Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Rasanya Sakit


__ADS_3

Matahari sudah bersinar cerah, tapi Kian masih meringkuk diatas tempat tidurnya. Tubuhnya terasa kaku tidak bisa digerakkan. Dengan rasa nyeri luar biasa. Saat ia membuka mata, ia juga merasa kamarnya berputar. Semua yang dia lihat seperti melayang-layang di udara. Membuat kepalanya sakit. Kian kembali memejamkan mata, berharap tidur beberapa menit lagi akan menghilangkan rasa pusingnya.


Sementara diluar kamar Bibi Sumi sedang memasak di dapur. Wanita itu heran kenapa Kian belum juga keluar dari kamarnya. Lalu ia melirik jam dinding yang terpajang.


"Sudah jam 7 kenapa anak itu belum keluar juga dari kamarnya ya?" gumamnya sendiri. Lalu Bibi Sumi mematikan kompornya sebentar dan menuju ke kamar Kian. Mengetuk pintu,


namun tidak ada jawaban. Akhirnya Bibi Sumi membukanya perlahan.


"Apa dia masih tidur?" Bibi Sumi mendekat. Dia melihat Kian bergetar dibalik selimut yang tertutup rapat. Lalu Bibi Sumi menarik ujung selimut sedikit dan menempelkan punggung telapak tangannya di kening Kian. Panas. Wanita itu langsung menarik tangannya.


"Astaga, dia demam!" seru Bibi Sumi panik. "Kian, kamu demam. Ayo kita ke dokter!" ajaknya.


Terdengar gumaman kecil didalam selimut. "Tidak perlu Bibi, nanti juga baikan. Kian mau tiduran sebentar lagi saja" gumamnya nyaris tidak kedengaran.


"Baiklah kalau kamu mau tiduran dulu. Tapi kalau kamu butuh sesuatu panggil Bibi saja. Sekarang istirahatlah!" ucap Bibi sambil mengelus-elus tubuh Kian dibalik selimut. Wanita itu kembali ke dapur dan melanjutkan masakannya.


Dua jam kemudian.


Kian membuka selimut yang menutup tubuhnya. Dia bersandar sejenak. Lalu melirik jam kecil yang ada di meja nakas disebelahnya.


"APA?!!!" Sudah jam 9? Habislah aku, kalau sampai terlambat ke kantor!" teriaknya sendiri. Kian bergegas turun dari tempat tidur. "Aaarggghh." Ia mengerang, merasakan sakit saat kakinya dipakai berjalan. Lalu memilih kembali duduk di tepi tempat tidur.


"Sakit sekali!" rintihnya sambil memijat pelan bagian yang ia rasa sakit.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Bibi Sumi datang sambil membawa semangkuk bubur ditangannya.


"Kamu sudah bangun?"


"Iya Bibi, baru saja," ucap Kian, lalu mulai merintih lagi. "Bibi, kaki Kian rasanya sakit banget."


"Itu mungkin karena terpeleset kemarin. Bibi akan menelpon tukang pijat. Sekarang, kamu sarapan dulu." Bibi Sumi menyodorkan mangkuk bubur ke hadapan Kian. Raut wajahnya langsung berubah. Lihat, wajahnya langsung sumringah. Dasar Kian!.


Gadis itu memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Mengunyah-unyah sebentar, lalu menelannya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Kian meraih ponsel diatas nakas, menatap layarnya sambil mengerutkan kening.


"Nomor siapa ini?" tanyanya bingung.

__ADS_1


Akhirnya Kian menjawab panggilan itu.


"Halo..." sapanya duluan.


Tidak ada jawaban. Mungkin orang diseberang tidak mendengarnya. Ia mengulanginya lagi.


"Halo... Ini siapa?" sapanya lagi.


Masih tidak ada jawaban. Mungkin sinyalnya kurang bagus. Atau suaranya yang terputus-putus. Kian mengulangnya lagi.


'Halo... Halo.. Hallllooowww.." Akhirnya Kian berteriak kesal. Orang itu tuli atau gila sih, umpatnya kesal. Lalu Kian memilih mematikan sambungan teleponnya. Ia melanjutkan sarapan bubur yang dibawa Bibi Sumi hingga bersih tak tersisa.


"Astaga!" Kian baru menyadari ia belum memberi kabar ke tuan Arkan kalau hari ini dia ijin tidak masuk kerja. Kian buru-buru meraih ponselnya lagi. Namun sebelum ia melakukan panggilan, sebuah nomor muncul di layar ponselnya.


"Apa?! Inikan nomor telepon kantor." Tiba-tiba Kian merasa gugup. Dia takut menjawab telepon itu, tapi dia juga harus memberi kabar kepada tuan Arkan. Bagaimanapun juga, pria itu sekarang adalah bosnya langsung.


"Ha-halo," ucap Kian terbata-bata.


"Kian, kamu dimana? Kenapa kamu tidak berangkat ke kantor?" Kian mengenal suara itu. Itu suara Dina. Tapi kenapa dia berbicara seperti berbisik? Kian nyaris tidak bisa mendengarnya suaranya.


Kian, kumohon berhentilah.


Arkan terus mendengar pembicaraan Kian. Raut wajahnya berubah-ubah. Sebentar senyum, sebentar mengerutkan dahi, sebentar lagi menyeringai, tapi lebih sering membelalakkan matanya.


Apa dia bilang? Pria gila, tidak waras, singa buas, brengsek gila. Apa dia benar-benar mau mati?


Tapi apa itu tadi, dia bilang terharu karena aku. Benarkah??


Tiba-tiba Arkan merebut gagang telepon dari tangan Dina. Lalu mengambil napas sejenak dan menyeringai.


"HEYYYY!!! KAU SUDAH BOSAN HIDUP YAAA?!!!" teriak Arkan memekakkan telinga. Dina saja sampai gemetar dibuatnya.


Terdengar gumaman dari seberang telepon.


"Matilah aku!"

__ADS_1


Akhirnya sambungan telepon terputus.


***


Kian menggigit bibir bawahnya. Terasa kelu. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Hingga seluruh wajahnya tertutup anak rambut. Kakinya juga kelojotan tidak bisa diam, menendang-nendang selimut yang ada di depannya. Seluruh badannya jadi tambah lemas. Mendengar teriakan Arkan barusan, membuatnya ingin bersembunyi dikolong tempat tidur.


"Aaargghhhh! Bagaimana bisa orang gila itu mendengar semuanya? Kali ini benar-benar habislah aku." Kian mengingat semua makiannya untuk pria itu. Dia mengeluarkan semua unek-uneknya pada Dina tadi. Tapi tidak menyangka akan didengar oleh Arkan. Kian membenamkan dirinya kembali dalam selimut. Menutupnya rapat. Teriakan pria itu terus terngiang di kepalanya.


"Aku harus bagaimana besok? Apa aku langsung mengundurkan diri saja ya? Tidak, tidak. Orang gila itu pasti tidak akan semudah itu melepaskan ku. Apa aku pura-pura dirawat dirumah sakit saja ya? Tidak mungkin kan dia menghabisiku disana!" Kian terus memutar otaknya mencari ide untuk keluar dari masalah ini. Tapi tak ada satupun yang masuk akal baginya.


"Aku harus bagaimana?" lirihnya lagi.


Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk. Suara Bibi Sumi membuyarkan konsentrasinya. Lalu wanita itu masuk menghampiri Kian.


"Kian, ada yang datang mencari mu!" ucap Bibi Sumi dengan raut wajah sumringah. Wanita itu terlihat senang seperti baru melihat pangeran tampan.


"Siapa Bibi? Siapa?" tanya Kian penasaran. Ia merasa bulu kuduknya merinding. Firasatnya tidak enak.


"Lelaki tampan yang mengantarmu pulang kemarin," jawab Bibi Sumi polos.


"APAA?!!" Kian merasa kilatan petir menyambarnya disiang bolong.


Pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia langsung datang menghampiri Kian. Membuat gadis itu mencari cara untuk melarikan diri.


"Bibi, bisa tolong bilang ke pria itu aku sedang tidak enak badan. Dan lihat, kakiku saja bahkan tidak bisa dipakai berjalan," ucap Kian memelas sambil menunjuk kakinya.


"Hmmm.. Baiklah," jawab Bibi Sumi.


Mendengar jawaban Bibi Sumi Kian tersenyum girang. "Terimakasih Bibi." Lalu wanita itu keluar dari kamar Kian.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk lagi.


"Masuk saja Bibi!" jawab Kian sambil memainkan game di ponselnya.


Perlahan pintu terbuka. Derap langkah kaki mendekatinya. Tapi Kian tidak menyadari ada yang aneh dengan langkah kaki itu. Dia tetap saja asyik memainkan ponselnya. Hingga orang itu mendekat. Dan...

__ADS_1


__ADS_2