Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Rasa Bahagia


__ADS_3

Setelah beberapa hari merasa tidak bersemangat berangkat ke kantor, akhirnya hari ini Arkan bisa tersenyum cerah. Perasaannya jauh lebih baik sekarang. Bahkan Sam sampai mengerutkan kening melihat kelakuan Tuan Mudanya. Pria itu terus tersenyum sepanjang jalan, tidak seperti sebelumnya. Hanya memasang wajah murung dan frustasi.


"Sepertinya Anda bahagia sekali hari ini, Tuan." Sam melirik Arkan dari kaca di atasnya.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Arkan heran.


Siapapun bisa melihat wajah Anda yang tersenyum dan tertawa sendiri seperti orang gila, Tuan.


"Terlihat dari wajah Anda, Tuan. Sedari tadi Anda hanya tersenyum dan tertawa sendiri."


"Benarkah?"


"Iya Tuan," sahut Sam.


Benar, ia memang merasa bahagia hari ini. Sangat bahagia. Mengingat Kian yang dengan lantang menyebut dirinya sebagai kekasih Arkan di depan Delia, sampai wanita itu menganga tidak percaya benar-benar terasa menggelikan. Belum lagi saat ia harus merasakan panas dingin karena pengakuan gadis itu, membuatnya malu sendiri. Untung saja Kian tidak tahu, bahwa penyebab ia demam karena jantungnya yang berdegup terlalu kencang. Ia merasa syok dan senang sekaligus. Gadis itu benar-benar luar biasa.


Aaahh aku jadi merindukannya sekarang.


"Ddrrtt." Ponsel Arkan bergetar di dalam saku jasnya. Ia segera mengambilnya dan melihat pesan yang masuk. Sudut bibirnya kembali tertarik, senyumnya semakin melebar memandangi gambar yang muncul di layar ponselnya. Lalu, ia mengangkat sebuah panggilan yang masuk.


"Bagus, aku menyukainya. Kalian akan mendapatkan bonus tambahan secepatnya," ujarnya pada seseorang yang ada di seberang telepon. Dan tak lama, sambungan terputus. Ia tersenyum sambil menatap gambar itu lagi.


Kau pasti terkejut melihatnya.


Setibanya di kantor, seseorang terus berusaha untuk menemui Arkan. Namun karena agenda pria itu sangat padat, sulit baginya untuk berbicara pada pria itu. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara pada Arkan.


***


Sementara di apartemen, Kian baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Ia terlihat begitu menikmati walau hanya sepiring pancake. Ia juga membersihkan sirup yang menempel di sudut bibirnya dengan tisu lalu meletakkan piring itu di dapur. Tiba-tiba saja ia merasa mencium bau tidak sedap. Ia mencari asal bau itu dan ternyata... Ah itu berasal dari bau tubuhnya sendiri. Dia memang belum membersihkan dirinya.


Kian langsung kembali ke kamar dan menuju kamar mandi. Berniat membersihkan tubuhnya. Karena pemiliknya sedang tidak berada di rumah, Kian mengambil kesempatan untuk berendam di dalam bath up milik Arkan. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya. Semenjak menggunakan benda berbentuk oval itu di puncak, Kian jadi suka merendamkan dirinya di air hangat. Lagi pula, dengan berendam seperti itu, ia bisa merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku. Wewangian yang Kian campur di dalam air juga begitu menenangkan pikirannya. Ia mencelupkan kepalanya sebentar lalu muncul ke permukaan.


"Hah!" Napasnya tersengal karena tidak bisa bernapas di dalam air. Ia memilih menyandarkan tubuhnya sambil mengerakk-gerakkan kakinya bermain air. Membuat air menyiprat kemana-mana.


Enaknya jadi orang kaya bisa melakukan ini setiap hari. Apa aku menikah dengannya saja ya. Biar bisa berendam seperti ini setiap hari. Hahaha.


Kian tertawa sendiri mengingat khayalan konyolnya. Tidak mungkin Arkan akan serius menikahinya bukan. Pria itu mungkin hanya merasakan perasaan itu sesaat saja. Seperti dirinya, yang hanya merasa nyaman saat bersama pria itu. Tidak ingin berharap lebih.


"Dordordor." Seseorang mengetuk pintu. Tidak, orang itu menggedornya hingga menimbulkan suara berisik yang mengagetkan. Ya tentu saja, Kian sedang terkejut sekarang.


"ARKAN... Apa kamu di dalam sana, Nak?" Terdengar suara seorang wanita memanggil nama Arkan.

__ADS_1


Nak? Apa ia baru saja memanggil Arkan "Nak"? Astaga!!! Apa jangan-jangan, dia ibunya?


Kian langsung panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Jika Ibunya Arkan melihat dia disini dan sedang menggunakan kamar mandi anaknya, wanita itu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Apa yang harus ia katakan pada wanita itu, Kian benar-benar tidak bisa memikirkannya. Seketika otaknya buntu.


"ARKAN.. Keluarlah!! Ibu ingin berbicara sesuatu padamu!" Terdengar teriakan lagi dari luar pintu.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolong bantu hamba, Ya Allah... Kian menundukkan kepalanya di dalam bath up dan terus berdoa.


Merasa tidak ada jawaban dari dalam, Nyonya Wina mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Arkan.. Kamu dimana? Apa kamu sedang mandi? Ibu mendengar suara dari dalam kamar mandimu, tapi kenapa kamu tidak menjawab panggilan Ibu?"


Di seberang telepon, wajah Arkan berubah pucat seketika. Jika ia berada disini dan Ibunya mendengar seseorang sedang mandi, itu berarti Kian yang sedang berada disana. Tanpa mengatakan apa pun, Arkan langsung memutus sambungan telepon. Ia langsung menyuruh sekertaris kantor membatalkan semua agendanya. Secepat kilat, ia pulang menuju apartemennya.


Semoga Ibu tidak melihat Kian. Kian, kumohon tetaplah disana. Jangan beranjak dari tempatmu sedikit pun. Aku akan segera pulang dan menjelaskannya pada Ibu.


Nyonya Wina menatap layar ponselnya. Ia bingung kenapa panggilannya terputus tiba-tiba. Ia mencoba menghubungi Arkan lagi, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya, ia simpan ponsel itu ke tempat asalnya, di dalam tas. Nyonya Wina kembali menatap pintu kamar mandi di depannya. Ia menempelkan telinganya berusaha mendengarkan sesuatu di dalam sana. Tidak ada suara air, batinnya. Tapi ia tetap merasa bahwa di dalam kamar mandi ada orang lain. Ia mendengar suara air dengan jelas dan samar-samar mendengar seorang wanita sedang tertawa tadi. Tiba-tiba Nyonya Wina merasa bulu kuduknya merinding.


Apa jangan-jangan di apartemen ini ada hantu ya?


Ia bergidik ngeri dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar anaknya. Lebih baik ia menunggu di ruang tamu saja, pikirnya.


Selang beberapa waktu, seseorang membuka pintu utama. Muncullah Arkan dengan wajah paniknya, ia segera menuju kamar mandi tanpa memperhatikan Ibunya yang sedang menunggu di ruang tamu.


"Cklek." Pintu kamar mandi terbuka. Tapi hanya sebagian. Kian melongokan kepalanya sambil melihat keadaan.


"Apa yang kau lakukan? Cepat keluar!" perintah Arkan.


Kian menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah. Ragu-ragu, ia bergumam pelan, "Aku tidak membawa pakaian ganti," ucapnya lirih.


Astaga. Kenapa aku bisa mencintai gadis sebodoh ini. Bagaimana bisa ia tidak membawa pakaian ganti saat berada di kamar mandi orang lain.


"Tunggu sebentar!" perintah Arkan lagi. Ia pergi, lalu tak lama kembali dengan membawa pakaian di tangannya.


"Pakai ini dan cepatlah keluar!" Arkan menyodorkan pakaian di tangannya.


Pakaian wanita?


Kian mengernyit. "Darimana kau mendapatkannya?" tanyanya heran.


"Karena aku menyimpannya," jawab Arkan polos. Lalu sedetik kemudian ia melotot. "Apa kau masih punya waktu untuk menanyakan itu?"

__ADS_1


Kian menutup pintu sebelum pria itu memaksa masuk. Tak lama kemudian, ia keluar lagi dengan mengenakan pakaian yang diberikan Arkan. Sebuah dress berwarna jingga. Cantik dan elegan, dua kata itu langsung muncul di pikiran Arkan saat melihat penampilan Kian sekarang. Ia sampai tidak berkedip menatapnya.


"APA-APAAN INI??" Tiba-tiba suara Nyonya Wina menggelegar mengagetkan semua orang.


Refleks, Arkan menarik tangan Kian agar gadis itu berdiri di belakangnya. Kian langsung menurut. Ia juga merasa takut dengan wanita paruh baya yang datang menghampiri mereka dengan tatapan tajamnya. Ia meremas ujung jas yang dikenakan Arkan.


"Siapa dia, Arkan?" tanya Ibu tanpa basa basi.


"Dia sekertaris pribadiku, Ibu," sahut Arkan lantang.


Ibu menyipitkan matanya. "Benarkah? Kalau ia sekertaris pribadimu, kenapa ia ada disini dan mandi di kamar mandimu?" Ibu melipat kedua tangannya di depan dada. Serasa mengintimidasi Kian dan Arkan yang terlihat gugup dan ketakutan.


Arkan menarik napas dalam, "Karena dia sekertaris pribadi sekaligus kekasihku, Bu."


Mata Ibu membelalak. "APA??!!


Arkan mengepalkan tangannya. Bukan karena geram, tapi karena ia sendiri juga merasa takut. Ini pertama kalinya Arkan mengakui seseorang sebagai kekasihnya di depan Ibunya. Ia tidak tahu respon apa yang akan diberikan wanita itu. Namun sejujurnya, ia takut kalau Ibunya akan menolak Kian mentah-mentah. Terlebih, Ibu sudah mengenalkan Delia padanya. Wanita yang cantik sekaligus pintar. Secara fisik, Delia memang lebih daripada Kian. Tapi entah kenapa ia justru tidak tertarik sedikit pun pada wanita itu. Hatinya sudah tertambat pada Kian seorang.


Tanpa diduga, Nyonya Wina malah menghambur memeluk Arkan. Wajahnya yang tadi terlihat dingin dan kejam pun berubah seketika. Wanita itu tersenyum dalam pelukan Arkan.


"Akhirnya kau menyukai seorang perempuan juga," ujar Ibu masih belum melepas pelukannya.


"Maksud Ibu?" Arkan yang masih terkejut dengan reaksi Ibu, berusaha melepaskan dirinya. Lalu menyipitkan mata. "Ibu tidak menganggapku g*y selama ini, kan??"


Ibu meringis. Selama ini, memang itu yang ada di pikirannya saat melihat Arkan tidak pernah dekat dengan seorang wanita.


"Astaga Ibu. Aku masih normal kali," gerutu Arkan protes. Ia tidak menyangka Ibunya akan berpikiran sejauh itu hanya karena ia tidak pernah menyukai seorang wanita.


"Syukurlah, sekarang Ibu lega karena kau memiliki kekasih."


"Jadi... maksud Ibu, Ibu merestui hubungan kami gitu?" Arkan masih tidak percaya dengan sikap Ibunya barusan.


"Tentu saja. Ya walaupun wajahnya pas-pasan, tapi itu bukan masalah. Kita bisa memvermaknya nanti," sahut Ibu sekenanya.


Mendengar ucapan Ibu, Kian mencebikkan bibirnya kesal dibalik punggung Arkan.


*Apa?? Vermak? Memangnya mukaku celana levis apa? Seenaknya Main vermak saja*.


Tapi, Kian merasa genggaman tangan Arkan yang sedari tadi menggenggamnya, terasa menguat. Ia bisa merasakan pria itu tengah bahagia sekarang. Jika Ibunya saja merestui, apalagi yang seharusnya ia takutkan sekarang.


Aku akan mempertahankanmu bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Arkan kembali menggenggam tangan Kian erat. Gadis itu pun membalasnya. Seolah memberi kekuatan satu sama lain untuk terus maju menghadapi rintangan bersama.


__ADS_2