela. Melihat pepohonan dan kendaraan yang saling berkejaran di antara laju mobilnya. Untunglah lalu lintas begitu lancar, hingga mereka tiba di rumah lebih cepat sebelum jam makan siang berakhir.
Kian menawari Sam untuk mampir, seperti dugaan Kian, pria itu menolaknya dengan halus. Tidak masalah, tohh Kian hanya basa basi, karena ia juga tidak benar-benar menawari pria itu untuk mampir ke rumahnya.
Kian masuk ke dalam rumah yang selalu terlihat sepi itu. Setelah mencium tangan Bibi Sumi, Kian pergi ke kamarnya. Wanita paruh baya itu tidak lagi banyak bertanya mengenai kepergiannya. Ia sudah tahu kemana gadis itu pergi dan tidak pulang. Bibi Sumi tidak melarang Kian untuk menemui Arkan, hanya saja ia mengingatkan keponakannya itu untuk selalu menjaga dirinya. Sekalipun pada orang yang ia cintai. Jangan berikan apapun sebelum ia menjadi suamimu, begitulah pesan yang selalu Bibi sampaikan pada Kian yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Dan Kian, ia selalu mengingat petuah yang selalu diberikan Bibinya itu.
Kian merebahkan tubuhnya di kasur setelah selesai membersihkan diri. Rambutnya yang setengah basah, ia biarkan terurai di atas tempat tidur. Meninggalkan bercak air disana. Ingatannya kembali memutar tentang percakapannya dengan Nyonya Wina di telepon tadi pagi. Wanita itu menyuruhnya datang ke acara makan malam yang belum pernah terbayangkan olehnya.
"Aku datang apa tidak ya? Bagaimana kalau kehadiranku justru menganggu acara makan malam itu? Secara aku kan bukan anggota keluarga mereka. Tapi bagaimana dengan Nyonya Wina yang sudah mengundangku, aku tidak enak juga jika tidak datang," gumamnya sendiri. Lama berpikir, ia merasa matanya mulai mengantuk. Perlahan, pemandangan di dalam kamarnya mulai mengabur, semakin lama semakin gelap. Akhirnya, ia benar-benar terlelap sekarang.
__ADS_1